Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Mansion Baru


__ADS_3

"Tuan Lais?!" seorang pria menghampiri Lais dan rombongannya saat mereka tiba di bandara.


"Ya!"


"Kami ditugasi tuan Robby buat menjemput Tuan." ucap pria itu sopan.


Rupanya Robby benar-benar tidak melepaskan kesempatan buat balas dendam hingga ia memerintahkan orang buat mengawalku.


Lais sebenarnya enggan menerima kebaikan Robby namun saat ia melihat wajah istrinya dan juga Nisa yang tampak lelah akhirnya ia mengangguk dan mengikuti pria suruhan Robby.


"Lais, sepertinya Robby benar-benar berniat membalas dendam pada Tuan Robert." bisik Revan.


"Sepanjang yang ia lakukan tidak melanggar hukum, aku akan membantunya. Bukankah sejak awal kita sudah berniat mengembalikan hak milik Angela. Apa bedanya sekarang." jelas Lais.


"Iya juga. Berdasarkan penyelidikanku dulu, aku tidak menemukan ada orang lain yang terlibat dalam perusahaan ayah Angela. Apa Robby mengarang ya?"


"Entahlah. Nanti kau cari tahu lagi."


"Silahkan tuan!" pria itu mempersilahkan Lais dan yang lain masuk ke mobil mewah yang menjemput mereka.


"Sayang, masuklah dulu!" Lais membantu Aruna masuk baru kemudian dirinya. Ia langsung duduk di sebelah Aruna.Revan melakukan hal yang sama. Tinggal Rendy yang masih di luar. Matanya menyorot ke satu arah.


"Ren!" panggil Revan.


"Kalian jalan dulu. Nanti aku menyusul. Ada yang harus aku lakukan." kata Rendy yang langsung kabur.


"Dia mau kemana sih?" gumam Revan.


"Mengejar Nilam." jawab Lais yang sempat melihat siapa yang disorot oleh Rendy sebelum ia kabur.


Revan memutar kepalanya mencari sosok yang Lais maksud, namun ia tidak menemukan siapapun.


"Dia sudah pergi."


"Nilam siapa?" tanya Aruna.


"Teman Rendy. Kenal waktu pameran kemarin."


"Oo."


"Sudah bisa berangkat Tuan?"


"Ya!"


Mobil mewah itu melaju menyibak lalu lintas kota yang makin lama makin padat.


"Masih saja macet." gumam Nisa


"Beda ya dengan di Paris." balas Aruna.


"Iya."


"Eh kita mau kemana?" seru Aruna saat ia menyadari kalau mobil yang membawa mereka tidak menuju apartemen temoat mereka tinggal.


"Tuan Robby sudah menyediakan sebuah mansion buat kalian. Katanya untuk keselamatan kalian nanti." jawab pria yang tadi menjemput Lais. "Oh ya, kenalkan nama saya Gerald biasa dipanggil Gery. Saya bawahan Tuan Robby yang ada di negeri ini."


"Kamu pasti orang kepercayaan Robby." tebak Lais.


"Bisa dibilang begitu. Saya wakil beliau untuk negera ini."


"Berarti kamu tahu banyak tentang Robby?" kata Revan.


"Soal pekerjaan, iya. Kalau soal pribadi, tidak. Kami tidak mencampuri urusan pribadi bos kami." jawab Gerry.


"Sudah berapa lama kamu ikut Robby?" tanya Lais.


"Sudah sepuluh tahun."

__ADS_1


"Apa dia punya perusahaan di negara ini?"


Pria itu menggeleng.


"Lalu apa yang dia lakukan?"


"Dia menjadi investor dibeberapa perusahaan. Tapi tidak memakai namanya langsung dan tidak pernah menemui relasinya secara langsung juga. Mereka tahunya saya."


"Tunggu. Gerald...Geraldi Jaya Kusuma. Kaukah itu?Investor yang terkenal itu? Yang berkali-kali menolak ajakan kerjasama perusahaanku dulu?" tanya Lais.


Pria itu mengangguk. "Tuan Robby tidak berkenan bekerja sama dengan perusahaan Tuan Robert."


"Ya, sekarang aku tahu alasannya."


Mereka lalu diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kita sudah sampai.Mari silahkan turun. Mansion ini milik Tuan Robby. Dan beliau ingin kalian tinggal di sini agar tidak terjangkau oleh Tuan Robert. Karena Tuan Robby berpikir jika Tuan Robert pasti akan melakukan segala cara untuk menghalangi usaha kalian." jelas Gery.


Lais turun dengan tenang. Matanya menyapu mansion yang berdiri megah dihadapannya.


"Wow!" pekik Aruna.


"Suka?" tanya Lais.


Aruna melirik suaminya,"Aku suka asalkan ada kamu. Dimanapun itu."


Lais tersenyum lalu merengkuh bahu Aruna dan mendekapnya.


"Ayo kita masuk."


