Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Tamu tak terduga


__ADS_3

"Temanmu itu tipe budak cinta ya." kata Angela menilai Revan.


"Dia pria setia." jawab Rendy sambil. mececap minumannya.


"Kalau kamu?" pancing Angela menggoda.


Rendy tersenyum masam. "Kalau aku cinta hanya untuk satu orang, tapi kalau untuk bersenang-senang boleh dengan siapa saja." jawab Rendy menatap Angela penuh arti.


Angela tersenyum. "Kita sepemikiran. Jadi bisakah selanjutnya kita senang-senang bersama?" tantang Angela.


"Tergantung apakah Nyonya berguna buat saya karena meski sekedar bersenang-senang, saya juga nggak mau rugi." jawab Rendy dengan cool nya.


Angela tersenyum lebar, "Apa maumu manis?Mau berapa banyak?Aku kasih. Asal kau bisa memuaskan hasratku." Angela bicara sambil. mendekatkan wajahnya ke Rendy. Jarak bibirnya dengan bibir Rendy sangat tipis. Rendy bisa merasakan nafas hangat Angela.


Revan... kau akan membayar mahal untuk apa yang aku alami ini.


Rendy menguasai perasaan jijik dan jengahnya. Ia mulai mencari pengalihan agar sikapnya tetap normal. Rendy membayangkan Aruna. Ia katakan pada dirinya bahwa ini demi Aruna. Gadis ya g diam diam telah masuk ke dalam hatinya.


"Aku nggak mau harta. Aku butuh bantuanmu." kata Rendy.


"Katakan saja!"


"Kau ingat teman dari Revan, temanku tadi, yang kemarin bersamanya?"


Angela mengangguk, "Pria penyakitan itu."


"Ya. Dia punya seorang istri dan wanita yang menjadi istrinya itu adalah wanita pujaanku."


Wajah Angela berubah. Ia tampak tidak suka.


"Jangan masam. Cantikmu hilang." rayu Rendy. Ia terpaksa mengelus pipi Angela yang meski sudah berusia hampir setengah abad tapi masih halus.


Angela terhibur. Ia tersenyum.


"Lalu apa maumu?" Angela memegang dan menggenggam tangan Rendy.


Rendy menarik tangannya dengan halus agar Angela tidak tersinggung dan curiga.


"Bisakah kau membawa gadis itu padaku?" Rendy bertanya sambil melipat tangannya. Ia tidak mau Angela meremas tangannya lagi.


"Mmm... ini agak berat dan berbahaya. Apa imbalan buatku?" Angela menatap Rendy dengan pandangan menyelidik.


"Kalau semua sesuai apa yang aku harapkan, maka apapun yang kau mau akan aku berikan." Rendy memasang senyum di wajahnya yang tampan.


Angela tertawa, "Kalau kau pikir aku akan percaya begitu saja, kau salah manis. Kau harus membayar depe nya dulu." Angela bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke belakang kursi Rendy.


Angela menunduk dan berbisik tepat di samping telinga Rendy, "Sebagai depe, tani aku malam ini. Dan bayaran cashnya nanti, kau harus bisa membujuk temanmu yang bernama Revan itu untuk menemaniku selama dua malam."


Rendy mengepalkan tangannya.


Sungguh wanita yang sangat licik dan jahat. Tapi aku tidak boleh kalah.

__ADS_1


Kini ganti Rendy yang tertawa.


"Maaf, Nyonya. Kesempatan kita batal. Karena depemu terlalu mahal. Kau belum bekerja sudah memintaku menemanimu. Siapa yang bisa menjamin kalau kau tidak menipuku?" Rendy berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Angela. Angela sedikit panik saat mangsanya akan lepas.


"Tunggu!! Baik, kita buat kesepakatan baru." teriaknya menghentikan Rendy.


Rendy berbalik. Ia mendekat dan menyerahkan kartu namanya.


"Pertemuan kita kali ini cukup sampai di sini. Aku banyak urusan. Hubungi aku jika kau punya penawaran yang baru."


Angela menerima kartu nama itu. Rendy melanjutkan langkahnya meninggalkan Angela.


Rendy menuju mobil Revan yang dengan setia menunggunya di parkiran restaurant. Ia membuka pintu dan masuk dengan bersungut-sungut.


"Sial, kau harus membayarku lebih dari yang kau tawarkan. Wanita itu menjijikan!" umpat Rendy.


"Asal tujuanku tercapai. Apapun yang kau mau aku kasih." jawab Revan sambil menjalankan mobilnya.


"Pegang janjimu!" tegas Rendy.


"Jangan khawatir."


"Bicaramu. Andai kau tahu ia minta imbalan apa, kau pasti yang akan khawatir"


"Memangnya apa yang ia minya?"


