Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kamu dimana Ma?


__ADS_3

"Ambil tenpat duduk yang bapak mau! Maaf beginilah kondisi rumahku." kata Nyonya Robert sambil dudum di kursi malasnya


Pak Munir mengamati sekeliling memilih tempat yang bisa ia duduki. Ruang tamu kediaman Nyonya Robert banyak berisi kanvas yang belum dilukisi. Banyak juga yang sudah ada lukisannya. Kebanyakan dari lukisan Nyonya Robert adalah wajah Lais. Ada Aruna juga tapi bersama Lais.


"Nyonya merindukan mereka?" tanya Pak Munir sambil menunjuk lukisan Aruna dan Lais.


"Aku mamanya Pak. Tentu saja rindu." jawab Nyonya Robert sendu.


"Kenapa Nyonya tidak menemuinya? Mumpung tuan muda ada di sini."


"Belum saatnya pak. Dia akan datang sendiri padaku saat ia sudah bisa memaafkanku. Dan aku akan menunggu saat itu tiba dengan sabar." Nyonya Robert tersenyum pahit.


"Oh ya Pak. Mengapa kalian ada di sini?"


"Nyonya lupa kalau ini kampung halaman saya?" tanya Pak Munir.


"Tidak. Tentu saja aku tidak lupa. Tapi kenapa Lais dan Revan ikut kemari? Dan tadi di kampung seni, apa yang mereka lakukan?" tanya Nyonya Robert.


"Itulah Nya!" Pak Munir menghela nafas, "Saat Nyonya menghilang, Tuan besar datang ke mansion Tuan Lais. Beliau marah dan menuduh Tuan Laislah yang menyembunyikan Nyonya. Mereka bertengkar dan entah bagaimana, Tuan Robert bilang kalau apapun yang tuan Lais nikmati adalah pemberiannya. Hartanya. Akhirnya tuan Lais memutuskan keluar fati mansion dan hanya membawa tabungan pribadinya. Melihat tuan Lais berniat pergi,Tuan Revan mengikutinya. Dan berdua mereka membuka usaha baru." Pak Munir menjelaskan dengan singkat.


Nyonya Robert mengepalkan tangannya. Ia sangat marah atas sikap Tuan Robert.


"Lalu? Apa yang suamiku lakukan?" tanya Nyonya Robert.


Pak Munir menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu Nyonya. Karena saya dan juga istri saya memutuskan mengikuti Tuan Lais."


"Terimakasih untuk kesetiaan bapak terhadap Lais. Lalu, Aruna? Apa dia baik-baik saja?"


"Nona Aruna baik-baik saja. Dia ikut juga dengan Tuan Lais. Saat ini dia tinggal di apartemen Tuan Revan."


"Oh!" Nyonya Robert menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Kasihan sekali menantuku itu. Dia sedang hamil muda dan harus mengalami cobaan seperti ini." desah Nyonya Robert.


"Nyonya! Apa nyonya tidak akan pulang ke tuan Robert? Saya dengar beliau mengerahkan orang-orangnya untuk mencari anda, Nyonya." Pak Munir memberanikan diri bertanya pada Nyonya Robert.


Nyonya Robert menghela nafas. "Dengan kesembuhan Lais, kupikir sudah tiba saatnya bagiku untuk memutuskan berpisah dengan suamiku. Selama ini aku menahan diri hanya demi Lais. Tapi rupanya, keputusanku salah. Kepergianku justru membawa masalah baru bagi anakku." Suara Nyonya Robert bergetar. "Sekali lagi aku mengacaukan hidup putraku, Pak Munir." Nyonya Robert terisak.


"Nyonya!" Mak Nah berusaha menenangkan Nyonya Robert. Ia mengelus pundak Nyonya Robert.


"Iya, Mak. Aku nggak papa." kata Nyonya Robert.

__ADS_1


"Tuan Muda pergi meninggalkan semuanya bukan katena Nyonya, tapi karena keangkuhan tuan besar. Jadi Nyonya jangan menyalahkan diri nyonya." Pak Munir ikut menghibur Nyonya Robert.


"Pak ada yang ingin aku mintakan tolong pada Pak Munir. Tunggu sebentar!" Nyonya Robert bangkit dan melangkah ke kamarnya. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa bungkusan.


"Pak Amir, ini uang tabunganku. Berikan pada Lais. Entah bagaimana caranya, jangan sampai ia tahu kalau ini dari aku." Nyonya Robert menyerahkan bungkusan itu pada Pak Munir.


Pak Munir menerimanya dengan tangan bergetar, "Tapi bagaimana Nyonya? Tuan Lais tidak mungkin percaya kalau ini uang saya dan ia tidak akan mau menerima jika saya mengatakan ini uang saya."


