
"Kembar. Anakku kembar." Lais menggenggam erat tangan Aruna. Ia sangat bahagia. Akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Aruna menatap bingung pada layar monitor.
"Aku hamil?" bisiknya, "Tapi aku kan masih sekolah."
Mendengar apa yang diucapkan Aruna, Risa kaget. Benar dugaannya, istri Lais masih sangat muda.
"Kamu masih sekolah?" tanyanya pada Aruna.
"Ya. Tapi sebentar lagi lulus." Lais yang menjawab. Ia lalu menunduk dan mencium kening Aruna mesra. "Terima kasih sayang."
Risa tak percaya melihat Lais mencium wanita.
"Lais. Kau?! Menciumnya?!" tanya Risa spontan.
"Kenapa? Aneh kalau aku mencium istriku." jawab Lais santai. Ia kembali menciumi Aruna, Bukan hanya kening tapi juga kelopak mata dan kedua pipi Aruna dengan mesra dan gemas. Ia sangat bahagia.
Risa jengah melihat apa yang Lais lakukan. Ia terus menatap ke arah Aruna dengan sorot mata penuh rasa penasaran.
Bagaimana mungkin gadis ingusan ini mampu menundukan Lais. Aku saja yang teman masa kecilnya tidak mampu melakukannya. batin Risa.
"Aku hamil." kembali Aruna bergumam. Ia meraba perutnya. Tiba-tiba dari kedua kelopak matanya meluncur cairan bening. "Aku hamil."
"Sayang, kenapa menangis?" Lais cemas. Ia menghapus airmata Aruna.
"Aku hamil." Aruna menatap Lais.
"Iya. Kamu hamil. Kita akan punya anak." jawab Lais. Ia mencium kening Aruna lagi. Risa membuang muka tidak ingin melihat adegan mesra mereka.
"Mama pasti senang." kata Aruna tanpa sadar. Ia ingat betapa Nyonya Robert sangat menginginkan cucu.
"Jangan menyebutnya." Kata Lais dingin. Wajahnya yang semula bahagia berubah muram. Semua itu tak luput dari pengamatan Risa.
Ada apa ini? Kenapa Lais nampaknya membenci Nyonya Robert.
"Lais! Kau harus menjaga istrimu dengan baik. Kehamilan awal begini sangat rentan. Apalagi kulihat usia istrimu juga masih sangat muda." kata Risa memberi nasehat.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan." balas Lais.
"Selama beberapa minggu ini, kalian jangan berhubungan dulu." kata Risa. Lais langsung memandangnya dengan menyipitkan mata.
"Kenapa nggak boleh?" tanyanya. Sedangkan Aruna tidak memperhatikan apa yang Risa ucapkan. Ia sibuk mengelus perutnya sambil membayangkan calon bayi kembarnya.
__ADS_1
"Ya agar tidak mengganggu janin kalian." balas Risa.
Maaf Lais, aku hanya mengujimu. Aku ingin tahu apakah benar kau sudah sembuh dari alergimu atau belum. Dan apakah benar bayi dalam kandungan gadis ini adalah hasil perbuatanmu.
"Sampai kapan?" balas Lais.
"Sampai kira-kira berusia empat bulan." jawab Risa.
"Selama itu?!?" Lais tidak percaya kalau ia akan menahan hasratnya selama empat bulan. Sebenarnya ia panik. Ia tidak tahu apakah ia mampu menahannya, tapi demia bayinya dan juga Aruna, Lais bertekad mencobanya.
Melihat wajah panik Lais, Risa tersenyum.
"Sayang! Apa periksanya sudah?" tanya Aruna.
"Iya . Sudah." Risa yang menjawab. Ia kemudian menuliskan resep. "Beli obat penguat kandungan dan vitamin untuk istrimu." Ia menyodorkan kertas resep kepada Lias. Lais memegang ujung kertas itu dan menariknya.
"Ayo kita pulang!" Lais membantu Aruna bangun dan menggandenganya meninggalkan Risa.
"Uang jasamu nanti akan ditransfer oleh Revan." katanya kepada Risa sebelum ia pergi.
"Tidak perlu. Untuk kawan masa kecilku, tidak perlu bayar." jawab Risa.
"Aku bukan orang miskin." Kata Lais dingin.
"Kamu bahagia?" tanya Lais. Aruna mengangguk berulang-ulang
"Sangat bahagia." Aruna tersenyum manis ke Lais. Lais menghela nafas. Melihat senyum manis Aruna, rasanya ia ingin mengulumnya. Pasti akan sangat manis dibibirnya.
