Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kebingungan Revan


__ADS_3

Dengan langkah gontai ia memasuki ruangan yang penuh dengan orang berpesta. Matanya menatap ke arah Aruna yang tengah duduk di temani Nisa.


Kalau Aruna bertanya perihal suaminya, apa yang harus aku jawab.Sebaiknya aku menghindarinya saja.


Revan bermaksud kembali bergabung dengan para tamunya dan menjauhi Aruna namun


"Mas!" Nisa memanggilnya sbil.melambaikan tangan.


Revan pura-pura tidak mendengar. Ia malah berjalan sambil menunduk.


"Kenapa dengan suamimu mbak?" bisik Aruna sambil menatap keanehan Revan dengan penuh tanya.


"Tahu tuh. Salah makan kali." Nisa bangkit. "Bentar ya. Aku mau nyamperin tuh orang."


Sambil memegang perut buncitnya Nisa menuju ke tempat Revan berada. Laki-laki itu terua saja menunduk.


"Mas!" Nisa menepuk bahu Revan membuat si empunya berjengkit kaget.


"Dik. Kok disini?Ada apa?"


"Yang ada aku yang tanya Mas kenapa nunduk terus sampai aku panggilpun nggak ngrespon?Apa ada barang mas yang jatuh? Mas lagi mencarinya? Apa? Biar aku bantu. Aissshhh...lupa. Perutku kan gendut. Nggak bisa lihat bawah aku. Terhalang. Tapi aku bisa minta tolong orang buat bantu mas Revan. Katakan saja! Apa yang hilang?"


Revan justru melongo melihat Nisa yang nyerocos panjang lebar itu.


Benar benar janin dalam kandungannya telah mengubah istriku yang kalem jadi begini.


Revan gedek gedek melihat Nisa.


"Kok malah gedek gedek sih? Kayak orang India eh bukan kayak dakochan yang biasanya di dashboard mobil tuh kalau mobilnya jalan kepalanya gedek gedek. Kayak gini." Nisa mempraktekkan dengan menggoyangkan kepalanya.


"Sayang. Sudah. Jangan diteruskan." ucap Revan lemas. Ia lantas melirik Aruna.


"Apa Runa baik-baik saja?"


"Hm." Nisa mengangguk. 'Dia baik. Sangat baik malah. Ah..sampai lupa aku. Ayo ikut aku. Ada yang mau Aruna bicarakan soal tuan Lais." Nisa menepuk jidatnya lalu meraih tangan Revan dan menggelandangnya untuk menemui Aruna.


deg


Waduh. Bagaimana ini.


"E..e..ss..sayang. Tunggu ya! Jangan sekarang. Masih banyak rekan bisnis yang ingin aku jamu." kilah Revan.


"Sebentar saja mas. Ayo!" Kembali wanita berperut buncit itu menarik tangan Revan.


"Tian Revan!"

__ADS_1


Revan dan Nisa menoleh.


"Tuan Hadi." Revan bernafas lega. Ya meski ia kurang begitu menyukai pria ini karena sifat mata keranjangnya dan doyan wanita, namun kehadirannya saat ini bisa membebaskan Revan dari desakan Nisa untuk menemui Aruna. Revan melepaskan tangan Nisa lalu menjulurkan tangannya ke arah pria yang barusan menyapanya.


"Selamat. Kalian memang luar biasa. Sebuah pencapaian yang luar biasa." puji Tuan Hadi sambil sesekali melirik Nisa.


"Terima kasih tuan. Ini semua berkah dari Allah dan kerjasama yang baik dari rekan bisnis kami termasuk Tuan Hadi." balas Revan basa basi sambil membuat senyum terpaksanya.


"Sayang!" Nisa menarik ujung jas Revan.


"Maaf, ini nyonya Revan?" Tuan Hadi menatap Nisa. Matanya menyorotkan kekaguman.


Dasar buaya darat. Nggak bisa lihat yang bening. gerutu Revan


Revan melingkarkan tangannya ke pinggang Nisa yang sekarang menjadi berisi.


"Iya, Tuan. Wanita cantik nan anggun ini istri saya dan sedang mengandung buah cinta kami yang pertama. Setalah yang pertama lahir akan ada lagi adiknya begitu seterusnya." Revan tersenyum smirk. Sengaja ia berucap begitu untuk menunjukkan betapa ia dan Nisa sering bermesraan sehingga menghasilkan buah buah cinta di keluarga mereka.


