Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Insiden di Sekolah


__ADS_3

"Kau lihatkan? Itulah kenapa aku melarangmu menemuinya." Kata Revan sambil duduk di depan Lais.


Lais tersenyum tipis, "Ternyata yang asing tak selamanya asing dan yang kenalpun sebenarnya tak mengenal." gumamnya.


"Itulah manusia, dalam hati siapa tahu. Waspada boleh, prasangka buruk jangan." Revan melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak mengerti caranya berfikir. Bisa-bisanya ia mencurigai niat Aruna." Revan menghela nafas. Lais diam mendengarkan.


"Oh ya. Kenapa kau tak mencoba menghubungi papamu, siapa tahu dapat info." saran Revan.


"Aku memang akan menemuinya dan menyampaikan niatku. Aku ingin tahu apa pendapatnya." kata Lais sambil berdiri.


"Kau mau kemana? Jangan bilang mau pulang!" semprot Revan.


"Aku mau menjemput Aruna." Lais melangkah meninggalkan ruangan tempatnya mengintip pembicaraan Revan dan Risa.


"Aku ikut!" teriak Revan mengekor Lais. Lais menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Untuk apa kau ikut?"


"Ya daripada aku di sini, kan lebih enak mengikutimu." jawab Revan.


"Ini jam kerja." Lais mengingatkan.


"Terus?"


"Tidak boleh kemana mana. Bawahan." kata Lais yang dirasakan sangat sadis oleh Revan. Lais melanjutkan langkahnya. Revan yang kesal mengepalkan tangan dan mengarahkan tinjunya ke Lias.


"Jangan mengancamku!!" teriak Lais yang membuat Revan langsung ciut.


"Apa dia punya mata di belakang kepala?" gumam Revan sambil menggaruk kepalanya.


...***...

__ADS_1


Lais menunggu di seberang bangunan sekolah Aruna seperti yang biasa ia lakukan. Aruna melarangnya menunggu di dekat sekolahannya karena ia takut pernikahannya diketahui pihak sekolah.


Lais menunggu dengan gelisah. Sudah lima belas menit dari jam pulang, namun Aruna belum muncul juga. Lais memegang ponselnya bermaksud menghubungi Aruna. Saat ia akan menekan nomor ponsel Aruna, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Lais menatap layar ponselnya tanpa menjawab panggilan itu hingga panggilan itu berakhir.


"Iseng!" gumam Lais.


Ia mulai mencari nomor Aruna namun lagi-lagi ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang sama.


"Aku akan memberimu pelajaran jika kau salah sambung atau menyampaikan hal yang tidak penting." kata Lais sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.


"Hallo." sapanya dingin.


"Apa benar ini Tuan Lais?" tanya si penelpon.


"Hm." Lais mengiyakan dengan gumaman.


"Bisakah tuan datang ke sekolah X. Ada yang mengaku sebagai istri tuan." Ucap sang penelpon yang membuat Lais mengernyitkan alisnya. Tanpa menjawab, Lais menutup panggilan.


"Sekolah X bukankah sekolah Aruna. Apa Aruna mengaku kalau sudah punya suami. Aku harus menghubungi Revan"


"Ada masalah apa, tuan?" tanya Revan sopan. Ia ingat ucapan Lais sebelum ia berangkat menjemput Aruna kalau saat ini adalah jam kerja. Jadi ia harus menganggap Lais sebagai bosnya.


Lais melirik Revan dan sadar kalau sahabatnya itu sedang tidak mood. Tapi ia membiarkan saja sikap hormat yang ditunjukan Revan.


"Aku belum tahu. Kita masuk saja." ajak Lais. Mereka lalu masuk dan karena Revan pernah ke sekolah Aruna, tak sulit bagi mereke untuk menemukan kantor kepala sekolah. Revan membukakan pintu untuk Lais. Ketika mereka berdua masuk, kepala sekolah Aruna langsung mengenali Revan.


"Anda pamannya Aruna yang waktu itu minta ijin agar Aruna ikut ujian susulan kan? Jadi sebenarnya anda ini suaminya?" kata sang kepala sekolah.


