
Aruna menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia tersenyum.
"Cantik banget!" puji Nisa.
Aruna meliriknya,"Benarkah?" Ia lalu mengambil ponsel. "Fotoin dong!"
Nisa mengambil ponsel dari tangan Aruna lalu mengambil gambar Aruna dengan berbagai gaya.
"Bagus?" tanya Aruna mendekat dan melihat hasil jepretan Nisa.
"Hm..bagus." jawab Nisa.
Aruna kemudian mengirim foto-fotonya kepada Lais.
"Kirim ke tuan?" tanya Nisa.
Aruna mengangguk. "Biar jadi penyemangat dia."
"Run! Kamu hebat! Ketika orang lain mungkin akan menangis sedih karena tidak didampingi orang terdekat saat pesta kelulusan, kamu malah masih mampu menyemangati suamimu." puji Nisa.
"Kami sedang dalam masa sulit. Jadi harua saling mendukung dan mengerti."
"Ternyata usia muda tidak menjamin kalau kamu jadi manja ya. Salut!" Nisa mengacungkan jempolnya.
Aruna tersenyum, "Kalau boleh jujur, pengennya sih manja juga. Tapi, kondisi nggak mengijinkan aku bermanja-manja. Aku harus kuat. Semangat!" Aruna mengepalkan tangannya.
"Semangat!" Nisa ikutan
Mereka berdua lalu tertawa.
tok tok tok
Aruna dan Nisa menoleh. Bu Ira masuk.
"Non! Ada yang mau ketemu di depan." kata Bu Ira.
"Siapa Bu?" tanya Aruna.
"Non turun saja, nanti juga akan tahu." Bu Ira tersenyum lalu meningglakan kamar Aruna.
Aruna dan Nisa saling pandang.
"Nggak biasanya Bu Ira main teka-teki." gumam Aruna sambil berdiri lalu keluar diikuti Nisa. Mereka berjalan ke ruang depan. Dan betapa terkejutnya Aruna melihat siapa yang sedang menunggunya di ruang depan.
"Mama!" pekik Aruna senang. Ia segera menghambur dan memeluk Nyonya Robert. "Ma, Aruna kangen." kata Aruna manja.
"Mama juga sayang." Nyonya Robert membelai punggung Aruna. Mereka berpelukan cukup lama sampai puas.
"Kamu cantik sekali." puji Nyonya Robert sambil memandangi wajah cantik Aruna.
"Iya. Hari ini kelulusan Aruna Ma. Syukurlah mama datang. Jadi bisa menemani Aruna." kata Aruna senang.
"Apa kabar Nyonya?" Nisa menyapa Nyonya Robert. Ia mengulurkan tangan dan saat Nyonya Robert menyambut uluran tanganya, Nisa mencium punggung tangan Nyonya Robert.
"Baik Nis. Terima kasih ya sudah menemani menantuku." kata Nyonya Robert.
"Sama-sama, Nyonya." kata Nisa.
"Jam berapa acaranya?" Nyonya Robert bertanya sambil melirik benda bulat di dinding ruang tamu.
"Jam delapan, ma." jawab Aruna
"Kalau begitu kita harus bergegas. Nanti telat." ajak Nyonya Robert.
Aruna mengangguk. Ia lalu masuk dan mengambil tas berisi ponselnya. "Ayo, Ma!" ajak Aruna.
"Run, karena sudah ada Nyonya Robert jadi aku nggak perlu ikut ya? Kan undangannya hanya untuk satu orang." ucap Nisa.
"Mmmm baiklah. Aku berangkat dulu ya Nis."
"Ya."
__ADS_1
"Kami berangkat ya Nis." pamit Nyonya Robert.
"Iya, Nyonya. Hati-hati." jawab Nisa.
Di dalam mobil menuju sekolah Aruna.
"Ma. Mama sengaja datang apa memang kebetulan? Kok pas banget." tanya Aruna.
"Lais memberitahu mama. Katanya hari ini kelulusanmu jadi ia minta mama menemanimu."
"Dasar." Aruna tersenyum dan terlintas dalam benaknya wajah tampan Lais. "Dia tuh kayaknya cuek tapi ternyata perhatian juga. Coba mama banyangkan! Ia jarang sekali menghubungi aku. Pasti aku yang lebih dulu menghubunginya. Kadang aku merasa kalau sekarang ia tidak lagi membutuhkan aku." Aruna mengadu pada Nyonya Robert.
Nyonya Robert tertawa kecil, "Itulah Lais. Pria yang tak sempurna. Tapi cintanya hanya buatmu kok. Percayalah!"
Aruna mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Robert.
Semoga usahamu di sana berhasil dan cepat pulang. Aku rindu.
Di tempat lain, jauh dari Aruna dan Nyonya Robert
Lais terbangun dari tidurnya saat ponselnya bergetar. Ia melihat dan membuka pesan dari Aruna. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat foto-foto cantik Aruna. Lais keluar dari kamar dan menuju kamar Revan.
