Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kemarahan Tuan Robert dan Kekhawatiran Lais


__ADS_3

PRANG......BUG.....BRAK


"Damn it!!" Tuan Robert membanting apapun yang ada di sekitarnya sambil terus mengumpat. Sudah tiga hari ia sampai di Belanda namun orang-orang yang ia bayar untuk menemukan jejek istrinya tak kunjung memberikan hasil seperti yang ia harapkan.


"Dimana kau bersembunyi, sial!!" kembali ia mengumpat. Tangannya menekan meja dengan kuat. Wajahnya memerah menahan marah.


drt drt drt


Ponselnya bergetar. Tuan Robert membuka dan membaca pesan yang masuk dari sekretarisnya.


Tuan. Lusa Tuan ada perjamuan dengan para kolega tuan juga ada tamu penting dari luar negeri. Mereka berharap bisa bertemu Tuan dan Nyonya.


Tuan Robert melempar ponselnya begitu saja setelah membaca pesan yang malah membuatnya semakin kesal.


Dahinya yang memang sudah berkerut semakin dalam kerutannya. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi sambil berpikir mencari kemungkinan tempat yang akan di datangi oleh istrinya.


"Apa sopir pribadi yang biasa melayaninya itu berbohong?Tidak. Data di bandara memang ada nama Maysa. Tapi kenapa ia bagai di telan bumi."


Tuan Robert bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu kamar hotel tempatnya menginap saat ada seseorang yang memencet bel. Tuan Robert membuka pintu.


"Malam Tuan!" sapa asistent pribadinya.


"Hem. Ada apa?" tanyanya dengan datar dan wajah dingin sambil berjalan kembali ke arah kursinya dan duduk.


Anton, sang asisten menelan ludah. Ia tampak sangat ketakutan hingga tidak berani bicara.


Karena lama tidak mendapat jawaban, Tuan Robert menatap Anton sambil mengulang pertanyaannya.


"Kau malam-malam menggangguku ada perlu apa?"


"Anu Tuan. Itu. Ada kesalahan." Anton menelan ludah untuk mengusir gugupnya. "Nyonya. Beliau tidak ek Belanda." akhirnya keluarg juga apa yang ingin ia sampaikan.


Mata Tuan Robert melotot tajam memandang Anton. Ia meraih bantal kursi dan melemparkannya ke wajah Anton yang diam tidak berani mengelak.


"Bodoh. Tolol. Apa saja kerja kalian sampai bisa membuat kesalahan sebesar ini ha?!?!" makinya dengan suara keras. Tidak puas dengan melempar bantal, Tuan Robert maju mendekati Anton dan menamparnya. Antor mundur beberapa langkah karena kuatnya tamparan Tuan Robert. Pipinya langsung merah. Pria muda itu menunduk.


"Lalu kemana dia?!"


"Belum tahu, Tuan." jawab Anton singkat.


"Goblok!!" Kembali Tuan Robert maju dan mau menampar Anton Lagi. Anton mundeur menghindar. Tuan Robert yang mengerahkan kekuatannya untuk menampar Anton demi melampiaskan kemarahannya menjadi tidak seimbang saat Anton mengelak. Ia limbung dan jatuh.


Anton bermaksud menolongnya untuk bangkit namun Tuan Robert menghaediknya dan mengusirnya.


"Keluar kau! Keluar sebelum aku membunuhmu!"


Anton menarik kembali kembali tangannya yang sudah terjulur. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju pintu.


"Dasar bodoh. Kau mau kemana?" seru Tuan Robert saat ia berusaha bangun namun kakinya malah terasa sakit.


Langkah Anton terhenti. Ia menoleh dan melihat Tuan Robert masih bersimpuh di lantai sambil memegangi lututnya. Anton bergegas mendekat. "Tuan! Anda tidak apa-apa?" tanyanya sambil membantu Tuan Robert bangun.


"Tolol! Tidakkah kau lihat aku kesakitan. Bawa aku ke dokter!" perintahnya.


