
"Van, setelah ini kau urus sekolah Aruna." kata Lais sambil melirik Revan yang masih tampak kesal.
Revan mengernyitkan alisnya,"Memang sekolah Aruna kenapa?"
"Dia kemarin melewatkan ujian akhir gara- gara penculikan itu." terang Lais.
"Lalu?"
"Ya kau uruslah bagaimana agar dia bisa ikut ujian susulan!" titah Lais.
Revan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Siapa yang kau telpon?" tanya Lais.
"Ya anak buahku lah. Masak aku harus ke sekolah Aruna dan mengurusi semuanya sendiri." jawab Revan.
"Ck. Kau harus ke sana sendiri Ini Aruna, istriku." Tegas Lais.
"Iya aku tahu dia istrimu, bukan istriku." balas Revan. Ia masih kesal karena gagal menjahili Lais dan malah Nisa yang kena.
"Tidak boleh! Untuk urusan Aruna harus kau sendiri yang melakukannya!" Kembali Lais bertitah dengan tegas.
"Kalau Aruna sepenting itu, kenapa tidak kau sendiri yang mengurusnya?" Revan menggerutu.
"Terus, ada kamu buat apa?" jawab Lais santai.
"Ck..dasar tukang perintah!" omel Revan.
"Hei..ingat. Perintahku nggak gratis." Lais mengingatkan Revan.
"Iya aku tahu...paling juga dapat tambahan bonus." tebak Revan meremehkan.
"Ooo..nggak mau bonus ya. Ya sudah. Sekalian nggak usah terima gaji!" ancam Lais.
Revan mendelik. Benar-benar nih bos. Kejam bin sadis.
'Iya..iya..akan aku urus besok. Bahkan kalau perlu malam ini." sahut Revan dengan kesal.
"Ok. Kalau begitu ku tunggu malam ini hasilnya " jawab Lais sambil berjalan meninggalkan Revan yang melongo tak percaya kalau Lais benar benar menganggap serius ucapannya.
Dia yang bodoh apa aku yang tolol. Malam malam mana ada sekolah buka. batin Revan.
"Sudah? Kita pulang!" ajak Lais pada Aruna. Aruna mengangguk. Ia lalu memeluk Nisa dan mengucapkan terima kasih. Aruna melambai ke arah Revan yang masih termangu memikirkan cara menyelesaikan tugas Lais malam ini juga.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju mansion, Lais kembali bersikap diam. Aruna bingung dengan sikap yang ditunjukkan Lais. Saat tadi Lais mengirim pesan padanya waktu di apartemen Revan, Aruna sudah lega karena menganggap Lais sudah tidak ngambek lagi. Namun sekarang suami tampannya itu kembali memasang wajah dingin dan cueknya yang justru membuat orang yang melihatnya menjadi penasaran.
Aruna memandangi wajah Lais dari tempatnya duduk. Semakin lama Aruna menatap, semakin ia mengakui kalau dirinya kini sudah terperangkap dan tak akan bisa lepas dari pesona misterius Lais.
"Sudah puas?" tanya Lais tiba-tiba membuat Aruna kaget dan gugup.
Sial. Ketahuan lagi. Eh tapi kenapa gugup. Dia kan suamiku. Milikku. Wajarkan aku mengagumi milikku sendiri. batin Aruna.
Dengan cepat Aruna mengatasi kegugupannya. Ia lalu mendekat dan menaruh kepalanya di bahu Lais.
"Belum dan tak akan pernah puas." bisiknya manja menggoda.
Lais tersenyum tipis. Tangan kirinya terulur untuk menggenggam tangan Aruna lalu membawa tangan indah itu ke bibirnya. Kini ganti Aruna yang tersenyum saat Lais mengecup jemarinya. Ia lega karena itu pertanda Lais sudah tidak ngambek lagi.
"Sayang...apa ada yang mengganggu pikiranmu?" bisik Aruna. Lais terkejut mendengar panggilan sayang dari Aruna hingga konsentrasi menyetirnya sedikit terganggu dan mobil yang mereka tumpangi sempat oleng.
Aruna mengangkat kepalanya sambil memekik ngeri. "Sayang hati-hati donk!“
" Kamu sih!" ucap Lais
"Lho! Kok aku?" jawab Aruna bingung.
"Iya. Kamu memanggilku apa tadi?"
Ucapan Aruna dipotong Lais
"Suka. Panggil begitu terus. Jangan panggil tuan lagi. Kamu istriku bukan pelayanku." Kembali Lais mengecup jemari Aruna.
