Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Perjalanan ke mansion Tuan Robert


__ADS_3

Bu Ira segera membuka pintu saat mendengar mobil Lais datang. Ia menunggu Tuan mudanya itu masuk.


"Aruna di mana Bu?" begitu tiba Lais langsung menanyakan Aruna.


"Di kamar Tuan." jawab Bu Ira, " Tuan Muda, tadi Tuan dan Nyonya besar datang."


"Hmm. Aku tahu Bu." jawab Lais. "Apakah mereka mempersulit istriku, Bu?" tanya Lais sambil menatap Bu Ira.


"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi tadi Tuan besar sempat menanyakan apakah nona sama dengan istri-istri Tuan sebelumnya."


"Mama?"


"Kalau beliau langsung menyusul nona ke ruang baca."


"Baiklah Bu, terimakasih. Bu Ira bisa melanjutkan pekerjaan ibu lagi."


Bu Ira mengangguk lalu beranjak ke belakang.


Lais menaiki tangga menuju kamarnya. Perlahan ia membuka pintu. Kepalanya menengok mencari keberadaan Aruna.


Oh dia sedang mandi.


Lais mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia mendekat dan melihat pintu kamar mandi tidak tertutup sempurna.


Dasar ceroboh. Tapi ini kesempatan bagus.


Lais tersenyum. Ia segera melepas pakaian yang menempel di tubuhnya dan hanya menyisakan celana boxer saja.


Perlahan dan hati-hati ia membuka pintu kamar mandi. Lais bisa melihat Aruna yang sedang berdiri membelakangi nya Tubuh polosnya berada di bawah guyuran air shower.


Lais memeluk Aruna dari belakang membuat istrinya itu menjerit kaget.


"Aaaa.. " Aruna berteriak dan berusaha melepaskan diri. Tangannya memukul ke belakang dan mengenai mata Lais.


"Aw!" teriak Lais kesakitan. Ia melepaskan pelukannya dan memegang mata kanannya yang terkena pukulan Aruna.


"Tuan...." seru Aruna. "Sakit ya?" tanyanya kemudian. Ia ikut memegang mata Lais.


"Kamu ini, cantik-cantik bar bar." gerutu Lais.


"Salah sendiri, siapa suruh tuan datang dan memelukku tiba-tiba." Aruna membela diri sbil berkacak pinggang. Ia lupa akan kondisi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun.


Lais menatapnya dengan pandangan penuh hasrat dan bibir mengulum senyum nakal.


Melihat tingkah Lais, Aruna melihat tubuhnya dan spontan kedua tangannya berbagi tugas menutup bagian atas dan bawah.


"Telat!" kata Lais. Ia maju sambil tangannya menekan pundak Aruna ke dinding lalu menguncinya.


Bibir Aruna hendak bergerak untuk protes namun sudah di sambar oleh Lais. Karena tahu tidak ada gunanya melawan, Aruna akhirnya mengikuti permainan Lais. Ia membalas setiap sentuhan bibir Lais.


Lais melepaskan pagutannya, tangannya kini menelusuri setiap lekuk tubuh Aruna. Aruna memejamkan mata.


"Bukanlah matamu! Apa kau tidak ingin memandang wajah tampan dan tubuh indahku?" bisik Lais mesra.


Aruna membuka matanya. Tangannya sudah berada di dada Lais, meraba pahatan sempurna yang ada di sana. Namun itu hanya sebentar, ia kembali memejamkan mata menikmati keindahan yang Lais berikan melalui setiap sentuhannya.


"Kita pindah ya!" bisik Lais lalu mengangkat tubuh Aruna dan membawanya ke ranjang.


Aruna pasrah. Ia ingat pesan mama mertuanya untuk rajin membuat adonan.


Ma aku sudah melakukan pesan mama. batin Aruna geli.


Aruna tersenyum, pada saat bersamaan dengan Lais yang membaringkannya di atas kasur.

__ADS_1


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Lais heran.


"Ha? Oh.. nggak papa." jawab Aruna. Senyumnya kian lebar.


"Kalau nggak ada apa apa kenapa tersenyum. Ayo bilang atau.." Lais menggelitiki tubuh Aruna.


