Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Lamunan Pak Munir


__ADS_3

Pak Munir berdiri mematung di ujung ruangan memperhatikan kesibukan yang tengah berlangsung. Orang-orang EO yang disewa Lais sedang menghias mansion.


"Pak Ne, kok bengong saja? Bantu-bantu sana!" tegur Bu Ira sambil mendatangi suaminya.


"Pak Ne capek bu." dalih Pak Munir. Ia lalu beranjak dari tempatnya dan duduk di kursi yang ada di dekat situ. Pak Munir meluruskan kaki dan memukul-mukul pahanya.


"Kenapa?" tanya Bu Ira lembut. Ia lalu duduk di sebelah Pak Munir.


"Sejak pulang dari rumah sakit, Pak Ne seperti ada yang dipikirkan. Apa ini soal rencana pernikahan Mak Nah? Pak Ne nggak rela melepaskan Mak Nah?"


Bu Ira menatap suaminya dengan hati was-was. Ia takut jika suaminya itu memang masih menyimpan perasaan terhadap Mak Nah. Meski ia pernah mengusulkan untuk hidup berpoligami, namun itu karena rasa bersalahnya terhadap Mak Nah. Sejatinya, ia juga merasakan sakit jika harus berbagi.


Pak Munir menarik nafas dalam.


"Bukan tidak rela melepaskan. Tapi bapak merasa bersalah. Si Nah, meski akhirnya menikah nanti tapi ia langsung jadi seorang ibu. Bukne bisa bayangkan bebannya dia. Apalagi dari yang aku tahu, wajah Nah mirip dengan almarhum istri Malik. Apakah Nah nanti tidak akan hidup dalam bayang bayang wanita itu?" ucap Pak Munir panjang lebar.


Bu Ira tersenyum tipis.


"Pak. Jika benar Pakne sudah ikhlas, maka tugas Pakne hanya tinggal mendoakan Mak Nah. Semoga apa yang pakne khawatirkan tidak terjadi." dengan lembut Bu Ira berusaha menenangkan kegundahan suaminya.


Bu Ira bukannya tidak menyadari kalau ada nada cemburu dalam ucapan Pak Munir. Alasan yang disampaikan pria itu pasti hanyalah untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya. Namun Bu Ira dengan berbesar hati membiarkan suaminya itu mengatasi kegundahannya sendiri.


"Pakne, aku ke kamar si kembar dulu. Pengen liat apa mereka sudah siap." pamit Bu Ira.


Pak Munir hanya mengangguk. Wajahnya masih terlihat murung seperti menanggung beban berat.


Setelah Bu Ira pergi, Pak Munir menghembuskan nafas dengan berat.


"Nah, kenapa saat tahu kau bisa melepaskan perasaanmu padaku, hati ini jadi tidka rela. Apakah aku tamak." batin Pak Munir.


Ia kembali menarik nafas panjang sambil mengingat percakapannya dengan Mak Nah saat ia diminta Lais membantu mengurusi kepulangan Seruni karena Pak Malik sedang dapat kerjaan yang tidak bisa ditinggal.


"Nah, apa kau benar-benar akan menikah dengan pria itu?" tanya Pak Munir saat ada kesempatan.


Saat itu mereka ada di rumah Pak Malik.


Mak Nah menjawab. Ia sibuk memindahkan barang Seruni.


"Bu! Malam ini ibu akan menemani Seruni kan?" Seruni datang sambil memeluk sebuah pigura.


Mak Nah tersenyum. Ia mengelus rambut Seruni.


"Ibu akan menemani sampai bapak datang." jawab Mak Nah dengan lembut.


Seruni lantas memutar pigura yang ia pegang dan membaliknya. Pak Munir kaget saat melihat wajah wanita yang ada dalam pigura yang dipegang Seruni.


"Dia siapa?" tanya Pak Munir spontan.


Dia tidak mungkin Sutinah kan? Apa sudah sedalam itu hubungan mereka hingga si Malik berani menyimpan fotonya Sutinah."

__ADS_1


Seruni tidak menjawab pertanyaan Pak Munir. Ia malah mengangkat foto ibunya ke hadapan Mak Nah.


"Selama ini foto ibu yang selalu menemaniku. Mulai malam ini aku mau ibulah yang menemaniku. Bukan hanya foto." ucap Seruni ambigu membuat Pak Munir menjadi yakin kalau wanita dalam foto itu adalah Mak Nah.


"Jadi benar. Mereka saling tukar foto. Berarti Sutinah pasti juha sudah menyimpan foto pria itu."


Mak Nah mengambil foto yang dipegang Seruni. Ia mengusap wajah Riana sambil tersenyum.


