Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kegelisahan Lais dan Obatnya


__ADS_3

Seminggu sudah Lais dan yang lain berada di Paris. Pameran mereka sukses. Banyak pengunjung yang tertarik dan memesan barang-barang yang Lais pamerkan. Melihat usahanya ada kemajuan, Lais, Revan dan Rendy merasa sangat bersyukur. Mereka lantas mengajak Robby makan malam sekaligus perpisahan karena mereka akan segera pulang. Bagi mereka Robby termasuk orang yang ikut andil dalam kesuksesannya.


"Jadi kalian besok akan langsung terbang kembali ke Indo?" tanya Robby.


Lais mengangguk. "Kami harus segera mengurus orderan dan perusahaan baru kami."


Robby mengangguk sambil tersenyum.


"Makasih bro, dah bantu kami." kata Rendy. "Sorry jika diawal kita jumpa, gue jutek ama lo."


Robby menepuk pundak Rendy sebagai jawaban.


"Istri kalian kok nggak diajak?"


"Mereka kecapekan keliling Paris jadi istirahat." Revan yang menjawab.


"Baguslah kalau mereka bisa menikmati Paris." ucap Robby


"Semua berkat kamu. Sekali lagi makasih." sambung Lais.


"Jangan terus berterima kasih, siapa tahu suatu hari nanti giliran aku yang butuh bantuan kalian."


"Kalau soal bantu membantu, gua mah siap." sambar Rendy yang juga dianggukin Revan dan Lais.


"Benarkah?!" Robby memastikan.


"Iya. Rendy benar. Kamu sudah banyak membantu kami jadi kami tidak akan segan membantumu juga." kata Lais lalu menegak minumannya.


"Kuanggap ini sebagai janji kalian."


"Ya. Aku pribadi berjanji akan membantumu sepanjang itu masih dijalan kebenaran." tegas Lais. Rendy dan Revan mengiyakan.


"Tentu masih dalam hal yang benar namun sedikit susah." Robby nampak berpikir sambil memegang dagunya.


Lais mengeryitkan alisnya,"Soal apa?"


"Begini. Kejadiannya sih sudah lama banget, saat aku masih kecil. Saat papaku masih tinggal di negara kalian. Jadi saat itu papa menjalin kerjasama dengan perusahaan lokal di sana dan akhirnya berkembang, namun yang punya usaha meninggal dan usahanya diambil alih oleh relasinya dan dengan kelicikannya ia mendepak papa. Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi hak papa." Robby menjelaskan dengan rinci masalah yang ia hadapi dan butuh bantuan dari Lais dan yang lain.


"Bukankah dengan kekuasaanmu kamu bisa dengan mudah mengambil apa yang kamu mau?" tanya Lais


"Tapi aku butuh orang sana untuk memperlancar usahaku. Jadi aku akan membantu perusahaan kalian dan melalui perusahaan kalian aku akan menghancurkan orang itu. Bagaimana?"


Lais diam. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh dan tidak nyaman.


"Apa kalian bersedia?" kembali Robby bertanya. Revan dan Rendy menatap Lais menunggu jawaban pria itu.


"Kalian tenang saja. Ini tidak akan melanggar hukum dan juga tidak dalam waktu dekat. Biar usaha kalian maju dulu." Robby kembali menegaskan.


"Siapa orang itu?!" tanya Lais yang sedari tadi merasakan hal yang tidak nyaman.


Robby menatap Lais ragu. "Kamu mengenalnya." jawabnya.


Lais menghela nafas. Ia tahu pasti itu jawaban Robby.


"Jadi selama ini kamu sudah tahu?" tanya Lais dingin.


"Ya."

__ADS_1


"Dan kamu sengaja membantuku agar aku hutang budi lalu membantumu sebagai balasannya?"


"Ya."


Revan dan Rendy hanya memandang kedua orang yang bercakap dan saling menatap dingin.


"Kau pasti juga tahu hubunganku dengannya sekarang?"


"Ya. Kau tidak lupa kan kalau dirimu terkenal.Aku sudah lama mengamatimu. Bahkan aku pernah menjadikanmu targetku namun siapa sangka kamu justru melawan orang itu. So, kita bisa jadi sekutu."


Lais menghela nafas panjang.


"Baiklah. Aku setuju tapi dalam batas wajar. Hanya mengambil hak papamu. Itupun setelah aku memastikan kebenaran ceritamu."


"Deal." jawab Robby lega. Ia tersenyum memandang Lais yang justru diam berpikir.


"Sudah ngobrolnya, makan dulu yuk dah lapar nih." ajak Rendy saat makanan yang mereka pesan datang. Mereka lantas sibuk dengan makanannya masing-masing.


*


*


*


Lais langsung menghempaskan tubuhnya di kasur begitu sampai di kamar hotel.


"Ada masalah? Kenapa lesu begitu?" tanya Aruna lalu duduk di sebelah Lais. Lais memutar posisinya dan menaruh kepalanya di pangkuan Aruna. Aruna membelai kepala Lais dengan lembut. Lais menggerakkan tubuhnya, kini kepalanya menghadap perut Aruna.


"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Lais sambil memegang pinggang Aruna lalu memeluknya hingga kepalanya terbenam dalam perut Aruna.


"Tuan geli ah." Aruna menggelinjang saat Lais malah menggerak-gerakkan kepalanya di perut Aruna. "Mereka baik. Nggak rewel. Ngerti kalau papanya lagi sibuk." jawab Aruna.


"Kamu kenapa?Nggak biasanya?Ada masalah?"


"Sayang, apakah dosa jika kita melawan orang tua kita tapi demi kebenaran?" Lais menatap wajah Aruna.


