Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Nisa Pingsan


__ADS_3

"Nisa!!" pekik Aruna panik manakala melihat tubuh Nisa tergeletak di lantai. Ia berlari ke arah Nisa dan mengangkat kepala wanita itu lalu Aruna meletakkan kepala Nisa di pangkuannya. Para pengunjung mini market yang lain segera mengerubungi Nisa dan Aruna dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Suara saling tanya di antara mereka mirip dengungan lebah.


"Ada apa?!"


"Eh kenapa wanita itu?"


"Dia pingsan apa mati?"


"Mungkin kena serangan jantung."


Dan banyak lagi komentar yang saling bersahutan.


"Nisa!Nisa!" Aruna menepuk pipi Nisa untuk menyadarkan wanita itu. "Nisa bangun, kau kenapa?" Kepanikan mulai menjalari hati Aruna saat Nisa tidak bangun bangun.


"Mbak coba kasih ini!" salah seorang pengunjung ikut bersimpuh di sisi tibuh Nisa. Ia menyerahkan minyak kayu putih ke Aruna.


"Terima kasih." Aruna menerima minyak kayu putih itu dan mulai mendekatkan ujung botol minyak kayu putih ke hidung Nisa.


"Maaf, apa ada yang bisa membantu saya?" tanya Aruna pada orang-orang di sekelilingnya.


"Apa nona? Katakan saja!" jawab mereka.


"Tolong hubungi suaminya!" jawab Aruna. Ia tidak bisa menelpon Revan karena harus memegang tubuh Nisa.


"Biar saya yang menghubunginya." Seorang pemuda yang cukup tampan mendekat. "Berapa nomornya?" pemuda itu bertanya sambil.menatap lekat wajah cantik Aruna.


Aruna menyebutkan nomor Revan.


Untung aku hafal no Pak Revan. batin Aruna.


"Aku harus bilang apa?" tanya pemuda itu.


"Bilang saja istrinya pingsan di sini dan minta di jemput." titah Aruna. Pemuda itu melakukan apa yang Aruna minta. Ia menghubungi Revan dan menyampaikan berita jika Nisa jatuh pingsan di mini market.


"Sudah. Sebentar lagi ia akan datang." jawab pemuda itu masih menatap penuh rasa kagum pada wajah cantik bak bidadari yang tengah bersimpuh di depannya. Rambut panjang Aruna yang terurai indah membuat penampilan gadis itu bagai putri dalam negeri dongeng. Kulit putihnya tampak bercahaya.


"Terima kasih." kata Aruna sambil tersenyum menatap si pemuda yang langsung dibalas dengan senyuman juga.


Melihat Aruna tersenyum padanya, si pemuda merasa mendapat lampu hijau. Ia lalu berpindah posisi duduk di sebelah Aruna. Ia menarik nafas dalam dalam tatkala bau harum tubuh Aruna menyeruak masuk ke dalam rongga indra penciumannya.


"Harum sekali." gumam pemuda itu.

__ADS_1


"Apa?" Aruna yang tidak begitu jelas mendengar gumaman si pemuda menoleh dan bertanya.


"Apa dia saudaramu?" tanya si pemuda.


"Bukan. Dia temanku." jawab Aruna pendek.


Pemuda itu menganggap jawaban Aruna sebagai bentuk keakraban. Ia semakin berani. Ia menggeser lagi duduknya semakin dekat ke Aruna.


"Kamu pasti capek memangkunya begitu. Sini biar aku membantumu menahan berat tubuhnya." pemuda itu mengulutkan tanganya hendak memegang tangan Aruna yang meyangga tubuh Nisa.


"Jangan sentuh istriku!!" dua suara berseru bersamaan dengan suara lantang. Beberapa orang yang masih berada di sekitar Aruna dan Nisa menoleh, tak terkecuali si pemuda.


Lais dan Revan tiba. Karena yang mengerubungi Aruna dan Nisa sudah banyak yang pergi, mereka bersua bisa melihat bagaimana pemuda itu mengulurkan tangannya.


Dalam pandangan Revan, pemuda itu hendak memegang Nisa namun dalam pandangan Lais, Arunalah yang hendak di sentuh oleh pemuda itu.


Revan langsung menarik pemuda itu menjauh. Ia lalu mengambil alih tubuh Nisa dari pangkuan Aruna. Sementara Lais membantu Aruna berdiri lalu merangkulnya dengan posesif. Matanya menatap tajam pada sang pemuda yang shock karena melihat Aruna berada dalam dekapan pria yang jauh lebih sempurna daripada dirinya.


"Maaf!" ucap si pemuda sebelum akhirnya berlalu dengan kepala tertunduk.


Revan mengangkatj tubuh Nisa dan membawanya keluar.


Lais dan Aruna mengikutinya dari belakang.


"Aku tidak mengenalnya. Tadi dia menolongku menghubungi Pak Revan." jawab Aruna jujur.


