
Aruna dan Nyonya Robert langsung menoleh ke arah Lais. Mereka melihat wajah Laia tegang dan merah. Lais melangkah masuk dengan perlahan. Matanya menatap tajam dengan sorot penuh kemarahan ke arah Nyonya Robert.
"Siapa anda?" tanya Lais setengah menggeram. Ia menunjuk Nyonya Robert.
"Nak, maafkan mama." ucap Nyonya Robert dengan suara bergetar. Ia berusaha menyentuh tangan Lais yang menudingnya. Lais menepis tangan Nyonya Robert dengan kasar.
"Bagaimana mungkin? Orang yang selama ini paling dekat denganku, ternyata yang paling dalam menyakitiku!" teriak Lais.
"Maafkan mama!" Nyonya Robert terisak.
"Maaf?! Mudah mama bilang maaf. Mama tidak merasakan apa yang Lais rasakan selama ini. Tiap melihat orang asing, Lais ketakutan Ma dan Lais harus berusaha keras menyembunyikannya agar tidak dipandang aneh. Lais merasa dunia Lais sangat sempit. Dan semua ini karena mama. Karena keegoisan mama." Mata Lais mulai berkaca-kaca.
"Mama tahu mama salah. Mama menyesal." ucap Nyonya Robert dalam tangisnya. Aruna memeluk mertuanya itu. Matanya memandang iba ke arah Lais.
"Kenapa Ma?! Kenapa harus Lais?! Sebesar itukah cinta mama pada papa sehingga mama rela mengorbankan apapun bahkan darah daging mama sendiri?! Bocah kecil yang tidak tahu apa-apa, harus meringkuk di ruang yang gelap, dan menyaksikan hal yang paling mengerikan dalam hidupnya. Dan semua itu demi ambisi mama." raung Lais dengan suara yang menyakitkan hati.
Nyonya Robert tidak lagi bisa berkata-kata. Ia hanya menangis dalam dekapan Aruna.
"Tuan!" Aruna berkata dengan lembut.
"Kita pulang! Tak ada gunanya kita di sinj. Orang-orang yang ada di sini sudah tidak aku kenal lagi. Mereka asing bagiku." Laia menarik tangan Aruna dan membawa Aruna pergi meninggalkan Nyonya Robert yang masih menangis tanpa bisa mencegah kepergian Lais.
Lais melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aruna yang duduk di sebelahnya berpegangan dengan erat karena merasa saya takut.
"Tuan! Pelan sedikit!" teriak Aruna saat Lais semakin menambah laju kendaraannya. Lais bergeming tidak menghiraukan permintaan Aruna.
Tuan!" Aruna kembali berteriak ngeri. Lais masih melampiaskan amarahnya dengan mempercepat laju mobilnya.
"Tuan, Aruna akan lompat jika tian tidak mengurangi kecepatan!" Ancam Aruna. Lais hanya melirik. Ia berpikir kalau Aruna hanya menggertaknya
__ADS_1
Ceklek
Lais kaget mendengar suara pintu di buka. Ia menoleh dan melihat Aruna membuka pintilu mobil.
"Kau gila!" Lais memperlambat laju mobilnya dan dengan tangan kirinya ia berusaha menarik tubuh Aruna. "Tutup!" titah Lais.
"Tidak. Janji dulu tidak akan ngebut lagi!"
"Iya..iya. Tutup sekarang." Lais mengalah. Aruna menutup pintu mobil. Lais memutar arah kemudi menuju tempat yang sunyi. Di sana mobil itu berhenti.
Lais duduk bersandar dengan mata terpejam. Setitik air meluncur dari sudut matanya. Aruna mendekat dan mengecup air mata itu. Lais membuka mata dan melihat wajah cantik yang sedang tersenyum dihadapannya. Lais lalu membenamkan wajahnya di dada Aruna. Tangannya melingkar kuat di tubuh ramping istri kecilnya itu. Aruna mengelus kepala Lais. Ia membiarkan suaminya itu meluapkan emosinya.
"Menangislah. Sesekali menangis tidak apa-apa." ucap Aruna.
