
"Sekarang Pak Munir bisa jelaskan! Maaf, bukan aku mau ikut campur dengan urusan pribadi bapak. Jujur, aku saat ini memerlukan Mak Nah dan juga Bu Ira. Tapi aku nggak akan egois. Jika memang keberadaan Mak Nah di rumah ini membuat suasana tidak kondusif, ya apa boleh buat." Lais mengakat bahu.
Pak Munir menunduk gugup.
"Apa tuan muda akan memulangkan Inah?"
"Bisa jadi. Bagaimanapun juga Bu Ira itu pengasuhku. Sudah seperti ibu buatku. Jadi kalau disuruh memilih, aku tentu lebih memilih Bu Ira."
"Cerita saja, Pak. Siapa tahu kita bisa bantu cari jalan keluar." Revan bersuara.
Pak Munir menghela nafas.
"Baiklah. Semua salah saya. Ayah saya adalah keluarga terpandang di kampung, begitu pula dengan keluarga Inah. Kami berteman sejak SMP berlanjut ke SMA. Kesederhanaan dan kebaikan Inah membuat saya jatuh hati. Akhirnya saya menyatakan perasaan saya dan Inah menerimanya."
"Tapi nasib orang tidak ada yang tahu. Saya ternyata bukan anak kandung. Saya hanya anak angkat. Dan itu membuat keluarga Inah menolak saya. Karena asal-usul keluarga kandung saya."
"Saya kecewa. Saya berjanji akan membuat diri saya sukses sehingga mereka tidak lagi merendahkan saya. Saya berangkat ke Jakarta. Sebelum berangkat, saya berpesan agar Inah menunggu saya."
"Ternyata mengadu nasib di kota besar tidak semudah membalik telapak tangan. Berbagai usaha saya lakukan namun gagal sampai akhirnya saya bertemu Nyonya yang kemudian menjadikan saya supir pribadinya."
"Bekerja sebagai sopir membuat saya tidak berani pulang. Saya tidak berani menemui Inah apalagi keluarganya. Jangan menemui, mengirim kabarpun saya tidak berani."
"Dalam keputusasaan itulah saya bertemu Ira. Wanita baik yang terus menyemangati saya. Ira adalah pelayan pribadi Nyonya Robert. Karena merasa senasib dan sederajat, akhirnya saya memutuskan melamar Ira dan berusaha melupakan Inah. Saya pikir jika saya lama tidak memberi kabar, Inah pasti juga akan menerima lamaran pria lain." Kalimat terakhir Pak Munir lebih menyerupai *******.
Hening. Laia dan Revan diam. Mereka bisa merasakan apa yang dulu pernah dirasakan Pak Munir.
Mereka tidak tahu, di depan pintu ruang kerja, Bu Ira berdiri kaku sambil menutip.mulutnya menahan isak setelah mendengar cerita suaminya. Bu Ira perlahan mundur lalu berbalik dan bergegas turun.
Pak Munir menyeka matanya yang basah. Hatinya merasakan penyesalan yang teramat sangat.
"Apa bapak sudah menjelaskan semuanya pada Bu Ira ataupun Mak Nah?" Revan memecah keheningan.
Pak Munjr menggeleng. "Saya tidak tahu harus mulai darimana. Inah selalu menghindar. Ia sepertinya sangat terluka hingga memendam kebencian pada saya."
"Saya tidak menyalahkan Mak Nah jika dia memiliki perasaan semacam itu."gumam Revan.
"Pak Munir,.masalah ini harus segera diselesaikan." tegur Lais.
"Saat bertemu di kampung dulu, saya mencoba mendekati Inah. Maksud saya agar saya mudah menceritakan kejadian sebenarnya. Tapi Inah ternyata adalah penjaga Nyonya. Dia menemui saya demi Nyonya, bukan demi masa lalu kami."
"Ceritalah pada Bu Ira dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman."
"Baik tuan muda. Maafkan saya kalau membuat suasana rumah jadi tidak enak."
"Nggak papa."
"Saya permisi, tuan."
Lais mengangguk. Pak Munir akhirnya undur diri.
"Hah...tak kusangka." Revan menghembisakan nafas panjang.
"Mak Nah pasti merasakan sakit tiap kali melihat Bu Ira dengan Pak Munir." sambung Revan.
"Ku kira tidak." Lais menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Jari-jari tangannya saling mengait dengan siku menopang di atas meja. Alisnya berkerut.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
__ADS_1
"Cinta yang dicampakkan selama bertahun-tahun, pasti rasanya sudah hambar. Hampa." desah Lais.
Hah, sejak kapan ia menjadi pakar cinta. Jatuh cinta juga cuma sekali.
"Aku tahu kalau aku tidak berpengalaman, tapi aku bisa melihat kemungkinan." Lais kembali berkata seolah mengerti apa yang Revan pikirkan.
"Karena akupun mungkin akan begitu jika aku dicampakkan."
