Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menenangkan Diri Versi Lais


__ADS_3

"Tuan!" Aruna menyentuh tangan Lais menyadarkannya dari ketertegunannya.


"Ayo kembali ke mobil!" ajaknya kemudian. Aruna menggandeng tangan Lais dan menariknya hingga tubuh kekar itu bergerak mengikuti langkahnya. Kini Aruna yang membukakan pintu untuk Lais baru kemudian ia masuk.


Lais duduk di belakang kemudi dalam diam.


"Tuan! Kita pulang yuk!" ajak Aruna. "Tuan bisa nyetir, kan?"


"Lais menoleh, " Aruna. Kita jangan pulang dulu. Aku tidak mau melihat papa ataupun mama dulu." jawab Lais.


"Baiklah, tuan maunya kemana?"


"Kemana saja. Asal tempatnya tenang."


"Bagaimana kalau kita ke vila Tuan?" usul Aruna.


"Baiklah." Lais menyetujui usul Aruna. Ia kemudian menjalankan mobilnya.


Deburan ombak bersahutan dengan suara angin. Lais duduk di pinggir pantai yang dekat dengan vila miliknya. Ia duduk memandang laut lepas. Kaki iabtekuj dan kedua tangannya menumpu pada lututnya. Aruna duduk di sebelahnya dengan kepala bersandar di bahu Lais. Sesekali tangannya merapikan anak rambutnya yang dipermainkan angin.


"Yang asing tidak selamanya asing. Yang dekat mendadak menjadi asing." gumam Lais.


"Apa maksud tuan?" Tanya Aruna dengan pandangan masih ke arah laut.


"Selama ini aku mengira aku mengenal papa dengan baik, tapi pada kenyataannya aku sama sekali tidak mengenalnya. Apa mama juga begitu? Apa aku juga tidak mengenali mamaku yang sebenarnya?" jawab Lais diakhiri dengan nafas panjang.


Aruna tidak mampu berkata-kata. Ia sendiri kaget mendapati kenyataan kalau wanita jahat yang telah menculik Lais dulu dan menculik dirinya sekarang adalah istri kedua Tuan Robert. Dan mama? Apa mama mengetahuinya juga? batin Aruna.


Aruna memeluk Lais untuk memberi kekuatan pada suaminya itu.


"Run, menurutmu kenapa dulu ia menculikku?" tanya Lais lirih. Ada kesedihan dalam suaranya,"Dan papa, ia tidak menghukum wanita itu. Bahkan meski akibat penculikan itu aku harus mengalami trauma berat." sesal Lais.


Aruna mempererat pelukannya. Ia tahu Lais pasti sangat sedih. Ia yabg selama ini berjuang menyembuhkan traumanya, sang papa justru membiarkan wanita yang menjadi penyebab traumanya hidup bebas merdeka. Bahkan menghidupinya.


"Apa aku sebenarnya bukan anak mereka. Aku..."


Aruna menempelkan telunjuknya di bibir Lais sebelum Lais menyelesaikan ucapannya. Sambil menggeleng, Aruna meminta Lais untuk tidak berpikir negatif.


"Tuan jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku yakin tuan anak kandung Tuan dan Nyonya. Wajah tuan sangat mirip dengan mereka. Untuk sikap Tuan Robert, tuan bisa bertanya langsung padanya."


"Aruna, sampai kapan kamu akan memanggilku tuan?" Lais menoleh memandang wajah Aruna. "Serasa bagai orang asing." tambah Lais membuat Aruna menunduk.


Lais mengangkat dagu Aruna,"Apa memang aku orang asing bagimu?" Lais menatap ke dalam manik hitam Aruna.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Aruna malah menaikkan tangannya ke tengkuk Lais dan menarik wajah pria tampan itu mendekat ke wajahnya dan cup, Aruna melabuhkan ciuman kilat di bibir Lais.


"Apakah orang asing akan melakukan ini, tuan kesayanganku?" Aruna menggoda Lais dengan kedipan mata.


Senyum mengembang di bibir Lais. Kini Ia yang menyambar bibir ranum Aruna dan menguasainya untuk waktu yang cukup lama.


Lais mengakhiri ciumannya namun keningnya masih menyatu dengan jeninh Aruna. Mereka saling diam dan hanya helaan nafas mereka yang terdengar.


"Aku mencintaimu, Aruna." desah Lais dengan mata terpejam. Aruna menatao suaminya. Ia terkejut Lais mengungkapkan perasaannya.


"Aku juga." balas Aruna. Lais membuka matanya. Ia tersenyum tipis. Lais menarik kepalanya lalu berdiri. Ia mengukurkan tangannya ke arah Aruna.


Aruna menerima uluran tangan Lais Dan dengan sekali sentak, Aruna kini bwrsiri dan berada dalam dekapan Lais.


"Kita ke vila!" ajak Lais dengan suara sedikit serak karena menahan dorongan dari dalam tubuhnya yang selama beberapa hari sejak Aruna di culik belum disalurkan.


