Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Berebut dengan Bayi


__ADS_3

"Bagaimana dok?" tanya Mak Nah saat dokter sudah selesai memeriksa Seruni.


"Bagus. Perkembangannya bagus." Dokter tersenyum.


"Oh syukurlah."


"Ibu, Seruni akan sembuh kan?"suara halus Seruni membuat Mak Nah menoleh.


"Iya. Seruni akan sembuh."


"Wah senangnya. Ibunya sudah datang ya." goda seorang perawat.


"Iya. Seruni akan cepat sembuh karena ditemani sama ibu." celoteh riang Seruni.


"Baguslah kalau ibunya bisa menemani." sambung dokter.


"Eh..ini..sebenarnya saya.."


"Saya mengerti bu, tapi memang lebih baik saat ini Seruni ada seorang ibu." kata dokter sambil memberi penekanan pada kata-kata terakhir.


Apa dokter ini bermaksud aku harus pura - pura menjadi ibunya agar Seruni cepat pulih.


"Penyembuhan Seruni akan cepat jika ia punya semangat hidup yang kuat." dokter kembali menegaskan.


"Oh, iya dokter." Mak Nah paham apa yang sang dokter maksudkan.


Ceklek


"Seruni. Kau sudah sadar nak?" Pak Malik bergegas menuju ranjang dan memeluk Seruni dengan penuh rasa bahagia.


"Bapak darimana? Pak, ibu sudah datang."


"Ibu?!?" Pak Malik mengernyitkan alisnya.


"Iya. Ibu." Seruni menunjuk Mak Nah.


Astaga. Seruni mengira Mak Nah adalah ibunya. Ini tidak boleh. Aku nggak mau dia kecewa saat tahu kalau Mak Nah bukan ibunya.


"Seruni dia bukan.."


"Aku ibunya." potong Mak Nah cepat.


Pak Malik kaget. Ia langsung menoleh, menatap Mak Nah.


Mak Nah menunduk.


Semoga dia tidak salah paham.


"Pak, bisa ikut saya? Ada yang ingin saya bicarakan." ucap sang dokter.


"Baik dokter." jawab Pak Malik masih bingung. Sesekali matanya melirik ke arah Mak Nah.


"Bapak pergi dulu dengan Pak Dokter ya! Kamu baik-baik di sini!" Pamit Pak Malik pada Seruni.


Seruni mengangguk, "Bapak jangan khawatir, ada ibu kan?"


Pak Malik mengangguk sambil mengusap kepala Seruni.


Ia lantas meninggalkan Seruni, saat lewat di depan Mak Nah, Pak Malik berhenti sebentar untuk menatap wajah Mak Nah. Mak Nah menunduk salah tingkah.

__ADS_1


"Makasih." bisik Pak Malik lirih.


Mak Nah mengangguk masih sambil menunduk tanpa berani menatap wajah Pak Malik.


"Bu, bapak mau kemana?" suara Seruni menyadarkan Mak Nah dari ketermanguannya


"Pak Dokter ingin bicara sama bapak, jadi bapak pergi sebentar. Runi istirahat ya, atau mau makan?" Mak Nah mengambil makanan yang ada di meja.


Seruni mengangguk. "Suapi ya Bu!"


"Iya, ibu akan menyuapimu."


Seruni berbinar. Ia makan perlahan sambil terus memandang Mak Nah seolah takut kalau Mak Nah menghilang saat ia mengalihkan tatapan matanya.


Di Mansion Lais.


Aruna sedang menyusui kedua bayinya dengan ditemani Bu Ira.


"Non, boleh Ibu bertanya?"


Aruna melirik Bu Ira yang tampak ragu saat bicara.


"Boleh Bu Ira, silahkan."


"Mak Nah, dia dikirim kemana sama tuan muda?"


"O Mak Nah. Mama membutuhkan bantuan Mak Nah, jadi suamiku mengirimnya untuk menolong mama." Aruna menjawab tanpa melihat ke arah Bu Ira karena ia fokus pada bayi yang ada dalam gendongannya.


"Benar demikian nona? Bukan karena masalah kami?"


Aruna mendongak. Sekarang ia bisa melihat wajah pias Bu Ira yang sedang menunduk sambil sibuk menenangkan anaknya yang lain.


