
"Mak Nah, coba ceritakan dari awal!"
"Begini Tuan Muda." Mak Nah berkata sambil sesekali menghapus air matanya.
"Tadi, selesai makan saya kembali ke kamar Nyonya. Saya melihatnya murung lalu saya mengajaknya jalan-jalan ke taman."
Flashback on
"Nyonya, kenapa murung terus? Apa ada yang mengganggu pikiran anda?" Mak Nah mencoba mengajak Nyonya Ribert bicara. Ia berharap wanita cantik itu mau terbuka padanya.
"Mak, jika seorang suami ingin berubah, salahkan jika sang istri menguji kesungguhannya?"
Mak Nah tersenyum. Ia paham apa yang Nyonya Robert maksud.
"Soal suami nyonya ya? Saya tidak punya pengalaman berumah tangga namun saya pernah mendengar seorang ustaz berkata kalau Allah itu sengaja mengirim orang untuk menyakiti kita agar kita mendapat pahala memaafkan. Lagipula dengan memaafkan hati menjadi lebih lapang dan tenang. Memendam kebencian itu tidak ada gunanya, Nyonya."
"Aku tidak membencinya, Mak. Namun hatiku juga masih belum bisa menerima lagi dirinya dengan tenang. Masih ada yang mengganjal. Apalagi jika mengingat selama ini apa yang ia lakukan, Mak."
Mak Nah diam mendengarkan curhatan Nyonya Robert.
"Kami memang belum bercerai. Namun kehidupan kami sangat hambar tidak hangat seperti pasangan lainnya. Kami menjaga kebersamaan hanya demi reputasi. Kami serumah tapi terpisah. Dia hanya mendatangiku jika ada maunya dan itupun ia lakukan dengan tanpa rasa. Hanya untuk melepaskan kebutuhan biologisnya. Namun sejak aku pergi meninggalkan rumah sampai sekarang, kami saling menjauh. Aku selalu mengunci kamar tiap malam. Dan dia juga tahu diri, tidak pernah lagi mendatangiku."
"Rumah tangga seperti itulah yang aku jalani mak. Aku bagai tahanan. Dilarang keluar. Dijaga ketat. Sampai akhirnya orang suruhan Robby membebaskan aku."
"Andai dia tidak sakit, mungkin saat ini aku sudah mengurus perceraian kami. Saat hatiku mantap berpisah, ia datang dengan segudang penyesalan dan janji untuk berubah. Aku bingung mak?"
"Hanya hati Nyonya yang bisa menjawab kebingungan Anda. Hati kecil tidak pernah salah Nyonya. Nyonya tenangkan diri dan dengarkan hati kecil Nyonya. Apakah nyonya mempercayai ucapan tuan atau tidak. Nyonya yang mengenal tuan dengan baik. Bukan orang lain." Mak Nah berusaha membantu agar pikiran Nyonya Robert terbuka.
"Saat ini dia tentu kesulitan beraktivitas. Dia baru keluar rumah sakit." gumam Nyonya Robert.
"Bukankah tuan muda mengirim perawat pada tuan besat, Nyonya?"
Nyonya Robert menghela nafas dalam dan berat. "Ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan perawat, Mak. Si tua itu pada dasarnya orang yang sangat manja. Keangkuhan dan kesombongannya saja yang membuatnya gengsi menunjukkan kemanjaannya. Dulu saat awal awal kami berumah tangga, sifat manjanya sangat keterlaluan"
Nyonya Robert tersenyum mengenang hari-hari indahnya dulu.
"Jika nyonya terus mengingat indahnya, nyonya akan bisa melawan pahitnya. Ingat saja cinta kalian dulu, nyonya. Nyonya beruntung bisa bersama dengan pria yang nyonya cintai." suara Mak Nah lirih.
Nyonya Robery merenungi ucapan Mak Nah.
"Mak, aku haus." ucap Nyonya Robert.
"Saya akan mengambil minum. Nyinya tunggu ya!" Mak Nah bergegas masuk untuk mengambilkan minuman Nyonya Robert.
Di ruang tengah dekat dapur, ia berpapasan dengan Mak Ira. Mereka berhenti dan saling menatap.
"Ira, kamu kenapa?"
Bu Ira menghapus air matanya. Ia lalu menggeleng.
"Nah, maafkan aku ya!"pintanya lalu pergi meninggalkan Mak Nah.
Flasback off.
__ADS_1
"Begitu kejadiannya tuan muda. Saat saya sampai di taman, Nyonya sudah tidak ada. Saya sudah mencarinya di sekeliling taman tapi nyonya tidak ada."
"Tunggu. Tadi Mak Nah bilang Bu Ira menangis. Bener Mak Nah melihatnya sendiri?" tanya Lais.
"Iya tuan. Sebenarnya ada apa?"
Lais menggeleng. Ia benar-benar bingung. Yang satu ibu kandungnya dan satu ibu asuhnya.
"Mak Nah sudah bertanya pada penjaga gerbang?" Aruna betanya saat melihat Lais terdiam bingung.
"Saat saya ke gerbang, Pak Man sedang tidak ada, tuan. Dan pintu gerbang masih terkunci." Mak Nah menjelaskan.
Lais bergegas keluar.
