
"Ma, tadi Angela kan?" pertanyaan Lais mengagetkan Nyonya Robert.
"Kau melihatnya?" Mata Nyonya Robert memindai Lais melihat adakah perubahan pada diri putranya itu.
"Ya. Dua kali. Pertama saat aku membuang sampah. Aku sempat melihat dia. Dan kedua tadi. Aku lihat dia bicara sama mama. Apa yang dia omongin? Mama kelihatan syok tadi."
Obrolan mereka terhenti sebentar karena berpapasan dengan pengunjung lain di rumah sakit itu.
"Nanti saja mama cerita soal Angela. Mama mau bilang tentang kondisi papamu dulu. Tadi kata dokter, operasinya berhasil hanya kondisi pasca operasi belum bisa diprediksi. Dari yang sudah sudah, pasien ada yang susah menggerakkan beberapa anggota tubuhnya bahkan ada yang stroke karena penggumpalan darah. Untuk kasus papa masih akan diobservasi lagi." Nyonya Robert menghela nafas panjang. Ia ingat ucapan Angela soal kehamilannya.
Lais dan Nyonya Robert sampai di depan ruang ICCU. Mereka duduk di bangku hang tersedia di depannya.
"Ma, soal Angela?" Lais mengungkit masalah Angela.
Nyonya Robert kembali memindai putranya dengan pandangan yang intens.
"Lais, apa kau tidak merasakan apapun saat melihat Angela?" Mata Nyonya Robert menelisik.
Lais menggeleng,"Kalau yang mama maksud adalah ketakutan seperti dahulu. Tidak. Rasa itu sudah lama hilang."
"Oh syukurlah." Nyonya Robert bernafas lega.
"Kalau begitu aku akan mengatakan semua yang Angela sampaikan padaku tadi." Nyonya Robert menatap Lais memastikan jika putranya itu benar-benar baik-baik saja.
"Angela hamil. Dan menurut pengakuannya itu anak papamu. Adikmu. Jadi dia meminta sebagian harta papamu sebagai hak dari anak yang ia kandung."
Lais tersenyum sinis. "Jadi selama ini papa tidak menghukum Angela atas perbuatannya waktu itu. Dia malah memeliharanya sampai wanita itu hamil." senyum kecewa terukir di bibir Lais. Kini ia sadar, dirinya, Aruna dan mamanya tidak lebih penting dari seorang Angela bagi Tuan Robert.
Nyonya Robert mengelus punggung Lais untuk menenangkan putranya itu. Lais melirik mamanya. Mestinya ia yang menguatkan mamanya, karena pasti hati wanita itu sedang terkoyak koyak.
Lais menggerakkan tangannya memeluk mamanya. "Mama tidak apa-apa?" bisiknya.
"Kamu mengkhawatirkan mama?" Nyonya Robert tertawa pelan.
"Mama sudah lama tahu soal mereka. Mama sudah terbiasa. Terbiasa dengan rasa sakit ini. Bagi mama yang penting masalah ini tidak mempengaruhimu. itu sudah cukup."
"Ma." desah Lais merasa sedih atas penderitaan panjang mamanya itu.
"Bagaimana dengan permintaan Angela?"
Lais melepaskan pelukannya.
"Sebenarnya sejak lama aku sudah punya ide untuk mengembalikan apa yang semestinya jadi milik wanita itu. Namun karena pertengkaran dengan papa, membuatku tidak bisa melanjutkan niatku itu. Jadi karena sekarang papa tidak bisa mengurus perusahaan. Aku akan kembali melakukan rencanaku itu."
"Baguslah. Lakukan saja apa yang menurutmu benar. Lalu soal Roby?"
"Roby, dia biar berurusan dengan Angela nantinya. Menurut feeling Lais, Robylah yang nanti akan menjalankan perusahaan miliki Angela. Karena Angela tidak memiliki kemampuan itu."
"Terus apa yang harus kita katakan pada papamu saat ia bangun nanti?"
"Kita katakan saja yang sebenarnya ma. Papa harus terima itu."
"Kalau misal yang dikandung Angela bukan anak papamu?"
"Anaknya atau bukan, keputusan Lais tetap.bulat Ma. Perusahaan papanya Angela harus dikembalikan padanya. Baru kita akan hidup tenang. Tanpa gangguan dari wanita itu maupun Roby."
"Ya. Kita tidak perlu mempertahankan apa yang bukan milik kita." Nyonya Robert bergumam lirih.
Termasuk papamu. Cintanya sudah bukan lagi milik mama. Mama tidak akan mempertahankannya. Kalau sekarang mama di sini, semata-mata demi kewajiban mama.
