
"Sayang! Kamu mau kemana?" tanya Revan saat dilihatnya Nisa berada di dalam lift dengan membawa koper besar. Nisa tidak menjawab pertanyaan Revan. Ia malah melangkah keluar lift sambil menggeret kopernya.
"Sayang!!" Revan mencekal tangan Nisa agar istrinya itu berhenti. Nisa berbalik.
"Kamu mau kemana bawa-bawa koper?" tanya Revan panik.
"Aku?" Nisa malah balik bertanya.
"Iya. Sayang maaf! Semalam aku tertidur di ruang kerja Lais. Karena nggak sengaja tidur, jadi aku nggak sempat ngabarin kamu. Tahu-tahu sudah pagi." Revan berusaha menjelaskan. Nisa diam memandanginya dengan sorot mata yang Revan sendiri tidak bisa mengartikannya. Tidak ada kemarahan tapi juga bukan sorot mata yang percaya akan ucapan Revan.
Nisa menarik dagunya hingga bibirnya sedikit manyun dan mengangguk-anggukan kepalanya seolah ia memahami Revan. Melihat itu Revan tersenyum lega.
"Kita masuk ya! Bawa kopermu masuk!" ajak Revan lembut.
"Koperku?! Ini bukan koperku." jawab Nisa.
"Lha, kalau bukan kopermu terus milik siapa?" tanya Revan bingung.
"Ini milikmu sayang. Kamu kan nggak pulang semalam, jadi aku bantu sekalian packing buat kamu pindahan. Baik kan aku?" kata Nisa dengan senyum anehnya.
Revan melongo syok. Nisa meninggalkan koper dan juga dirinya di parkiran basement apartement.
"Baik apanya. Ini namanya mengusir. Apa dia nggak sadar kalau sudah mengusirku. Untung istriku, kalau bukan udah ku...mmm..diapain ya enaknya." gumam Revan bingung.
"Tidak!Aku tidak boleh nyerah! Itu apartementku dan dia istriku. Aku harus mendapatkannya lagi!" tekad Revan. Ia lalu menarik kopernya dan menekan tombol lift. Saat pintu lift terbuka ia segera naik menuju lantai dimana unitnya berada.
Revan memencet bel. Nisa yang mendengar bel berbunyi mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu. Ia melihat Revan berdiri di depan. Nisa membuka sedikit pintu apartemennya.
"Apalagi sayang?" tanya Nisa tanpa membukakan pintu. Ia hanya melongokkan kepalanya.
"Ada yang ketinggalan." jawab Revan datar.
"Katakan saja sayang..biar aku yang ambil." balas Nisa.
Revan lalu menatap mata Nisa tajam, dan dengan tiba-tiba ia mendorong pintu dengan kuat. Nisa terhuyung dan akhirnya pintu terbuka. Revan menerobos masuk sambil menarik kopernya.
__ADS_1
"Hey...jangan masuk!" teriak Nisa sambil memegang lengan Revan. Dengan cepat Revan berbalik dan tangannya langsung merengkuh pinggang Nisa dengan posesif. Nisa hendak protes namun bibir Revan telah lebih dulu menyumpal mulutnya.
Nisa memukuli dada Revan saat ia merasa kewalahan dengan aksi Revan. Revan membiarkan saja dadanya dipukuli. Baginya pukulan Nisa tak lebih seperti digelitiki. Ia terus saja mengeksplor bibir manis istrinya sampai keduanya kehabisan napas.
Revan melepaskan bibir Nisa dan memandang Nisa yang tengah berusaha menghirup oksigen sebanyak banyaknya itu dengan wajah sendu.
"Kamu yang ketinggalan. Bagaimana mungkin aku pergi tanpa dirimu. Kamu nyawaku. Hidupku." rayu Revan sambil.mengelus bibir Nisa yang agak bengkak akibat ulahnya. "Jangan suruh aku pergi ya!" pinta Revan.
Nisa cemberut, "Tapi aku nggak suka ada Mas Revan di sini." jawabnya manja.
Revan menarik nafas dalam dalam lalu kembali berkata,"Sayang..kalau aku ada salah, maaf!" ia menunduk dan menangkupkan kedua tangannya di depan kepalanya.
"Mas Revan ngggak punya salah." jawab Nisa pelan.
"Lalu kenapa kau mengusirku?" tanya Revan memelas.
