
"Dia sudah tidur lagi?"
Mak Nah yang sedang menyelimuti Seruni kaget. Spontan ia menoleh. Pandangan mereka bertemu.
"Iya." jawab Mak Nah gugup. Ia menunduk.
"Bisa kita bicara sebentar!" Ajak Pak Malik. Pandangannya terus tertuju pada Mak Nah.
Ia benar-benar mirip. Orang yang tidak mengenal mendiang istriku, akan sulit membedakannya. Pantas Seruni langsung memanggilnya ibu. Seruni hanya melihat foto ibunya, jadi ia langsung mengenali Mak Nah sebagai Riana.
Mak Nah mengangguk.
Pak Malik memutar tubuhnya dan berjalan keluar. Mak Nah mengikutinya.
Mereka berdua duduk di kursi yang ada di depan kamar Seruni.
"Maaf." ucap Pak Malik begitu mereka sudah duduk sempurna. Sambil berkata, Pak Malik menautkan kedua jemari tangannya untuk mengatasi kegugupan yang mulai menyerbu.
"Untuk apa?"
Pak Malik menoleh menatap Mak Nah.
Bahkan suara mereka juga terdengar hampir sama. Riana, siapa perempuan ini?
"Soal Seruni. Maaf, kalau ia memanggilmu ibu. Kamu jadi harus berpura-pura menjadi ibu baginya." jelas Pak Malik. Matanya sesekali melihat Mak Nah dan sesekali melihat ke arah lain.
"Tidak apa. Tidak perlu minta maaf. Tapi ada yang membuatku heran. Kenapa begitu bangun dan melihatku, ia langsung memanggilku ibu." lirih Mak Nah dengan wajah menunduk.
"Karena ini." Pak Malik menarik dompet dari sakunya. Ia lalu menunjukan foto istrinya kepada Mak Nah.
Mak Nah kaget.
"Dia?!"
"Mendiang istriku. Riana."
"Oh, pantas. Kami mirip. Hanya dia tampak lebih muda."
"Ini memang fotonya saat masih muda. Sebelum melahirkan Seruni."
Pak Malik mengamati foto istrinya sebentar lalu memasukkan kembali dompet berisi foto itu ke saku.
"Aku sudah bicara dengan dokter. Dia menyarankan agar sementara ini kamu terus berpura pura menjadi ibunya. Agar proses penyembuhannya cepat. Apa kamu keberatan?" Pak Malik kembali memandang Mak Nah. Ia meneliti wajah Mak Nah.
__ADS_1
Mak Nah juga memandang Pak Malik, namun ia segera menjatuhkan netranya begitu mereka bersitatap.
"Jika itu bisa membantu kesembuhan Seruni, aku tidak keberatan." lirih Mak Nah.
Pak Malik mengucap syukur sambil tersenyum.
"Kedepannya mungkin aku akan sering merepotkanmu karena Seruni sepertinya lebih patuh padamu daripada aku." keluh Pak Malik.
Mah Nah tertawa lirih, "Aku seperti mendengar nada cemburu nih." candanya.
Pak Malik ikut tertawa. "Sedikit."
Mereka tertawa bersama.
"Mm aku masuk dulu. Khawatir Seruni bangun." pamit Mak Nah.
Pak Malik mengangguk. "Aku akan kembali kerja. Nitip Seruni."
Mak Nah menjawab permintaan Pak Malik dengan senyum manisnya. Ia lalu mengayun langkahnya masuk ke kamar Seruni.
Senyumnya, kenapa aku jadi deg degan.
...***...
"Bagus. Jangan sampai lewat dari hari dan waktu yang aku tetapkan!"
"Hm."
Setelah bergumam, Lais mengakhiri pembicaraan. Bibirnya menyungging senyuman misterius.
"Apa semuanya lancar?" tanya Revan yang yang sedari tadi mendengarkan obrolan Lais.
"Hm." Lais mengangguk.
"Oh ya, sudah dua hari ini aku nggak melihat Mak Nah? Kemana dia?"
"Dia membantu mama." jawab Lais pendek.
"Membantu apa?"
"Menjaga seorang anak yang sedang dirawat di rumah sakit." jawab Lais sambil duduk di kursi kebesarannya. Tangannya mulai sibuk membuka berkas yang ada di meja kerjanya.
Revan mendekat dan duduk di bibir meja.
__ADS_1
"Anak siapa?" tanyanya penasaran.
"Jadi gini, ada seorang pria yang menolong mama dari kegilaan Angela. Ternyata pria itu punya anak dan anaknya sedang sakit. Karena istrinya sudah meninggal, jadi nggak ada yang menjaganya saat pria itu kerja. Makanya sebagai ucapan terima kasih, mama menawarkan bantuan dengan meminta Mak Nah menjaga anak itu."
Revan mengernyitkan alisnya sambil mengelus dagu.
"Apa.kau sudah ketemu dengan pria itu? Berapa usianya?"
"Belum. Kemarin ada rencana menjenguk namun batal." jawab Lais masih sibuk dengan berkasnya.
Revan melompat turun dari meja. Ia mendekat ke Lais.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ajaknya.
Lais mendongak memandangnya penuh tanya.
"Untuk apa? Tidakkah kau lihat aku sibuk?" omelnya.
"Ck. Paling juga aku nanti yang kau suruh kerja. Ayolah, jangan sok sibuk." gerutu Revan. Ia menarik tangan Lais.
"Lepas!" Lais memberontak.
"Jelaskan dulu untuk apa kita ke sana!"
"Menjenguk lah. Apa perlu alasan lain?" elak Revan dengan wajah kesal.
Lais menatap Revan penuh selidik. Ia tidak percaya dengan alasan Revan.
"Hentikan aktingmu. Aku tahu, otak kotormu pasti sedang merencanakan sesuatu. Ayo bilang!"
Revan nyengir.
"Ya ketahuan. Aku memang tidak bisa bohong di hadapanmu. Jadi ayo!" Revan melangkah ke pintu
Lais menatap Revan tanpa berniat mengikuti Revan.
Revam berhenti dan berbalik, "Aku akan ceritakan rencanaku dalam perjalanan. Ayolah, kau pasti juga setuju!" Revan lalu melanjutkan langkahnya.
Ck, apa yang ada di otaknya. Bikin penasaran saja.
Karena penasaran, akhirnya Lais mengikuti langkah Revan.
...****...
__ADS_1