
Hari pertama pameran sudah membawa keuntungan. Lais merayakannya dengan mengajak istri dan teman-temannya makan malam.
"Aku heran deh sama Robby. Hanya kecelakaan kecil tapi dia menebusnya dengan sangat luar biasa." kata Rendy.
"Kecelakaan? Kecelakaan apa? Siapa kecelakaan?" tanya Aruna sambil menatap Rendy, Revan dan Lais bergantian. "Tuan?Tuan tidak apa-apa kan?"
Lais menggeleng sambil meremas tangan Aruna menenangkan. Di bawah meja, kakinya menendang kaki Rendy yang duduk di sebelah kirinya.
"Aw!sssh!"
Mata Rendy mendelik ke Lais yang di balas dengan tatapan tak kalah tajam. Rendy langsung menyadari kalau dirinya salah bicara.
"Kak Rendy kenapa?"
"Nggak papa Run." Rendy mengelus tulang keringnya yang kena tendangan Lais.
"Tadi, siapa yang kecelakaan?"
"Itu Run, Tuan Roby. Kemarin tak sengaja merusakan barang kita. Sebagai permintaan maaf, ia telah melakukan banyak hal buat kita. Salah satunya membawamu dan Nisa ke sini."
Tuhkan, jadi bohong aku.
"Benar?"
"Iya sayang. Sudah jangan dengerin omongannya Rendy. Makan yang banyak ya. Siapkan tenaga. Nanti saatnya kiga jenguk anak anak kita." bisik Lais
Aruna mengangguk. Menjenguk anak anak artinya ia akan di bawa ke dokter kandungan untuk USG, melihat bayi mereka. Itu yang ada dalam pikiran Aruna. Namun Lais beda. Malam ini ia ingin menuntaskan kerinduannya. Ia ingin bercinta.
"Sayang, kamu makan juga. Tambah energi seperti Aruna." Revan mengambilkan ikan dan menaruhnya di piring Nisa.
"Kamu juga mas. Kan kamu yang lebih banyak butuh energi." balas Nisa sambil melakukan hal yang sama.
Revan mengelus kepala Nisa. "Istri pintar." pujinya. Nisa tersenyum membalas perlakuan manis Revan.
Aruna menatap pemandangan itu dengan sorot mata iri. Ia gigit daging yang ia makan kuat kuat melampiaskan rasa kesalnya karena ngiri dengan keromantisan Revan dan Nisa.
Lais melirik Aruna sambil menahan tawa. Ia tahu Aruna ingin diperlakukan manis dan mesra, tapi ia tidak mau mengumbar kemesraan di hadapan orang lain (eits Bang Lais lupa ya pernah bikin Pak Munir panas dingin).
"Mentang-mentang istri datang semuanya mau isi energi. Nggak punya perasaan kalian." omel Rendy.
"Makanya loe cepet nikah. Tuh si Megar jangan hanya di php in." Revan menyebut Megar sahabat Nisa yang pernah menolong saat Aruna diculik.
"Dia? Susah."
"Susah apa takut?" Nisa menggoda Rendy.
"Pasti takut. Takut dibanting tuh sama Megar." Revan mengakhiri ucapannya dengan tawa.
Nisa ikut tertawa. Begitupun Aruna, sedangkan Lais hanya tersenyum tipis.
"Sudah deh!" Rendy gondhok karena hanya dirinya yang jadi bahan olok-olok. "Kembali ke Robby. Menurut gue kita harus waspada. Gue rasa ia menyimpan maksud. Dengan membawa Aruna dan Nisa kemari, menunjukan kalau ia memiliki kekuasaan yang hebat. Ia mampu melakukan apa yang ia mau."
__ADS_1
"Aku juga berpikir begitu. Nggak mungkin ia menolong kita tanpa tujuan atau pamrih." Lais menghela napas.
"Sudahlah. Kita bahas itu besok. Malam ini aku ingin bersenang-senang." Revan menyandarkan kepalanya ke dada Nisa sambil menatap mesra sang istri yang juga sedang tersenyum padanya.
"Ck. Kalau sudah nggak tahan, masuk sana ke kamar!" hardik Rendy yang jengah melihat ulah Revan.
"Baiklah. Kita ke kamar sayang!" Lais berdiri dan menarik Aruna agar ikut dengannya.
"Eh, kan yang gue suruh ke kamar Revan. Ngapain loe ikutan?" tanya Rendy.
"Karena dia punya istri. Sama kayak gue. Beda sama loe yang jomblo." jawab Revan yang juga berdiri dari duduknya. Ia lalu membantu Nisa dengan menarik kursi Nisa agar istrinya itu bisa keluar dari tempat duduknya.
"Eh gue sendirian dong." seru Rendy. Namun kedua temannya sudah tidak mempedulikannya. Mereka meninggalkan resto hotel untuk masuk ke kamar masing masing.
Rendy kesal. Ia meneguk minumannya dengan cepat. Tampak wajahnya muram. Ia teringat Megar. Sebenarnya ia tertarik dengan gadis itu, namun Megar sangat susah di dekati. Dan benar tebakan Revan, ia sedikit keder dengan kemampuan bela diri Megar.
