
Mereka sampai di parkiran dan melihat Lais sudah duduk di belakang kemudi. Wajahnya masih datar dan dingin.
Masih ngambek rupanya.
"Tuan biar saya yang menyetir!" Revan merasa tidak enak jika bosnya yang haris menyopiri mereka sedangkan ia duduk santai sebagai penumpang.
"Duduklah! Temani istrimu!" titah tegas Revan.
"Pak Revan duduk di depan saja, biar Aruna yang di belakang bateng Nisa." usul Aruna denhan wajah cerianya itu. Namun keceriaan Aruna langsung menguap saat mendapat tatapan tajam dari Lais. "Eh, tidak jadi. Pak Revan di belakang saja. Aku yang akan menemani Tuan Lais di kursi depan." Aruna langsung membuka pintu depan dan menghempaskan pantatnya di kursi yang ada di sebelah Lais. Nisa tersenyum tipis melihat sikap Aruna yang menurutnya lucu. Segera setelah semua penumpangnya masuk dan duduk, Lais melajukan mobilnya menuju apartemen Revan.
Di apartemen Revan.
Aruna dan Nisa duduk berdua di ruang tengah, sedangkan Lais dan Revan ada di balkon.
"Apa yang kau lakukan?" Lais bertanya setengah berbisik. Ia takut Aruna dan Nisa mendengar ucapannya karena jarak balkon dan ruang tengah tidak begitu jauh. Sejak tahu kalau Nisa hamil, Lais begitu penasaran bagaimana cara Revan bisa membuat Nisa hamil dalam waktu secepat itu.
"Melakukan apa?" Revan menjawab sambil menyecap minumannya.
"Itu!" Lais memberi isyarat dengan ekor matanya ke arah Nisa. Meski mereka terpisah, namin ruang tengah dapat terlihat jelas dari balkon tempat Lais dan Revan berada.
"Oo..ya seperti layaknya suami istri. Apa lagi." Revan menjawab dengan santai. Sekarang ia tidak berada pada urusan kerjaan. Jadi ia berbicara sebagai sahabat bukan bawahan.
"Tapi..apa ada cara khusus?!" Lais makin kepo.
Revan menatap Lais,"Kau ingin punya anak?"
Sejenak Lais ragu untuk mengatakan iya, namun akhirnya ia mengangguk.
"Kau tahu kan tujuanku menikah berkali-kali itu untuk apa? Keturunan. Namun sayangnya aku tidak tertarik pada kegiatan begituan sampai aku bertemu Aruna." jawab Lais sambil menatap ke arah Aruna yang tengah asik ngobrom bersama Nisa.
Revan memandang Lais dengan rasa prihatin. Ia sangat tahu bagaimana penderitaan Lais selama ini karena dia yang selalu ada di sisi Lais sejak masa kanak-kanak hingga sekarang.
"Mmm... apa kamu dan Aruna..ee sering melakukannya?" tanya Revan yang membuat Lais melengos jengah. Muka Lais memerah ingat bagaimana ia selalu merasa ingin melakikannya setiap saat jika berdekatan dengan Aruna. Bahkan saat mencium aroma tubuh Arunapun hasratnya langsung bangkit.
Revan tertawa kecil. Tanpa Lais jawabpun Revam sudah tahu dari sikap Lais.
"Saranku jangan terlalu sering. Beri jeda satu atau dua hari. Biarkan benihmu matang dulu dan ladangmu subur, baru kau bisa bercocok tanam." Revan berkata bak seorang ahli di dunia pereproduksian anak.
Lais mengernyitkan keninganya mendengar penjelasan Revan. Ia memang cerdas, namun saat dulu, ketika belajar masalah reproduksi, ia akan marah karena merasa jijik. Jadi guru privatnya melompati saja bab yang membahas masalah reproduksi.
"Janhan berbelit. Bicara yang jelas!" perintah Lais sambik menyembunyikan rasa tertariknya.
"Begini!" Revan mulai menjelaskan secara gamblang. Ia tidak lagi menggunakan istilah karena khawatir membuat Lais tambah bingung. Lais tampak menyimak setiap penjelasan Revan dengan serius.
"Apa kau sudah mengerti?" tanya Revan setelah mengakhiri kuliah pendeknya.
__ADS_1
"Hal mudah seperti itu bagaimana aku tidak mengerti." jawab Lais jumawa. Revan hanya menghela nafas. Muncul keusilan di otaknya. Jarang-jarang bisa mengusili Lais.
"Ada cara yabg lebih mudah sih." kata Revan menggantung agar Lais penasaran.
Lais hanya memandangnya tanoa bicara, namun Revan tahu kalau sahabatnya itu menunggu lanjutan dari ucaoannya.