"Pak Man!" panggil Lais pada satpam yang menjaga gerbang mansion megahnya.
Pak Man yang sedang berdiri di depan gerbang menoleh.
"iya tuan." ia menunduk hotmat.
"Pak Man lihat mama keluar nggak?"
"Saya tidak melihatnya tuan."
"Tadi Pak Man kemana?"
"Saya mandi tuan. Tapi gerbang saya kunci, cuman saya heran."
"Heran kenapa?"
"Mama." Desis Lais.
Lais kembali ke dalam rumah.
"Bagaimana, yang? Pak Man melihat mama?" Aruna cemas.
Lais menggeleng. Ia menyentuh wajah Aruna."Kamu tenang. Aku akan mencari mama."
Lais berlari ke ruang kerjanya. Di dalam ia melihat Revan yang tertidur di sofa panjang.
"Van bangun!" Lais menggoyang tubuh Revan menggeliat.
"Ada apa sih? Gangguin orang lagi enak." gerutu Revan.
"Mama hilang."
"Apa?!" Revan terlonjak kaget.
Lais menuju layar monitor cctv. Ia memeriksa cctv halaman depan di waktu mamanya menghilang.
"Dia keluar dengan membuka kunci yang ia ambil dari ruang satpam." gumam Revan ikut mengamati cctv.
"Nyonya mau kemana?" desis Revan.
__ADS_1
Lais menghela nafas dalam. Ia lalu mengambil ponsel dan menghubungi Anton.
Lais berbicara sebentar dengan Anton.
"Kau yakin kalau Nyonya Robert pergi ke mansion Tuan?"
"Kemana lagi. Mama pasti khawatir dengan papa. Sekarang aku bisa yakin kalau mama masih mencintai papa. Jadi aku tidak ada alasan lagi untuk memisahkan mereka. Aku akan membiarkan mama mengambil keputusannya sendiri."
"Baiklah. Supaya semuanya jelas, aku akan ke mansion tuan untuk memastikan."
Revan lantas keluar.
Sementara itu, di kamar bayi, Bu Ira sedang duduk termenung. Mak Nah yang sudah sedikit tenang karena Lais sudah mengurus hilangnya Nyonya Robert, masuk ke kamar bayi untuk melaksanakan tugasnya menjaga anak anak Lais.
Mak Nah mengucap salam saat melihat Bu Ira tapi Bu Ira tidak mendengarnya. Ia hanyut dalam lamunannya.
"Ra!" Mak Nah menyentuh pundak Bu Ira.
Bu Ira kaget. "Kamu sudah datang Nah." Bu Ira mengulas senyum tipis.
"Apa yang kau pikirkan sampai aku mengucap salampun kau tidak mendengarnya." Mak Nah duduk di sebelah Bu Ira. "Dan tadi kamu minta maaf padaku. Maaf untuk apa?"
Bu Ira menarik nafas dalam. Ia memutar tubuhnya menghadapa Mak Nah.
"Maaf gara-gara aku, Munir tidak menepati janjinya padamu." ucao Bu Ira lirih namun mampu menyentak Mak Nah.
"Kau tahu?! Apa Munir yang cetita?! Pria itu, dasar."
"Tidak. Dia bahkan tidak menyinggung soal kalian sama sekali. Inah, kalau di hatimu masih ada Munir dan belum bisa melupakannya, aku ikhlas." kata Bu Ira dengan sorot mata penuh ketulusan.
"Jangan aneh-aneh!!" dengus Mak Nah.
"Aku tidak aneh-aneh. Menikahlah! Jangan terus hidup sendirian. Menikahlah dengan Munir."
"Enggak! Kau gila, Ira. Dia suamimu dan selamanya akan tetap menjadi suamimu. Apa yang terjadi pada kami itu masa lalu. Sudah lewat. Jangan kau jadikan beban!"
"Tapi Nah. Kau tidak bisa hidup sendiria selamanya." lirih Bu Ira.
"Aku tidak menikah, bukan karena maaih mengharapkan Munir. Jujur, awalnya memang aku menunggunya. Tapi setelah sekian lama ia tidak datang, aku sudah membuang harapanku terhadapnya." Mak Inah berusaha menyakinkan Bu Ira.
Nah, aku tahu. Kau bohong karena nggak mau menyakitiku. Tapi aku tulus Nah. Kamu orang baik. Bisa berbagi denganmu, aku rela.
Mak Nah memandang Bu Ira yang menunduk diam.
"Ira, jangan khawatir. Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu. Jika kehadiranku membuatmu tidak nyaman. Aku akan pamit. Aku akan mengikuti Nyonya."
Bu Ira kaget. "Jangan Nah! Tuan Lais membutuhkan kita berdua. Istrinya masih terlalu muda. Aku juga akan kewalahan kalau mengasuh si kembar sendirian. Ku mohon jangan pergi."
Hening. Bu Ira dan Mak Nah sama sama diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Apakah Bu Ira akan menyerah untuk menjadikan Mak Nah madunya?
Apakah Mak Nah akan bersedia? Dimana Nyonya Robert dan siapa nama kedua anak Lais?
__ADS_1
Nantikan up sepanjutnya.
Jangan lupa jempolnya mampir ya.