Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Aku Belum Pernah Menikah


__ADS_3

Mau kemana?" reflek Mak Nah sambil menatap lurus ke mata Pak Malik.


"Aku ingin pulang sebentar untuk membersihkan rumah. Sudah beberapa hari aku tidak melihat rumah."


Oh hanya pulang aku kira kami akan berpisah...kenapa aku ini.


"Apa tidak ada yang membersihkannya selama anda pergi?"


Pak Malik tersenyum, "Saya hanya tinggal berdua dengan Seruni. Jadi .." Pak Malik mengangkat bahunya sambil kedua telapak tangannya terbuka di kedua sisi badannya.


Pria ini. Dia bertahan dalam kesendiriannya dan hanya ditemani anaknya. Sebegitu besarkah cintanya pada mendiang istrinya. Beruntung sekali wanita itu yang dicintai dengan tulus. Tidak seperti aku.


Mak Nah menarik nafas panjang.


"Maaf, tapi apa boleh saya bertanya?"


"Boleh. Silahkan!" dengan gerakan tangan Pak Malim memberi ijin Mak Nah mengajukan pertanyaan.


Mak Nah kembali duduk. Pak Malik melakukan hal yang sama.


"Kenapa Pak Malik tidak mencarikan Seruni seorang ibu?"


Pak Malik diam. Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Mak Nah.


"Saya ini pria biasa. Mencari seorang wanita yang bisa menerima saya apa adanya tidaklah mudah. Apalagi wanita yang bisa tulus menyayangi anak saya."


Senyum tipis nan getir menghiasi bibir Pak Malik.


"Tidak mudah bukan berarti tidak ada kan?"

__ADS_1


Pak Malik mengangguk.


"Benar. Tidak mudah bukan berarti tidak ada. Kalaupun ada bagaimana caraku mendapatkannya?" Pak Malik memalingkan wajahnya menatap ke arah Mak Nah.


Kenapa dia manatapku seperti itu? Dan kenapa tatapannya membuatku gugup.


"Itu..bukankah itu hal yang mudah. Jika ada wanita seperti itu, bukankah tinggal menyampaikan niatmu padanya saja." balas Mak Nah terbata.


"Kalau dia menolak?" Pak Malik yang mendapat jalan untuk menjajaki kemungkinan bersama Mak Nah terus bertanya, memanfaatkan kesempatan yang tiba-tiba muncul.


"Kalau menolak berarti bukan jodoh." Mak Nah nenjawab lirih. Ia menunduk.


Pak Malik tersenyum, " Sekarang apakah saya boleh balik bertanya?"


"Silahkan!"


Mak Nah menelan ludah getir. Kepahitan masa lalu muncul lagi dalam pikirannya. Rasa pahit dikecewakan pria.


"Saya ada wanita sebatang kara. Saya mengenal Nyonya saat beliau datang ke kampung tempat saya tinggal. Karena kami cocok, akhirnya saya memutuskan menemani beliau."


"Sebatang kara. Berarti Mak Nah tidak punya anak?"


Mak Nah menggeleng sambil tersenyum.


"Jadi almarhum?"


"Almarhum siapa?" Mak Nah bingung.


"Almarhum suamimu? Dia sudah meninggal juga kan?"

__ADS_1


Mak Nah kembali menggeleng.


"Oh jadi dia masih hidup. Kalian bercerai?"


Lagi-lagi Mak Nah hanya menjawab pertanyaan Pak Malik dengan gelengan kepalanya.


Pak Malik menatap Mak Nah heran. Dia diam. Sebenarnya dia ingin terus bertanya namun ia merasa kalau Mak Nah tidak suka dengan sikapnya yang terlalu ingin tahu.


Pak Malik lalu memandang ke arah tanaman yang ada di depannya sambil memikirkan jawaban Mak Nah. Dia kembali melihat ke arah Mak Nah saat wanita itu berdiri dari duduknya.


"Saya ke kamar dulu."


Pak Malik mengangguk.


Mak Nah melangkah meninggalkan Pak Malik. Namun baru beberapa langkah ia berhenti dan memutar badannya.


"Pak Malik!"


Pak Malik menoleh.


"Aku belum pernah menikah."


Setelah mengatakan hal itu, Mak Nah bergegas meninggalkan Pak Malik.


Pak Malik terpaku menatap kepergian Mak Nah.


Apa tadi. Dia bilang aku..bukan saya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2