"Lais, Nyonya?" Revan datang.
"Kau sudah datang?" Lais melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Sudah jam pulang kantor rupanya. Aku haris pulang biar Aruna tidak khawatir"
"Nyonya, silahkan anda ikut Lais. Biar saya yang menjaga tuan sampai Anton tiba." Saran Revan.
"Iya ma. Dan wanita itu mungkin juga ingin menemani papa. Biar dia saja." Lais yang semula mengkhawatirkan papanya menjadi kesal karena tahu papanya tidak melakukan apa-apa pada Angela.
"Wanita? Siapa? Jangan bilang Angela?" tebak Revan.
"Kenyataannya memang dia." jawab Lais sambil membantu mamanya berdiri.
"Van, maaf merepotkanmu. Aku akan pulang sebentar untuk mandi dan ganti pakaian. Aku juga ingin menemui menantuku. Sudah lama kami tidak bertemu. Tolong kamu di sini sebentar ya!" pinta Nyonya Robert.
"Baik Nyonya. Jangan sungkan."
__ADS_1
"Van pergi dulu."
Revan mengangguk dan melambaikan tangannya.
Lais mengamit lengan mamanya meninggalkan rumah sakit.
"Non, kenapa gelisah begitu?" Bu Ira menegur Aruna yang sejak sore.monda-mandir di depan pintu.
"Suamiku bu. Sejak terakhir telepon dia tidak memberi kabar lagi. Pesanku juga tidak dibalas."
"Tuan mungkin sibuk non."
"Entahlah bu, perasaanku tidak enak."
Aruna kembali berjalan ke pintu dan ia hampir melonjak kegirangan saat mobil Lais masuk ke pelataran mansion Roby yang kinj mereka tinggali kalau saja Bu Ira tidak memperingatkannya.
"Non, ingat sedang hamil."
Aruna nyengir. "Iya. Hampir lupa."
"Mama!" pekik Aruna saat melihat Lais membukakan pintu dan mamanya keluar dari mobil.
"Non hati-hati!" Bu Ira berteriak karena Aruna melesat menyongsong Nyonya Robert.
"Mama!" Aruna memeluk Nyonya Robert.
"Sayang. Kenapa lari-lari.Ingat kandunganmu" Nyonya Robert balas memeluk Aruna.
"Mereka kuat kok Ma." Aruna cengengesan.
"Iya kalau nggak kuat nggak mungkin tiap hari bisa menemani papanya main bola." sambung Lais membuat Aruna mendelik.
"Nih anak. Jangan terlalu sering." Nyonya Robert memukul lengan Lais.
"Iya tuh. Dengerin nasehat mama." semprot Aruna.
Lais hanya tersenyum tanpa dosa.
"Masuk ma!" Aruna menggandeng mamanya.
"Hei, kamu melupakan suamimu." Lais keki karena Aruna melupakan kebiasaannya mencium tangan Lais tiap.kali ia pulang kerja.
Awas kau ya.
Rahang Lais mengeras. Ia menatap kesal pada wanita hamil yang sedang menggandeng mamanya dengan senyum bahagia. Lais membuka pintu bagasi mobilnya dan mengeluarkan tas berisi pakaian Nyonya Robert. Ia menenteng tas itu dan melangkah masuk ke mansion tanpa mempedulikan dua wanita yang saling melepas rindu di ruang tamu.
Lais meminta Bu Ira menyiapkan kamar untuk mamanya kemudian dia melangkah ke kamarnya sendiri.
"Run, sepertinya suamimu ngambek." bisik Nyonya Robert geli melihat tingkah Lais.
"Masa sih mah. Enggak kok. Dia biasa begitu." Jawab Aruna enteng.
"Dasar kamu yang nggak peka. Dia ngambek. Sana, layani dia dulu. Mama juga mau mandi dan bersih-bersih."
"Aruna antar mama ke kamar."
"Nggak usah. Sudah sana urusi suamimu saja! Dia suka lama ngambek kalau nggak segera ditenangkan. Mama biar sama Bu Ira saja."
Aruna terkekeh mendengar celoteh mamanya tentang kebiasaan ngambek Lais.
Aku tahu kok ma, bagaimana cara membuatnya tidak ngambek lagi.
Aruna menuruti saran mamanya. Ia menyusul Lais ke kamar. Saat masuk kamar, ia tidak melihat Lais tapi dari dalam kamar mandi ia mendengar gemericik air. Aruna segera menyiapkan baju ganti untuk Lais lalu duduk di sisi ranjang menunggu suaminya selesai mandi.
Lais keluar dengan berbalut handuk. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya.
