Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kejutan Indah dari Roby


__ADS_3

Acara pembukaan berlangsung dengan lancar. Para pengunjung yang rata rata bisnisman dan investor langsung berdiri dan bersiap untuk menikmati pameran.


Lais, Revan dan Rendy sudah kembali ke tempat mereka. Banyak yang berkunjung dan merasa kagum dengan barang-barang yang mereka bawa. Dan dalam waktu singkat, Lais sudah mendapatkan lima investor yang bersedia bekerja sama. Revan yang menangani semua prosesnya dibantu Rendy.


"Sepertinya sukses besar nih?" kata Roby yang mendatangi Lais.


Lais tersenyum. Ia mengulurkan tangan ke arah Robby. "Makasih atas bantuanmu."


"Bantuanku bukan apa apa. Kalianlah yang luar biasa." puji Roby. "Oh ya. Ini tamu pentingku. Aku nitip mereka. Buat mereka bahagia dan sebagai balasannya aku akan menjadi investor kalian." kata Roby sambil mengenalkan dua wanita bercadar yang bersamanya.


Lais menatap kedua wanita itu bergantian. Hidungnya kembang kempis saat mencium aroma yang sangat ia kenal.


Mungkinkah, tapi bagaimana bisa? batin Lais.


"Mereka siapa?"


"Ah, mereka ini kerabatku. Mereka penggemar karya seni terutama barang-barang unik seperti barang yang kalian pamerkan ini. Sebenarnya aku ingin menemani mereka tapi hari ini pekerjaanku sangat banyak. Jadi tolong jika kalian ada waktu bawa mereka menikmati pameran."


"Tapi..."


"Kami bisa." Rendy menyambar sebelum Lais menyelesaikan ucapannya.


"Ren!" hardik Revan.


"Mm sepertinya kalian keberatan ya?" kata Roby kecewa.


"Begini Rob. Mereka kan wanita, dan kami berdua ini pria beristri. Ya memang sih saat ini kami tidak bersama para istri kami tapi tetap saja kami harus menjaga diri dan hati." Revan menjelaskan.


"Begitu ya. Kalau anda, Tuan Lais."


"Aku tidak bisa dekat dengan wanita lain selain istriku. Tapi sepertinya nona ini tidak asing bagiku." Lais mengamati wanita bercadar yang berdiri di sebelah kanan. Ia terus mengamati. Lais merasa sangat aneh karena wanita itu tidak pernah mau menatap matanya secara langsung.


Daripada penasaran, mending aku membuktikannya saja.


"Baiklah. Aku menerima permintaan Tuan Roby. Biasanya aku tidak bisa berdekatan dengan wanita lain selain istriku. Nona ini tampaknya beda. Aku merasa nyaman dengannya. Aku akan menjaganya."


Wanita bercadar yang dimaksud Lais langsung menatap melotot ke arahnya.


Dia merasa kesal dan berbalik lalu melangkah pergi.


"Nyonya!" tegur Roby.


"Biar saya." Lais menahan Roby saat ingin mengejar wanita itu.


Lais mempercepat langkahnya mengejar wanita bercadar. Sedangkan si wanita itu berlari keluar. Saat di taman ia berhenti dan memaki maki Lais.


"Tuan Lais brengsek. Katanya setia tapi begitu ada wanita yang nyaman dengannya langsung saja mau. Dasar jahat. Lais jahat. Lais tua jahat." wanita bercadar itu yang tak lain adalah Aruna terus mengomel sambil menghentakkan kakinya. Ia tidak menyadari Lais memperhatikannya dan mendengar semua umpatannya.


Bibir Lais melengkung. Ia lalu mendekati Aruna.


"Hem!" Lais berdehem.


Aruna yang masih mengenakan cadar menoleh. Melihat Lais ia kembali pura-pura tidak mengenal suaminya itu.


"Mengapa nona keluar?Apa kata-kata saya menyinggung nona?" tanya Lais lembut.


Lembut banget. Gitu ya kalau bicara dengan cewek. Lembut banget. Tapi bagaimana ini, pesan tuan Robby aku tidak boleh mengeluarkan suara karena nanti dia akan mengenaliku.


Aruna menggeleng.


"Lalu kenapa keluar? Bukankah nona ingin melihat pameran?"

__ADS_1


Aruna bingung. Ia lalu menjawab pertanyaan Lais dengan mengubah suaranya.


"Saya hanya ingin cari udara segar."


Aduh bodoh banget sih. Alasan yang klise dan usang.


"Oo...boleh saya temani." Lais berjalan mendekati Aruna. Semakin lama semakin dekat. Aruna mundur sampai ia menabrak kursi taman dan limbung.


Lais segera menangkap tubuh Aruna dan dengan gerakan cepat ia membuka cadarnya.


"Aw!" pekik Aruna kaget.


"Berani menggoda suamimu ha? Tunggu hukuman dariku!" Lais berkata dengan nada gemas. Ia memeluk erat Aruna.


Aruna tersenyum. Ia bahagia karena ternyata Lais mengenalinya.


"Aku kangen." bisik Aruna sambil membalas dekapan Lais.