"Semalam bersamamu. Dia tergila-gila padamu." Rendy terkekeh. Wajah Revan memerah jengah.


Rendy mengangkat bahu.


Di kantor Revan.


Aruna berdiri di samping jendela memandangi taman yang ada di bawah. Ia ingat saat ia berada di taman itu dan angkasa mendatanginya.


Aruna menghela nafas.


Greb.


Lais memeluknya dari belakang membuat Aruna kaget.


"Ah, tuan bikin kaget saja." cicit Aruna.


"Apa yang kau lamunkan?" Lais menaruh dagunya di bahu Aruna.


"Bukan apa-apa. Hanya ingat kejadian penusukan itu saat melihat taman yang ada di sana." Aruna menunjuk taman yang ada di bawahnya.


Mata Lais mengikuti arah telunjuk Aruna.


"Kau tidak sedang mengingat pria itu kan?" tanya Lais sambil. menyibak rambut Aruna dan memberi ciuman di ceruk lehernya.


Buku-buku di tubuh Aruna meremang. Lais sudah sangat sering menyentuhnya, namun ia masih merasakan seperti baru pertama kalinya

__ADS_1


"Tuan... " desah Aruna, "Nggak mungkin aku mengingat pria. Kalau toh ada ingat, itu lebih ke rasa jijik." jawab Aruna sambil. memegang tangan Lais yang melingkar di perutnya.


"Benarkah?!" suara Lais sangat lembut. Bibirnya kini menyusuri leher jenjang Aruna.


Ya ampun. Apa orang ini akan melakukannya di kantor juga? Kupikir aku akan aman jika belajar dengannya di kantor. Aku harus cari akal.


Aruna memutar tubuhnya hingga lepas dari pelukan Lais


"Tuan, bukankah tuan janji akan mengajariku? dia hari lagi aku ujian. Tuan tidak ingin aku segera lulus?" kata Aruna mencoba mengalihkan perhatian Lais.


Lais meraih pinggang Aruna dan menariknya hingga tubuh mereka tak lagi berjarak.


"Apa untungnya bagiku kau cepat lulus atau tidak. Sama saja." kata Lais. Wajahnya menunduj mencoba mencium Aruna.


Aruna menahan bibir Lais dengan jari-jarinya.


"Kenapa tidak ada? Tentu saja ada. Kalau aku lulus, aku bisa mengakuimu sebagai suamiku di depan semua orang tanpa takut dikeluarkan dari sekolah." Mata Aruna memandang Lais dengan binar gembira.


"Aku tak butuh itu, ' Lais memegang tangan Aruna dan membawanya ke belakang tubuh Aruna. Ia mengunci tangan itu di sana. Ia kembali hendak mencium Aruna.


" Tapi kalau banyak orang yang tahu aku bersuami tidak akan ada pria yang berani mendekatiku. Bukankah itu menguntungkanmu." Aruna berkata sambil. menarik kepalanya ke belakang.


Lais mengernyitkan alisnya. Ia bukannya tidak tahu kalau istri kecilnya itu sedang mengulur waktu.


"Mmm.. kalau ada yang berusaha mendekatimu. Mudah bagiku menyingkirkannya." kata Lais. Ia mendorong Aruna hingga tubuhnya menempel di jendela kaca yang ada dibelakang nya.


"Tuan.Ini bahaya!!" pekik Aruna ngeri.


"Bahaya!?"


"Iya, bagaimana kalau kacanya pecah. Kita bisa jatuh." Aruna berkata sambil. menatap ke bawah. Wajahnya menyiratkan ketakutan.


Lais mengulum senyum.


"Tidak akan pecah kalau kau nggak banyak ulah. Jadi diamlah." bisik Lais yang diakhir gigitan kecil di telinga Aruna.


Aruna sadar usahanya gagal. Kini ia harus menerima apapun yang Lais lakukan. Sampai akhirnya Lais mengangkat dan membawanya ke kamar pribadi yang ada di dalam kantornya.


Satu jam kemudian, Aruna yang kelelahan menatap Lais yang terlelap dengan wajah kesal.


"Pasti tidur. Tiap selesai, dia pasti tidur." gerutu Aruna dalam hati.


Aruna membenahi pakaiannya lalu berjalan ke kamar mandi. Ia membersihkan diri. Setelah selesai, Aruna melangkah keluar dari kamar Lais.


Ia terbelalak kaget saat melihat ada yang duduk di sofa dengan tatapan tajam ke arahnya. Tatapan yang penuh kebencian dan amarah.


...🍃🍃🍃...


Kenapa ya akhir akhir ini mata nggak bisa diajak kompromi. Tiap dipake ngetik di HP bawaannya pengen merem. Jadi Author tak merem dulu ya... disambung besok.


Jangan lupa jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2