Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Tawaran Nisa


__ADS_3

Di sebuah kamar di suatu villa, tampak seorang wanita muda terbaring lemah. Di sebelahnya duduk seorang wanita juga yang memandangnya dengan tatapan aneh. Ada iri dan juga kagum.


"Kenapa gadis semuda dan secantik ini harus berurusan dengan orang kejam itu?" gumam si wanita yang tak lain adalah Angela. Tangannya membelai rambut Aruna. Mata Aruna yang terpejam perlahan bergerak. Saat mata itu terbuka, Aruna langsung mengernyit melihat siapa yang ada di depannya.


"Anda siapa? Dan saya dimana?" tanya Aruna bingung. Ia hendak bangkit namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Tubuhnya kembali roboh ke atas ranjang.


"Kamu baru sadar dari pengaruh bius. Jadi jangan mencoba duduk!" titah Angela dingin.


"Anda siapa?" suara Aruna lemah selemah tubuhnya.


"Namaku Angela. Tentang siapa aku, kamu nggak perlu tahu. Karena nggak ada gunanya juga buatmu." jawab Angela dengan senyum dinginnya.


"Kenapa saya di sini?Ini dimana?Kemana guru dan pelayanku?" Aruna bingung melihat keadaan dirinya dan sekitarnya.


Angela mengangkat bahunya, "Mereka mungkin sudah mati." Ia kembali mengeluarkan aura dingin dan sinisnya.


Aruna menatap Angela. "Kamu menculikku?!" Ia mencoba duduk.


"Hahahaha... akhirnya kamu tahu juga."


"Kenapa kamu melakukannya?Siapa yang menyuruhmu?"


Angela memegang dagu Aruna dan mengangkatnya. Aruna mengeryit karena merasakan sakit di dagunya


"Nona manis. Kau tidak perlu tahu siapa yang menyuruhku. Nggak penting juga buatmu. Jadi kalau kau ingin selamat. Bekerjasamalah, jangan banyak tanya dan jangan macam-macam!" Selesai mengucapakan perkataan itu, Angela melepas cengkeramannya dengan kasar sampai kepala Aruna terdorong ke belakang.


Aruna mencakar wanita jahat itu namun tenaganya masih belum pulih akibat efek bius.


Angela berdiri sambil membersihkan kedua tangannya.


"Tidur saja dengan tenang. Nanti kalau tiba saatnya kau juga akan aku lepaskan." katanya lalu meninggalkan Aruna sendirian.


Aruna kembali mencoba bangkit, namun ia masih belum mampu. Akhirnya ia pasrah, merebahkan kali tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.


"Siapa sebenarnya wanita itu dan untuk apa menculik ku." gumamnya. "Apakah ini ada hubungannya dengan Tuan Robert? Ah tidak mungkin beliau sekejam ini."


Aruna menepis pikiran negatifnya tentang tuan Robert.


" Tuan... bagaimana denganmu?Apa kau baik-baik saja. Kau pasti ketakutan saat tahu aku menghilang. Kau pasti ingat penculikanmu dulu." Sambil. membayangkan bagaimana Lais menghadapi trauma nya.. "Orang yang memerintahkan menculikku, pasti orang yang nggak ingin tuan sembuh."


Bulir bening jatuh dari mata Aruna, bukan karena takut melainkan Ia sangat menghawatirkan Lais. Ia menghawatirkan trauma Lais.


"Tidak. Aku tidak boleh lemah. Aku harus bisa keluar dan pulang. Tuan.. suamiku.. ia tidak akan bisa melewati ini dengan mudah. Ia kan semakin terpuruk. Aku harus mengembalikan tenagaku dulu.. arghh... menyebabkan.. kenapa aku lemah sekali. Berapa dosis bius yang mereka berikan padaku... " gumam Aruna sambil berkali kali mencoba bangkit namun gagal.


"Aku harus tenaga.. tenang." kembali Aruna bergumam sendiri. Ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Ia menenangkan pikiran agar tenaganya cepat pulih.


Aruna membuka matanya dan menoleh ke arah pintu saat seseorang masuk. Angela kembali datang sambil membawa makanan.


"Makanlah!Jangan bertingkah!" ia meletakkan makanan di nakas dekat ranjang Aruna.

__ADS_1


"Tunggu!! Berapa. kamu dibayar?Suamiku bisa memberi lebih asal. kau melepaskanku." Teriak Aruna saat ia melihat Angela akan meninggalkannya.


Wanita jahat itu memutar tubuhnya dan melangkah mendekati Aruna.


"Benarkah?Ternyata kau istri orang kaya ya. " Angela terkekeh sambil mencengkeram dagu Aruna, "Sayangnya aku tidak tertarik. Kau tahu kenapa?Karena yang aku dapatkan bukan sekedar uang, tapi juga kesenangan. Apa kau tahu maksudku, gadis kecil." Tawa Angela terdengar menjijikkan.


"Kesenangan?Kesenangan apa?Katakan saja, suamiku pasti bisa memenuhinya." Aruna masih terus berusaha membujuk Angela. Dalam pikirannya, Angela adalah wanita yang gila harta sehingga menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan.


"Oh ya?!!" Tawa Angela semakin keras, "Pria-pria muda. Bisakah suamimu mencarikan ku pria muda rupawan yang gagah untuk memberiku kepuasan, hah?" mata Angela memandang Aruna.


"Kau!?!" suara Aruna tercekat. Ia tidak menyangka kalau wanita dihadapannya adalah jenis wanita yang doyan pria muda.


