
"Revan belum bangun, Pak?" tanya Lais saat ia tidak melihat Revan di meja makan untuk sarapan.
"Sepertinya sudah, Tuan. Tadi Tuan Revan bolak balik ke kamar kecil." jawab Pak Munir sambil melayani Lais makan.
"Separah itukah?" tanya Lais.
"Sepertinya iya. Tuan sih bercandanya kelewatan." kata Pak Munir tanpa takut Lais marah.
"Sebenarnya aku tidak bermaksud mengerjainya Pak. Saat ku lihat ia makan dengan lahap, aku tak sampai hati mau bilang. Lagian kalau ia muntah di rumah makan, pasti memalukan." jawab Lais.
"Benar juga. Tuan Revan juga sih, main santap saja tanpa tanya dulu." gerutu Pak Munir.
Lais melanjutkan makannya tanpa Revan.
"Pak, siapin sarapan buat dia. Aku akan membawa ke kamarnya." titah Lais pada Pak Munir.
"Baik, Tuan. Oh, ya. Apa tuan sudah mengabari nona Aruna?"
"Sudah. Aku sudah mengirim pesan."
"Kenapa nggak di telpon?"
"Nanti saja. Takut ganggu makan paginya. Mana sarapan Revan?"
Pak Munir menyodorkan baki berisi piring yang sudah ada nasi dan lauknya.
"Biar saya saja yang mengantarnya tuan!" Pak Munir menawarkan diri.
"Nggak usah. Biar aku saja. Dia lagi ngambek soalnya." jawab Lais.
"Sama. Kalau tuan tidak menelepon nona Aruna, dia juga bisa ngambek." ucap Pak Munir mengingatkan Lais.
"Dia pasti mengerti,Pak. Sekalian aku ingin melihat kedewasaannya." jawab Lais.
"Kalau nanti dia ngambek, jangan bilang kalau saya tidak mengingatkan anda, Tuan."
"Iya..iya."
Lais segera meninggalkan Pak Munir yang entah mengapa pagi ini ia rasakan sangat cerewet tidak seperti biasanya.
tok tok tok
"Van, boleh masuk?" pinta Lais.
"Masuklah!" suara lemah Revan menjawab dari dalam.
Perlahan Lais membuka pintu. Ia melihat Revan terduduk lemas di ranjang.
"Sarapan!" kata Lais sambil menaruh makanan yang ia bawa di nakas dekat ranjang Revan.
Revan mengangkat tangannya menolak permintaan Lais.
"Sesakit itukah?" Lais mulai cemas.
Revan menggeleng. Ia memegangi perutnya.
"Perlu ke dokter?" tanya Lais lagi.
Revan kembali menggeleng.
__ADS_1
"Van, maaf. Aku tidak berniat mencelakaimu. Aku hanya tidak tega mengganggu makanmu yang lahap saat itu. Aku tidak menyangka akan separah ini. Kita ke dokter ya!" Kekhawatiran Lais memuncak saat ia melihat wajah pucat Revan yang meringis menahan sakit.
Revan tidak menjawab Lais. Ia kembali merasakan mual dan langsung ke kamar mandi.
Lais bisa mendengar Revan muntah. Ia lalu keluar dan memerintahkan Pak Munir menyiapkan mobil.
Saat Revan keluar dari kamar mandi, Lais memaksanya agar mau di bawa ke rumah sakit.
"Ayo! Nggak pake menolak atau aku hubungi Nisa biar dia khawatir!" ancam Lais.
Revan akhirnya menurut. Ia mengikuti langkah Lais.
Pak Munir mengantar kedua pria itu ke rumah sakit di kotanya. Revan segera mendapat penanganan. Ia diinfus karena hampir dehidrasi
"Dokter. Sebenarnya apa yang membuatnya muntah berlebihan?" tanya Lais.
"Menunggu hasil tes darah ya Pak. Kalau berdasar pemeriksaan fisik sih, nggak ada masalah." jawab dokter.
"Apa ini karena ia makan sate brutu?" Pak Munir ikut bertanya.
Dokter tersenyum."Brutu pada dasarnya sama dengan bagian tubuh ayam yang lain. Jadi aman buat dikonsumsi. Hanya saja ada beberapa orang yang tidak suka. Memangnya kenapa?"
"Dia muntah-muntah terus setelah tahu kalau yang ia makan adalah brutu. Sebelum tahu ia baik baik saja." Lais menjelaskan.
"Berarti masalahnya bukan pada brutunya, tapi pada diri pasien sendiri. Mungkin rasa enegnya yang membuatnya terus terusan mual."