"Lain kali jangan akrab dengan orang asing." Lais yang cemburu tanpa sadar menggenggam kuat jemari Aruna.


Aruna mengangguk sambil meringis menahan sakit di jemarinya.


"Tuan, sakit." desis Aruna. Lais spontan melepaskan genggamannya.


Tanpa rasa bersalah ia memandang Aruna dengan tatapan dingin. Hatinya sakit saat melihat Aruna berdekatan dengan pemuda tadi.


Peristiwa itu mengingatkan dirinya akan ucapan Aruna tadi pagi. Bagaimana jika Aruna pergi bersama pria lain. Seperti inikah sakitnya? Jadi rasa sakit ini yang harus ditahan dan dirasakan mamanya selama ini? Pasti mamanya sangat menderita.


"Tuan tolong anda yang bawa mobil!" pinta Revan. Lais mengangguk. Aruna membukakan pintu belakang agar Revan yang sedang menggendong Nisa bisa masuk.


...***...


Di rumah sakit.

__ADS_1


Lais dan Aruna sedang menunggu hasil pemeriksaan Nisa. Revan menemani Nisa di dalam. Sejak terkahir kali mereka mengobrol dan Lais mencengkram jemari Aruna, Lais berubah menjadi lebih pendiam. Semula Aruna mengira diamnya Lais karena konsentrasi mengemudi. Namun meski mereka telah sampai di rumah sakit, Lais masih setia dengan diamnya.


Aruna mendekat dan duduk di samping Lais.


"Tuan, apa tuan marah? Tuan sungguh aku tidak mengenal pemuda itu dan aku juga tidak akrab dengannya. Tadi aku terpaksa minta tolong buat telpon Pak Revan karena kedua tanganku menahan tubuh Nisa. Aku nggak mungkin membiarkan orang lain memegangi Nisa." Aruna menjelaskan kejadiannya demi meyakinkan Lais.


"Setelahnya?" tanya Lais sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia melipat kedua tangannya. Wajahnya masih datar dan dingin.


Aruna menatap lekat wajah tampan suaminya itu. Saat menunjukan aura dinginnya, Lais jauh lebih mempesona. Ia diam tidak menjawab pertanyaan Lais karena sibuk mengagumi ciptaan yang Maha Sempurna yang tengah merajuk di depannya ini.


"Kenapa diam?Mencari alasan?" tuduh Lais diakhiri dengan seringaian sinis.


Aruna tidak,lagi bisa menahan diri. Dijatuhkan tubuhnya ke dada bidang suaminya dan secepat kilat dipagutnya bibir yang tengah menyeringai itu.


"Aku sudah punya dirimu yang sempurna. Buat apa mencari yang lain. Jadi tolong percaya padaku dan sudahi cemburumu ini." bisik mesra Aruna lalu ia kembali mencium Lais membuat pria itu terbelalak tak percaya jika Aruna berani melakukannya di tempat umum seperti ini.


"Ehem!!" sebuah deheman mengakhir aksi Aruna. Aruna menoleh dan melihat Revan serta Nisa sudah keluar dari ruang pemeriksaan.


"Eh kalian." Aruna menjauh dari tubuh Lias. Lais menegakkan duduknya dan merapikan kemejanya. Mukanya memerah namun ada senyum tipis yang ia ukir di bibir tipisnya.


"Bagaimana Nisa?Kamu nggak papa kan?" tanya Aruna mendekat ke Nisa dan memegang tangannya.


Nisa tersenyum."Aku baik." jawabnya pendek dengan wajah berbinar. Aruna menoleh ke arah Revan. Ia melihat kebahagiaan yang sama di wajah sahabat Lais itu.


Lais berdiri, "Kita pulang!" katanya lalu berlalu meninggalkan ketiga orang yang berdiri menatap kepergiannya.


"Dia kenapa?" tanya Revan pada Aruna. Mereka lalu berjalan mengikuti langkah Lais


"Ngambek." jawab Aruna sambil mengangkat sedikit bahunya.


"Ooo jadi yang kami lihat tadi itu...kau sedang berusaha menghiburnya? Tuh sayang, tiru cara Aruna menghibur tuan Lais." kata Revan sambil.melingkarlan tangannya di pinggang Nisa.


"Baiklah, nanti kalau tuan Lais ngambek,aku akan menghiburnya seperti yang Aruna lakukan." jawab Nisa denga santainya.


"Apa?" seru Revan. Ia langsung melepaskan tangannya dan menghentikan langkahnya.


"Hah!" Aruna langsung menoleh ke arah Nisa pada saat yang sama. Ia ingjn menjelaskan maksud dari perkataan Revan namun Nisa justru mengulum senyum sambil mengedip ke arahnya.


Tahulah Aruna bahwa Nisa hanya mengerjai Revan.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Cihuy...Revan kepengen dibujuk juga.


__ADS_2