
Lais masuk keruangannya dengan muka suram. Revan yang sedang menunggunya merasa heran.
Ada masalah apa lagi ini. Kenapa muka si bos jutek begitu.batin Revan.
Revan memperhatikan Lais yang menarik kursinya dengan tidak sabar lalu menhempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi yang tak berdosa itu.
"Ad.." Revan hendak bertanya tapi terpotong oleh bentakan Lais.
"Diam!!!" bentak Lais. Wajahnya kian menyeramkan.
Revan mengelus dada.
Salah apa coba, belum apa-apa sudah mendapat bentakan. Keluh Revan
nelangsa.
Revan diam seperti yang Lais perintahkan. Ia lalu duduk dengan tenang disofa. Suasana ruangan Lais menjadi sangat hening. Saking heningnya sampai bunyi detik jarum jam terdengar. Dengan suasana sehening itu membuat Revan mengantuk.Ia lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan tidur. Lais yang masih dikuasai amarah tidak menyadari kalau Revan justru tidur di sofa.
Lais memijit pangkal hidung yang terletak diantara kedua alisnya. Keningnya
tampak berkerut. Pikirannya bimbang antara rasa amarahnya dan kebenaran ucapan Aruna bahwa ia tidak boleh membenci mamanya.
"Siapa yang butuh seorang mama yang egois." desis Lais. Tanganya yang semula memijit pangkal hidungnya, ia hantamkan ke atas meja hingga menimbulkan suara yang keras.
BRAKK
Revan yang baru saja terlelap, terlonjak kaget. Ia langsung bangkit sambil
meracau, " Apa yang patah? Apa yang patah?"
Lais menanatp Revan dengan sorot tajam. Melihat penampilan Revan yang
kusut, ia tahu kalau asisten yang sekaligus sahabatnya itu baru bangun tidur.
"Kau berani tidur pada jam kerja?" Suara dingin Lais terdengar menyeramkan di telinga Revan.
Revan menggaruk tengkuknya sambil menyeringai, "Kamu sich, diam dan
marah tanpa sebab."
"Kau berani menyalahkan aku?" Tatapan Lais kian tajam.
__ADS_1
"Ee.. bukan menyalahkan. Tapi aku .... tadi...menunggumu bicara dan
karena kamu diam saja, aku jadi mengantuk." jawab Revan terbata-bata
karena merasa bersalah telah tidur di jam kerja.
Lais menndengus kesal,Ia kembali diam.
"Lais, ada apa?" Revan memberanikan diri bertanya. Ia langsung menyebut nama agar Lais tahu kalau saat ini ia memposisikan diri sebagai sahabat.
Lais menghela nafas lalu menjawab. "Wanita itu. Dia kemansion."
Revan tersentak, "Maksudmu Angela?" Seru Revan tak percaya.
Lais kesal dengan tebakan asal Revan. Ia melempar bolpoint ke arah sahabatnya itu.
"Kalau dia yang ke mansion, sudah ku bereskan." dengus Lais.
Revan bingung, siapa wanita yang Lais maksud.
"Apa Kirey? Ia datang untuk mengganggmu lagi?" tanyanya hati-hati.
"Bukan ya?Pasti bukan." gumam Revan menjawab pertanyaannya sendiri.
Lais kembali menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya dengan kuat
dan kasar.
Revan terus berpikir mencoba menebak wanita yang Lais maksud. Dan ia
langsung memandang Lais saat menemukan jawabannya.
"Nyonya besar?" tebaknya lagi.
Lais diam tanpa ekspresi bertanda tebakan Revan benar.
"Lalu kenapa kau marah?"
"Kenapa kau bilang?" Lais berdiri dari duduknya. "Wanita itu penyebab hari-hari suram dalam hidupku. Aku harus menahan rasa takut selama bertahun-tahun." Laia berkata dengan kedua tangannya menekan meja dan badannya condong ke depan. Selesai bicara ia kembali duduk dengan kasar.
Revan menatap penuh iba pada Lais.
__ADS_1
Apa yang dilakukan nyonya memang salah. Tapi semua ini disebabkan oleh keserakahan Tuan Robert. Nyonya sebenarnya juga korban. Rasa sakit dikhianati membuatnya berpikir pendek. Dan Lais, ia korban yang paling menderita. Tapi ia tidak boleh membenci ibu kandungnya atau hidupnya tidak akan bisa bahagia selamanya.
"Kau benar. Semua ini gara-gara nyonya besar. Karena kau bosku, maka kewajibanku untuk membalaskan perbuatannya itu." kata Revan yang langsung mendapat perhatian oenuh dari Lais.
"Apa maksudmu?"
"Ya seperti biasa, jika ada yang mengusikmu atau membuatmu kesal, aku akan membereskannya." Revan menepuk dadanya.
Sebuah block note melayang ke arah wajah tampan Revan namun Revan bisa menangkis dengan kedua tangannya, "Kau sentuh dia, kugantung kau!" ancam Lais.
"Bingung aku. Kau marah dan membencinya. Tapi tidak membiarkan aku menghukumnya." gumam Revan sambil memungut block note yang jatuh di dekat kakinya Ia lalu membawa benda itu ke Lais dan meletakannya ke atas meja. "Kalau sayang jangan gengsi. Nanti kalau nyonya pergi dari hidupmu, menyesalpun sudah terlambat." kata Revan lalu meninggalkan Lais. Ia ingin memberi Lais waktu untuk merenungi sikapnya.
***
Di mansion
Setelah puas bertukar cerita dan ngobril dengan Aruna, Nyonya Robert akhirnya pamit.
"Nitip anak dan calon cucu mama ya sayang. Jaga mereka baik-baik." kata nyonya Robert saat Aruna mengantarnya ke mobil.
Aruna mengangguk. "Mama juga. Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan agar nanti bisa melihat cucu cucu mama lahir dan menggendingnya." jawab Aruna sambil tersenyum bahagia.
Mungkinkah waktu itu akan tiba?Mungkinkah aku memiliki kesempatan menimangnya. Papanya saja masih belum memaafkan aku. Apa dia akan mengijinkan aku menyentuh anaknya.
Wajah nyonya Robert mendadak sendu. "Semoga hari membahagiakan itu datang ke mama sayang." Nyonya Robert membelai wajah Aruna lalu masuk ke mobil. Sang sopir segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya perlahan.
Aruna dan Bu Ira melambaikan tangan ke arah Nyonya Robert yang dibalas dengan senyum sendu dan wajah sedih Nyonya Robert.
"Kita kemana Nyonya?" tanya sang sopir.
"Ke bandara pak. Setelah itu bapak langsung pulang. Jika tuan tanya bapak tidak tahu saya kemana." titah Nyonya Robert sambil menghapus titik bening yang mulai jatuh ke pipinya.
Sang sopir melihat kesedihan majikannya melalui kaca spion. Ia merasa kasihan dengan kehidupan nyonyanya yang baik itu. Selama ini, dia yang selalu mengantar dan menemani Nyonya Robert kemanapun ia pergi.
"Nyonya beneran akan pergi?" tanya sang sopir.
"Apa yang bisa aku harapkan dengan tetao tinggal di sini Pak. Selama ini aku bertahan demi Lais. Kini aku tidak perlu khawatir lagi . Sudah ada Aruna yang akan membuat Lais selalu bahagia."
Airmata nyonya Robert semakin deras. Ia menatap ke arah luar jendela seolah mematri kenangan sepanjang jalan yang ia lalui ke dalam benaknya.
Semoga kepergian mama, bisa membuatmu bahagia. Maafkan mama, nak.
__ADS_1