"Sayang. Tadi kamu ngobrolin apa sama dokter Risa?" tanya Aruna.
"Mmmm...bukan apa-apa?" jawab Lais.
"Tuh kan bohong. Tadi aku dengar kalian ngobrol. Bahkan aku sempat melirik dan melihat wajahmu panik. Memangnya kalian ngobrolin apa? Ayo jujur!" Aru memegang lengan Lais dan mengguncangnya.
"Itu. Soal libur. Harus nunggu empat bulan." jawab Lais.
"Eh..mana boleh. Kan sebentar lagi aku lulus. Jadi nggak perlu nunggu empat bulan." jawab Aruna. Tuh kan nggak nyambung.
"Maksudmu?"
"Ya nggak usah nunggu empat bulan. Habis lulusan kan bisa?" kata Aruna.
__ADS_1
Lais berpikir. Habis lulusan, senin depan ujian terkahir. Berarti sebentar lagi lulus. Baguslah kalau nggak perlu nunggu empat bulan. batin Lais. Aduh yang dipikirin Lais sama Aruna beda ....
"Sayang! Anak kita pangeran apa putri ya?" tanya Aruna sambil mengelus perutnya. Lais melirik sambil menyetir. Melihat Aruna mengelus perut, Ia mengulurkan tangan kirinya dan ikut mengelus perut Aruna.
Aruna terkikik kegelian saat Lais malah menggelitiki. "Sayang! Stop! Geli tau." melihat tubuh Aruna yang bergerak meliuk karena geli, hasrat Lais bangkit. Namun mansionnya masih jauh. Lais mengamati sekitar jalanan yang ia lewati. Saat melihat hotel, ia langsung menepikan mobilnya menuju hotel itu.
"Sayang, kenapa kita ke hotel?" tanya Aruna begitu mobil Lias berhenti di parkiran hotel.
"Nanti kau juga akan tahu." kembali Lais menjawab dengan penuh teka teki. "Ayo turun!" titahnya.
Aruna turun dan mengikuti Lais menuju ke resepsionist hotel. Lais memesan kamar.
"Sayang, apa kita akan menginap? Tapi untuk apa?" tanya Aruna yang masih bingung. Namun begitu ia mengikuti saja kemana Lais membawanya.
Aruna mengamati hotel itu. Hotel yang bagus. Pasti mahal. begitu pikirnya. Lais membuka pintu kamar dan menggandeng Aruna masuk, Ia lalu menutup dan mengunci pintu.
Aruna berjalan ke jendela dan membukanya. Ia takjub dengan pemandangan kota yang nampak dari kamar hotel tempatnya berada. "Ternyata kalau dilihat dari ketinggian, indah juga." gumamnya.
Sedangkan Lais, ia membuka jasnya dan kemejanya. Lalu mendekati Aruna dan memeluknya dari belakang. Lais mencium ceruk leher Aruna.
"Sayang, indah bukan?" tanya Aruna saat merasakan Lais berada dibelakangnya.
"Ya!" jawab Lais dengan suaranya yang sudah serak, Ia kembali menjelajahi leher Aruna dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Aruna.
Aruna sadar apa yang diinginkan Lais, karena ia pun juga sangat menginginkannya. Ia berbalik dan melingkarkan tangannya ke leher Lais.
"Kenapa harus di hotel? Kenapa nggak di kamar kita saja?" bisik Aruna lalu mencium tipis bibir Lais.
Lais tersenyum, "Karena di sini ada dua kepala dan aku harus bekerja keras nantinya." balas Lais yang membuat Aruna sempat bingung.
Namun Aruna tidak bisa meneruskan kebingungannya karena yang terjadi berikutnya ia sudah sangat disibukkan oleh aktivitas Lais ditubuhnya.
Satu jam kemudian, mereka berdua berbaring kelelahan sambil berpelukan. Aruna sudah lelap dalam dekapan Lais. Melihat Aruna yang nampak sangat lelah, Lais teringat pesan dokter Risa. Ia lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan ke dokter Risa.
Dokter Risa sedang duduk santai di terassamping rumahnya sambil menikmati keindahan bungan di tamannya.Ia melirik ponselnya saat benda pipih itu bergetar dan berkedip. Dokter Risa mengambil dan membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
"Lais?" gumamnya. Ia segera membaca pesan dari Lis.
Aku baru saja melakukannya bahkan dengan durasi yang lama. Apakah itu akan berbahaya bagi bayi kami?
Dokter Risa mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Benarkah kau sudah sembuh?Benarkah kau sudah tidak alergi pada wanita.