Dengan susah payah Anton membantu Tuan Robert berdiri dan memapahnya keluar dari kamar hotel menuju rumah sakit.


****


Di bandar udara Roisy, Paris, Perancis. Rombongan Lais bari turun dari pesawat. Saat ini mereka sedang menunggu Henry yang berjanji akan menjempunya.


"Itu Henry!" Seru Revan. Ia melambaikan tangan.


Seorang pria muda dan tampan mendekati mereka.

__ADS_1


"Bien accueillir!" kata Henry.sambil mengulurkan tangan kepada Lais.


"Terima kasih." Lais menyambut tangan Henry.


"Apa barang kami sudah nyampai?" tanya Revan.


"Ya! Sekarang ada di tempat penyimpanan di galery pameran." jawab Henry. "Kalian hanya bertiga?"


"Sayangnya begitu." jawab Revan.


"Baguslah. Kita pria lajang berempat, nanti bisa bersenang senang bersama." Henry tertawa.


Lais dan Revan saling pandang. Mareka memang belum mengumumkan pernikahan mereka, jadi banyak rekan bisnis yang belum tahu kalau mereka sudah menikah.


"Ayo! Aku ajak kalian ke surganya Perancis. Banyak wanita cantik di sana!" kata Henry sambil mempimpin mereka berjalan ke mobilnya.


"Hem!" Lais berdehem.


Revan yang sudah hafal kode dari Lais langsung menjawab Henry.


"Sebaiknya bawa kami langsung ke hotel saja. Kami butuh istirahat." jawab Revan.


"Ah kau ini. Kalu Tuan Lais, bagaimana?" Henry memandang Lais.


"Hotel!" jawab Lais singkat.


"Ck!" Henry berdecik. "Anda? Oh ya saya Henry!" Henry mengenalkan dirinya pada Rendy.


"Rendy!" balas Rendy, "Sama. Saya juga ke hotel saja. Dah penat."


"Kalian nggak asik. Ya udah. Kita ke hotel dan aku akan membawa para wanita itu ke hotel nanti malam."


"Tidak perlu!" tolak Lais. "Kami kesini buat urusan kerja, bukan liburan."


"Iya, Hen. Lagipula kami bukan tipe pria seperti itu." Revan menyambung.


"Kamu saja. Kami tidak." jawab Lais. Ia mulai tidak suka dengan sikap Henry. Sayngnya saat ini mereka sedang membutuhkan bantuannya.


Henry kembali terkekeh. Ia lalu membuka kunci mobil dan membiarakn ketiga tamunya masuk. Sementara dirinya duduk di belakang kemudi. Henry lalu melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


"Kapan kami bisa melihat barang-barang kami?" tanya Lais.


"Besok. Sekalian melihat lokasi." jawab Henry. "Oh ya, untuk pengaturan space dan barang sudah ada yang handle. Kalian hanya tinggal melihat saja. Siapkan dokumen yang diperlukan. Kalian sudah mengurusnya kan?"


Revan mengangguk. "Semua sudah siap."


"Bagus!" kata Henry puas. "Besok malam kalian luangkan waktu. Aku mengundang kalian makan malam. Akan ada banyak orang penting di dunia bisnis datang. Jadi manfaatkan." lanjut Henry.


"Bagimana?" Revan bertanya kepada Lais.


Lais mengangguk. Ia lalu menoleh ketika mendengar dengkuran Rendy. Lais menggelengkan kepala. Saat mereka bertiga berbincang tentang hal penting, Rendy malah tidur.


"Temanmu itu sepertinya sangat kecapekan." komentar Henry yang juga mendengar dengkur Rendy meski tidak keras.


"Sepertinya begitu." jawab Revan.


"Ngomong-ngomong kenapa kalian berubah haluan?Setahuku bisnis kalian bukan tentang barang kerajinan atau semacamnya."


"Kami hanya ingin melebarkan sayap." jawab Revan.


