
"Katakan apa maumu?" tanya Nyonya Robert dingin.
"Begitukah caramu memperlakukan suamimu stelah lama kita tidak bertemu?"
"Suami." Nyonya Robert mengulang perkataan suaminya dengan sinis, "Aku tak lebih hanya sarana mempertahankan kehormatanmu. Bagimu tidak ada yang lebih penting dari harga diri dan kehormatan."
"Syukurlah kalau kau menyadarinya, jadi jangan coba-coba kabur atau anakmu yang akan menanggung balasannya." ancam Tuan Robert.
"Anakku juga anakmu. Tidak adakah rasa sayang di hatimu untuknya? Apakah ia tak lebih dari properti juga bagimu?" pekik Nyonya Robert marah.
Tuan Robert tersenyum sinis sambil menatap tajam istrinya. "Marah? Kau lupa siapa yang selama ini bekerja keras, hah?!? Kalian tinggal menikmati apa yang hasil jerih payahku. Lalu apa aku salah jika aku menuntut balas budi dari kalian?"
"Lais! Lais juga berjuang membesarkan perusahaanmu hingga jadi seperti ini. Jangan lupakan itu!!!" Nyonya Robert tidak mau kalah.
"Hahaha...ia hanya mewarisi namaku. Tanpa nama besarku, ia bukan apa apa. Ingat semua relasi bisnisnya adalah relasiku." bantah tuan Robert.
"Robert, kau bukan manusia. Kau iblis yang menghalalkan segala cara demi harta. Menyesal aku pernah mencintaimu." Nyonya Robert bangkit tapi Tuan Robert segera mencekak tanganya.
"Mau kabur lagi hah?!?" bentaknya.
"Aku mau tidur." Nyonya Robert menghentakkan tangannya hingga cengkeraman tuan Robert terlepas. Dia meninggalkan suaminya yang hanya menatapnya.
Setelah istrinya menghilang di balik pintu kamar, Tuan Robert mengambil ponselnya. Ia lalu menghubungi orang suruhannya
"Selamat malam, Tuan!" suara seorang pria menjawab panggilan telpon tuan Robert.
"Bagaimana?!"
"Beres Tuan."
"Bagus."
Tuan Robert memutus panggilan. Bibirnya menyunggingkan senyum puas dan jahat.
Sama seperti mamamu,kau tidak akan aku lepaskan begitu saja. Nikmati kesengsaraanmu hingga kau kembali berlutut dan memohon padaku.
Di dalam kamar, Nyonya Roberg merasa gelisah. Ancaman suaminya membuat Nyonya Robert menghubungi Rendy dan menanyakan keadaan mereka. Rendy menjelaskan kalau rencana mereka terganjal ulah jahat seseorang. Namun Rendy tidak mengabarkan soal kecelakaan Lais.
Di apartemenya, Aruna berjalan mondar mandir sambil memegang ponsel. Ia menunggu balasan pesan yang ia kirim ke Lais.
"Kenapa lama sekali membalasnya?" gumam Aruna.
"Non! Duduklah! Nanti Nona Aruna kelelalahan mondar mandir terus. Ingat anak yang ada dalam kandungan nona! Jangan sampai kelelahan." Bu Ira menegur Aruna karena cemas melihat majikan mudanya itu gelisah.
__ADS_1
"Ah..Bu..kenapa wa Aruna nggak dibalas ya?" Aruna mengadu pada Bu Ira.
"Mungkin tuan masih sibuk, Non." jawab Bu Ira.
"Tapi nggak biasanya ia bersikap begini Bu."
"Kenapa nggak ditelepon saja, Non?" usul Bu Ira.
Aruna menggeleng, "Aku takut mengganggunya Bu. Kalau dia sedang meeting misalnya, pasti terganggu dengan panggilanku."
"Nah itu non tahu. Jadi mungkin tuan memang sedang sangat sibuk, jadi tidak sempat membalas wa dari non Aruna " Bu Ira berusaha membujuk Aruna.
"Tapi kenapa perasaan Aruna tidak enak ya Bu? Seolah terjadi sesuatu pada suami Aruna.
"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan Non. Itu karena nona sangat merindukannya. Biasa, kalau orang hamil bawaannya pengen deket suaminya."
Aruna lalu mendudukkan di rinya di soga panjang. "Bu Ira, duduklah di sini! Aku ingin berbaring di pangkuan ibu." pinta Aruna. Bu Ira menuruti keinginan majikannya. Segera Aruna merebahkan tubuhnya. Ia tidur dengan kepala dipangkuan Bu Ira.
