
Lais gelisah saat melihat Aruna dan guru privat nya itu semakin akrab. Ia merasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.
"Cukup!" Lais berkata sendiri sambil bangkit dari duduknya. "Aku tidak bisa terus begini. Kenapa aku kesakitan begini?"
Lais bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia mondar mandir di ruangannya.
"Kenapa aku tidak suka melihat Aruna bersama dengannya. Perasaan apa ini?" gumam Lais, "Aku belum pernah merasakan hal ini. Saat Kirey selingkuh pun aku tidak merasakan apa-apa. Revan... Revan pasti bisa menjelaskan masalah ini."
Lais menyambar ponselnya dan menekan nomor Revan. Ia mendengar bunyi panggilan tapi tak juga diangkat.
"Nih orang saat dibutuhkan malah menghilang. Awas saja, kopotong nanti gajinya." Lais mendengus kesal. Ia kembali mencoba menghubungi Revan. Namun hal yang sama terulang, Revan tidak mengangkat panggilannya.
"Ck!!" Lais berdecik kesal."Sammy, Dr. Sammy."
Lais mencoba menghubungi dokter Sammy.
"Ahhh... nih orang pada kemana sih." teriak Lais saat panggilannya juga tidak diangkat oleh Dr. Sammy.
"Tidak. Aku tidak boleh menunggu Revan dan Sammy. Aku harus menyelesaikan ini sendiri." Lais kembali menatap layar monitor CCTV. Matanya melebar saat melihat Rendy membelai rambut Aruna.
"Beataninya dia!!!"
Lais langsung keluar dari ruangannya dan dengan tergesa ia menuruni tangga menuju tempat Aruna berada.
"Tuan! Belum berangkat ke kantor?" tanya Aruna santai saat ia melihat Lais yang tiba-tiba datang ke tempat ia belajar.
"Kamu ingin aku ke kantor?!" tanya Lais dengan nada tidak suka.
"Bukankah memang seharusnya Tuan ke kantor ya?Bukan hari libur kan?" balas Aruna.
Rendy diam sambil mengamati wajah Lais. Ia melihat mata Lais menatapnya dengan sorot tidak suka dan penuh amarah.
__ADS_1
...Apa dia cemburu? batin Rendy....
"Itu kantorku. Perusahaanku. Jadi suka-suka aku." jawab Lais datar dan dingin. Ia lalu beranjak dan duduk di samping Aruna dengan posisi menempel pada tubuh istrinya itu.
"Rambutmu kenapa. kotor begini? Bau lagi? Cepat bersihkan!" Lais mengacak rambut Aruna di tempat tadi Rendy membelainya.
Aruna mengambil rambutnya lalu menciumnya, "Wangi."
"Kalau aku bilang bau ya bau!" jawab Lais penuh penekanan. "Bersihkan!"
"Tapi Tuan, saya kan sedang... " Aruna tidak melanjutkan ucapannya saat menatap mata Lais yang melotot ke arahnya. Ia bangkit dan dengan perasaan mendongkol berjalan meninggalkan Lais dan Rendy.
Setelah Aruna pergi, Lais pun beranjak mengikutinya tanpa memperdulikan kehadiran Rendy.
Aruna membuka pintu kamar lalu masuk dan menutupnya dengan kasar.
"Apa-apa sih dia." Aruna kembali menciumi rambutnya, "Wangi gini di bilang bau. Dasar abnormal." Aruna mendengus kesal. Ia duduk di tepi ranjang. Wajahnya cemberut karena hatinya yang sangat kesal atas sikap Lais.
Aruna melirik saat pintu kamarnya terbuka. Ia melihat LAis masuk dan berjalan ke arahnya.
Aruna menatap Lais dengan kesal.
"Aku nggak bau!!!"
"Oh ya?! Tapi bagiku rambutmu itu kotor."
"Terserah apa pendapat tuan. Aku nggak peduli." Aruna mengayun langkahnya hendak meninggalkan Lais namun LAis mencekal tangannya.
"Bersihkan rambutmu!!"
"Nggak mau!!"
__ADS_1
Lais menyeret Aruna ke kamar mandi.
"Tuan! Apa yang kau lakukan?!" Aruna berontak namun kalah dari Lais.
"Kalau kau nggak mau membersihkan rambutmu, aku yang akan melakukannya
Lais memutar kran dan air mengucur dari shower membasahi Aruna yang ada di bawahnya. Aruna gelagapan. Ia berusaha menyingkirkan air yang mengenai wajahnya dengan sebelah tangan. Pakaian Aruna basah kuyup menempel dibadannya mencetak bentuk tubuh indah Aruna.
Lais menatapnya. Ada sesuatu yang mulai bangkit dari dalam dirinya. Sejenak Lais nampak kebingungan dengan hal itu. Ia melepaskan tangan Aruna yang sedari tadi dicekalnya. Ia mengalihkan pandangannya dari tubuh Aruna.
Apa ini? Dorongan apa ini. batin Lais
"Tuan! Kau kenapa?" tanya Aruna melihat keadaan Lais.
Mendengar suara lembut dan halus Aruna, dorongan yang dirasakan Lais makin kuat.
Ia kembali mengarahkan pandangannya kepada Aruna. Tiba-tiba Lais mendorong tubuh Aruna hingga menempel dinding. Kini Lais yang berdiri di bawah guyuran air.
Kemejanya basah menampakkan otot dadanya yang sempurna bagai pahatan
"Tuan... kau..."
Aruna menelan ludah melihat pemandangan itu.
'Aku... ' suara Lais bergetar. Tangannya mengusap pipi Aruna lalu turun ke bibirnya dan berlama lama di sana.
Tuan, mungkinkah kau sembuh. batin Aruna.
"Tuan.. aku istrimu. Kau berhak atas diriku." bisik Aruna lembut.
Lais menatap Aruna dengan sendu. Pelan namun pasti kepalanya menunduk. Dengan sangat lembut ia mencium bibir Aruna. Mata Aruna terpejam. Dengan segenap perasaan, ia menikmati ciuman Lais.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Besok lagi ya.... semoga bisa mengobati rindu... author ada panggilan tugas nih.