"Aku nggak ngusir Mas. Aku hanya nggak suka mas ada di sekitarku."
"Kamu benci mas?" tanya Revan. Nisa menggeleng. Revan bernapas lega setidaknya ia tidak dibenci oleh Nisa Revan ingat nasehat Bu Ira bahwa sikap Nisa adalah bawaan bayi.
"Sayang ini papa." ucapnya lalu mencium perut Nisa, "Papa sangat sayang padamu dan pada mamamu. Jadi jangan menjauh dari papa ya! Kalau kau bawa mamamu menjauh, bagaimana papa bisa melengkapi ukiran papa. Kamu masih belum lengkap sayang. Papa masih harus mengukir tangan dan kakiku, melengkapi wajahmu bahkan menanam rambutmu. Emang kamu mau lahir botak."
"Mas Revan! Mas nyumpahin anak kita botak?" rengek Nisa kesal.
"Enggak sayang." Revan berdiri. "Mas juga nggak ingin anak.kita botak. Jadi jangan jauh jauh dari mas apalagi sampai usir mas ya! Biar mas bisa rajin nanam rambut. Semakin mas rajin, semakin lebat rambut anak kita nanti." kata Revan penuh modus. Ia lalu mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke kamar.
"Mas mau apa?" Nisa meronta.
"Mau olahraga pagi."jawab Revan.
"Nggak mau, Mas Revan bau.Aw"Nisa memekik saat Revan dan dirinya terjatuh bersama-sama di atas kasur.
"Jangan hiraukan baunya. Nikmati saja rasanya." kata Revan mulai melakukan pemanasan. Nisa terus berusaha menolak namun kekuatan Revan tidak bisa ia lawan. Revan bertekad menundukkan istri dan calon anaknya agar ia tidak lagi terusir dari apartementnya.
Usaha Revan membuahkan hasil saat lama kelamaan Nisa mulai menikmati permainannya.
__ADS_1
"Hai anak papa. Papa akan ukir kakimu hari ini." bisik Revan sebelum ia memasuki tubuh Nisa dengan sangat lembut.
Setelah beberapa saat lamanya Nisa dan Revan saling bekerjasama, mereka berdua tumbang dengan badan penuh peluh.
"Mas!" bisik Nisa.
"Hmm!" jawab Revan sambil memejamkan mata. Ia benar-benar lelah karena sebelum permainan harus menundukkan Nisa yang terus meronta.
"Mmm...emang benar ya kalau jarang dijenguk anak kita bisa botak?"
Revan yang hampir masuk.ke alam bawah sadarnya, membuka mata lebar-lebar mendengar pertanyaan lucu dari Nisa.
Kesempatan nih.
Otak jahilnya mulai beride. "Katanya sih begitu. Kamu nggak mau kan anak kita botak?"
"Nggak mau lah." jawab Nisa cepat.
"Kalau nggak mau, jangan tolak mas kalau mas mau nanam rambut nanti ya!" Revan mengelus perut Nisa sambil menahan senyum.
Nisa mengangguk antara yakin dan tidak dengan jawaban suaminya. Namun ia lebih memilih menurut. Dan anehnya, ia tidak lagi mencium bau aneh dari tubuh Revan yang membuatnya enggan berdekatan dengan suaminya itu.
"Mas kok tidur lagi. Nggak kerja?" tanya Nisa sambil membelai wajah tampan suaminya.
Mendengar kata kerja, ia ingat apa yang Lais sampaikan kemarin. Tentang pemisahan perusahaan. Jika menuruti kata hati, ia ingin membalas perbuatan Lais padanya. Namun ia urungkan niatnya karena tahu saat ini Lais sangat membutuhkan bantuannya.
"Mas ingin istirahat sebentar. Bangunin mas jam tujuh an ya!" Revan memberi pesan pada Nisa. Ia lalu melanjutkan tidurnya.
Nisa bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sambil mandi ia terus memikirkan kata-kata Revan.
Apa iya bisa botak
Nisa menggelengkan kepalanya ngeri saat membayangkan anaknya lahir dalam keadaan botak. Ia lalu berdiri di bawah guyuran shower agar kepalanya menjadi dingin dan pikiran menakutkan tentang anak bayinya lahir botak hilang.
Nisa jangan percaya sama Revan. Dia tuh modus.
__ADS_1