"Bu, apa yang terjadi dengan mama ya?! Apa beliau baik-baik saja?"
Bu Ira mengelus kepala Aruna. "Beliau pulang ke tempat suaminya. Pasti akan baik-baik saja." Bu Ira menenangkan Aruna meski ia sendiri ragu dengan jawabannya.
Nyonya semoga anda baik-baik saja.
"Bagaimana?Apa yang kau rasakan sekaran?!" tanya Rendy dan Revan bersamaan. Robert tersenyum melihat perhatian kedua pria itu pada Lais.
"Aku baik-baik saja." jawab Lais sambil bangkit lalu duduk. Matanya menatap ke arah Robert.
"Hai, namaku Robert. Aku yang menyerempetmu tadi. Maaf."
Lais mengangguk."Bukan salahmu. Pikiranku yang kacau membuatku jalan tanpa memperhatikan sekitar." jawab Lais.
"Tadi dokter bilang, kalau kau tidak perlu di rawat inap. Lukamu tidak ada yang serius." lanjut Robert.
Lais memperhatikan tubuhnya. Ada dan lebam, juga ada luka gores. Mungkin gesekan dengan aspal.
"Kau mau kemana?!?" tanya Revan saat Lais berusaha turun dari bed.
"Keluar dari rumah sakit lah. Banyak yang harus kita lakukan." jawab Lais.
"Kalian mau kemana? Biar aku antar sebagai permintaan maafku." ucap Robert.
Revan dan Rendy mandang Lais. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Ke hotel." kata Lais singkat. Ia lalu keluar dari ruang tempatnya di rawat diikuti oleh ketiga pria lainnya.
Lais terus berjalan hingga keluar dari rumah sakit. Ia lalu berhenti dan berbalik.
"Van, apa kau sudah menemukan orang yang kusuruh kau memeriksanya?"
Revan gelagapan. Saking khawatirnya dengan keadaan Lais, ia sampai lupa melaksanakan perintah Lais.
"Belum. Aku tadi sangat mengkhawatirkanmu, jadi aku belum mencari tahu siapa sponsor pameran itu." jawab Revan.
Lais menarik nafas panjang. "Cari tahu sekarang. Waktu kita tidak banyak." titah Lais.
Robert yang mendengar Revan menyebut kan pameran menjadi penasaran.
"Pameran?Kalian datang untuk pameran?" tanya Robert.
"Iya." jawab Rendy dan Revan.
"Maksud kalian pameran yang akan dilaksanakan di galery tadi?" kembali Robert bertanya.
"Iya."
"Hahahaha....kebetulan sekali." kaya Robert. "Akhirnya aku punya kesempatan menebus kesalahanku. Aku adalah penyelenggara sekaligus sponsor tunggal dari pameran itu. Nah, sebagai kompensasi telah menyerempetmu hingga pingsan, apa yang bisa ku bantu?"
Mata Revan dan Rendy berbinar. Mereka merasa senang karena kebuntuan mereka akan segera teratasi. Lais tersenyum tipis
"Begini." Revan dengan antusias menceritakan apa yang menimpa mereka. Ia juga memperjelas bahwa dokumen mereka sudah lengkap, namun mengapa justru barang mereka ditahan dengan alasan dokumennya yang tidak lengkap. Robert mengangguk mengerti akan penjelasan Revan.
"Henry ya?" tanyanya.
"Kemungkinan." jawab Revan.
"Baik. Biar aku yang urus. Kalian tinggal menyiapkan yang lain. Siapkan bagaimana kalian bisa menarik hati pengunjung nanti, karena mereka akan datang bukan untuk melihat lihat tapi juga mencari rekan dan peluang bisnis baru."
"Yess!" seru Rendy senang.
Lais mengulurkan tangannya pada Robert. "Terima kasih. Sebenarnya dengan membawa dan merawatku di rumah sakit ini, kau sudah menebus kesalahan karena menyerempetku. Pertolonganmu kali ini akan selalu aku ingat. Suatu saat aku akan membalasnya, Roby."
"Roby?" Robert mengulang ucapan Lais.
"Yeah, namamu sama dengan nama seseorang yang aku enggan menyebutnya. Jadi aku akan memanggilmu Roby."
"It's good. Robby. I like it. Ayo aku antar kalian ke hotel tempat kalian menginap!" ajak Roby.
__ADS_1
...***...