Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Apa Rencana Revan?


__ADS_3

Lais dan Revan telah menyelesaikan meetingnya. Lais cukup puas karena proposal kerjasama mereka diterima.


"Ayo Revan, kita langsung saja pulang." ajak Lais.


"Tuan, apa tidak sebaiknya menginap di kota ini saja? Hari sudah mulai gelap." saran Revan. Sebenarnya Revan punya tujuan mengajak Lais menginap. Ia ingin melaksanakan idenya untuk menghubungi Angela.


"Tidak!Aku sudah berjanji pada Aruna akan pulang hari ini." jawab Lais.


Revan diam. Ia memutar otak bagaimana agar dirinya tidak ikut pulang.


"Tuan, anda bisa kan pulang dengan ditemani sopir?" tanya Revan.


"Memangnya kamu nggak ikut pulang?" Lais balik bertanya.


"Saya ada sedikit urusan. Bolehkan saya stay dulu di kota ini? Saya janji besok pagi pagi sekali saya akan kembali."


"Baiklah." Lais lantas keluar dari tempat pertemuan mereka dengan rekan bisnisnya yang baru.


Hari memang sudah mau gelap. Lais segera memanggil sopirnya dan menunggu kedatangan mobilnya di depan lobi tempat itu.


Saat mobil sampai Lais langsung naik dan meluncur menuju mansionnya.


Sementara Revan yang tinggal langsung memesan kamar hotel untuk tempatnya menginap. Ia juga mengirim pesan pada Nisa istrinya, mengabarkan kalau dirinya tidak pulang.


Di dalam kamar hotel, Revan menyusun rencana. Ia sangat berharap usahanya kali ini berhasil.


Revan mengambil kartu nama Angela. Dia sedikit ragu untuk menghubungi Angela mengingat sikap Angela yang menjijikan tadi pagi.


"Demi kesembuhan Lais. Maafkan aku Nisa, percayalah cintaku hanya untukmu." gumam Revan sebelum menelpon Angela


...***...


Hari semakin gelap, Aruna mondar mandir di ruang tamu. Ia menunggu Lais dengan gelisah.

__ADS_1


"Semoga dia baik-baik saja. Kenapa. ponselnya tidak bisa dihubungi." gumam Aruna.


"Non, tidurlah!" kata Bu Ira yang mulai merasa khawatir dengan Aruna.


"Tidak Bu. Aku ingin menunggunya pulang. Tadi pagi keadaannya tidak baik, aku sangat cemas Bu. Apalagi ia tidak bisa dihubungi." jawab Aruna.


"Non, tuan pasti baik-baik saja. Kalau ada apa-apa Tuan Revan pasti menghubungi Non Aruna." Bu Ira mencoba menenangkan kegelisahan Aruna.


"Bu Ira benar, Revan. Aku harus mengubungi Pak Revan."


Aruna mencoba mengontak Revan, namun panggilannya tidak dijawab.


"Dia juga tidak mengangkat telponku Bu, apa mereka berdua sedang dalam kesulitan ya, Bu?"


"Sabar, Non. Saya yakin tuan baik-baik saja."


Baru selesai Bu Ira mengucapkan kata-katanya, suara mobil memasuki halaman rumah mereka. Aruna bergegas membuka pintu.


Ia bisa melihat Lais turun dari mobil dalam keadaan baik-baik saja.


"Kau tahu, aku sangat cemas!" katanya sambil memeluk erat tubuh Lais. Saking bahagianya, ia tidak menyebut Lais dengan kata tuan, melainkan kau.


Lais tersenyum. Ia membalas dekapan Aruna.


"Sudah sangat larut. Kenapa belum tidur?" bisik Lais sambil membelai kepala Aruna yang ada di dadanya.


"Aku menunggumu." jawab Aruna. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Kau pergi tanpa pamit. Dan pulang sangat larut. Juga susah dihubungi. Kau jahat!" Aruna melepaskan pelukannya dan memukul dada Lais.


Lais menangkap tangan Aruna lalu menciumnya.


"Maaf, aku nggak akan mengulanginya. Ayo masuk. Di luar sangat dingin. Tidak baik buat kesehatan."


Aruna tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya, "Gendong!" pintanya manja.

__ADS_1


"Boleh, tapi ada upahnya." Lais mengajukan syarat.


"Apapun untukmu." jawab Aruna mesra sambil mengedipkan matanya.


Lais langsung mengangkat tubuh Aruna dan menggendongnya masuk ke mansion. Saat akan menaiki tangga, Aruna minta diturunkan.


"Sudah, turunkan aku di sini!"


"Kenapa?"


"Pasti berat menggendongku sambil naik tangga."


"Semakin berat, semakin mahal upahnya." jawab Lais tanpa menghiraukan permintaan Aruna. Ia tetap membopong Aruna menaiki tangga sambil sesekali memutar tubuh istrinya itu.


Bu Ira dan Pak Munir tersenyum bahagia melihat kemesraan dan kebahagiaan tuan muda mereka.


"Alhamdulillah ya pak, akhirnya tuan muda menemukan kebahagiaannya." gumam Bu Ira.


"Iya bu. Semoga kebahagiaan tuan muda langgeng dan dijauhkan dari kejahatan orang orang yang berniat jahat pada nya. Amiin."


"Amiin. Ayo, pak kita juga masuk ke kamar!" ajak Bu Ira.


"Ayo Bu, bapak juga sudah penat."


Bu Ira mengangkat kedua tangannya, "Pak, gendong." katanya manja.


Pak Munir membelalakan matanya melihat tingkah aneh sangat istri.


"Bu, bukan bapak nggak mau, tapi gendongnya jangan di sini, di kamar saja ya. Kita gendong-gendongan." jawab Pak Munir sambil memeluk mesra Bu Ira. Mereka berdua lantas tertawa bersama. Bahagia.


...🍃🍃🍃...


Yaaaah... ada yang kepengen digendong juga kan... Aruna sih.. pamer kemesraan.

__ADS_1


Revan mau ngapain sama Angela.... jangan macam macam ya! Kasihan Nisa.


Jangan lupa jejaknya


__ADS_2