
"Jangan cekikikan!!" Nyonya Robert dibuat keki oleh tanggapan Aruna tetang hal-hal yang ia ajarkan. Sementara Nisa menutup wajahnya malu.
"Maaf, Ma. Tapi aku geli. Hii." Aruna malah begidik.
"Kalian mau suami kalian cari pelampiasan di luar?" dengus Nyonya Robert kesal.
"Nggak!" Aruna dan Nisa menjawab dengan kompak.
"Makanya ikuti saja apa yang mama ajarkan. Jangan sampai apa yang menimpa mama menimpa kalian juga." desis Nyonya Robert lirih. Wajahnya langsung sendu.
"Maaa.." Aruna memeluk pundak mamanya. Nisa ikut memegang telapak tangan Nyonya Robert.
"Nyonya orang baik, pasti akan mendapatkan hal-hal yang baik." doa Nisa.
"Amiin." Aruna menimpali.
"Mama nggak papa." Nyonya Robert tersenyum.
"Ayo lanjutkan yang tadi!" ajaknya kemudian.
Nisa dan Aruna mengangguk.
"Jadi intinya meski kalian masih dipalang tetap biarkan suami kalian bersenang senang dengan kalian. Hanya satu bagian yang nggak boleh mereka kunjungi, sedangkan yang lain masih boleh. Kecuali yang haram tentunya."
Aruna dan Nisa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Cobalah nanti!"
"Hah!?" kembali Aruna dan Nisa menjawab dengan kompak.
"Iya, kalau tidak nanti, kapan lagi. Suami kalian sudah tiga hari puasa kan?Apa kalian nggak kasihan. Laki-laki dan perempuan itu beda. Perempuan kuat menahan, tapi pria nggak. Mereka akan menderita jika menahan terlalu lama." Nyonya Robert menasehati keduanya.
"Begitu ya ma. Berarti papa. hups." Arina langsung menutup mulutnya karena kelepasan bicara.
Nyonya Robert menunduk. Mendengar ucapan Aruna, ia jadi teringat suaminya.
Menggelikan. Aku menasehati orang tapi aku sendiri tidak bisa melakukannya. Membiarkan suamiku sendirian. Tapi aku memang belum siap, masih ada sakit di hati ini.
"Mama ke kamar dulu." Pamit Nyonya Robert. Ia bangkit dari duduknya lalu beranjak keluar dari kamar Aruna.
Aruna menatap Nyonya Robert sedih. Ia merasa sangat bersalah.
"Ada apa Run?" Nisa bertanya saat melihat ada hal yang janggal dengan Nyonya Robert.
"Aku salah bicara, Mbak." gumam Aruna sedih.
"Maksudnya?"
"Jadi gini. Papa sudah meminta maaf sama mama dan suamiku. Ia berjanji akan berubah bahkan papa juga sudah memutuskan meninggalkan Angela. Tapi, suamiku ingin menguji kesungguhan papa dan itu juga ideku sih. Papa diminta tinggal sendirian tanpa mama selama tiga bulan.Tadi aku mengingatkan mama kalau papa pasti menderita menahan diri selama tiga bulan ke depan."
"Oh begitu. Repot juga sih. Tuan Robert memang sangat keterlaluan dulu, tapi kalau Allah saja mengampuni dosa hambanya, kenapa kita sebagai manusia yang juga penuh dosa tidak mau memaafkan. Saranku, bicaralah sama suamimu. Kurangi waktunya, jangan tiga bulan."
Aruna mengangguk, "Tadi kami juga sudah bicara soal itu. Kata Tuan Lais, ia akan melihat perkembangannya."
"Apa mereka benar-benar sudah berpisah?"
__ADS_1
"Papa dan Angela? Aku nggak tahu mbak. Kenapa?"
"Nggak papa."
"Sebenarnya aku sempat berpikir untuk menggunakan Angela, Mbak. Maksudnya membiarkan Angela kembali menggoda papa. Papa goyah apa enggak. Kalau papa bener bener tetap dengan niatnya, maka aku yakin membiarkan mama bersamanya dengan tenang." Aruna menjelaskan idenya.
"Tadi itu juga yang sempat terlintas di benakku. Jadi kalau misal mereka belum pisah, kita bisa minta Angela merayunya. Memohon agar tidak diceraikan. Kira-kira bagaimana sikap Tuan Robert."
"Mbak, minta tolong Pak Revan saja!"
"Nanti aku akan bilang padanya, tapi kamu juga. Bicarakan idemu ini dengan Tuan Lais. Jangan sampai ia salah paham."
"Sip." Aruna mengacungkan jempolnya.
"Supaya mereka menanggapi ide kita dengan tenang, kita bicaranya setelah mempraktekkan ajaran mama tadi saja." usul Aruna sambil tersipu.
Nisa tersenyum malu.
"Ya dah. Aku pamit. Mau kasih susu anakku lagi."
"Iya mbak. Aku juga mau lihat si kembar. Waktunya memberi asi juga."
Aruna dan Nisa bersama-sama keluar dari kamar.
***
Di ruang kerja Lais.