Ia mengetuk pintu kamar Revan berulang-ulang hingga sahabtanya itu bangun dan membuka pintu.
"Ada apa?Ini masih malam lho, masih pukul dua." kata Revan sambil mengucek matanya.
"Pesankan bunga buat Aruna. Hari ini dia lulus. Aku ingin memberinya kejutan." titah Lais.
Dengan langkah gontai Revan masuk ke kamarnya diikuti Lais. Ia mengambil ponsel dan segera memesan bungan untuk Aruna di toko tempatnya biasa membeli bunga.
"Sudah." katanya lalu kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
"Hmm." gumam Revan dengan mata terpejam.
"Van!" Lais menggoyang tubuh Revan. "Mana ponselmu? Aku mau mengeceknya."
"Nih!" Revan menyodorkan ponselnya masih dengan mata terpejam.
Lais segera mengambil ponsel Revan dan mengecek pesan yang Revan kirim.
Matanya terbelalak saat melihat pesan yang Revan kirim.
Pesan itu berbunyai : Selamat atas kelulusanmu sayang. Dari suami tampanmu. Revan.
"Ck. Dasar tukang tidur. Untung aku mengeceknya." gumam Lais. Ia lalu mengirim ulang pesan melalui ponsel Revan.
Lais menaruh kembali ponsel Revan dan bermaksud keluar namun ia dikagetkan oleh suara yang keluar dari bagian tubuh Revan yang membuatnya langsung menutup hidung.
"Dasar jorok!!" gumam Lais lalu melempar Revan dengan bantal yang ada di dekatnya.
"Hah..akhirnya aku bisa bernafas lega." kata Lais saat berhasil keluar dari kamar Revan. "Apa saja yang ia makan?' Lais menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berjalan kembali ke kamarnya namun baru beberapa langkah ia berjalan dari arah depan ia melihat sosok yang ia kenal.
"Kirey. Sedang apa ia di sini?' Lais menoleh ke kanan dan kiri mencari tempat sembunyai. Ia lalu masuk ke celah antar dua kamar yang ada di depannya. Ia bersembunyi sambil melihat ke arah Kirey yang sedang membuka pintu kamar.
"Wanita ****** itu sedang bersama pria. Sepertinya aku mengenali postur pria itu. Sayang wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup oleh Kirey."
Setelah kedua orang itu masuk ke kamarnya, Lais keluar dan melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Apa yang ia lakukan di kota ini? Jadi selama ini ia sembunyi di sini dan hidup dengan bersenang-senang bersama pria-pria kaya.Ck masih saja tidak berubah." Lais menggelengkan kepalanya. "Buat apa mikirin dia. Lebih baik aku mencari kabar tentang Aruna saja."
Lais lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan ke mamanya agar mengabadikan moment saat Aruna menerima ijazah dan mengirimkan padanya.
Pagi harinya.
Lais dikagetkan oleh gedoran di pintu kamarnya. Ia berjalan dan mengintip dari lubang yang ada di pintu. Saat melihat Revanlah yang menggedor pintunya, Lais membuka pintu itu.
Revan menerobos masuk begitu pintu terbuka.
"Dasar tidak sopan." umpat Lais.
"Kamu tidak akan menggerutu saat mendengar apa yang akan aku sampaikan."
Lais melangkah dan duduk di kursi. Revan duduk di ranjang Lais.
"Apa?" tanya Lais sambil melipat tanganya.
"Kirey. Aku melihat Kirey. Ia keluar dari salah satu kamar yang ada di hotel ini." kata Revan berapi-api. Lais menanggapinya dengan dingin dan datar.
"Kau? Kenapa kau biasa saja?" tanya Revan heran. Ia mengira setidaknya Lais akan kaget.
"Semalam aku sudah melihatnya. Ia masuk kamar bersama seorang pria dan aku sepertinya mengenal sosok pria itu. Tapi wajahnya tidak bisa aku lihat dengan jelas. Apa kau melihat prianya tadi?" tanya Lais.
Revan menggeleng. "Aku hanya melihat Kirey."
"Ya sudahlah. Nggak penting dia disini atau tidak, Nggak ada urusannya dengan kita." kata Lais
"Tapi firasatku tidak enak saat melihatnya ada di sini." jawab Revan
Lais hanya menatapnya. Ia lalu berdiri dan merapikan bajunya, "Ayo! Hari ini kita melihat lokasi pameran."
"Nggak makan pagi dulu?"
"Kau mau makan di sini?" tanya Lais.
revan menggeleng, "Nggak. Kita cari di tempat lain saja."
"Rendy belum bangun?" tanya Lais.
"Sepertinya sudah. Tapi entahlah dia kemana. Aku hubungi dulu." Revan lalu melepon Rendy dan menyuruhnya ke kamar Lais.
Sepuluh menit kemudian Rendy tiba.
"Darimana kau?" tanya Revan.
Rendy hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Revan
***
Banyakit komentnya dong...likenya juga..vote juga
dan jangan lupa sambil menunggu up, bisa baca-baca karya othor yang lain....
__ADS_1