Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Bertemu Preman


__ADS_3

Pak Munir bangkit dari duduknya. Ia memeluk Bu Ira.


"Mungkin bateraiku butuh di charge Bu Ne. Yuk...!" rayu Pak Munir.


"Ish. Tuan Lais memanggil Pak Ne. Diminta mengambil pakaian di butik langganannya. Cepetan, soalnya pakaian itu akan dipakai malam ini." Bu Ira mengurai pelukan Pak Munir lalu mendorong tubuh pria itu menjauh.


Dengan langkah gontai, Pak Munir menjalankan perintah Lais.


Di perjalanan menuju butik, pikiran Pak Munir masih tertuju pada ucapan Mak Nah semalam.


Ciiiiit


Pak Munir mengerem karena tiba tiba ada seorang pria tua menyeberang.


"Astaghfirullah."


Pak Munir mengusap wajahnya lega saat ia mampu menghentikan mobilnya. Namun kelegaan Pak Munir tidak bertahan lama karena ia dikejutkan dengan gedoran di pintu belakang mobil.


Seorang pria sangar menggedor pintu mobil Pak Munir.


"Keluar!!!" bentak pria itu.


Pak Munir melihat pria yang menggedor pintunya. Ia menelan ludah saat melihat ada tiga preman di samping mobilnya.


Celaka. Bagaimana bisa aku masuk.ke wilayah ini


Pak Munir menepuk dahinya saat sadar ia sudah salah jalan.


"Keluar!!! Atau aku pecahkan kaca mobilmu!"


Pria yang tadi menggedor pintu, saat ini berdiri di depan mobil.


Bagaimana ini. Kalau aku keluar aku pasti kena hajar, kalau diam di dalam mobil Tuan Lais pasti akan mereka rusak.


Pak Munir akhirnya memutuskan keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Tolong jangan rusak mobil majikanku!" ucap Pak Munir gemetar. Bagaimana tidak, dirinya yang sudah berusia separuh baya, menghadapi tiga preman dengan badan kekar tentu saja nyalinya keder.


"O sopir." cibir sang preman.


"Iya,saya hanya seorang sopir." Pak Munir menekan ucapannya.


"Baiklah. Sopir pun tak masalah. Berikan barang berharga yang ada di mobil tuanmu dan juga yang ada padamu!" bentak preman itu dengan tampang mengancam.


"Aa..aku tidak ada. Tidak ada barang berharga di mobil dan juga aku tidak punya." Pak Munir tergagap saking gemetarnya.


Sang preman mencengkeram krah baju Pak Munir.


"Tidak sayang nyawa hah?!? Cepat!!" kembali preman itu membentak.


Pak Munir menelan ludah. Ia mulai panik menghadapi preman preman garang yang sekarang mulai mengepung mobil Lais.


"Saya benar-benar tak membawa barang berharga." Pak Munir kian gemetar.


"Hah!" Preman itu menghempaskan tubuh Pak Munir hingga tersungkur di jalan. Ia lalu mencoba membuka pintu mobil Lais.


"Jangan!!" Pak Munir bangkit lalu menahan kaki sang preman yang mencoba membuka paksa pintu yang ia kunci. Ia khawatir sang preman merusak mobil tuannya itu.


"Hai, kalian jangan diam saja. Hajar si tua ini!!" perintahnya kepada kedua orang temannya yang sejak tadi mengamati mobil Lais berusaha mencari barang berharga di dalamnya.


"Aahh!" terika Pak Munir saat salah satu dari kedua preman lainnya itu menendang tubuhnya.


Bukan cuma sekali, preman itu berulang kali menendang tubuh pria paruh baya itu. Bahkan preman yang satu lagi ikut membantunya. Namun Pak Munir tetap kekeh menahan kaki sang pimpinan preman yang hendak membuka paksa pintu mobil Lais.


Ciiiittt


Deritan rem mengagetkan ketiga preman. Mereka spontan menoleh dan melihat sebuah taksi berhenti. Seorang pria seusia Pak Munir namun masih gagah keluar sambil membawa sebatang tongkat.


"Lepaskan dia!!" hardik pria itu tanpa gentar sambil maju mendekat.


"Malik." desis Pak Munir lirih.

__ADS_1


Preman yang tadinya menendangi Pak Munir bersiaga menerima kedatangan Pak Malik.


"Lepaskan dia!" kembali Pak Malik memerintah ketiga preman.


"Cuih!" preman ketiga meludah ke samping


"Cari mati rupanya." ucap preman kedua


"Bereskan dia!" perintah sang pimpinan preman.


Keduanya menyongsong Pak Malik. Namun Pak Malik menyeringai tipis. Dengan gesit ia langsung menyerang kedua orang yang menghadangnya.


Pak Munir menatap kagum ke arah Pak Malik yang dengan cekatan menghadapi kedua preman beringas itu bahkan sanggup membuat kedua orang sangar itu bergulingan sambil mengerang kesakitan. Merasa aman, Pak Munir melepaskan tangannya dari kaki sang pimpinan preman yang nampak sangat geram melihat anak buahnya dibuat roboh oleh Pak Malik.


"Dasar tidak berguna. Menghadapi pria tua saja tak mampu." sang pimpinan merangsek maju menyerang Pak Malik.


Kini duel dua orang berlangsung sengit. Pak Munir dengan sikap siaga mengamati jalannya perkelahian.


Ternyata Si Malik mahir berkelahi. Pantas Si Nah bisa jatuh hati padanya.


Pak Munir menarik nafas dalam.


"Argh." jerit kesakitan sang pimpinan preman membuyarkan lamunan Pak Munir.


"Ampun." teriak pimpinan preman yang saat ini berada dalam pitingan Pak Malik


Pak Malik mendorong tubuh yang sudah tidak berdaya itu menjauh.


"Pergi kalian!" bentak Pak Malik.


Segera ketiganya lari meninggalkan Pak Munir dan juga Pak Malik.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Malik sambil menatap Pak Munir.


***

__ADS_1


Hai readers..jumpa lagi..masih setia kan


Semoga kedepannyabterus lancaar


__ADS_2