Aruna mengangguk dan mengikuti langkah Lais memasuki mansion.


Saat pintu dibuka, mereka dikejutkan dengan keberadaan Pak Munir dan Bu Ira.


"Kalian?!"


Robby benar-benar sudah menyiapkan segalanya.


Aruna langsung memeluk Bu Ira. "Kangen." katanya manja.


"Ibu juga kangen sama non." balas Bu Ira. "Non Nisa?"


"Ada, paling masih di luar." jawab Aruna sambil.melepaskan pelukannya.


Tak lama kemudian Nisa dan Revan masuk. Nisa juga memeluk Bu Ira.


"Karena kalian sudah sampai dengan selamat, saya pamit undur diri. Jika membutuhkan bantuan, silahkan hubungi saya." Gery mengulurkan kartu namanya kepada Lais. Lais mengangguk.


"Jadi kita akan tinggal.bersama." gumam Revan.


"Kenapa?Nggak suka?" sengit Lais.


"Bagaimana ya?Bisa kubayangkan betapa nggak enaknya tinggal bareng kamu. Pasti aku akan disuruh-suruh." sungut Revan.


"Ya nasibmulah." jawab Lais cuek.


Aruna dan Nisa hanya menggelengkan kepala mendengat perdebatan suami mereka.


"Ayo sayang, kita pilih kamar." Lais menggandeng Aruna menuju kamar yang ada di bawah. Kamar yang paling besar.


"Kamu kan sedang hamil, jadinlebih baik kita di bawah saja."


"Nisa juga sedang hamil. Apa masih ada kamar di bawah?" Aruna mencemaskan Nisa.


"Pasti masih ada. Mansion ini sangat besar dan luas. Sudah..jangan pikirkan mereka. Istirahatlah." Lais menggandeng Aruna ke tempat tidur.


"Tuan aku nggak capek." rengek Aruna yang merasa kesal.katena Lais selalu menyuruhnya istirahat.

__ADS_1


"Oh ya? Kalau begitu aku akan membuatmu capek." Lais mendekat dengan tatapan jahil.


"Ah ya ya ya. Aku akan istirahat." Aruna segera membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.


Lais tersenyum geli melihat tingkah Aruna. Ia mengecup kening Aruna, "Istirahatlah. Aku akan menemui Revan. Ada yang harus kami bahas."


Aruna mengangguk sambil menatap punggung suaminya yang menjauh dan menghilang di balik pintu.


"Dasar." gumam Aruna sambil cemberut.


Lais mencari Revan di setiap ruang yang ada di mansion itu.


"Tian mencari Tuan Revan?" tanya Pak Munir yang melihat Lais sibuk memeriksa tiap ruang yang ada di bagian bawah mansion.


"Iya, Pak Munir lihat dia nggak?"


"Tadi saya lihat Tuan Revan dan Non Nisa naik ke lantai dua. Mungkin mereka memilih kamar di lantai dua." jelas Pak Munir.


"Kok? Nisa kan hamil. Apa nggak bahaya mereka naik turun?" ucap Revan.


"Ya nggak lah Tuan. Kan di mansion ini ada liftnya." jelas Pak Munir.


"Oh ya? Tolong panggilkan Revan, Pak. Aku tunggu di ruang kerja sebelah sana." Lais menunjuk ke salah satu ruangan yang tadi sempat ia periksa dan ia yakini sebagai ruang kerja.


Mata Lais menyaou ruangan yang cukup luas dan lengkap. Ia tampak terkesan.


"Lumayan. Selera Robby cukup lumayan." gumamnya.


"Kamu mencariku?!"


Lais langsung menoleh saat suara Revan mengagetkannya.


"Hm." jawabnya sambil duduk di kursi yang ada di depannya.


"Ada apa?" Revan ikut duduk.


"Ya, membicarakan bisnis kita lah. Apalagi."


Revan mengangguk. Selanjutnya mereka tampak serius membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Kita butuh kantor."


"Gunakan apartemen saja."


"Kurang luas. Kita juga harus merekrut pegawai."


"Perlu buka iklan?"


"Terlalu riskan. Lakukan diam-diam. Kita hubungi orang-orang kepercayaan kita saja."


"Ok. Besok aku akan mengaturnya."


"Van!"


"Hm?"


"Bisakah kau jemput mama di desa Pak Munir? Setelah menemani Aruna wisuda, beliau pasti balik ke sana. Ajak tinggal bersama di sini."


"Beres. Sekalian aku urus orderan barang besok."


"Makasih!" ucap Lais tulus.


"Ok, aku mau istirahat dulu. Penat." pamit Revan lalu beranjak meninggalkan Lais.


Lais duduk termenung sepeninggal Revan. Ia memikirkan apa yang akan Robby lakukan. Meski ia tahu papanya bersalah, namun ia juga mengkhawatirkan pria itu.


Andai papa tidak terlalu serakah. sesal Lais.

__ADS_1


__ADS_2