
"Jadi berangkat hari ini?" tanya Revan saat mereka sedang sarapan.
"Hem!" Lais mengangguk.
"Kamu nggak makan, Run?" Nisa menataoa Aruna yang sepertinya kehilangan selera makannya.
Aruna menggeleng. Wajahnya menunduk sedih.
"Sstt!" Revan mendesis ke arah Lais dan memberi gerakan dengan ujung matanya kearah Aruna.
Lais melirik istrinya yang dudu di sebelahnya.
"Makan dong!" buju Lais. Ia lalu membuka piring Aruna yang masih tertutup dan mengisinya dengan makanan.
"Makan ya!" kembali Lais membujuk Aruna. Aruna menggeleng. Tiba-tiba air mata meluncur membasahi pipinya.
"Sayang, aku tahu kamu sedih karena kita akan berpisah. Tapi ingat, ada anak kita dalam perutmu yang butuh makan." bisik Lais. Revan dan Nisa menatapereka berdua.
"Anak ini bukan hanya butuh makan, tapi juga butuh papanya." rengek Aruna dalam isaknya.
Lais menghela napas. "Cuma sementara. Aku, Revan dan Pak Munir akan survei dulu. Baru setelah menemukan tempat dan usaha yang cocok, nanti kami akan kembali untuk.menjemput kalian. Kau, Nisa dan Bu Ira." Lais menjelaskan.
"Kenapa nggak sekarang saja berangkat bareng." kembali Aruna merengek.
Lais sadar, ini bawaan anak mereka. Karena watak asli Aruna bukanlah cewek manja begini.
Lais memegang tangan Aruna lalu menciumnya. Kemudian ia menunduk dan berbisik ke perut Aruna.
"Sayang, jangan manja ya. Papa hanya pergi sebentar. Ajak mama buat mendoakan papa." Lais mengakhiri bisikkannya dengan kecupan.
Aruna tersenyum. Mendadak, rasa sedih dihatinya hilang.
"Iya papa. Mama akan menunggu dan mendoakan papa." jawab Aruna membuat Lais lega.
"Sekarang makan ya!" titah Lais.
Aruna mengangguk. "Mau disuapin." pintanya pada Lais.
Dengan sabar Lais menyuapi Aruna.
Melihat kemesraan mereka, Revan jadi ingin memanjakan Nisa juga.
"Ha!!" kata Revan meminta Nisa membuka mulutnya. Ia sudah menyodorkan sesendok penuh makanan ke depan mulut Nisa.
Nisa menatap Revan bingung.
__ADS_1
"Ha!!" Kata Revan sambil memajukan sendok berisi makanan ke dekat bibir Nisa.
"Bekas Mas ya? Nggak mau." tolak Nisa. Ia lalu menyendok sendiri makanannya.
"Ish." Revan kecewa,"Tuh Aruna mau makan dari sendok bekas Lais." gumam Nisa.
"Itu kan Aruna, Mas. Kalau Nisa nggak mau." kata Nisa cemberut.
Aruna dan Lais hanya melirik pasangan yang sedang berdebat itu.
"Tapi bibir mas kamu mau, kenapa sendok bekas mas nggak mau? Ha!" Revan kembali meminta Nisa membuka mulut.
"Nggak mau mas. Jangan paksa seh. Orang aku mau makan sendiri. Aku belum stroke hingga harus disuapin." jawab Nisa kesal karena Revan memaksanya.
Melihat Nisa mulai marah, Revan menelan keinginan memanjakan Nisa. Ia langsung memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya kuat-kuat.
Aruna dan Lais tersenyum geli melihat tingkah lucu Revan dan Nisa.Pak Munir dan Bu Ira yang duduk di tempat berbeda juga ikut manahan tawa.
"Jadi ingat masa muda kita yo bune?" kata Pak Munir."
"Iya, pak. Mereka tampak bahagia ya pak. Semoga tuan muda bisa segera bangkit kembali." doa Bu Ira tulus.
"Amiin." jawab Pak Munir.
Di dalam kamar. Aruna memeluk Lais sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Tunggu dan doakan aku.' kata Lais mendekap erat tubuh Aruna. Ia mengecup pucuk kepala Aruna. Aruna menganggukan kepalanya. Lais bisa merasakan gerakan kepala Aruna di dadanya.
"Kalau aku kangen, gimana?" Aruna menyusupkan tangannya ke dalam kemeja Lais.