Lais bangkit dari kursi dan melangkah keluar meninggalkan Revan yang menatapnya bengong.
"Sayang." Aruna yang baru keluar dari kamar bayi mendekat. "Kamu darimana? Aku mencarimu." Wajah Aruna tampak cemas.
"Ada apa?"
"Kita ke kamar saja!" Aruna menarik tangan Lais masuk ke kamar mereka.
"Ada apa?Kangen ya?" Lais langsung meraih pinggang Aruna begitu mereka sampai di dalam kamar.
"Iya kangen sayang." Aruna mendekatkan wajahnya dan tangannya langsung menarik hidung Lais gemas.
"Tapi bukan itu tujuanku mencarimu." sambung Aruna sebelum suaminya berpikir yang aneh-aneh.
"Ada apa? Butuh partner buat praktek ya?" Lais menaik turunkan alisnya menggoda Aruna. Tangannya mengelus punggung istri kecilnya itu.
"Pratek apa?" Aruna teralihkan dari niat awal mencari Lais.
"Ajaran mama." Lais menahan senyum. Matanya mengerling.
"Oh itu. Masih terlalu sore, ntar malam saja." Aruna menunduk tersipu.
Aruna mengangguk.
"Ok, ada apa mencariku?" Lais melepaskan pelukannya. Ia duduk di bibir ranjang.
"Tuh kan. Aku jadi lupa. Kamu sih." Aruna menggaruk pelipisnya mencoba mengingat apa yang ingin ia sampaikan ke Lais.
"Sini!" Lais mengulurkan tangannya.
"Apa?" Aruna bertanya sambil.menerima uluran tangan Lais.
"Aku bantu mengingat."
Lais menyentak tangan Aruna hingga tubuh Aruna menubruknya. Lais langsung melakukan gerakan memutar dan akhirnya kini Aruna terbaring dengan Lais mengungkung tubuhnya.
"Kau mau apa?"
"Membantumu mengingat sekalian gladi kotor kegiatan nanti malam."
"Apa?!
Aruna tidak bisa menolak saat si bos mengajak melakukan gladi kotor. Ya hitung-hitung biar prakteknya nanti lancar.
Lais tertawa dalam hati melihat usahanya membuahkan hasil.
Tapi tiba-tiba.
" Aku ingat!!!!" teriak Aruna keras mengagetkan Lais.
__ADS_1
"Kau?!" Lais menutup kedua telinganya yang berdengung karena suara keras Aruna. Keasikannya membimbing gladi kotorpun terganggu. Lais menarik tubuhnya lantas duduk.
"Maaf!" Aruna menangkupkan kedua tangannya di dada. Ia ikutan duduk. Aruna mendekat dan berbisik.
"Gladi kotornya dicancel dulu. Mumpung aku ingat. Nanti aku lupa dan kau pasti akan minta gladi bersih buat membantuku mengingatnya."
Lais melirik kesal. Ia memang sudah punya rencana buat gladi bersih, gladi percobaan baru praktek betulan. Siapa sangka Aruna bisa membaca niatnya.
"Sayang, Bu Ira menangis."
Lais kaget. Kekesalannya langsung sirna mendengat wanita yang mengasuhnya sejak kecil itu menangis.
"Kau yakin dia menangis?"
Aruna mengangguk. "Dia tidak mengaku sih. Tapi aku yakin kalau mata merahnya itu karena menangis bukan karena debu."
"Coba ceritalah dengan jelas!"
"Jadi tadi kan aku meminta Mak Nah dan Bu Ira istirahat. Aku ganti yang jagain anak-anak. Terus saat kembali ke kamar anak-anak, mata Bu Ira memerah. Aku tanya katanya kelilipan debu."
Lais diam. "Mak Nah?"
"Mak Nah belum kembali. Mungkin masih di kamar mama."
tok tok tok
Lais dan Aruna menoleh ke arah pintu.
"Biar kubuka." Lais menyeret langkahnya menuju pintu. Aruna mengikutinya.
"Mak Nah." ucap Lais begitu melihat siapa yang berdiri di depan kamarnya. Mak Nah tampak sangat khawatir. Matanya berkaca-kaca.
"Mak Nah ada apa?" Aruna muncul dari balim punggung Lais.
"Tu..tuan. Nyonya..nyonya." Mak Nah tergagap.
"Mama kenapa?" Lais langsung keluar dan berlari menuju kamar mamanya.
"Mama!" panggil Lais sambil membuka pintu kamar.
"Ma!" Lais masuk. Ia terus memanggil mamanya. Namun Nyonya Robert tidak ia temukan.
"Mak Nah! Mama dimana?"
"Nyonya, nyonya hilang."
"Apa?!" Lais dan Aruna memekik berbarengan.
...----------------...
Alhamdulillah, up juga.
Kalau mau baca kelanjutannya, sawer dengan bunga, jempol dan vote ya.
Banyakin juga komen...biar author nggak ngerasa sepi. Hanya komenlah jalan kita berkomunikasi.
🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1