"Tuan ampun!" Aruna memohon sambil menggelinjanh kegelian. "Hentikan! Iya aku akan cerita."


Lais menghentikan aksinya. Ia lantas berbaring dengan posisi tenkuran sambil menatap istrinya. Tangannya membelai perut Aruna.


"Tadi mama datang, terus ia berpesan agar aku dan tuan, mmm... rajin untuk membuat adonan."


Lais mengerutkan alisnya, "Untuk apa? Teruas apanya yang lucu." tanya Lais. Setelah bertanya ia mendekatkan kepalanya ke dada Aruna dan memberi gigitan di beberapa tempat di sana. Aruna mendesah.


"Itu maksudnya adonan...agar...mma..ma cepat punya ..cucu." jawab Aruna terbatas bata karena nafasnya sudah mulai tidak teratur akibat ulah Lais.


Lais tersenyum. Ia mengerti apa maksud mamanya. Sekarang ia tidak perlu lagi melanjutkan pembicaraan tentang adonan karena lebih baik langsung mempraktekkannya.


"Sayang, papa meminta kita ke rumahnya malam ini." kata Lais sambil memeluk tubuh Aruna yang kelelahan.


Aruna teringat akan wajah dan tatapan Tuan Robert ke arahnya tadi siang.


"Sepertinya papa hanya ingin bertemu denganmu, Tuan. Soalnya tadi siang aku sudah bertemu dengannya." jawab Aruna. Ia berharap Laos tidak akan mengajaknya. Ia tidak mau bertemu dengan Tuan Robert.


"Kalau ini bicara apa? Kamu istriku, yang harus ikut kemanapun akau pergi." kata Lais sambil. menyentil ujung hidung Aruna.


"Tapi... Tuan besar sepertinya tidak menyukaiku." gumam Aruna pelan.


"Biarkan saja. Yang penting aku menyukaimu." jawab Lais sambil. mengeratkan dekapannya.


"Baiklah." jawab Aruna sambil. bergerak melepaskan tubuhnya dari delapan Lais.


"Kau mau kemana?" hardik Lais.


"Mandi... kan mau berkunjung ke papa mertua.* jawab Aruna jenaka lalu melompat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Kali ini ia menutup arapat pintu kamar mandi.


Lais sudah siap. Ia duduk di bar mini dalam mansionnya sambil menunggu kehadiran Aruna.


" Tuan!" panggil Aruna. Lais menoleh dan ia takjub melihat penampilan istri kecilnya itu.


Aruna tampak sangat cantik dan anggun. Ia tampak jauh lebih dewasa dari usianya. Lais bangkit dan mendekati Aruna. Ia mengambil tangan kanan Aruna lalu mengecupnya.


"Cantik." puji Lais. Ia mendaratkan kecupan di kening Aruna.


Aruna tersenyum. Melihat senyum manis Aruna, Lais tidak bisa menahan diri. Iia mencium bibir Aruna.


"Tuan, nanti riasanku rusak." protes Aruna. Lais terkekeh. Ia lantas menyerahkan lengannya untuk Aruna gandeng.


Aruna segera mengapit lengan Lais. Mereka berjalan keluar.


Pak Munjr membukakan pintu mobil melihat tuannya tiba. Setalah kedua tuannya masuk, ia pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.


"Kemudian pelan saja, Pak Munir. Aku ingin menikmati perjalanan ini." perintah Lais snol terus menatap Aruna membuat istrinya itu salah tingkah.


"Tuan kenapa melihatku terus?" tanya Aruna.


"Kamu cantik." kembali Lais memuji Aruna. Ia memegang pinggang Aruna dan menariknya hingga tubuh mereka kini berhimpit tanpa jarak.


"Tuan... malu." bisik Aruna sambil memberi isyarat dengan mata ke arah Pak Munir.


Lais tersenyum. Ia menekan sebuah tombol. Sebuah tirai turun dari cap mobilnya membuat penghalang antara mereka dan Pak Munir yang sedang konsentrasi menyetir.


"Sekarang nggak malu kan?" bisik Lais mulai menciumi leher Aruna.

__ADS_1


"Tuan.. " desah Aruna manja.