"Permisi, dokter!" seorang perawat masuk dan memberikan hasil lab darah Revan. Dokter membacanya lalu mengernyitkan alis.
"Semuanya baik-baik saja." gumam sang dokter. "Nggak ada masalah."
"Lalu kenapa ia bisa merasakan mual yang begitu parah dok?" tanya Lais.
Laos diam. Ia benar-benar merasa bersalah. Andai sejak awal ia melarang Revan memakannya, saat ini Revan nggak akan berbaring lemas seperti itu.
"Sebaiknya, biarkan dia istirahat barang satu apa dua hari di sini. Sampai kondisinya pulih."
"Baik, dokter. Kami permisi." kata Lais pamit.
Lais dan Pak Munir lalu ke kamar Revan.
Revan masih terbaring.
"Bagaimana?" tanya Lais sambil duduk di sisi ranjang Revan.
"Mendingan." jawab Revan lemah.
"Van! Aku benar-benar minta maaf." kata Lais.
Revan memandangnya. Baru kali ini ia melihat raut penyesalan di wajah sahabatnya itu.
Kena kau sekarang. batin Revan.
Revan tidak menanggapi permintaan maaf Lais. Ia sengaja membuat Lais lebih merasa bersalah lagi.
"Permisi!" perawat datang sambil.membawa makanan buat Revan. Setelah meletakan di atas meja, ia kembali keluar.
"Makanlah!" Lais menyodorkan makanan itu pada Revan.
Revan menggeleng.
__ADS_1
"Makanlah!" Lais mengambil satu sendok makanan lalu menyorongkan ke mulut Revan. Revan membuka mulutnya dengan malas. Dalam hati ia bersorak kegirangan karena berhasil membuat Lais menyuapinya.
"Sudah! Cukup!" tolak Revan setelah makan beberapa suap. Ia kembali merasa mual.
"Kau kenapa? Mual lagi?" Lais khawatir saat Revan mengangkat infusnya dan melangkah menuju kamar mandi.
"Aku bantu!" Lais membantu membawa tiang infus Revan hingga ke dalam kamar mandi.
"Keluarlah!" kata Revan.
"Nggak papa. Aku disini saja. Muntahlah. Aku nggak akan jijik." kata Lais demi menebus kesalahannya.
"Masalahnya aku bukan hanya mau muntah. Tapi juga mau buang air. Kau masih mau tetap di sini?Mau melihat punyaku?" tanya Revan.
"Cih. Ogah." Lais langsung keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Revan tertawa lirih sebelum mengeluarkan semua isi perutnya lagi. Setelah selesai, ia membuka pintu. Lais menyongsongnya dan kembali membantu Revan dengan infusnya.
"Van, kau semakin lemah. Kau harus menginap di sini." kata Lais.
"Iya Taun Revan. Dokter juga bilang begitu." kata Pak Munir.
"Tidak perlu. Minta dokter memberiku obat saja."
"Dokter sudah memberimu obat. Tapi lihatlah! Kondisimu belum membaik juga." sergah Lais.
"Bener, Tuan." Pak Munir ikut nimbrung.
"Karena obatnya salah." kata Revan.
"Jangan sok tahu. Dia yang dokter. Kau pasien. Darimana kau tahu kalau obatnya salah?"
Revan hanya tersenyum. Ia lalu mengambil ponsel dan mengirim gambar obat yang biasa ia minum.ke Pak Munir.
"Pak, tolong belikan obat itu di apotik!" perintah Revan.
Pak Munir membuka ponselnya dan membaca pesan yang Revan kirim.
"Baik, tuan Revan." jawab Pak Munir.
"Pak!Ini uangnya." Revan berusaha mengambil dompet dari saku celananga.
"Sudah. Pake uangku saja." Laia memberikan lima lembar pecahan seratus ribuan.
"Itu masih kurang." kata Revan.
" Kurang ya. Tapi uang tunaiku nggak banyak." gumam Lais 'Kirim saja foto obatnya. Biar aku yang beli"
Pak Munir mengirim foto obat Revan kepada Lais.
"Eh..jangan!" teriam Revan panik.
"Kenapa?" tanya Laia heran.
"Eeeeem..nanti merepotkanmu." dalih Revan.
"Nggak papa. Kamu begini juga gara-gara aku. Jadi wajar kalau aku merawatmu sekarang." jawab Lais tulus membuat hati Revan tercubit rasa bersalah.
***
__ADS_1