Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kedatangan Nyonya Robert


__ADS_3

Lais membunyikan klakson mobil saat sampai di pintu gerbang mansionnya. Penjaga gerbang bergegas membuka gerbang untuk Lais. Lais mengeryitkan alisnya saat melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal parkir di parking area halaman mansionnya. Seketika ia urung melajukan mobilnya lebih masuk ke halaman.


"Mama" desis Aruna lalu melirik suaminya.


"Turunlah!" kata Lais. Sedangkan ia sendiri masih duduk di belakang kemudi.


"Kamu?" tanya Aruna.


"Aku akan kembali ke kantor." jawab Lais tanpa memandang Aruna. Aruna tahu, Lais sedang menyembunyikan rasa sedih dan marahnya.


"Sayang!" Aruna menyentuh bahu Lais. "Masuk ya! Temui mama. Sampai kapan kamu akan menghindar dan menjauhi mama. Seberapa besar kesalahan mama, beliau tetap ibu kandungmu." bisik Aruna lembut.


Lais menghela nafas. "Tidak sekarang dan jangan paksa aku." jawabnya.


Aruna diam. Percuma ia memaksa kalau Lais tidak mau.Ia sadar kalau suami tampannya itu sedikit keras kepala.


"Baiklah." Aruna lalu mendekat dan mengecup pipi Lais, " Jangan pulang larut. Aku menunggumu." bisiknya lalu membuka pintu mobil dan keluar. Lais segera memutar mobilnya dan melaju meninggalkan mansion.


"Aku harus bisa mendamaikan mereka. Cara mama memang salah, tapi niatnya baik. Dan juga mama sudah cukup menderita kehilangan kasih sayang papa. Aku tidak akan membiarkan dia kehilangan cinta dari anaknya juga." tekad Aruna.


Aruna melangkah masuk ke mansion. Di ruang utama, ia melihat Nyonya Robert sedang berbincang dengan Bu Ira.


"Assalamualaikum, Ma!" sapa Aruna lalu menghampiri Nyonya Robert dan mencium tangannya.


"Waalaikumsalam sayang. Bagaimana ujiannya? Lancar?" tanya Nyonya Robert.


Aruna tersenyum dan mengangguk. Pasti Bu Ira yang bercerita kalau hari ini ia sedang mengikuti ujian susulan.


"Aruna sayang, adakah kabar gembira yang ingin kau sampaikan pada mama?" tanya Nyonya Robert sambil memainkan alisnya.


"Mama pasti sudah tahu dari Bu Ira kan?" Aruna tersipu bahagia.

__ADS_1


"Tapi mama ingin dengar dari kamu." rengek Nyonya Robert sambil memasang wajah imut dan melasnya.


Aruna tertawa kecil melihat ekspresi mama mertuanya itu. Dalam hati ia kagum pada Nyonya Robert. Wanita ini sungguh kuat. Ia mampu menyembunyikan kesedihannya di balik wajahnya yang selalu tersenyum bahagia. Aruna tahu, saat ini hatinya pasti sedang hancur. Suaminya masih mendua dan sekarang anaknya menjauh.


Tenang ma, mungkin aku tidak bisa membantumu soal papa. Tapi aku janji akan membawa anakmu kembali memelukmu dengan penuh kasih seperti dulu. Janji Aruna dalam hati.


"Mmmm...mama jangan kaget ya." Aruna mengimbangi sikap ceria Nyonya Robert. "Mama akan punya cucu.....KEMBAR!!" teriaknya.


Nyonya Robert berseru senang. Ia tepuk tangan lalu memeluk dan menciumi Aruna berulang-ulang.


"Alhamdulillah,. Terima kasih sayang, terima kasih. Akhirnya setelah sekian lama penantian mama berakhir juga. Sekarang mama tenang kalau memang harus meninggalkan Lais. Ia sudah ada kamu yang menyayangi dan mencintainya. Juga, sudah memiliki calon penerus." kata Nyonya Robert sendu membuat Bu Ira dan Aruna terharu.


"Mama bicara apa sih? Memang mama mau kemana? Mama tidak ingin ikut merawat cucu mama?"  Kata Aruna sambil bermanja pada Nyonya Robert. "Jangan tinggalkan Aruna ma. Aruna kan masih harus belajar untuk menjadi ibu. Kalau mama pergi, siapa yang akan membimbing Aruna nanti."