"Mmm berat banget pertanyaan Tuan. Tapi kebenaran memang harus diperjuangkan sih, orang salah mesti dilawan nggak peduli dia siapa. Memang kenapa sih?"


"Nggak papa. Tidur yuk, besok kita ada penerbangan pagi." Lais menggeser tubuhnya. Ia berbaring dan menarik Aruna membawanya masuk ke pelukannya.


Aruna menatap Lais yang sepertinya sedang gelisah. Ia berpikir sejenak bagaimana agar bisa menghilangkan kegelisahan Lais.


"Tuan." bisik Aruna.


"Mm." jawab Lais dengan mata terpejam.


"Ada yang kangen tuh?"


"Siapa?" tanya Lais malas.


"Si kembar. Pengen dijenguk papanya." jawab Aruna dengan wajah memanas menahan malu.


Mata Lais langsung terbuka, diliriknya wajah cantik yang sedang tersipu dalam pelukannya. Lais lalu menarik tubuhnya dan membaringkan kepala Aruna di atas bantal kemudian mengungkungnya.


"Kau yakin?" tanya Lais. Aruna mengangguk.


"Ingat, kalau aku sudah mulai, aku nggak akan berhenti."

__ADS_1


Aruna tersenyum. Ia lega karena kegelisahan suaminya bisa hilang meski mungkin hanya sementara.


"Sangat yakin." Aruna mengalungkan tangannya ke leher Lais dan menarik wajah tampan itu mendekat. Ia lalu mengecup bibir Lais membuat Lais terbengong sesaat. Namun ia segera sadar dan mulai menyerang balik.


"Siap-siap sayang, papa datang." gumam Lais lirih saat menyatukan dirinya dengan Aruna. Aruna tersenyum ditengah nikmat yang ia rasakan. Lucu rasanya mendengar ucapan suaminya.


Ya, untuk sementara Lais bisa mengalihkan pikirannya dari masalah yang dibawa Robby. Masalah perusahaan yang diambil alih oleh papanya. Masalah yang membuatnya akan berhadapan dengan papanya nanti. Meski sudah membulatkan tekad untuk mengembalikan apa yang papanya ambil kepada yang berhak, namun ia masih saja gelisah karena tahu papanya bukan orang yang mudah dihadapi. Yang sangat membebaninya adalah mama dan istrinya. Lais khawatir jika papanya murka lalu mencelakai kedua orang kesayangannya itu. Lais belum tahu jika saat ini mamanya ada bersama Tuan Robert, sang papa.


**


"Bangun!" Lais mencium lembut pipi Aruna.


Aruna yang merasa terusik, hanya menggeliat lalu melanjutkan mimpinya.


"Sayang, bangun! Kita telat nanti." bisik Lais lembut.


"Aku masih capek. Bentar lagi." gumam Aruna dengan mata masih terpejam.


Lais tersenyum. Dalam hati ia merasa bersalah. Capeknya Aruna gara gara dirinya juga.


"Siapa suruh nantangin, ini akibatnya. Ayo bangun! Atau aku gendong ke kamar mandi nih!" ancam Lais sambil bersiap mengangkat Aruna.


"Ah nggak. Aku bangun." pekik Aruna. Ia langsung duduk dan menghindar dari tangan Lais.


Lais terkekeh,"Takut banget." selorohnya menggoda Aruna.


"Jelaslah. Kalau kamu membawaku ke kamar mandi yang ada aku nggak akan mandi."


"Terus kalau nggak mandi ngapain?" goda Lais lagi.


"Tau ah." jawab Aruna dengan muka memerah. Ia lalu menggulung selimut ke tubuhnya dan mulai turun dari ranjang menuju kamar mandi. Lais hanya tersenyum. Ia lalu merapikan barang mereka dan memasukkannya ke dalam koper


"Yank, pakaianku mana?" Aruna keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk ditubuhnya. Ia kebingungan saat melihat pakaiannya sudah dikemas rapi oleh Lais.


"Tuh!" Lais menunjuk koper.


"Ya, kan aku belum ganti baju. Main packing aja." gerutu Aruna sambil membuka kopernya.


"Jangan diberantakin!" hardik Lais melihat Aruna dengan tidak sabar membongkar kopernya.


"Hei, jangan diberantakin. Capek tau!" omel Lais.


"Ck. Salah siapa main packing. Kan bajuku ada di dalam." semprot Aruna manyun.


Lais yang jengkel karena usahanya sia sia jadi geli melihat bibir manyun Aruna.


"Gemesin banget sih!" ia mencubit bibir itu.


"Tuan ish." Aruna berusaha menghindar dan menepis tangan Lais. Malang, karena gerakan refleknya yang cukup cepat malah membuat handuk yang melilit tubuhnya lepas.


Syuuut


"Wow! Niat banget menggodaku." Lais maju dan dengan cepat mengambil handuk Aruna.


"Tuan ah, balikin!" Aruna kelabakan dan berusaha menutupi tubuhnya. Matanya mencari cari apa yang bisa ia pakai di koper yang ada di depannya. Sayangnya Lais mengemas pakaiannya dibagian bawah.


"Sudah, ganti bajunya nanti saja." Lais mendekat dan menarik tubuh Aruna.

__ADS_1


"Eh...katanya telat." protes Aruna.


"Nggak, masih lama. Masih cukup." Lais langsung menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Aruna, mulai menyesap leher istrinya itu sambil membimbing istrinya mundur menuju ranjang mereka. Dan gara-gara insiden handuk melorot, Aruna harus kembali menghadapi keganasan Lais.


__ADS_2