Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Hanya pada Aruna, Tidak Wanita Lain


__ADS_3

Risa tidak segera membalas pesan Lais. Ia membiarkan saja Lais dengan kekhawatirannya.


Aku harus menghubungi Revan dan menanyakan tentang kebenaran atas kesembuhan penyakit Lais. Aku benar-benar tak percaya kalau gadis ingusan macam Arunalah yang mampu menyembuhkannya.


Risa lantas menghubungi dan membuat janji temu dengan Revan.


Di kantornya, Revan yang tengah mengerjakan tugas dari Lais, menggerutu kesal karena sudah hanpir tiga jam bosnya tidak kunjung kembali ke kantor. Padahal banyak hal yang ingin ia diskusikan. Kekesalannya semakin memuncak manakala pesan yang ia kirim tidak mendapat balasan, Jangankan dibalas, dibacapun tidak oleh Lais. Saat ia menunggu balasan Lais, ponselnya bergetar. Revan segera membukanya berharap itu dari Lais. Namun ia mengeryitkan alisnya saat melihat nama Risa yang tertera di layar benda pipih kesayangannya itu.


Penasaran, Revan membuka pesan dari Risa yang isinya Risa ingin bertemu dengannya karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Revan yang sebenarnya juga ingin menemui Risa untuk memeriksakan lebih detil lagi tentang kehamilan Nisa, menyetujui pertemuan dengan Risa. Revan lalu mengirim pesan kepada Lais bahwa dirinya akan pulang lebih awal karena harus membawa Nisa ke dokter.


Sore harinya, Revan mengajak Nisa ke rumah dr. Risa.


"Dia istrimu? Dan dia juga sedang hamil?" tanya dr Risa saat Revan datang bersama Nisa. Revan mengangguk sambil tersenyum bangga.


"Ck. Kalian ini sama sekali tidak menganggap keberadaanku. Mengapa kalian menikah tanpa mengundangku?" gerutu dr Risa.


"Semuanya terjadi begitu saja. Jadi maaf. Tapi nanti saat resepsi, kami pasti akan mengundangmu." jawab Revan.


"Resepsi?Jadi Lais juga belum melakukan resepsi?"


"Bagaimana mau melakukan resepsi, istrinya saja belum lulus SMA." Revan terkekeh geli. Risa ikut tersenyum. Senyuman yang dipaksakan.


"Mari, Nyonya Revan. Ikut saya ke ruang periksa!" ajak dr. Risa pada Nisa.

__ADS_1


"Panggil saja saya Nisa." jawab Nisa lembut. Dr Risa mengangguk. Berdua mereka menuju ruang periksa dengan diikuti Revan. Sama seperti Aruna, dr Risa juga melakukan USG pada Nisa. Nisa dan Revan menatap takjub pada calon buah hati mereka yang tampak di layar monitor.


"Dia masih sangat kecil. Hanya berupa gumpalan." desis Revan. Matanya berkaca-kaca. Ia sangat bahagia dan haru melihat calon buah hatinya.


Selesai memeriksa Nisa dan memberi nasehat pada pasangan itu seputar menjaga kehamilan di trismester pertama, dr Risa meminta waktu untuk bisa mengobrol dengan Revan.


"Apa aku perlu pergi?" tanya Nisa yang tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka.


Revan menatap Nisa. Bagaimana istrinya itu punya pikiran meninggalkannya berdua dengan seorang wanita tanpa rasa cemburu sedikitpun.


"Tidak. Kau tetap di sini!" perintah Revan jengkel.


Nisa lalu duduk di sebelah suaminya. Revan menarik dan menggenggam tangannya. Risa bisa melihat betapa Revan sangat mencintai istrinya itu. Jika melihat usia, Nisa mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari Aruna. Risa berpikir bahwa kedua pria teman masa kecilnya itu lebih menyukai gadis belia daripada wanita dewasa. Ia tersenyum hambar.


"Soal Lais." Jawab dr Risa. "Apa benar ia sudah tidak alergi pada wanita lagi?"


Revan mengangguk. "Jawabannya antara iya dan tidak."


"Maksudmu?" dr Risa menatap penuh perhatian dan menunggu penjelasan Revan.


"Maksudku, Ia hanya bereaksi pada Aruna, tidak pada wanita lain."  jawab Revan singkat namun sangat menghantam batin dr Risa.


"Maksudmu, misalkan denganku, ia juga tidak akan bereaksi?" tanya dr Risa. Nisa menatap tajam dokter cantik itu saat mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh.

__ADS_1


"Kenapa tuan Lais harus bereaksi terhadap dokter? Memang dokter istrinya?" kata Nisa sedikit kasar. Ia mencium gelagat yang tidak baik dari cara dokter itu bertanya. Revan menepuk tangan Nisa menenangkan agar istrinya itu tidak emosi.


"Maafkan istriku. Ia sebenarnya wanita yang sabar dan lembut. Namun sejak hamil, sikapnya berubah." kata Revan yang merasa tidak enak akan perkataan Nisa yang kasar. Nisa cemberut. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Revan.


"Tidak apa- apa. Aku paham." balas dokter Risa.


"Baiklah, kalau tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, kami pamit dulu. Oh ya kirim no rekeningmu!" kata Revan.


"Untuk apa minta no rekening? Mas Revan mau mengirimi dia uang? Untuk apa?" kata Nisa masih kesal.


"Sayang, Mas mengirimi dia uang biaya kita periksa. Sekalian biaya Aruna periksa. Tadi Lais sudah meminta mas yang membayarnya." Revan menjelaskan. Nisa melengos.


"Tunggu dulu. Jadi maksudmu kalau beneran Lais yang sudah membuat Aruna hamil?" dr Risa kembali menengaskan pertanyaannya. Ia masih belum yakin kalau Lais mampu mebuat Aruna hamil meski tadi Lais sudah mengirim pesan padanya.


"Kalu bukan tuan Lais lalu siapa? Kau pikir Aruna wanita murahan apa?" Semakin sewot Nisa pada dr Risa. "Sayang. Ayo kita pulang!" Nisa berdiri dan menarik pergi Revan.


"Risa, aku permisi dulu. Jangan lupa kirim no rekeningmu!" Revan berkata sambil berjalan karena ia ditarik oleh Nisa.


Jadi benar Aruna mampu menghilangkan alergi Lais. Tapi kenapa harus Aruna


Dr Risa mendesah kecewa.


**Hari ini up nya dikit dulu, authornya lagi banyak tugas diklat. Ini aja nyempatin mumpung ide halunya muncul.

__ADS_1


Oh Ya readersku...ini kan dunia halu jadi ya....lebay...hahay...kalau dibuat sama dengan dunia nyata....kurang asik..kata author sih...so semoga yang lebay ini bisa menghibur....jangan khawatir. Nggak akan ada pelakor. Author benci banget sama pelakor**.


__ADS_2