Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Virus Menanam Rambut


__ADS_3

Di perusahaan, Lais datang tanpa Revan. Setelah traumanya terhadap orang asing sembuh, kini Lais tidak perlu juru bicara lagi. Meski begitu ia masih tetap dingin. Tidak semua orang akan ia ajak bicara.


Pagi itu dengan kepercayaan diri yang tinggi, Lais melangkah menuju ruangannya. Ia berhenti sebentar di depan ruangan Revan. Lais hendak membuka pintu ruangan Revan namun urung. Sebenarnya ia ingin minta maaf soal semalam, namun gengsinya selaku bos membuatnya membatalkan niat baiknya itu. Lais melanjutkan langkahnya ke ruangannya sendiri.


Ia duduk dengan santai di kursi kebesarannya sambil menunggu. Ia mengira sebentar lagi Revan akan datang dan mengomel gegara ia tinggal tidur semalam, Otak cerdasnya sedang berputar mencari jawaban untuk menghadapi omelan Revan. Lais menatap benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya. Lais menurunkan kakinya yang semula bertengger nyaman di atas meja.


"Ck! Kemana dia?" gumam Lais sedikit kesal karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih namun Revan belum juga muncul. "Bukankah tadi pagi-pagi sekali ia pulang, kenapa belum ke kantor juga? Apa dia ngambek?" kembali Lias bergumam.


Lais mengambil ponsel dari saku jasnya. "Ah tidak. Kalau aku yang telpon duluan, nanti dia besar kepala. Berpikir aku sangat membutuhkannya. Bukankah seharusnya dia yang membutuhkan aku? Aku bosanya." Lais kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan duduk di kursi dengan posisi seperti semula, Kaki naik ke meja.


"Lima menit lagi. Ku beri kau waktu lima menit." kata Lais. Matanya terus melihat jam dinding dan menghitung tiap detiknya.Lima menit telah berlalu namun Revan tak kunjung muncul.


"Sepuluh menit. Ku beri kelonggaran sepuluh menit. Jika kau tidak muncul dalam sepuluh menit, tamatlah kau!!" kembali Lais bergumam. Bibirnya menyungging senyum sinis.


Namun kelonggaran sepuluh menit dari Lais, tak juga membawa Revan datang.


"Sial. Kau benar-benar tamat kali ini!" seru Lais. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Revan. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan Lais diangkat. Lais sudah bersiap menyemburkan kemarahannya saat suara lembut Nisa yang justru mengangkat ponsel Revan.


"Assalamualaikum, Tuan!" sapa Nisa.


"Waalaikumsalam. Nis, mana Revan?" tanya Lais datar.


"Mas Revan sedang tidur." jawab Nisa.


"Tidur??!" tanya Lais tak percaya. Tidak biasanya Revan jam segini masih tidur.


"Iya, Tuan. Mas Revan baru saja beristirahat setelah bertanam rambut." jawab Nisa polos. Sejak hamil Nisa memang sedikit berubah sifatnya.


"Bertanam rambut? Rambut siapa?" tanya Lais sama polosnya.


"Rambut calon anak kami. Kata Mas Revan harus rajin bertanam biar nggak botak. Oh ya Tuan. Aku tutup ya. Takut menganggu tidurnya Mas Revan. Katanya dia akan ke kantor jam delapan. Wassalamualaikum.' Tanpa menunggu jawaban Lais, Nisa mengakhiri panggilan.


"Eh..kan aku yang menelpon. Kenapa dia yang menutup duluan. Dasar, suami dan istri sama saja." gerutu Lais kesal. " Bertanam rambut? Apa maksudnya?" Lais menggelengkan kepalanya mengusir kebingungan akan jawaban Nisa.


 Lais lantas menelpon sekretarisnya Revan untuk membawakan berkas berkas lama perusahaan mereka. Lais akan memilahnya dan melihat mana saja dari perusahaanya kini yang semestinya milik Angela.

__ADS_1


 “Ini pasti akan sulit. Aku harus menghubungi  beberapa orang yang terlibat langsung dengan proses penyatuan kedua perusahaan selain papa. Tapi aku harus mulai dari mana?” Kening Lais berkerut, pertanda ia sangat berpikir dengan keras.


Revan lantas memeriksa para petinggi perusahaan yang lama. Keningnya berkerut saat tahu siapa saja mereka.


