
Pada waktu dan kota yang sama, di sebuah rumah sederhana yang memiliki halaman luas yang dipenuhi tanaman bunga, seorang wanita paruh baya namun masih cantik, sedang duduk sambil melukis. Ia melukis dengan penuh konsentrasi sambil sesekali tangannya menghapus cairan bening yang meleleh di pipinya.
"Nyonya!" seorang wanita k yang usianya lebih tua namun masih kelihatan cantik juga, datang menyapa. Wanita tua itu tampaknya adalah seorang asisten rumah tangga.
"Iya, Mak?" wanita itu yang tak lain adalah Nyonya Robert, mamanya Lais, cepat-cepat membersihkan wajahnya dan menoleh ke arah Mak Nah. Ia memasang senyum manis di bibirnya.
"Sudah sore. Sebaiknya Nyonya masuk. Anginnya kencang, tidak baik bagi kesehatan Nyonya." dengan penuh perhatian Mak Nah mengingatkan Nyonya Robert.
"Sebentar lagi, Mak. Tanggung. Lukisanku hampir selesai." Nyonya Robert kembali menyibukan diri dengan lukisannya.
Mak Nah mendekat dan berdiri di belakang Nyonya Robert. Ia memperhatikan lukisan Nyonya Robert yang mulai kelihatan bentuknya.
"Siapa mereka, Nyonya?" tanya Mak Nah.
"Mereka? Mak Nah ini wajah satu orang. Ini saat ia masih kanak-kanak, remaja dan dewasa." jawab Nyonya Robert memandang wajah dalam lukisannya dengan penuh rasa sayang dan rindu.
"Ooo..siapa aden ini?" kembali Mak Nah bertanya.
"Dia anakku satu-satunya." jawab Nyonya Robert dengan suara penuh kesedihan. Tanpa ia sadari titik bening lolos dari ujung matanya. Ia cepat-cepat mengusapnya, namun terlambat. Mak Nah terlanjur melihatnya.
"Kenapa anda menangis? Apa dia sudah.."
"Tidak, Mak. Dia baik-baik saja dan sehat." jawab Nyonya Robert yang memang selalu berdoa yang baik-baik buat Lais. "Dia hanya jauh saja. Jauh dari aku. Dan saat ini aku sangat merindukannya." Nyonya Robert membelai wajah Lais yang ada dalam lukisannya.
"Kenapa jauh?" Mak Nah yang tidak tahu kalau semakin banyak ia bertanya, Nyonya Robert akan semakin sedih, kembali mengajukan pertanyaan.
Nyonya Robert diam. Pikirannya kembali ke masa lalu. Ke masa-masa ia masih sangat dekat dengan Lais hingga kebenaran akan perbuatan salahnya terungkap. Nyonya Robert menghela nafas dengan berat.
"Karena aku telah membuat kesalahan yang sulit dimaafkan, Mak." jawab Nyonya Robert dengan suara lebih berat dari biasanya.
Mak Nah diam. Mendengar nada bicara Nyonya Robert, ia tahu kalau majikannya itu sedang bersedih. Rasa penasarannya ia kubur dalam-dalam.
"Nyonya, besok kita jalan-jalan ke kampung seni yuk! Di sana Nyonya akan menjumpai banyak barang bagus." ajak Mak Nah dengan suara ceria penuh semangat.
Nyonya Robert mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Mak. Sekalian membeli beberapa barang untuk mengisi ruang kosong di dinding rumah ini."
"Sekarang Nyonya masuk, ya. Lagipula sudah saatnya mandi sore. Apa perlu saya buatin air panas, Nyonya?"
"Nggak usah, Mak. Nanti manja. Mandi air dingin saja." Nyonya Robert lalu merapikan alat lukisnya. Ia menutup lukisan wajah Lais dengan kain tipis kemudian dengan hati-hati membawanya masuk diikuti Mak Nah.
****
Di Rumah Pak Munir.
Revan sibuk mengotak atik katalog yang sedang ia buat. Lais duduk di sebelahnya sambil sesekali mengomentari dan meberi masukan pada Revan.
"Untuk yang ini, sebaiknya warna backgroundnya dibuat lebih terang agar bentuk benda lebih muncul." kata Lais. Revan langsung mengerjakan apa yang Lais ucapkan. Mereka sangat kompak. Tanpa banyak beradu argumen. Lais tidak lagi menempatkan dirinya sebagai bos, karena saat ini posisi mereka sama.