Nyonya Robert tertawa hambar, "Aku ibu yang gagal Aruna. Tidak pantas membimbingmu. Bu Ira nanti yang akan menemanimu." jawab Nyonya Robert.


"Mama tidak gagal. Buktinya mama bisa membesarkan Tuan Lais hingga menjadi orang hebat seperti sekarang." puji Aruna menghibur Nyonya Robert.


Aruna mengusapnya, "Kalau begitu, mama perbaiki. Jangan malah pergi meninggalkan kami. Aruna yakin, kemarahan tuan hanya sebentar. Nanti juga akan membaik lagi. Nggak ada anak yang membenci ibunya, Ma. Percaya pada Aruna. Mama yang sabar ya!"


"Amiin. Semoga yang kau katakan benar sayang." jawab Nyonya Robert. Ia lalu beralih memandang perut Aruna, "Boleh mama mengelusnya?" tanyanya penuh harap. Mata Nyonya Robert berbinar saat melihat Aruna mengangguk. Ia lalu mengusap pelan perut Aruna yang masih datar itu.


"Hai calon cucu Nini. Baik-baik di dalam ya. Tumbuh dengan baik dan sehat. Nini sayang kalian." kata Nyonya Robert sambil terisak. Ia merasa bahagia dan sekaligus sedih.


"Kami juga sayang Nini." Aruna menjawab dengan membuat suara anak-anak.


Nyonya Robert tertawa geli mendengar jawaban Aruna.


"Sayang, apa kau menginginkan sesuatu sekarang? Katakan! Mama akan memenuhi semuaaaaaa keinginanmu." kata Nyonya Robert yang sudah kembali ceria.


"Ma...Aruna tidak ingin apa-apa."

__ADS_1


"Bener?! Kamu nggak ngidam apa gitu?" Nyonya Robert menatap penasaran.


Aruna menggeleng., "Ngidam itu apa?" ia bertanya.


Nyonya Robert menepuk keningnya. Ia lupa kalau menantunya ini masih sangat belia.


"Ngidam itu rasa ingin memakan, atau melakukan sesuatu yang sangat kuat pada masa hamil. Keinginannya sangat kuat. Dan kalau tidak dituruti biasanya akan membawa rasa sedih bagi si calon ibu. Apa kamu nggak merasakannya?"


Aruna diam berpikir. Apa yang selalu ia inginkan dengan rasa yang sangat. Saat ia tahu mukanya jadi memerah.


"Kamu merasakannya kan? Katakan pada mama! Mama akan memenuhinya." Nyonya Robert antusias akan memenuhi ngidam Aruna.


Aruna mengangguk. "Aruna memang merasakannya ma, tapi sayangnya hanya Tuan Lais yang bisa memenuhinya." jawab Aruna tersipu.


"Masak sih hanya Lais? Mama yakin mama bisa, kok. Katakan saja, apa yang kau mau!" kata Nyonya Robert mendesak Aruna agar mengatakan ngidamnya.


"Mmmm...Aruna malu ma."  jawab Aruna. Mukanya semakin merah.


"Nggak usah malu sayang, ayo katakan!"


"Mmmm.. baiklah. Tapi mama sini! Biar Aruna bisikin." Aruna meminta Nyonya Robert mendekat.


"Apa sich." Nyonya Robert yang penasaran, mendekat ke Aruna. Aruna lalu membisikkan sesuatu ke telinga mama mertuanya itu. Seketika mata Nyonya Robert membesar dan  mukanya merah.


"Kamu ini!" Ia memukul lembut bahu Aruna. "Kalau ngidam itu, ya memang Lais yang bisa memenuhinya." gumamnya kecewa.


Aruna tertawa, "Kan tadi Aruna sudah bilang, Ma."


Nyonya Robert ikut tertawa. Ia merasa lucu dan aneh dengan ngidamnya Aruna. Jauh di dalam hatinya ia bersyukur, karena apa yang Aruna inginkan pasti akan membuat Lais bahagia. Ia memandang Aruna yang masih tertawa dengan tatapan kasih.


Gadis kecil yang baik. Kutitipkan anak kesayanganku padamu. Jaga dan cintai dia dengan tulus. Selama ini para wanita yang mau menjadi istrinya, hanya mengincar hartanya saja. Hanya kau yang benar-benar mau menerima Lais dengan segala ketidaksempurnaannya. Semoga kalian berdua bahagia selamanya. Mama akan selalu mendoakan kalian, dimanapun mama berada.

__ADS_1


__ADS_2