Maaf kalau aku masuk ke dalam keluargamu. Niatku baik. Aku akan menjaga anakmu dengan baik.


"Hem." Pak berdehem. Hatinya kesal melihat kalau Mak Nah dan Seruni mengabaikan keberadaannya.


"Nah, apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Pak Munir dengan nada lebih ke memerintah daripada bertanya.


"Seruni kembali ke kamar dulu ya. Nanti ibu menyusul. Ibu akan mengobrol dulu dengan supirnya Tuan Lais."


Pak Munir melirik kesal saat Mak Nah menyebutnya sebagai sopirnya Lais.


Segitunya kamu tidak mengakuiku, Nah.


Seruni mengangguk lalu ia beranjak menuju kamarnya.


"Rupanya hubungan kalian sudah sedekat itu. Sampai tukar foto segala." sinis Pak Munir.


Mak Nah mengerutkan alisnya mendengar ucapan sinis Pak Munir. Namun ia segera sadar kalau Pak Munir pasti salah paham.


Mak Nah tertawa lirih.


Pak Munir melengos.


Foto itu pasti fotonya Sutinah saat masih berumur tigapuluhan.


"Ini Riana. Almarhumah istri Pak Malik." jawab Mak Nah sendu.


Pak Munir kaget campur lega.


"Aku mengerti sekarang kenapa Seruni memanggilmu ibu. Itu karena wajahmu sangat mirip dengan ibunya. Jadi kamu mau menikahi Malik hanya demi Seruni kan? Bukan karena kamu mencintai pria itu?" tanya Pak Munir penuh harap. Mak Nah adalah cinta pertamanya. Ada rasa tidak rela jika dimiliki orang lain.


Mak Nah lagi-lagi hanya tersenyum tipis.


"Menikah itu tidak bisa hanya karena satu pihak. Karena saat aku menikahi Pak Malik, maka aku harus benar-benar menerima bukan hanya Seruni tapi juga Pak Malik. Karena kami akan menjadi satu keluarga.Nggak mungkinkan aku akan menganggapnya sebagai orang asing selamanya." ucap Mak Nah lalu tersenyum.


Pak Munir menelan ludah. Ia merasa ada yang nyesek di dadanya.


"Nah, tapi istrinya..." perkataan Pak Munir menggantung.


"Istrinya kenapa? Mirip aku? Kenapa jika kami mirip?"


"Takutnya ia melihat istrinya padamu jadi tidak benar-benar menerimamu apa adanya. Maaf jangan salah paham, aku hanya mengkhawatirkanmu."

__ADS_1


Mak kembali tersenyum.


"Bagiku tidak masalah. Jika ia masih mengingat istrinya, tandanya ia pria setia. Meski sudah ditinggal mati masih setia. Bukankah itu luar biasa? Tidak seperti seseorang." sindir Mak Nah.


Pak Munir menunduk karena apa yang Mak Nah katakan sangat menohoknya.


"Jangan khawatirkan aku. Bukan tugasmu mengkhawatirkan aku. Perhatikan saja Ira. Dia wanita yang baik. Jangan kau melukainya apalagi membawaku untuk menyakitinya. Selamanya aku tidak akan bersedia. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Hidup untuk masa depan. Dan masa depanku adalah Pak Malik."


Pak Munir semakin tertunduk bungkam.


"Pulanglah! Aku akan naik taksi saja nanti. Tidak baik kalau kita semobil hanya berdua."


"Tapi pesan Tuan Lais.."


"Bilang saja kalau aku yang meminta!"


Sepertinya sudah tidak ada gunanya aku di sini dan Nah pasti akan kekeh dengan keinginannya.


"Pak Ne!!" panggilan keras Bu Ira menyadarkan Pak Munir dari lamunannya.


"Aa..ada apa Bu Ne?" Pak Munir tergagap karena kaget.


Bu Ira menggelengkan kepalanya.


"Sampai pegal mulutku memanggilmu Pak, kenapa sih? Melamun saja." Bu Ira berkata dengan wajah cemberut.


Pak Munir bangkit dari duduknya. Ia memeluk Bu Ira.


"Mungkin bateraiku butuh di charge Bu Ne. Yuk...!" rayu Pak Munir.


"Ish. Tuan Lais memanggil Pak Ne. Diminta mengambil pakaian di butik langganannya. Cepetan,soalnya pakaian itu akan dipakai malam ini." Bu Ira mengurai pelukan Pak Munir lalu mendorong tubuh pria itu menjauh.


Dengan langkah gontai, Pak Munir menjalankan perintah Lais.


...*****...


Alhamdulillah bisa kembali menyapa.


Jejak ya jangan lupa


Vote


Like


Coment


Bunga


Coin

__ADS_1


Jangan Lupa !!!


__ADS_2