"Apa aku sebegitu tidak berharganya bagi mereka!" rintih Lais.
"Sebaliknya. Tuan sangat berharga. Semua yang mama lakukan demi tuan. Meski cara mama salah. Tidakkah tuan lihat betapa sedihnya mama tadi? Itu wujud kalau tuan sangat berharga baginya."
"Tuan bisa berkata begitu karena sejak kecil tuan tidak pernah kekurangan. Andai Tuan tahu betapa sulitnya hidup bagi kami yang miskin, tuan akan sangat menghargai apa yang dilakukan mama demi tuan." Dengan hati-hati Aruna memberi pengertian pada Lais.
"Selama hidup tuan, tuan belum pernah jatuh cinta jadi tuan tidak akan tahu rasa sakitnya dikhianati. Tapi mama merasakan itu. Tuan pernah bilang tuan mencintai saya, bayangkan kalau tiba-tiba saya meninggalkan tuan untuk bisa bersama pria lain."
Lais langsung mendongak. "Kau akan meninggalkan aku?!"
"Tidak. Saya hanya meminta tuan membayangkannya. Agar tuan tahu bagaimana rasa sakit yang mama rasakan."
"Aku tidak mau!" tolak Lais.
"Tuan....cobalah. Agar tuan bisa memahami mama." rengek Aruna sambil menggoyang tubuh Lais.
__ADS_1
Lais menatap Aruna. Ia diam dan mencoba melakukan apa yang Aruna minta. "Tidak!!Aku tidak bisa kehilanganmu." seru Lais. Ia langsung menangkup wajah Aruna. "Jangan pernah tinggalkan aku. Demi apapun itu. Tetaplah di sisiku."pinta Lais.
Aruna tersenyum. Dipegangnya tangan Lais yang ada di pipinya.
"Sekarang tuan tahu apa yang mama rasakan. Ia hanya ingin memperjuangkan apa yang menjadi miliknya dan juga milik tuan kelak." bisik Aruna lembut.
Lais diam. "Ok...aku mungkin bisa menerima alasannya tapi tidak perbuatannya."
Kini ganti Aruna yang bersandar di dada Lais, " Tuan, andai mama tidak meminta Angela menculik tuan, tuan tidak akan trauma dan kita tidak akan bertemu." kata Aruna sambil memainkan kancing kemeja Lais.
"Ck." Lais berdecik kesal karena sadar akan kebenaran ucapan Aruna.
"Jadi...maukah tuan memaafkan mama!" rengek Aruna. Tangannya tidak lagi bermain di kancing baju namun sudah pindah ke otot dada Lais yang meski tertutup kemeja, tetap tercetak sempurna.
"Rayuanmu nggak akan mempan!" geram Laos sambil memalingkan wajahnyabke arah luar. Mukanya merah.
"Begitukah..." bisik Aruna. Ia mengangkat sedikit tubuhnya demi menjangkau leher Lais. Aruna menyecap leher Lais hingga meninggalkan bekas kemerahan. Lais mendesis. Ia langsung menarik kepala Aruna menjauh dari lehernya dan membekap bibir gadis itu.
Aruna tersenyum dalam hati. Ia memejamkan mata menikmati manisnya bibir hangat dan kenyal milik Lais.
"Kau lolos hari ini karena aku masih belum bisa memaafkan mama. Tapi aku akan mengingat hari ini dan jika saatnya tiba, kau akan terima akibat dari perbuatanmu ini!!" Lais menunjuk-nunjuk dahi Aruna dengan telunjuknya. "Sana. Duduk yang benar!" titah Lais sambil mendorong lembut tubuh Aruna menjauhinya. Aruna cemberut karena kerja kerasnya tak membuahkan hasil.
Lais bersiap menyalakan mesin mobilnya. Ia lalu melajukan mobilnya kembali ke jalanan. Tujuannya adalah apartemen Revan.
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa jejaknya
Tengokin juga karya author yang lain ya...klik aja di profil author
__ADS_1
Ada karya yang terinspirasi dari kisah nyata lo...baca saja di Balada Istri Pertama...
Semoga menghibur