Benar saja, wajah Tian Hadi tampak sebal mendengar profokasi Revan.


"Rencananya mau berapa anak?"


"Sedikasihnya saja yang penting kami menikmati prosesnya dan berusaha setiap malam." kembali Revan menampakkan senyum anehnya.


Tentu saja tiap malam, istrimu menggairahkan begitu. Meski bajunya longgar dan tidak menunjukkan lekuk tubuhnya, namun kulit putihnya sudah sangat menggoda. Wajahnya cantik lagi.


Bandot ini harua dikasih pelajaran. terutama matanya yang nggak pernah disekolahkan itu. Enak aja lihatin istriku dengan tatapan menjijikan seperti itu.


"Sayanv, tadi kamu mau ajak aku kemana? Ah iya ingat, ke kamar ya! Kamu mau minta dipijitkan? Ok..pijitnya plus plus ya." Revan memeluk Nisa.


"Eh..Mas tadi aku..mmm." Nisa hendak protes namun bibirnya malah dibungkam oleh ciuman Revan.


Cih pamer kemesraan. Wanita ini begitu menggoda, pasti ia bisa aku luluhkan dengan uang. Hamil nggak papa. Lama nggak mencoba yang lagi hamil. Tunggu saja kau Revan.


Tuan Hadi yang melihat itu segera pergi sambil menahan kekesalannya.


Nisa memukul dada Revan.


"Ah..mas apaan sih?" semprotnya saat bibirnya sudah lepas dari pagutan Revan.


"Berhasil!" Revan malah tersenyum senang sambil menatap.ke arah punggung Tuan Hadi.


"Apanya yang berhasil?"


"Mengusir bandot botak. Ia menatapmu terus kan aku jadi sebal." omel Revan sambil memberi lirikan sinis ke arah Tuan Hadi.

__ADS_1


"Iya..hiii..aku juga jijik sebenarnya. Ayo mas kita temui Aruna."


Mampus. Ku kira dia lupa.


"Sayang...mas butuh ke kamar kecil dulu ya!" Revan menarik tangannya namun cekalan Nisa malah tambah erat.


"Kan tadi sudah." Mata bening itu melotot.


"Tadi itu mencari Lais sayang..."


"Ya udah. Ayo!" Nisa menarik Revan lagi.


"Aku mau ke kamar kecil Nisa." rengek Revan sambil mengikuti langkah Nisa meski dengan terpaksa.


"Iya ayo! Aku temenin."


"What!!" Revan tersentak.


"Kenapa? Kalau aku nggak ikut, nanti Mas berlama-lama di sana. Lihat tuh Aruna! Dia sudah nggak sabar nunggu." Nisa menunjuk Aruna dengan dagunya.


Nggak papalah dikintilin. Lumayan mengulur waktu sambil memikirkan bagaimana cara bicara dengan Aruna nanti.


Revan akhirnya ke kamar mandi dengan Nisa mengekor di belakangnya.


"Kamu tungguin di sini saja! Nggak enak kalau terlalu dekat toilet pria." titah Revan saat sudah dekat ke toilet.


"Iya. Cepetan sana. Tadi buru-buru, sekarang malah nyantai." Nisa mendorong tubuh Revan.


"Iya. Iya. Nih aku jalan." Revan melangkahkan kakinya masuk ke toilet pria. Di dalam ia berjalan mondar mandor memikirkan cara menyampaikan berita hilangnya Lais kepada Aruna.


Bagaimana menyampaikannya agar Aruna tidak kaget? Kalau dia kaget lalu syok dan pingsan, pasti itu nggak baik buat bayinya. Dan kalau sampai bayinya kenapa kenapa nanti aku juga yang akan kena damprat si Lais. Arrgghhh kamu kemana sih...


Revan menyunggar rambutnya kasar.


Tiba-tiba ponselnya bergetar.


"Lais." gumam Revan senang. Segera ia mengambil benda pipih itu dari sakunya dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Nisa." Revan menjawab panggilan Nisa. "Halo sayang."


"Mas lama amat sih? ngeluarin apa saja sih sampai butuh waktu segini lamanya. Cepat keluar atau aku nyusul masuk ke sana!" ancam Nisa.


"Eh jangan! Iya ini aku keluar." Revan menutup panggilan lalu mengelus dada.


"Bismillah. Semoga lancar." gumamnya setelah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju Nisa.

__ADS_1


...ᕦ( ͡° ͜ʖ ͡°)ᕤ...


__ADS_2