Lais mengangkat dagu Aruna dan memandangi wajah cantik istrinya itu. Ia lalu menunduk mengecup bibir Aruna. Semula hanya kecupan singkat. Lalu Lais mengulangnya lagi dan akhirnya mereka berciuman.


"Hah. Cukup tuan. Ini bukan tempat yang tepat." Aruna mengingatkan saat ia merasakan tangan Lais mulai bekerja.


"Kita pulang ke hotel saja yuk!" ajak Lais.


"Nggak!" tolak Aruna. "Tuan masih ada kerjaan. Selesaikan dulu lah. Jangan meninggalkan Pak Revan dan Kak Rendy. Ini mimpi tuan lho."


"Kau benar. Tapi nanti malam?" Lais mainkan alisnya memberi kode pada Aruna.


"Nanti malam aku siap buat tuan." jawab Aruna sambil mengedipkan matanya.


Lais terkekeh lalu merangkul Aruna dan membawanya masuk kembali ke ruang pameran.


Lais melepaskan rangkulannya. "Bagaimana kalian bisa kemari?" tanya Lais sambil melangkah menuju ruang pameran.


Aruna menceritakan tentang undangan dari Roby.


"Jadi Roby yang membawa kalian kemari."


"Ya. Dia ingin memberi kejutan sebagai permintaan maaf padamu Tuan."


"Roby. Kesalahannya kecil saja, tapi ia menebusnya dengan hal hal yang luar biasa."


"Sepertinya dia orang baik."


"Semoga."


Lais dan Aruna masuk kembali ke ruang pameran dengan sikap wajar seolah tidak saling mengenal. Kirey memandang Lais dan Aruna dengan heran.


Siapa wanita itu?Bagaimana ia bisa berdekatan dengan Lais.


"Bagaimana Van?Mana Roby?" tanya Lais.


"Dia pergi setelah menyerahkan wanita ini padaku." kata Revan sambil menatap Nisa dengan ngeri karena Nisa selalu berusaha mendekatinya.


"Baguslah. Kau jaga dia,aku menjaga yang ini." kata Lais. "Mari nona, saya temani anda melihat-lihat!"


Aruna mengangguk dan tersenyum.


Revan mendesah kesal karena Lais malah meninggalkannya.


pa?" tanya Revan jutek saat Nisa mencolek lengannya. Nisa menulis sesuatu di note yang ia bawa.

__ADS_1


Temani aku jalan-jalan!


Revan yanag membaca permintaan Nisa langsung menggeleng.


"Maaf nona. Saya sudah punya istri.Nona jalan jalannya sama Rendy ya!" kata Revan.


Nggak mau. Maunya sama kamu. tulis Nisa.


"Nona. Istri saya pencemburu. Kalau dia tahu, dia akan mengamuk seperti singa betina yang kehilangan anaknya. Jadi maaf ya. Saya tidak bisa."


Mata Nisa melotot saat mendengar Revan mengatainya singa betina.


Jadi istrimu seperti singa betina?


"Iya. Kalau sedang marah. Makanya saya nggak mau membuatnya marah."


Kalau dia marah, kamu sama aku saja. Kita nikah.


Revan termangu membaca tulisan itu. Ia menatap gadis yang berdiri si dekatnya dengan tatapan heran.


Nih orang ngajak nikah kayak ngajak makan saja. batin Revan


Sedangkan Nisa merasa kesal dengan sikap Revan


Giliran diajak nikah saja kicep.


Mengapa anda diam? tulis Nisa.


"Nona, jangan menggoda saya. Saya pria setia. Nona sama Rendy saja ya!"


Yakin? tulis Nisa lagi.


"Iya. Rendy masih bujang. Nona bisa jalan jalan sama dia."


Bener nih. Yakin. Aku boleh sama Rendy?


Revan menautkan alisnya manakala membaca tulisan Nisa.


Ni cewek apa maunya sih?


"Yakin! Sudah nona jangan mengganggu saya. Saya harus melayani pengunjung yang lain." jawab Revan bermaksud meninggalkan Nisa.


Nisa mencekal lengan Revan. Ia lalu menarik lepas cadarnya.


"Yakin, aku boleh jalan jalan saka Kak RendY?" tanya Nisa sambil menatap tajam Revan yang sudah melotot kaget melihat Nisa berdiri di hadapannya.


"Sayang Kau ada di sini?" Revan hendak memeluk Nisa namun tubuhnya di dorong oleh Nisa.


"Nggak takut meluk singa betina." kata Nisa sambil cemberut.


"Sayang, jangan gitu ah. Kamu sinha betina yang cantik kok." Revan merayu Nisa yang sedang ngambek.


"Van sini sebentar!" panggil Rendy yang merasa kewalahan menghadapi pengunjung.


"Sayang aku tinggal sebentar ya, nanti aku temani jalan-jalan." kata Revan lalu mengecup kening Nisa. Ia kemudian mendatangi Rendy dan membantunya mempromosikan usaha mereka.


Nisa melihat bagaimana piawainya Revan mengambil hati para pengunjung hingga ia berhasil mendapatkan satu investor lagi untuk usaha baru mereka.


Kau hebat mas. Sebagai hadiah aku akan membuatmu senang nanti.


Nisa mengulum senyum membayangkan apa yang akan ia lakukan untuk menyenangkan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2