"Minta Aruna mengelus perut wanita hamil. Konon itu bisa menular." Revan melanjutkan ucapannya.
"Segala tahayul kau percaya." kata Lais sambil mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan kepada Aruna.
Aruna yang sedang bicara dengan Nisa, membuka ponselnya saat mendengar bunyi notifikasi pesan masuk.
...Elus perutanya!...
Bunyi pesan dari Lais. Aruna bingung, perut siapa yang dimaksud Lais. Ia memandang ke arah Lais yang juga sedang melihatnya dati balkon. Lais memberi tanda dengan gerakan matanya.
Aruna paham, Lais memintanya mengelus perut Nisa.
Ia pasti berpikir jika aku mengelus perut Nisa, aku akan ketularan hamil. Ini paati kerjaan Pak Revan. batin Aruna.
"Nis, boleh aku mengelus perutmu?" tanya Aruna canggung.
Nisa tertawa kecil, "Kau percaya kalau mengelus perut ibu hamil akan ketularan hamil?" kata Nisa di selwan-sela tawa gelinya.
"Ada yang percaya. Boleh nggak?"
Lais tersenyum samar saat membaca balasan Aruna.
"Ah ya..ada lagi. Selain mengelus perut, menginjak kaki ibu juga bisa menularkan kehmailannya." kata Revan lagi.
Laia seolah cuek pada perkataan Revan, namun tanoa Revan tahu, ia mengirim pesan ke Aruna.
Injak kakinya.
Mata Aruna membola membaca pesan Lais. Bagaimana bisa Lais menyuruhnya menginjak kaki Nisa. Pasti wanita itu akan kesakitan.
Injak kakinya
Kembali Lais mengirim pesan karena Aruna tidak juga melaksanakan perintahnya.
"Nisa, maaf. Boleh aku..." kata-kata Aruna dipotong oleh Nisa.
"Menginjak kakiku? Injak saja. Tapi jangan terlalu sakit." Nisa terkikik geli melihat ekspresi canggung di wajah Aruna yang membuat gadis itu tamoak semakin imut.
Aruna menginjak kaki Nisa secara perlahan. Lalu mengirim pesan laporan kepada Lais.
__ADS_1
Lais bernafas lega saat menerima nalsan Aruna.
"Eh jangan lupa, menginjaknya harus keras agar penularannya cepat," keusilan Revan semakin menjadi. Ia tidak sadar sedang membawa istrinya menuju penderitaan. Lais meliriknya, Revan mengangguk meyakinkan. Namun dari mata Revan yang nggak fokus, Lais tahu pria di hadapannya ini sedang mengusili dirinya.
Kau yang bilang , jangan salahkan aku. batin Lais.
Untuk ke tiga kalinya, Lais kembali mengirim pesan kepada Aruna.
Injak dengan kuat.
"What?!!" pekik Aruna kaget membaca pesan Lais.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Nisa beryanya dengan cemas melihat wajah Aruna yang merah dan kesal.
"Nggak. Nggaj ada apa-apa." elak Aruna. Ia lalu berpikir bagaimaba cara mengianjak kaki Nisa dengan keras tanoa membuat Nisa marah.
"Nisa, kamar kecil dimana?" kata Aruna
"Di sebelah sana!" Nisa menunjuk ke arah yang beraeberangan dengan arah Arina duduk. Aruna berdiri dan melangkah melewati Nisa.
"Aww...Run..kau menginjak kakiku!" pekik Nisa kesakitan. Ia menunduk memijat kakinya yang kena injak Aruna.
"Maaf...maff Nis." pinta Aruna.
"Ada apa sayang?" Revan berseru adari balkon.
"Nggak ada apa-apa kok yank. Aruna tidak sengaja menginjak kakiku saat berjalan." jawab Nisa.
Revan melirik ke arah Lais. Lais cuek sambil memainkan ponselnya.
Benarkah tidak sengaja atau ininperbuatannya? batin Revan
Dengan menyipitkan matanya, Revan terus menatap Lais.
"Ini perbuatanmu?" tiduh Revan langsung.
"Eh kenapa aku? Yang menginjak kaki Nisa kan Aruna, kenapa aku yang kau tuduh." elak Lais.
Revan mendengus kesalnya. Niatnya menjahili Lais, malah istrinya yang menjadi korban. Melihat wajah Revan yang ditekuk, dalam hati Lais bersorak.
Kau yang jual, ya aku beli. batin Lais
Lais menarik nafas panjang penuh kelegaan. Meski ia tidak seratus peraen percaya penjelasan Revan tadi, tapi ia ingin mencobanya. Karena ia sudah ingin memiliki keturunan agar posisi Aruna aman.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Kasihan Nisa, makanya Revan kira-kira sonk bercandanya.