
Lais memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai ke mansionnya.
Saat tiba di mansion, ia juga bergegas masuk dengan langkah lebarnya.
"Tuan muda, syukurlah anda sudah datang." kata Bu Ira senang.
"Dia masih di kamar bu?" tanya Lais saat tidak melihat Aruna di lantai bawah. Bu Ira mengangguk. Setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sayang!" seru Laos lembut sambil.membuka pintu kamar. Ia melihat Aruna sedang duduk bersila di atas ranjang dengan rambut panjangnya yang awut awutan.
Laos mendekat dan duduk di sisinya.
"Kenapa?" tanyanya sambil merapikan rambut Aruna. Tampak wajah Aruna yang sembab karena menangis.
"Bosaaaann..." rengek Aruna sambil memegangi lengan Lais manja.
"Baiklah. Kita jalan-jalan?" ajak Lais.
Aruna mengangguk dengan bahagia. "Aku pengen ke Korea." kata Aruna enteng namun berat di telinga Lais.
"Korea?!?!" teriak Lais kaget.
Aruna menganggukan kepalanya berkali-kali. Dengan mata pupiesnya ia berusaha membujuk Lais.
"Mmm...jangan sekarang ya." kata Lais sambil membelai rambut Aruna. Aruna cemberut mendengar penolakan Lais. Tangannya yang semula memegang lengan Lais, ia tarik dan ia hempaskan lengan kekar suaminya itu.
"Bukankah kamu masih harus ujian senin besok?" Lais mengingatkan.
"Ah iya. Aku lupa." Wajah yang tadinya cemberut kini langsung ceria.
Lais menghela nafas. Ia memang harus segera memeriksakan Aruna. Karena mood istrinya itu berubah-ubah terus.
"Ikut yuk!" ajak Lais.
"Kemana?" Aruna bertanya dengan antusias.
"Ikut saja! Nanti juga kau akan tahu." Lais meraih tangan Aruna dan menariknya hingga berdiri. Ia lalu menggandeng istrinya keluar kamar.
"Aku ganti baju dulu." kata Aruna.
"Nggak perlu. Begini juga udah cantik." rayu Lais membuat pipi Aruna merah dan senyumnya merekah. Lais menggelengkan kepalanya karena satu hal lagi yang aneh dati Aruna. Ia menjadi sangat suka dipuji.
"Kemana kita?" Aruna kembali bertanya saat mobil yang ia tumpangi bersama Lais melewati jalan yanh belum pernah ia lalui sebelumnya.
"Bertemu teman lama." jawab Lais.
"Kamu punya teman lama?" Aruna menatap tak percaya. Setahu dirinya teman Lais hanya Revan dan Sammy.
__ADS_1
"Punya. Dia sahabat Revan juga. Aku nggak begitu akrab dulu, tapi kali ini aku butuh bantuannya."
Mobil Lais berhenti di depan sebuah bangunan mungil bercat putih.
"Ayo turun!" ajak Lais.
Aruna turun. Matanya menatap takjub ke sekeliling halaman yang penuh dengan bunga.
"Bagus sekali rumah ini." seru Aruna takjub.
"Kamu suka?" tanya Lais.
Aruna mengangguk.
"Aku akan membelinya untukmu."
"Ah..nggak perlu." Aruna menggerakkan tangannya menolak maksud Lais.
"Katamu suka. Kalau suka beli saja." Lais lalu mengeluarkan ponselnya. Aruna diam memperhatikan.
"Van! Mana orang yang kau janjikan? Aku sudah di depan rumahnya." kata Lais lalu menutup ponselnya.
Tak berapa lama kemudian, pintu rumah mungil itu terbuka. Seorang wanita seusia Lais keluar. Dia berjalan dengan anggun. Senyum tercetak manis di wajah cantiknya.
"Lais, apa kabar? Tumben nggak bareng Revan." kata wanita itu menyapa Lais. Aruna memperhatikan interaksi antara kedua insan berlainan jenis itu. Aruna bisa melihat jika wanita itu menatap penuh kekaguman pada Lais. Ia merasa tidak suka.
"Periksa dia!" titah Lais tanpa menjawab basa basi wanita itu
"Eh aku kenapa? Aku tidak sakit, kenapa harus diperiksa?" tolak Aruna sambil menempel ke Lais manja.
"Lais! Kau tahu kan aku ini dokter apa?" wanita itu menbulatkan matanya karena ia tidak yakin gadis semuda Aruna hamil.