"Sendirian Mas?!" sebuah suara lembut menyapa Rendy membuat pria itu mendongak. Seorang gadis cantik yang sepertinya juga orang dari negara yang sama sedang menatapnya.
"Sama kamu." jawab Rendy tanpa maksud menggoda. Ia hanya kesal karena sudah tahu kalau dirinya sendirian masih ditanyain.
"Mas bisa saja. Boleh gabung?"
"Silahkan."
"Terima kasih."
Rendy dan wanita itu lalu saling berkenalan dan makin lama mereka makin akrab.
Lasi sedanh duduk di ranjang sambil.menunggu Aruna yang masih membersihkan diri di kamar mandi.
"Lama banget sih." gumam Lais yang sudah tidak sabar. Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
"Sayang!" Laia mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya?" Aruna melongokkan kepalanya keluar.
"Kamu ngapain saja di dalam?"
"Mandi." Aruna lalu keluar dengan tubuh dililit handuk.
Lais menelan ludah melihat penampilan isterinya yang menggoda. Apalagi sejak hamil, tubuh Aruna makin berisi terutama dadanya.
"Sudah nggak usah pake baju!" Lais menahan tangan Aruna yang akan membuka koper mencari piyama tidur.
"Kok?Katanya mau jenguk anak kita?" tanya Aruna dengan polosnya.
"Memang." Dari belakang, Lais merengkuh tubuh Aruna ke dalam dekapannya. Ia lalu menundukkan kepalanya dan memberikan gigitan di leher Aruna. "Kita mulai ya jenguk anak anak!" bisik Lais lalu mencium telinga.
"Eh..ini..maksudnya..aahh." Aruna sudah tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Lais sudah menarik handuk yang menutupi tubuhnya. Tangan Aruna reflek menutupi aset pentingnya namun tangan Lais lebih cepat. Ia sudah meremas apa yang beberapa hari ini ia rindukan.
"Ahh tuan." Aruna mengalihkan tangannya ke kepala Lais. Ia menjambak rambut Lais menahan gelora yang mulai bangkit.
__ADS_1
Lais mengangkat tubuh Aruna lau membawanya ke atas ranjang. Ia melepas piyamanya kemudian mulai menindih tubuh yang sudah bagai candu baginya itu.
"Beginilah cara jenguk anak, isteriku." bisik Lais. Ia lalu memainkan dada Aruna dengan lidah dan mulutnya. Aruna mengerang. Tangan Lais nggak tinggal diam. Ia mengusik ketenangan goa sempit tak berpenghuni. Membuat Aruna menggila. ******* mulai lolos dari bibirnya.
"Sayang aku..aaah." tubuh Aruna bergetar. Lais tersenyum.
"Anakku sayang, papa datang."
Lais lalu memasuki tubuh Aruna dan bermain ciluk ba dengan anak yang ada dalam perut Aruna. Ciluk ba berulang ulang hingga ia lelah dan muntah.
"Arrggghh." erang Lais. Tubuhnya bergetar. Ia terkulai di atas tubuh Aruna.
"Hihihi." Aruna terkikik.
"Kenapa?" Lais heran melihat Aruna tertawa.
"Anaknya nakal ya sampai bikin papanya lelah." Aruna mengedipkan matanya menggoda Lais.
Tubuh lemah Lais mendadak kembali kuat karena godaan Aruna.
"Bukan anaknya yang nakal. Tapi mamanya. Sekarang saatnya papa menghukum mama." Lais lalu menyambar bibir Aruna dan **********. Pergumulan pun kembali terjadi.
"Sayang, ingat harus lembut." bisik Aruna saat mulai merasa Lais lupa kalau ada anak mereka di dalam perut Aruna.
Lais mengurangi ritmenya.Ia mendekap erat tubuh Aruna saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya
"Sudah ya. Cukup untuk hari ini." pinta Aruna. "Anak kita harus istirahat." Aruna membelai wajah tampan yang bersandar di dadanya.
"Masih sore." bisik Lais. Ia kembali memutar tubuhnya tanpa keluar dari tubuh Aruna. Kini posisi mereka berbalik.
"Tuan!" pekik Aruna.
"Buat aku senang!" Laia tersenyum dan menaikkan alisnya.
Aruna memanyunkan bibirnya. Tubuhnya sudah sangat lelah namun Lais tak juga mau berhenti.
Melihat Aruna manyun,.Lais menarik kepala Aruna dan kembali menyecap benda kenyal itu. Tangannya yang lain menekan bagian bawah lalu menggerakkan tubuh Aruna seperti yang ia mau.
"Love you baby." bisik Lais dalam erangannya saat kembali meraih kenikmatan. Kini baru ia tumbang.
Perlahan Aruna turun. Ia langsung terkulai lemas. Matanya melirik Lais yang sudah mulai lelap dengan senyum penuh kepuasan di wajah tampannya. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh Lais
Merasakan gerakan Aruna yang sedang menyelimutinya, Lais menggerakkan tangannya menarik Aruna ke dalam pelukannya.
"Tidur sayang. Aku sudah capek. Jangan minta lagi." gumam Lais dengan mata terpejam.
Eh nggak salah? Kan dari tadi situ yang minta terus, kenapa jadi aku.
Aruna mendelik ke arah Lais yang sudah mengeluarkan dengkuran halusnya.
TBC
__ADS_1