"Mmm bagaimana ya?" Nyonya Robert berpikir, "Rendy! Ya Rendy. Aku akan menghubunginya dan memintanya membantu mereka." Mata Nyonya Robert berbinar. "Pak, bawa saja uang itu dan nanti saat Rendy datang berikan padanya." kata Nyonya Robert.


"Baik Nyonya!" jawab Pak Munir.


"Sekarang silahkan nikmati hidangan yang sudah aku dan Mak Nah siapkan. Jangan lupa nanti bawa sebagian makanan buat mereka." kata Nyonya Robert. "Aku tinggal dulu, silahkan kalian berdua ngobrol." Nyonya Robert kembali bangkit dan berdiri. Ia lalu masuk ke kamarnya.


"Ayo, kita makan!" ajak Mak Nah tersenyum manis kembuat jantung Pak Munir dah dig dug.


Maafkan aku Ira sayang...rupanya cinta lamaku belum sepenuhnya hilang dari hatiku. Nggak papa kan aku bernostalgia sebentar, aku janji nggak akan mengkhianatimu. batin Pak Munir sambil.mengikuti langkah Mak Nah ke ruang makan mungil milik Nyonya Robert.


Malam harinya


Pak Munir perlahan membuka pintu rumahnya. Ia mengira Lais dan juga Revan sudah tidur jadi tidak ingin kalau kepulangannya membangunkan kedua tuan muda itu.


"Astaghfirullah!" teriak Pak Munir kaget, "Tuan Muda. Mengagetkan saja. Hampir copot jantung Pak Munir." Pak Munir mengelus dadanya berulang-ulang menenangkan jantungnya yang hampir melompat karena kaget.


"Kenapa sekaget itu, Pak?Bukankah aku hanya bertanya biasa, dan lagi kenapa Pak Munir mengendap-endap begitu?" tanya Lais.


"Ee..anu..saya..tidak mau membuat gaduh sehingga membangunkan tidur Tuan Lais dan Tuan Revan. Saya kira tuan berdua sudah tidur." jawab Pak Munir sambil menyembunyikan bungkusan uang dari Nyonya Robert yang ada di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menenteng rantang berisi makanan.


"Itimu apa?" Lais menunjuk apa yang Pak Munir pegang dengan menggerakkan alisnya dan kepalanya.


"Ini..makanan. Tadi teman saya itu nitip buat tuan berdua. Ayo tuan, kita makan. Enak lho." kata Pak Munir mengalihkan perhatian agar Lais tidak menanyakan bungkusan yang ada di tangan kirinya.


"Kalau yang satunya?" tanya Lais persis polisi yang sedang menginterogasi.


"Ini...ini..anu tadi saya..anu." Pak Munir gugup.


"Anu..anu...anu apa Pak?Bilang saja kalau itu kenang-kenangan dari mantan kan?" sambar Revan yang tiba di ruang depan.


"Eh iya." jawab Pak Munir sambil memasang wajah malu.

__ADS_1


"Coba aku lihat!" pinta Lais sambil mengulurkan tangan.


Mampus. Batin Pak Munir. Keringat dingin mulai mengucur dan memenuhi keningnya. Dengan gemetar ia mengangkat tangan kirinya.


"Hahahahaa." Lais tergelak. "Begitu saja bapak sudah gemetar. Sudahlah, ayo kita makan saja, aku sudah menahan lapar dari tadi." Lais beranjak dari tempatnya menuju meja makan.


"Sama." Revan menimpali ucapan Lais dan mengikutinya.


Pak Munir menarik nafas lega. Ia lalu masuk.ke ruang makan dan menata makanan yang ia bawa untuk kedua tuan muda itu.


"Mari silahkan Tuan?" kata Pak Munir.


"Bapak tidak makan? Ayo sekalian!" ajak Lais.


"Saya sudah tadi." kata Pak Munir.


"Cie..yang baru makan malam berdua.Romantis nggak pak?" goda Revan lalu mulai menikmati makanannya.


Pak Munir tidak menjawab. Ingatannya melayanb ke saat makan bersama Mak Nah.


"Ini..?" kata Lais setelah menghabiskan satu suap makanannya.


"Kenapa tuan?" Pak Munir menatapnya.


Lais menggeleng. "Nggak papa!" jawabnya.


Kenapa rasa masakan ini sama dwnhan buatan mama. batin Lais.


"Mmm enak. Rasanya pernah makan. Tapi dimana ya?" kata Revan di sela-sela makan. Ia terua memasukan makanan kemulutnya sesuap demi sesuap.


Sedangkan Lais, makan dengan pelan sambil mengenang saat saat bersama mamanya. Rasa makanan yang ia santap, membawanya kepada masa indah bersama mamanya.


Kamu dimana ma? batin Lais.


Ayo donk banyakin like dan comentnya


Tahu nggak yang membuat akay semangat nulis apa? Baca komen dari kakak, mbak, adik, semua.


Komen ya...ya..ya..please!

__ADS_1


__ADS_2