"Akhirnya selesai juga!" seru Revan senang. "Bagaiaman?" Revan menunjukan hasil akhirnya pada Lais. Lais mengacungkan ibu jarinya.
"Bagus."
"Tinggal kirim ke percetakan." Revan lalu menghubungi percetakan kenalannya. Ia berbicara sebentar lalu mengirim file yang iangin ia cetakkan.
"Kapan selesai?" tanya Lais.
"Saat kita sampai Jakarta, pasti sudah selesai." Revan lalu iseng-iseng berselancar di google.
"Lais, lihat!" ia menunjukkan berita tentang akan diadakannya pameran berskala internasional. "Ini bisa jadi jalan kita masuk ke dunia bisnis karya seni." kata Revan.
__ADS_1
Lais tersenyum saat membaca berita itu, "Kau ingat dengan orang ini?." Ia menunjuk salah satu nama yang tertera dalam berita sebagai penyelenggara.
"Henry?Apa ia Henry yang itu?" tanya Revan. Lais mengangguk.
"Baguslah. Hubungi dia kalau kita akan ikut." kata Revan.
Lais melakukan apa yang Revan mau. Ia menghubungi Henry. Tentu saja yang dihubungi kaget, karena biasanya Revan yang selalu bicara dengannya.
Beberapa saat kemudian, Lais menyudahi obrolannya dengan Henry.
"Bagaimana?" Revan bertanya dengan penasaran. Lais memasang wajah kecewa.
"Nggak bisa ya?" Revan mendengus kecewa.
"Siapkan paspormu! Kita akan ke Eropa." seru Lais. Revan yang merasa dikerjai, langsung mendorong Lais. Sungguh, setelah sembuh, Lais jadi jahil.
Mereka tertawa, bahkan Revan menari bahagia.
"Sudah euforiannya. Kita belum apa-apa. Ayo kita beli beberapa karya seni yang bagus-bagus dari para pengrajin. Dan kita siapkan segalanya. Banyak yang harus kita lakukan!" kata Lais. "Kumpulkan lagi sebanyak-banyak keterangan tentang benda yang kita beli. Manfaat dan kualitasnya juga." perintah Lais.
Aura bosnya keluar. Revan tersenyum melihat sahabatnya itu bersemangat.
*Teruslah bersemangat kawan. Aku senang melihatnya. *batin Revan. Sebagai sahabat ia bangga melihat Lais dengan cepat bangkit.
Keesokan harinya, Lais dan Revan kembali menyusuri kampung seni. Mereka memilih barang-barang yang menurut mereka bagus, bukan hanya dari tampilan tapi juga kwalitasnya. Mereka juga menyampaikan kepada para pengrajin untuk diajak kerja sama. Para pengrajin kecil itu merasa sangat senang dengan tawaran Lais dan Revan.
"Bagaimana kita membawanya?" gumam Revan memandang barang yang banyak itu.
Lais menjitak kepalanya, "Mengapa otakmu jadi lambat. Banyak jasa angkut juga."
"Ah iya. Bagaimana aku bisa lupa." Revan menggaruk kepalanya yang dijitak Lais.
"Sama.' jawab Revan. Mereka tertawa bersama sambil membayangkan wajah istri masing-masing.
"Lais, bagaimana kalau saat menghadiri pameran, kita sekalian bulan madu?" usul Revan.
Lais diam, "Van. Tabunganku nggak banyak. Kita juga masih butuh banyak dana buat usaha baru kita. Sebaiknya kita fokus pada kerjaan dulu." Jawab Lais.
"Kau benar. Lagi-lagi kau benar." Revan mengacungkan jempolnya.
"Ayo! Tuh, Pak Munir sudah datang." Lais menunjuk Pak Munir yang datang menjemput mereka. Pak Munir datang bersama seorang pemuda.
"Tuan, mana barangnya? Ini saya bawakan kendaraan untuk mengangkutnya." tanya Pak Munir.
Lais menepuk bahu Pak Munir, "Terima kasih, Pak. Bapak memang cepat tanggap. Tuh barangnya." Lais menunjuk tumpukan barang yang tertata di depan salah satu kios tempat mereka duduk menunggu Pak Munir.