Aruna kembali merebahkan kepalanya di bahu Lais.
"Sayang." bisiknya mesra.
"Hmm." Jawab Lais.
"Sayang." suara Aruna dibuat lebih menggoda
Lasi tidak menjawab namun menarik nafas panjang.
"Sayang." makin mesra dan menggoda.
Lais membanting stir mobil ke sebelah kiri sehingga mobilnya menepi dan berhenti di pinggir jalan. Ditolehnya Aruna yang saat itu juga sedang menatapnya dengan sorot manja menggoda dan senyum manis di bibirnya.
Lais menggertakan rahangnya menatap penuh ***** pada istri mungilnya yang mulai berani memainkan hasratnya itu.
__ADS_1
"Say...mmmm." Kata sayang yang ingin Aruna ucapkan tenggelam dalam mulutnya saat Lais menerkam bibirnya dengan penuh hasrat.
Aruna memejamkan mata, ia menduga kejadian di mobil beberapa waktu yang lalu akan terulang. Namun ia salah. Kali ini Lais hanya menciumnya dan tidak berbuat lebih.
"Jangan memancingku kalau kau tidak mau menyesal!" kata Lais sambil mengusap bibir Aruna dengan jempol tangannya.
Aruna cemberut. Apa yang ia harapkan tidak terjadi. Lais kembali ke mode diamnya dan mulai menjalankan mobilnya lagi.
Aruna meliriknya. Sebenarnya apa yang ia pikirkan?
Sesampainya di mansion, Lais langsung menuju ke ruang kerjanya. Sebelum maauk ruangan itu ia berpesan pada Aruna
"Malam ini kau tidurlah dulu. Jangan menungguku. Ada yang harus aku kerjakan." Lais mengelus kepala Aruna lalu memberi kecupan di kening Aruna. Aruna yang saat itu ingin bermanja langsung memeluk Lais.
"Sayang, jangan biarkan aku sendiri." rajuknya.
Lais mengurai tangan Aruna lalu memegang dagu dan menaikkan wajah Aruna.
"Malam inj saja!" bujuk Lais. Aruna menggeleng dengan wajah cemberut.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu." Lais lantas mengangkat tubuh Aruna dan menggendongnya. Aruna memeluk leher Lais dengan erat. Ia berbisik ke telinga suaminya itu.
"Satu ronde saja atau aku tidak akan membiarkanmu bekerja."
"Dasar penggoda." gumam Lais membuat Aruna terkikik.
Lais meletakkan tubuh Aruna dengan hati-hati di atas ranjang. Ia bermaksud meninggalkan Aruna tapi seperti ucapan Aruna, istrinya itu tidak membiarkan dia pergi. Aruna menarik tangan Lais dan saat tubuh pria itu condong ke arahnya, Aruna memeluk dan mencium Lais dengan penuh *****.
"Aku menginginkanmu sayang." bisik Aruna sambil terus mencium dan memainkan tangannya di dada Lais. Pertahanan Lais akhirnya runtuh. Ia mengimbangi perlakuan Aruna pada dirinya. Akhirnya keinginan Aruna terwujud. Satu ronde dengan durasi yang cukup lama hingga ia kelelahan dan terlelap denhan senyum puas di wajah cantiknya.
"Dasar!" Lais menyentil kening Aruna pelan. "Aku yang kerja dia yang tidur kelelahan." gerutu Lais sambil tersenyum menatap wajah cantik yang berbaring penuh kepuasan di sisinya.
"Hari ini dia aneh sekali. Biasanya aku yang selalu mulai duluan. Seharian ini dia sangat menggoda." Lais terus mengamati wajah Aruna. Ia lalu mengecup kening Aruna dan bangkit untuk membersihkan diri.
...***...
Lais duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja kerjanya.
"Aku harus mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik wanita ****** itu demi ketentraman rumah tangga mama dan papa. Aku memang belum bisa memaafkan kesalahan mereka. Tapi ini adalah yang terbaik agar kedepannya wanita itu tidak lagi mengganggu keluargaku." Lais berpikir keras darimana ia haris mulai menghitung aset dari perusahaan peninggalan ayah Angela yang diambil alih oleh papanya dan digabung dengan perusahaan papanya. Ia mulai mencatat nama-nama pembesar di perusahaan papanya yang mungkin tahu dan mau menolongnya.
"Besok aku akan mendatangi mereka dan mencari informasi." gumam Lais lagi. Ia membuka laptopnya dan melihat laporan perusahaannya di tahun tahun terdahulu.
Semangat Lais....semoga niat baikmu lancar.
__ADS_1