"Aku tahu. Makanya aku memintamu memeriksa istriku." jawab Lais sambil berjalan masuk ke rumah mungil itu. Ia lalu duduk di sofa tanpa disuruh. Aruna mengekor apa yang Lais lakukan. Ia duduk menempel dengan manja pada tubuh Lais seolah nggak mau jauh.
"Istri!" gumam wanita itu. Ia tetap berdiri di tempatnya karena tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
"Risa!" teriak Lais dari dalam.
"Ya, aku datang." jawab wanita yang bernama Risa. Ia masuk dan duduk di depan Lais. Matanya menatap ke arah Aruna.
Gadis ini masih sangat muda dan kelihatannya gadis baik-baik. Apakah ia menjebak Lais? Setahuku Lais tidak menyukai wanita. Ia alergi pada wanita.
Aruna yang ditatap oleh Risa merasa kalau Risa cemburu padanya. Ia semakin mendekatkan tubuhnya ke Lais, bahkan ia memeluk Lais dengan posesif.
"Aku memintamu memeriksanya bukan mengamatinya." dengus Lais mengagetkan Risa.
"Oh iya. Mari! Siapa namanya?" tanya Risa.
__ADS_1
"Aruna. Namaku Aruna dan aku istrinya." kata Aruna bangga dan memberikan penekanan pada kata istri.
"Baik. Mari nona Aruna. Ikut saya!" ajak Risa.
"Nggak mau." tolak Aruna. Ia lalu merengek pada Lais,"Sayang, aku nggak sakit. Kenapa harus periksa. Dan dia siapa?" tunjuk Aruna pada Risa.
"Namanya Risa. Dia teman masa kecilku dan Revan karena dulu ia tinggal di dekat mansion papa. Dia dokter kandungan terbaik di negri ini. Jadi mau ya diperiksa!" bujuk Lais lembut. Lais ingat pesan Bu Ira untuk senantiasa sabar menghadapi perubahan sikap Aruna.
"Dokter kandungan? Maksudmu aku hamil?" mata Aruna menatap tak percaya ke Lais.
"Hamil tidaknya nanti akan ketahuan setelah diperiksa nona." Risa yang menjawab. Ia penasaran, benarkah gadis ini hamil. Benarkah Lais yang membuatnya hamil.
Aruna menatap Risa. Ia ingin mengikuti wanita itu tapi juga takut.
"Sayang temani aku ya!" pinta Aruna.
"Baiklah." Lais berdiri dan membimbing Aruna mengikuti Risa ke ruang prakteknya.
Aruna diminta tidur di atas ranjang periksa. Dengan menggenggam tangan Lais, Aruna berbaring di atas ranjang tersebut.
Risa menaikkan kaos Aruna di bagian perut.
"Kau mau apa?" tanya Lais sambil kembali menutupi perut Aruna. Lais tidak rela jika perut istrinya di lihat orang lain sekalipun itu seorang wanita.
"Ya aku akan melakukan usg. Melihat apa di dalam perut rata dan datar istrimu ini ada janin apa tidak." tegas Risa.
"Harus dibuka?" tanya Lais. Aruna hanya memandangi kedua orang yang sedang berdebat itu.
"Ya harus tuan Lais yang terhormat." jawab Risa agak kesal. Ia sudah kesal karena Lais tiba-tiba datang dengan membawa istri yang sedang hamil, sekarang malah menghalangi pemeriksaan.
Lais akhirnya mengalah. Ia membiarkan Risa kembali membuka perut Aruna. Mengolesi gel di perut itu lalu mulai melakukan USG.
"Lihat di sana!" perintah Risa. Lais dan Aruna lantas menatap layar monitor.
"Itu apa?" tanya Lais
"Itu kantong rahim istrimu. Ada dua bulatan itu adalah janin kalian." kata Risa setengah tak percaya kalau Aruna beneran. Kembar lagi.
"Dua janin?Maksudmu anakku kembar?" seru Lais bahagia.
Risa mengangguk. Dalam hati ia masih tidak yakin kalai bayi dalam kandungan Aruna adalah anak Lais.
Aku akan mengetahuinya saat usianya sudah cukup untuk tes DNA. Aku nggak rela dia menipu Lais. batin Risa.
Risa jangan suudzon donk...Lais lo daj sembuh. Dan Aruna yang menyembuhkannya....
__ADS_1