"Apa tuan sudah tenang sekarang?" bisik Aruna.


"Tergantung. Tergantung seberapa lihai kamu menenangkan aku?" Selesai berkata Lais mengangkat tubuh Aruna dan menggendongnya menuju vila.


...***...


Di sebuah kamar di vila, Lais terlentang kelelahan. Aruna berbaring dengan menggunakan lengan Lais sebagai bantal. Keadaan Aruna tak kalah lelahnya dari Lais.


"Hmm." Aruna hanya menggumam dengan mata terpejam.


"Kapan ujian?"


"Kenapa?Mestinya tiga hari yang lalu, tapi aku tidak bisa ikut. Jadi harus ikut ujian susulan. Itupun kalau dapat ijin, soalnya kemarin pas diculik, tuan pasti lupa meminta ijin ke sekolah kan?" jawab Aruna. Ia memutar tubuhnya dan mendekap tubuh Lais bagai mendekap guling.


"Aku akan meminta Revan mengurusnya nanti." Jawab Lais sambil memainkan rambut panjang Aruna.


"Oh ya bagaimana keadaan Tuan Revan dan Kak Rendy?" tanya Aruna.


"Aku juga belum tahu tapi aku yakin mereka baik-baik saja."


"Tapi ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba tuan menanyakan tentang jadwalku ujian"


"Aku ingin kau segera lulus karena aku ingin punya anak."


Jawaban Lais kembali mengagetkan Aruna.


Apakah ini berarti Tuan sudah benar benar sembuh dari kelainan yang dideritanya.

__ADS_1


"Kenapa diam?"


"Oh...tidak apa apa." Aruna tergagap.


"Kau nggak mau punya anak?" suara Lais terdengar datar dan dingin saat menanyakan hal itu.


"Mau tuan, tentu mau. Punya anak dari pria setampan tuan adalah impian banyak wanita. Termasuk saya." Aruna mengecup dada Lais setelah mengucapkan kalimat itu. Ia tidak sadar kalau ia telah membangunkan lagi hasrat Lais.


Matamya terbelalak kaget saat tiba tiba dengan gerakan cepat Lais sudah kembali berada di atasnya.


"Kau yang menggodaku. Jadi bertangggungjawablah!" kata Lais sebelum ia mulai menyerang Aruna. Aruna hanya mendesah pasrah dan merutuki kecerobohannya.


Keyakinannya kalau Lais sudah sembuh dari kelainan yang dideritanya semakin kuat manakala Lais semakin lihai dalam menggiringnya menuju puncak surga dunia. Sentuhannya sangat lembut penuh perasaan.


Dan untuk keduakalinya, mereka kembali terkapar kelelahan.


Aruna berusaha memejamkan matanya agar bisa tidur untuk mengembalikan tenaganya. Namun begitu matanya mulai terpejam, bayang tiga wanita yang tadi ia lihat berkelebat dan ingatannya.


"Tuan, tuan ingat tiga wanita yang tuan lihat di gedung itu kan? Bagaimana kalau misalnya salah satunya adalah orang terdekatmu?" Aruna mendongak mengamati ekspresi Lais.


"Mama?" tanya Lais.


"Kenapa tebakan tua langsung ke mama?" Pancing Aruna.


"Ya karena wanita yang dekat denganku kan hanya kau, mama dan bu ira. Nggak mungkin Bu Ira kan?"


Aruna mengangguk. "Iya, memang bukan Bu Ira." gumam Aruna.


"Apa maksdumu bukan Bu Ira? Apa kau tahu sesuatu? Katakan Run!" Lais balik memandang Aruna.


Bagaimana ini. Apa aku harus cerita kalau salah satu dari tiga wanita itu adalah mama. Tapi, apa tuan akan bisa menerimanya? Atau aku cari dulu alasan mama berada di gedung itu, baru aku cerita ke tuan.


"Run!Aku menunggu jawabanmu." tegas Lais.


"Ya...nggak mungkin Bu Ira kan Bu Ira sudah tua, terus ada urusan apa juga Bu Ira kesana." dalih Aruna.


"Terus kenapa kamu bertanya begitu?"


"Hanya seandainya Tuan, seandainya." Aruna lalu bangkit dari tidurnya setelah tenaganya sedikit pulih.


"Mau kemana" Lais berkata sambil duduk mengikuti Aruna.


"Saya mau ke kamar mandi. Emang tuan mau ikut" kata Aruna tanpa sadar. Saat ia menyadari akibat dari ucapannya yang asal semua sudah terlambat.Lais sudah berdiri di sisinya dan langsung mengangkat tubuhnya masuk ke kamar mandi meninggalkan jeritan kecil Aruna yang sudah bisa membayangkan apa yang akan dia dapatkan nanti.

__ADS_1


Jangan lupa ya Lais...pintunya ditutup yanv rapat biar nggak ada yang ngintip


__ADS_2