"Cih. Dasar papa, rupanya ini alasannya memaksaku menikahi anak-anak dari pria pria ini. Untuk menutup mulut mereka." Lais tidak percaya saat mengetahui bahwa kebanyakan para petinggi lama perusahaan ayahnya adalah mantan mertuanya. "Mau tidak mau aku harus kembali berhubungan dengan mereka. Tapi kali ini mereka akan menghadapi Lais yang berbeda." gumamnya dengan senyum penuh percaya diri.


Lais memisahkan beberapa file yang ia anggap penting. Saat ia sedang asyik dengan kegiatannya, Revan muncul.


"Maaf telat. Tadi aku..." perkataan Revan dipotong Lais.


"Sedang menanam rambut." kata Lais yang membuat Revan melongo.


"Apa? Bagaimana kau tahu?" tanya Revan.


"Istrimu yang bilang." jawab Lais masih fokus dengan berkas di mejanya. Revan menepuk keningnya menyadari kepolosan Nisa.


Kenapa ia berubah polos begitu


"Van! Coba kau periksa orang-orang ini!" perintah Lais sambil memberikan beberapa file ke pada Revan. Revan membukanya dan membaca sekilas.


Lais mengangguk. "Sayangnya begitu."


"Kau mau menghubunginya? Ku kira ia akan memberi kesulitan pada kita mengingat anaknya kau ceraikan sepihak." Revan berusaha mengingatkan Lais.


"Tidak perlu takut. Kalau dia macam-macam kita bisa menutup mulutnya dengan foto-foto perselingkuhan serta penusukannya pada Aruna." kata Lais.


"Kau benar. Masalah penusukan itu, kita masih belum mengurusnya. Ternyata berguna juga buat kita." balas Revan. "Baiklah. Aku akan kembali ke ruanganku dan mulai mencari data orang-orang ini."


Revan hendak meninggalkan Lais saat Lais kembali memanggilnya.


"Van!" seru Lais menghentikan langkah Revan.


"Ya?" jawab Revan sambil berbalik.


"Soal menanam rambut. Apa maksud Nisa?" tanya Lais.

__ADS_1


 Revan cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi gini." Revan menceritakan drama tadi pagi kepada Lais. Muka Lais memerah karena jengah dengan ulah Revan.


"Sudah. Stop! Kau boleh keluar!" usir Lais. Revan terkekeh melihat raut wajah Lais. Ia lalu keluar dari ruangan Lais.


Setelah Revan keluar, Lais memikirkan cerita Revan.


"Boleh juga ide gila Revan. Tapi kalau aku nggak perlu pake tipu-tipu tiap hari juga bisa nanam rambut." gumam Lais sambil tersenyum. Ia mengelus wajah Aruna yang ada di foto di atas mejanya.


Lais mengalihkan perhatiannya dari foto Aruna saat ponselnya berdering.


"Ya Bu Ira?' tanya Lais saat tahu yang menghubunginya adalah Bu Ira.


"Tuan muda. Nona Aruna menangis. Ia minta tuan muda pulang." kata Bu Ira cemas.


Lais menghela napas. Aruna kini sangat manja. Kadang sikap manjanya itu membuat Lais sedikit kewalahan.


"Bu Ira, berikan ponselnya pada Aruna!" titah Lais.


Terdengar suara Bu Ira sedang membujuk Aruna untuk mau bicara dengan Lais melalui telepon. Namun Aruna menolaknya. Ia tetap ingin Lais pulang.


"Tuan muda sudah dengar kan? Nona tetap memaksa tuan muda untuk pulang." Bu Ira menjelaskan.


"Baiklah Bu. Sampaikan pada Aruna aku akan pulang sekarang." kata Lais mengakhiri panggilan telepon dari Bu Ira.


Lais merapikan mejanya setelah itu ia keluar. Saat di depan ruangan Revan, ia berpapasan dengan Revan yang juga baru keluar dari ruangannya.


"Kau mau kemana?" tanya Revan melihat Lais berjalan dengan terburu-buru.


"Pulang." jawab Lais pendek.


"Eh tidak biasanya kau pulang saat jam kerja. Memang untuk apa?" Revan mulai kepo dengan keanehan Lais.


Lais menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menepuk bahu Revan, "Menanam rambut." jawabnya pendek lalu segera pergi meninggalkan Revan yang melongo kaget.


Pasti pengen pulang juga kan Van? Hayo ngaku aja

__ADS_1


__ADS_2