"Oh bukan. Saya bukan suaminya, tuan inilah suaminya." jawab Revan geli kaena melihat ekspresi Lais yang tampak cemburu padanya.


"Dimana istri saya?" tanya Lais sambil duduk di sofa. Sikapnya sangat tenang dan berwibawa.


"Anda suaminya? Bukankah anda tuan Lais yang sering muncul di TV itu? Benar anda suami Aruna? Tolong jangan bohong tuan! Saya tahu anda orang kaya, tapi Aruna masih sangat muda. Anda bisa mencari wanita dewasa untuk anda jadikan istri. Jangan Aruna. Kasihan masa depannya jika ia harus menjanda di usia muda." kata sang kepala sekolah panjang lebar menasehati Lais.

__ADS_1


Revan menahan tawa. Ia tahu kalau ibu kepala sekolah ini pasti suka nonton infotaiment yang sering mengabarkan soal kawin cerai yang Lais lakukan.


"Hem!" Lais berdehem. Matanya menatap tajam ke arah ibu kepala sekolah. Yang di tatap justru salah tingkah.


"Dimana istri saya?" tanya Lais dengan menekan nada suaranya. Membuat aura bosnya keluar.


Ditanya dengan nada yang penuh tekanan, membuat ibu kepala sekolah langsung ciut. Ia yang semula bermaksud membebaskan Aruna dari cengkeraman pria yang menurutnya hanya akan merusak Aruna menjadi urung. Wanita itu lalu  berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia keluar dan terdengar suaranya meminta seseorang untuk memanggil Aruna.


Lais menghela nafas lega karena tidak harus menghadapi kecerewetan kepala sekolah Aruna. Sementara Revan sudah tidak bisa menahan tawanya.


"Bulan ini nggak ada bonus!" kata Lais mendengar Revan tertawa. Mendengar itu, Revan langsung menutup mulutnya dan menelan tawanya.


Kepala sekolah Aruna masuk dan kembali duduk di kursinya. Kali ini ia hanya diam dan tidak berani memandang Lais. Tidak berapa lama kemudian Aruna tiba. Ia langsung memeluk Lais.


"Sayang! Akhirnya kau datang." rengek Aruna manja.


"Ayo kita pulang!" ajak Lais. Ia berdiri dan menggandeng Aruna.


"Tuan, masalahnya belum diselesaikan." kata kepala sekolah mencegah Lais keluar. Lais kembali mengarahkan pandangan menghujam pada kepala sekolah yang langsung menundukan wajahnya.


"Van! Kau uruslah masalah ini!" titah Lais lalu membawa Aruna keluar tanpa bisa di cegah Lagi.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Lais pada Aruna saat mereka berdua sudah berada dalam mobil yang sedang meluncur menuju mansion Lais.


Aruna diam, "Kamu marah karena aku memberitahu mereka kalau aku istrimu?" tanya Aruna dengan nada sedih dan takut.


"Tidak. Apa mereka mempersulitmu?" tanya Lais khawatir.


Aruna menggeleng. "Jadi tadi saat ujian aku tiba tiba merasa mual. Lalu aku muntah. Terus aku di bawa ke uks. Diberi minyak angin dan segala macam. Aku juga di suruh minum obat anti masuk angin. Aku tidak mau karena aku tahu aku tidak masuk angin. Tapi mualku terua berulang. Mereka lalu memberi obat lambung. Aku tetap tidak mau minum. Mereka akhirnya kesal dan memarahiku. Lalu aku jawab kalau aku sedang hamil jadi nggak mau minum obat." cerita Aruna.


"Lalu?" tanya Lais lagi.


"Mereka marah. Mereka mengira aku hamil di luar nikah. Ya...jadi aku katakan saja kalau aku punya suami dan kamulah suamiku." Aruna mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Sayang, apa mereka akan mengeluarkanku dati sekolah?" tanya Aruna khawatir.


"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tenanglah. Kau pasti lulus." Lais mengusap kepala Aruna dengan penuh kasih dan kelembutan.


__ADS_2