"Kalian benar. Di jaman seperi ini, kita tidak bisa hanya bergantung pada satu usaha. Aku salut pada kalian yang masih mau bersusah payah merintis dari awal padahal boleh dibilang kalian sudah memiliki segalanya."


Lais menarik nafas dalam. Ya, Henry tidak tahu kalau dirinya sudah bukan lagi CEO Diamond Corp. Kini dirinya bukan siapa-siapa. Dirinya hanya pengusaha baru. Bahkan belum bisa disebut pengusaha.

__ADS_1


"Kita sudah sampai." kata Henry lalu membelokkan mobilnya ke halaman hotel. Ia berhenti tepat di depan pintu hotel lalu turun dan melempar kunci mobilnya pada petugas valet yang berdiri di dekat pintu masuk.


Henru menuju resepsionist diikuti Lais, Revan dan Rendy.


"Ini kunci kamar kalian. Silahkan jika ingin istirahat. Aku akan pergi dulu dan tidak mengganggu kalian. Jika butuh sesuatu bisa kalian hubungi aku." kata Henry pamit. Ia melambaikan tangan dan berjalan keluar.


"Sebenarnya dia baik." kata Rendy yang sedari tadi diam, "Hanya gaya kehidupan masyarakat sini mungkin sudah sangat mempengaruhinya." sambungnya.


"Darimana loe tahu ia baik?" tanya Revan.


"Gue mendengarkan obrolan kalian. Dari situ gue bisa menilainya."


"Bukankah sedari tadi loe tidur?" kata Revan.


"Mata gue boleh terpejam, tapi telinga gue terbuka." jawab Rendy asal.


Revan menoyor Rendy saat mendengar jawabannya yang nggak masuk akal. Lais hanya tersenyum. Ia merasa senang karena Revan menemukan lawan yang sama anehnya menurut Lais.


"Kamar kita terpisah kan?" tanya Rendy.


"Ya iyalah. Masak kita akan tidur sekamar." jawab Revan.


"Hiii..siapa juga yang mau sekamar ama loe!" cibir Rendy. Ia lalu menyambar salah satu kunci yang ada di tangan Revan.


"Loe kira gue mau." Revan tak mau kalah.


Lais membiarkan dua orang itu ribut nggak jelas. Ia dengan tenang membuka pintu kamarnya dan hendak masuk namun Revan dan Rendy tiba-tiba ikut masuk.


"Kalian mau apa?" tanya Lais sambil menatap aneh kedua orang di depannya itu.


"Mmmm, sejak tadi kamu diam. Apa kamu memikirkan ucapan Henry?' tanya Revan. Rendy mengangguk.


"Aku merasa seperti membohonginya. Ia menganggap aku masih CEO Diamong Corp. Apakah ia akan bersikap sama jika tahu kalau aku tidak lagi ada hubungan dengan Diamond Corp?"


"Dan loe khawatir itu akan mempengaruhi bisnis baru kita?" tebak Rendy. Lais mengangguk.


"Kalau menurut gue nih, loe buktikan saja kepadanya kalau tanpa perusahaan papa loe itu, loe masih sanggup dan patut diperhitungkan. Kalau tebakan gue tidak meleset nih, Henry bukan macam yang loe pikirin. Jadi jangan kuatir." hibur Rendy. Ia mendengar cerita dari Nyonya Robert tentang Lais dan merasa trenyuh.


"Ya, Rendy benar." Revan menimpali.


Lais tersenyum tipis, "Aku kan coba dan sekarang kalian keluarlah!! Aku mau tidur." Lais memaksa menutup pintu hingga Rendy dan Revan terdorong keluar.


"Kaihsan dia." gumam Revan.


"Lebih kasihan lagi istrinya. Oh Aruna yang cantik mmph"


Revan langsung menutup mulut Rendy. Ia khawatir Lais mendengar ucapan sahabatnya itu. Dengan kasar Revan lalu menyeret Rendy menuju kamar mereka masing-masing.


*****


Jangan lupa likenya


Comentnya juga


kasih vote dan kasih hadiah juga ya ....biar author semangat.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2