Mendengar itu Lais kembali bersemangat. Ia memutar wajah Aruna sehingga menghadap ke arah dirinya. Dilumatnya bibir manis istrinya itu. Sementara itu tangannya menarik dress Aruna hingga tersingkap memperlihatkan paha mulus nya. Lais mengelus kulit halus Aruna. Semakin lama tindakan Lais semakin liar. Ia mendorong Aruna hingga terlentang di kursi lalu mulai menguasainya.


Sempitnya jok belakang tidak menyurutkan niat Lais untuk mereguk nikmatnya tubuh Aruna yang semakin membuatnya ketagihan.


Pak Munir memasang headset saat ia mendengar suara aneh dan gerakan di bagian belakang. Ia memutar musik agar tidak mengganggu konsentrasinya menyetir. Saat gerakan di belakang kian kuat, Pak Munir menepikan mobilnya. Ia memarkir mobil itu di tempat sepi dan keluar untuk menjauh sementara dari kendaraan yang sedang menjadi arena berpacu bagi Lais dan Aruna.


Beberapa saat kemudian mobil tampak kembali tenang.


"Tuan, mobilnya berhenti. Apa kita sudah sampai?" tanya Aruna sambil membenahi dresnya. Hal sama juga dilakukan oleh Lais.


Lais mengintip melalui kaca jendela.


"Belum." jawabnya. Ia memperhatikan Aruna dan membantu gadis itu berbenah. Setelah di rasa aman, Lais menurunkan kaca mobil mencari keberadaan Pak Munir. Sejauh matanya memandang ia tidak menemukan Pak Munir. Apalagi suasana disekitarnya gelap.


Bayangan dirinya diculik terlintas dalam benak Lais. Tubuhnya gemetar.


"Tuan? Kau tidak apa-apa?" tanya Aruna penuh kecemasan melihat suaminya gemetar. Aruna tahu, trauma suaminya kambuh. Ia langsung memeluk Lais.


"Tenang... tidak akan terjadi apa-apa... lihat! Ada aku." Aruna menangkuo wajah Lais dan memaksa pria itu melihat ke arahnya.


"Ada aku. Kamu aman. Kita aman." bisik Aruna.


"Arina!" panggil Lais lirih.


"Ya, aku Aruna. Kita aman." Aruna mengecup bibir Lais memberi ketenangan. Ia lalu memeluknya lagi.


Perlahan Lais bisa menguasai dirinya. Tubuh ya tidak lagi gemetaran. Ia membalas pelukan Aruna.


"Terima kasih." bisiknya.


Aruna melepaskan pelukannya. Ia memandang suaminya dengan senyuman tersungging di bibirnya.


"Kedepannya, tuan jangan lagi takut. Aku akan selalu di sisimu. Nggak akan ada yang melukaimu lagi." bisik Aruna. Lais mengangguk.


"Pak Munir?" gumam Lais.


"Tuan telpon saja beliau. Mungkin ada di sekitar sini." jawab Aruna.


Lais mengeluarkan ponselnya dan mulai menelpon Pak Munir. Pak Munir yang sedang menunggu di kejauhan merasakan ponselnya bergetar.


"Iya tuan?" jawabnya.


"Bapak dimana?" tanya Lais.


"Saya ada di sekitar mobil tian tapi agak jauh." Pak Munir menjelaskan.


"Kembali ke mobil!" perintah Lais.


"Baik Tuan." Pak Munir menutup ponselnya dan mulai melangkah menuju mobil Lais.


Saat ia masuk, tirai pembatas sudah tidak ada.


"Kenapa berhenti di sini dan kenapa bapak keluar?" tanya Lais begitu Pak Munir sudah duduk di belakang kemudian.


Apa tuan tidak nyadar kalau pertarungan kalian membuatku panas dingin. batin Pak Munir.


"Maaf tuan. Tadi saya harus menuntaskan sesuatu." jawab Pak Munir.


"Ooo.. ya sudah. Ayo berangkat!" ajak Lais.


Aruna diam menunduk. Ia tahu apa alasan Pak Munir memarkir mobil dan keluar. Itu semua karena mereka berdua.

__ADS_1


...🍃🍃🍃...


Semoga sudah panjang ya....


__ADS_2