"Yes!!" Revan berseru kegirangan lalu joget-joget.
"Kau lebay!" Lais mematikan monitor lalu bangkit dan menoyor pundak Revan hingga sahabatnya itu terhuyung.
"Bukan lebay, tapi memang harus dirayakan dengan celebratian kayak gini nih."
Revan mengangkat tangan kanannya ke atas sedangkan tangan kirinya ia taruh di depan resleting. Dengan kedua kaki yang terbuka, ia menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang.
"Ihi." teriak Revan menirukan gerakan sang raja pop.
Lais menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Revan.
"Ayo. Kita rayakan kemenangan kita!" Revan menarik tangan Lais.
"Ogah. Kamu saja gila sendiri sana!" Lais menepisnya. Ia lalu keluar meninggalkan Revan. Di depan pintu ruang kerjanya, Lias berhenti lalu.
"Yess!" ia menggerakkan tangannya dari atas ke bawah. Lalu ia menengok ke kanan dan ke kiri takut ada yang melihat apa yang barusan ia lakukan. Setelah dirasa aman, Lais melenggang kembali ke kamarnya.
Lais langsung merebahkan tubuhnya tak lama kemudian iapun terlelap.
Di kamar bayi
Aruna sedang memberi asi pada kedua putranya dengan ditemani Mak Nah dan Bu Ira.
"Apa sudah disiapkan namanya, Non?" tanya Bu Ira.
"Belum, Bu. Tuan Lais belum mengatakan apapun soal nama si kembar."
__ADS_1
"Anak setampan mereka namanya mesti bagus. Mungkin Tuan Muda sedang memilih nama terbaik buat mereka." Mak Nah menimpali.
"Mungkin, Mak. Apa Mak Nah dan Bu Ira ada ide buat nama mereka? Mak dan Bu Ira kan yang mengasuh mereka jadi nanti akan aku sampaikan ke suamiku nama dari kalian berdua."
"Beneran, Non?!" tanya Bu Ira dan Mak Nah kompak. Mereka tak percaya jika mereka diijinkan memberi nama pada anak majikannya.
Aruna mengangguk.
"Saya akan memikirkan nama terbagus yang artinya juga doa yang baik buat anak asuh saya, Nona." balas Mak Nah.
"Saya juga." Bu Ira tidak mau ketinggalan.
Aruna mengangguk senang. Ia bisa melihat betapa besar rasa sayang kedua perempuan itu kepada putra kembarnya.
"Mak, Bu. Kalian istirahat saja dulu. Mereka biar aku yang jaga. Toh setelah menyusu mereka lelap begitu." Aruna menunjuk bayi yang ada dalam gendongannya dan yang ada di box.
"Iya, Non. Kami ijin untuk menyiapkan makan malam." jawab Bu Ira.
"Bu Ira, untuk makan malam sudah ada koki yang mengurusnya. Bu Ira istirahat saja, atau kalau mau memeriksanya, boleh. Aku tahu Bu Ira nggak rela kalau nggak ke dapur kan?"
"Iya, Non. Dapur sudah bagai istana buat saya."
"Ya sudah. Jangan terlalu capek!"
Bu Ira dan Mak Nah mengangguk. Mereka keluar dari kamar anak-anak Aruna.
"Kamu nggak makan? Tadi siang sepertinya belum makan?" tanya BunIra pada Mak Nah.
Mak Nah tersenyum. "Nanti saja sekalian makan malam. Aku mau menemui Nyonya dulu. Sejak beliau tiba aku belum menemuinya. Siapa tahu dia butuh bantuanku."
"Oh, silahkan!"
Mereka lantas berpisah. Bu Ira menuju dapur sedangkan Mak Nah mendekati kamar Nyonya Robert.
Saat ia hendak mengetuk pintu,ada suara yang menyerunya.
"Nyonya sedang di taman." Pak Munir yanag melihat Mak Nah berdiri di depan kamar Nyonya Robert memberitahu wanita itu.
"Oh." jawab Mak Nah pendek. Ia beringsut hendak pergi.
"Kamu belum makan siang kan?" tanya Pak Munir tiba-tiba.
Mak Nah menoleh dan menatap heran bagaimana pria itu tahu kalau dirinya belum makan siang.
"Aku melihatmu tadi. Saat aku dan Ira makan siang, bukankah kau hendak ke ruang makan? Namun berbalik. Kenapa? Apa karena ada kami?"
Mak Nah tersenyum. Ia tidak menjawab karena ia nggak mau berbohong. Mang itulah alasannya tidak jadi makan. Karena Pak Munir dan Bu Ira sedang makan bersama. Ia tidak ingin mengganggu mereka.
"Apa kau..."
"Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian." potong Mak Nah cepat sebelum Pak Munir menyelesaikan ucapannya.
"Nah, apa yang terjadi antara kita dulu..."
"Nggak ada apa-apa antara kita, baik dulu maupun sekarang. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak." tegas Mak Nah. Ia lalu meninggalkan Pak Munir yang terus menatap punggung Mak Nah yang kian menjauh.
__ADS_1
Maafkan aku, Nah.