"Gatot, itu barangnya. Kamu angkut ya!" perintah Pak Munir.
Pria yang bernamal Gatot segera melakukan apa yang Pak Munir perintahkan. Lais dan Revan tidak tinggal diam. Mereka ikut mengangkat barang-barang hasil belanjanya ke mobil pick up miliki Gatot.
Saat Lais dan Revan sibuk mengangkat barang, sepasang mata menatap mereka dengan berkaca-kaca.
"Kenapa kau ada di sini, Nak? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau angkat-angkat barang?' gumam Nyonya Robert yang tanpa sengaja melihat Lais dan Revan dari kejauhan.
Mak Nah yang berada di sampingnya ikut menatap ke arah pandangan Nyonya Robert. Matany membesar saat ia mengenali salah satu pria muda yang sedang mengangkat barang adalah pria yang ada dalam lukisan majikannya.
"Nyonya, bukankah dia anak Nyonya?" tanya Mak Nah.
"Iya Mak. Dia anakku." jawab Nyonya Robert penuh kesedihan.
__ADS_1
"Kenapa ia ada di sini?" gumam Mak Nah.
"Itu juga yang ingin aku ketahui, Mak. Kenapa anakku ada di sini dan sedang mengangkati barang pula."
"Lha, bukankah itu si Munir." seru Mak Nah.
"Mak Nah kenal Pak Munir?" tanya Nyonya Robert.
"Iya, dia kawan lama saya, Nyonya."
"Mak Nah, bisakah aku minta bantuanmu?"
"Tentu saja Nyonya."
"Cari tahu kenapa anakku bisa ada di sini. Tapi jangan samapi anakku tahu. Atau bawa Pak Munir ke rumah kita tanpa diketahii anakku dan kawannya itu." perintah Nyonya Robert.
"Baik, Nyonya."
Mak Nah lalu berjalan mendekati rombongan Lais.
"Apa kabar, Munir?" ia menyapa Pak Munir. Pria itu kaget melihat siapa yang menegurnya.
"Kustinah! Ini beneran engkau? Aku baik. Kau bagaimana?" Pak Munir mengulurkan tanganya dan disambut ramah oleh Mak Nah.
Lais dan Revan saling pandang melihat wanita tua cantik menyapa Pak Munir.
"Aku baik. Apa yang kau lakukan?"
"Oh, aku mengawal ke dua majikanku mencarai barang. Kau sendiri?"
"Aku hanya jalan-jalan saja, Oh ya, Munir. Kita kan lama nggak bertemu. Aku mengundangmu ke rumahku sore ini. Aku akan siapkan jamuan buatmu. Datang ya!" kata Mak Nah.
Pak Munir mengangguk, "Baik aku akan datang."
"Baiklah. Karena kalian sedang sibuk, aku pamit. Ku tunggu di rumahku ya. Jangan lupa." kata Mak Nah kemudian berlalu meninggalkan Pak Munir.
"Siapa Pak? Cantik juga." Revan yang jahil mulai menggoda Pak Munir.
"Oh kawan lama, tuan." jawab Pak Munir. Matanya terus memandang ke arah Mak Nah yang terus menjauh.
"Kawan lama..tapi diliatin terus kayak nggak rela berpisah. mantan ya?" Revan mulai usil.
Pak Munir tersenyum penuh arti.
"Ingat Bu Ira, Pak." kali ini Lais yang bersuara.Rupanya virus jail Revan menginfeksinya.
Pak Munir langsung mengalihkan pandangannya, "Iya, Tuan. Saya pria setia kok>" jawabnya gugup.
"Nggak ada pria setia, Pak. Satu-satunya pria yang setia diantara kita cuma dia." Revan menunjuk Lais. "Karena dia beda dari kita." katanya lalu tergelak.
"Maksudmu aku tidak normal?" geram Lais.
"Normal kok. Sangat normal malah." jawab Revan sambil menelan tawanya agar tidak meledak,
Lais tidak menggubris ucapan Revan. Ia melangkah meninggalkan mereka dan langsung masuk ke mobil
"Tuh kan, Tuan Revan sih."
"Biar Pak. Aku kangen Lais yang dingin dan jutek." Revan malah terkekeh.
__ADS_1
***