"Aku akan sering menelponmu." bisik Lais kembali, ia menangkan tangan Aruna.
"Sayang, jangan menggodaku. Nanti aku terlambat keluar, kasihan Revan dan Pak Munir kelamaan menunggu."
"Mereka kan juga sedang berpamitan. Siapa bisa menjamin kalau mereka sudah menunggumu di luar?" Aruna merajuk. Ia menarik tangannya dan juga tubuhnya dari dekapan Lais. "Kamu kan perginya lama." ia duduk di ranjang dengan wajah ditekuk.
Lais mendekat, "Baiklah! baiklah! Apa yang nggak buatmu." Katanya sambil melepas satu demi satu kancing kemejanya. Aruna tertawa senang seperti anak kecil yang mendapat mainan kesukaannya.
Di kamar lain.
"Sudah siap nih. Tinggal angkut mas." kata Nisa setelah mengemas pakaian yang akan Revan bawa.
"Sudah semua ya?" tanya Revan mendekat. Ia berlagak mengecek barang barangnya. "Sepertinya ada yang kurang." gumamnya.
"Masak sih? Tadi aku sudah cek semua lho. Pakaian dalam, pakaian santai, piyama, beberapa kemeja. Mas nggak buyu jas kan? Kan belum ngantor, Mas." jawab Nisa.
__ADS_1
"Masih ada yang kurang.."
"Apa?Peralatan mandi ya? Sudah aku masukin juga. Nih di sebelah sini." Nisa membuka salah satu tempat di koper Revan.
"Ck..kamu ini nggak peka banget sih. Nih yang kurang!" Revan memelum dan mengangkat Nisa.
"Mas mau apa?!" seru Nisa kaget.
"Mau minta bekal buat diperjalanan. Uang sakuku..." Revan lalu membaringkan tubuh Nisa, "Yang semalam masih kurang." bisiknya.
"Mas tapi aku.."
"Eits...ingat kutukan malaikat!" bisik Revan. Jika sudah menyinggung kutukan malaikay, Nisa langsung kicep tak berkutik lagi. Alhasil, Revan sukses mengambil bekalnya. Bahkan berulang ulang.
"Pak...santai dulu saja. Mereka berdua pasti masih lama keluarnya." Bu Ira mendatangi suaminya yang sedang duduk di sofa. Ia membawakan secangkir kopi.
Pak Munir memandangi istrinya itu.
"Bune nggak butuh sesuatu sebelum bapak pergi?!" tanya Pak Munir penuh harap.
"Nggak Pak. Ibu sudah cukup di sini. Buat bekal bapak saja di perjalanan dan di sana." jawab Bu Ira tersenyum manis. Pak Munir menelan ludahnya melihat wajah sumringah Bu Ira saat tersenyum.
"Mm..maksud bapak bukan uang Bune." kata Pak Munir, "Tapi...yang lain." bisiknya.
"Uang saja ibu nggak butuh, Pak. Apalagi yang lain." jawab Bu Ira santai.
Pak Munir menggaruk kepalanya, "Tapi bapak butuh bune."
"Makanya kalau bapak butuh, buat bapak saja. Jangan di kasihkan ke aku. Bapak ini kok nggak ngerti sih."
Bune, bukan bapak, tapi bune yang nggak ngerti maksud bapak.
Pak Munir menggeser duduknya mendekati Bu Ira. Tangannya melingkar ke pinggang Bu Ira.
"Pak geli ah. Lagian malu nanti kalau tuan muda keluar lihat bapak peluk-peluk gini."
"Kan bune yang bilang kalau mereka masih lama...." Pak Munir mempererat pelukannya. "Bapak ....pengen kayak mereka lho bune." kata Pak Munir manja.
"Sabar ya Pak, tempatnya nggak ada." jawab Bu Ira sambil tertawa geli melihat tingkah manja Pak Munir.
Binar bahagia menyuar di wajah Pak Munir, "Siapa bilang? Ada kok." Pak Munir langsung berdiri dan menggandeng Bu Ira ketempat yang ia maksudkan.
Kira-kira kemana ya Pak Munir membawa Bu Ira? Yang jelas setengah jam kemudian, Pak Munir dengan rambut basah, kembali duduk menunggu di sofa. Senyum bahagia menghiasi bibirnya.
Nggak papa meski nggak selama mereka, bathinnya puas.
__ADS_1