Aruna mendekat dan bermaksud mengambil handuk kecil yang Lais pakai untuk mengusap rambutnya
"Aku bisa sendiri." tolak Lais menepis tangan Aruna.
Eh ngambek beneran ternyata. Memang hanya mama yang paling paham putranya.
"Sudah jangan ngambek. Malu sama calon anakmu. Nanti mereka ikutan ngambek nggak mau dikunjungi bagaiman? Repot kan?" Aruna mencubit dada Lais.
"Kau." mata Lais melotot.
"Apa?" Aruna malah mengelus dada Lais dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Lais menjatuhkan handuk yang ada di tangannya lalu menangkap tangan Aruna yang bergerilya di dadanya. Matanya mendelik
"Jaga tanganmu." geramnya.
"Oh ya kenapa?" Aruna menarik tangannya dan melingkarkan ke leher Lais. Perut buncitnya menekan tubuh Lais.
"Kau mau apa?"
"Menurutmu?" Aruna berjinjit dan dengan cepat menyambar bibir Lais. Lais terpaku tak membalas.
Melihat suaminya tidak bereaksi, Aruna tahu jika ngambeknya belum hilang. Ia berjinjit lagi dan menekan bibir Lais dengan bibirnya. Kali ini ia melakukannya cukup lama sampai Lais menyerah dan mulai membuka bibirnya menerima ciuman Aruna.
"Sudah ah." Aruna menarik tubuhnya saat Lais mulai merespon membuat pria itu melongo geram dan gemas.
"Mau kemana kau?Tanggung jawab." Lais berusaha mencekal tangan Aruna. Namun wanita muda yang sedang hamil itu cukup gesit untuk menghindar.
"Wek!" Aruna menjulurkan lidahnya meledek Lais lalu segera menghilang di balik pintu.
"Cih!" Lais menahan kesal.
Malam hari di kamar Lais.
"Sayang ada ingin aku sampaikan!" Lais mulai membuka suara saat ia sedang berdua saja dengan Aruna di kamar. Aruna yang sedang tidur di dada Lais mendongak.
"Apa?"
"Ini soal papa." Lais mengelus kepala Aruna.
Aruna menegakkan tubuhnya tidak lagi bersandar di dada Lais.
"Papa?Kenapa?" Aruna memperhatikan suaminya.
"Papa sakit. Dia kena serangan jantung dan tadi siang menjalani operasi."
"Oh. Bagaimana keadaannya sekarang."
"Aku belum tahu. Nanti aku tanya Revan."
"Jadi Pak Revan malam ini menjaga papa?"
"Iya. Gantian dengan Anton, asisten papa dan mungkin wanita itu juga."
"Wanita siapa? Angela?" Aruna sedikit ragu menyebut nama Angela. Ia memindai wajah suaminya dengan penuh rasa khawatir. Takut jika nama Angela masih memberi pengaruh buruk pada psikis Lais.
"Ya!" jawab Lais enteng.
"Dan kau tahu,dia mengaku hamil anak papa dan meminta aset papa untuk calon anaknya."
"Mana bisa begitu. Anak saja belum lahir sudah minta bagian. Dasar matre." omel Aruna kesal.
"Kenapa kau kesal? Kau takut nggak dapat bagian?"
"Ya enggaklah. Bukan begitu. Ah sudahlah. Jangan ngomongin dia. Bikin capek hati. Tapi kenapa papa tidak memberinya hukuman atas apa yang telah ia lakukan, bahkan ia sampai hamil karena papa. Apa mama tahu soal ini?"
Lais mengangguk. "Ya."
"Oh kasihan mama."
"Sayang bolehkah aku ikut melihat papa?"
"Kau mau?" Lais membelai kepala Aruna.
"Mau."
"Kau tidak sakit hati atas apa yang telah dia lakukan dan sikapnya padamu?"
Aruna menggeleng.
"Baiklah. Sekarang tidurlah, besok ikut ke rumah sakit. Tapi kamu nggak perlu menjaga di sana. Jenguk saja terus pulang. Jaga kandunganmu. Nanti Aku akan menyuruh Pak Munir menemanimu. Ajak Nisa dan Bu Ira juga." panjang lebar Lais memberi pesan kepada Aruna.
Aruna berkali kali mengangguk sambil tersenyum.
"Ih perhatiannya. Cuami ciapa cih." Aruna menarik kedua pipi Lais.
"Oo lupa ini suami siapa. Perlu diingatkan rupanya."
Lais memegang tangan Aruna kemudian langsung meraih tengkuknya dan menyambar bibir ranum sang istri.
__ADS_1
...----------------...