Bu Ira mendesah, "Saya merasa bersalah, Non. Gara gara saya, Mak Nah tidak jadi menikah dengan Munir dan sekarang, karena masalah ini juga ia harus meninggalkan mansion." lirih Bu Ira


"Bu, Mak Nah pergi karena mama membutuhkan bantuannya, bukan karena masalah kalian. Jadi ceritanya, ada seorang anak yang sakit. Ia tidak ada yang merawatnya. Karena bapak si anak itu berjasa pada mama, maka mama membalas budinya dengan membantu merawat anak itu. Papa tidak mengijinkan mama melakukannya sendiri, jadi mama meminta tolong Mak Nah menggantikannya. Begitu." Aruna menjelaskan dengan singkat. Ia tidak mau Bu Ira terus menerus menyalahkan dirinya.


Bu Ira masih menunduk. Ia tidak percaya begitu saja apa yang Aruna sampaikan.


Aku harus menemui Mak Nah dan memintanya menjadi istri Munir. Meski ia sudah menolak, aku tidak akan putus asa. Aku akan berusaha. Hanya dengan cara ini aku bisa mengurangi rasa bersalahku.


"Bu, apa sudah punya nama buat si kembar?" Aruna yang melihat wajah mendung Bu Ira berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Em..itu..belum non."


"Bu Ira, bukankah suamiku sudah bilang kalau Bu Ira dan Mak Nah sebagai pengasuhnya harus menyumbangkan nama. Jadi Bu Ira harus memikirkannya mulai sekarang, karena upacara pemberian nama tinggal beberapa haris lagi lo."


"Baik Non. Bu Ira akan mencarikan nama yang baik buat kedua tuan muda kecil."


Aruna mengangguk sambil mengacungkan jempol. Ia lega karena bisa mengalihkan perhatian Bu Ira.


"Belum selesai?" Lais masuk dan langsung duduk di sebelah Aruna. Ia memperhatikan anaknya yang lahap menyesap asi dari Aruna.


"Sebentar lagi. Ada apa?" Aruna melirik suaminya.


"Aku ingin mengajakmu melihat anak pria itu." Lais menjawab masih sambil memperhatikan bayinya.


"Kapan dia selesai? Jika dia selahap itu, bisa-bisa habis." gumam Lais dekat telinga Aruna.


Aruna menyikut dada Lais mendengar ucapan nggak masuk akal suaminya itu.

__ADS_1


Bu Ira menahan senyum. Meski pelan, ia masih bisa mendengar apa yang Lais bisikan.


"Sakit." protes Lais.


Aruna mendelik. Pada saat bersamaan sang bayi melepaskan mulutnya.


"Anak mama sudah kenyang ya." ucap Aruna.


Lais tersenyum. "Anak yang pengertian." Diusapnya kepala sang bayi.


"Sisain buat papamu ini. Buat papa buka puasa nanti setelah 40 hari." Lais menunduk dan berbisik di telinga sang bayi.


PAK


Tangan mungil si bayi memukul pipi Lais.


"Eh, dia menamparku." Lais menunjuk anaknya.


"Nggak sengaja kali, lagian dia masih bayi juga." bela Aruna.


Lais menatap tajam anaknya yang malah tersenyum.


"Anak mama sudah bisa senyum." ucao Aruna dengan nada riang.


"Dia senang karena kau membelanya." omel Lais. Wajahnya cemberut. Ia mengelus pipi bekas tamparan sang bayi.


Aruna menoleh. Ia tertawa melihat muka masam Lais. Bu Ira juga tertawa lirih.


"Sayang, mana yang sakit. Biar aku elus." bujuk Aruna.


Lais menunjukan pipinya dengan manja. Aruna mengelus pipi Lais bahkan memberikan ciuman di sana.Wajah Lais berbinar bahagia.


"Lihatlah. Aku mendapat ciuman setelah kau menamparku. Jadi siapa yang menang di sini ha?!"


Oeekk oekk


Seolah mengerti gertakan Lais, sang bayi menangis keras membuat Lais dan Aruna kaget.


Aruna langsung mendekapnya. Mengayun dan menciuminya berulang ulang sampai sang bayi kembali tenang.


Hah apa dia anakku? Masih bayi saja sudah berebut denganku, bagaimana besar nanti.


Lais ternganga menatap bayinya yang kini tenang dalam pelukan Aruna.


"Tuan Muda, boleh saya ikut." Bu Ira berkata dengan hati-hati.


"Ikut menjenguk anak itu? Bukannya tidak boleh Bu Ira, kalau Bu Ira juga ikut pergi, mereka sama siapa? Nanti Bu Ira bisa menjenguknya sendiri. Kita gantian."


"Baik, Tuan."


"Nah, dia sudah tidur." Aruna meletakan anaknya dalam box bayi.


"Aku akan bersiap dulu. Bu Ira minta tolong jaga mereka ya!"


"Baik Non. Salam saya buat Mak Nah."


Aruna mengangguk sambil tersenyum


...***...

__ADS_1


__ADS_2