"Kenapa?Nggak bisa ya?Atau aku bisa melepaskanmu kalau suamimu memberiku uang lebih dari yang orang itu tawarkan dan pria yang lebih juga dari yang orang itu tawarkan. Atau mungkin suamimu sendiri bersedia memuaskan ku, ha? Kau cantik, pasti suamimu juga tampan kan, nona kecil." Suara Angela terdengar memuakkan si telinga Aruna.


Aruna melengos jijik. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau wanita ini melihat Lais. Pasti ia akan mengingat suaminya yang secara fisik nyaris sempurna itu.


Angela meninggalkan Aruna sambil. membawa tawanya.


Sementara itu di mansion Lais, Revan terus berusaha menyemangati Lais agar menghadapi ketakutannya dengan berani saat dokter Sammy datang.


Dokter Sammy kaget melihat kondisi Lais yang kembali memburuk.


"Apa yang terjadi?" tanyanya cemas.


"Aruna menghilang." jawab Revan.


"Bencana." gumam dokter Sammy. Ia mengeluarkan obat dari dalam tasnya dan meminta Lais untuk meminumnya.


"Dokter, aku titip dia dulu. Aku ada keperluan." Revan menepuk bahu dokter Sammy dan berlalu.


Revan langsung menuju mobilnya dan melajukan benda beroda empat itu menuju apartement Rendy.


Revan menekan bel yang ada di depan pintu namun pemilik apartement tidak juga muncul.


"Kau dimana Ren?!" Revan benar benar merasa khawatir. Aruna menghilang begitupun Rendy. Pria itu sama sekali tidak bisa ia hubungi. Revan terus berpikir mencari tempat yang mungkin didatangi Rendy. Ia juga menghubungi teman temannya yang juga teman Rendy. Namun tak satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Rendy.


"Arggghhh." Revan meremas rambutnya frustasi. Revan keluar dari apartement. Ia melakukan mobilnya tanpa tujuan sampai akhirnya mobil itu justru membawanya ke apartement nya sendiri.


Revan memarkir mobilnya dan ia duduk di dalam dengan mata terpejam.


tok tok tok


Suara ketukan di kaca jendela mobilnya membuat Revan membuka mata. Ia melihat senyum manis Nisa. Rena membuka pintu dan keluar.


"Kenapa kau ada di parkiran?" tanya Revan sambil. memeluk Nisa.


"Aku melihatmu datang saat aku menatap keluar jendela. Namun lama kutunggu kamu nggak muncul, jadi aku menyusulmu ke sini. Ada apa? Nggak biasanya kamu menyendiri di parkiran?"


"Kita masuk saja. Bicara di dalam. " Revan merangkul bahu Nisa dan membawa istrinya itu masuk ke apartemen mereka.

__ADS_1


Revan langsung duduk di sofa, Nisa mengambilkan minum dan menyerahkannya pada suaminya itu.


"Terima kasih. Aku mang butuh ini." kata Revan.


"Sekarang ceritalah, ada apa?" kata Nisa.


Revan menceritakan semuanya dengan detil kepada Nisa tanpa terlewat satu peristiwapun. Nisa mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Jadi sampai sekarang baik Aruna maupun Rendy tidak diketahui keberadaannya?"


Revan mengangguk. "Apa yang harus aku lakukan?"


"Kenapa kamu nggak kembali ke kota X tempat kalian bertemu wanita itu? Siapa tahu ada petunjuk." saran Nisa.


"Dan meninggalkan Lais dalam kondisi seperti ini? Aku tidak bisa. Jika saja Rendy ada." desah Revan.


"Bagaimana kalau aku yang kesana?" Nisa mengajukan diri.


"Apa?! Tidak! Terlalu bahaya."Revan menolak usul Nisa.


"Dengarkan aku. Kalau aku yang pergi tidak akan ketahuan. Orang seperti aku tidak akan dicurigai." kata Nisa sambil merentangkan tangannya.


"Tapi Nis, ini bahaya. Kau tidak tahu bagaimana wanita itu." keluh Revan.


"Sayang.Ijinkan aku jadi istri yang berguna. Ijin aku membantumu dan juga Aruna. Aku sudah menganggapnya seperti saudara. Jika tidak ada dia, maka akulah yang mungkin ada di posisinya sekarang. Diculik."Nisa berkata penuh harap.


Revan melihat ketulusan dan keseriusan di mata Nisa.


"Kau punya rencana?" tanyanya.


"Saat ini belum. Aku hanya datang dan cari petunjuk saja." jawab Nisa enteng.


"Kau yakin bisa?!"


Nisa mengangguk mantap.


"Baiklah. Tapi aku tidak akan melepasmu sendirian. Aku akan menyuruh anak buahku mengawalmu."


"Jangan.Nanti malah menimbulkan kecurigaan. Aku akan mengajak kenalanku saja."


"Laki?!" Revan memandang tidak suka.


"Perempuan sayang. Tapi bela dirinya begini." Nisa mengacungkan ibu jarinya.


"Baiklah." Revan meraih tubuh Nisa ke dalam pelukannya, "Kau bisa membantuku untuk urusan Aruna. Sekarang aku butuh bantuan yang lain." bisiknya.


"Apa?" Nisa menatap suaminya dengan mesra.


"Ini!" Revan langsung meraup bibir Nisa dengan buasnya.

__ADS_1


...🍃🍃🍃...


Semangat Nisa...


__ADS_2