Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Bertemu Ny. Angela


__ADS_3

Aruna duduk di tepi ranjang. Matanya menatap ke arah pintu kamar mandi. Sudah setengah jam sejak Lais masuk sampai sekarang belum juga keluar. Bahkan tak terdengar gemericik air dari dalam.


"Apa yang ia kerjakan di dalam sana? Kenapa lama sekali?" gumam Aruna lirih. Ia bangkit bermaksud menghampiri kamar mandi namun urung. Aruna kembali duduk.


"Kalau aku samperin, ia akan menarik ku ke dalam dan bisa-bisa dia akan memakanku lagi."


Aruna menggoyang-goyangkan kakinya gelisah.


"Ku hampiri saja daripada penasaran. Aku juga khawatir terjadi apa-apa dengan dia."


Aruna akhirnya mendekat ke pintu kamar mandi. Tangan Aruna terulur hendak membuka handle pintu, pada saat bersamaan pintu terbuka dari dalam. Lais menarik handle pintu yang dipegang Aruna. Aruna ikut tertarik dan tubuhnya terhuyung ke depan menubruk Lais.


"Aw!" pekik Aruna kaget.


"Kamu ngapain di depan pintu?" tanya Lais sambil. menatap penuh selidik.


"Saya... saya. Tuan ngapain di dalam sana lama sekali?" Aruna balik bertanya.


Lais mendorong tubuh Aruna ke samping. Ia tidak menjawab pertanyaan Aruna. Dari wajahnya Lais, Aruna tahu kalau suaminya itu masih memendam kemarahan.


Lais langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Ia berbaring dengan tangan kanan diletakkan di dahinya.


Aruna mendekati Lais.


"Tuan sebenarnya adalah apa?"


"Sudah lupa perkataanku tadi. Jangan bertanya atau... " ucapan Lais dipotong Aruna.


"Ok. Saya rela tidak tidur semalaman asal Tuan cerita kepada saya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sejak keluar dari mansion mama, tuan jadi marah seperti ini. Tuan, aku istrimu. Ceritalah padaku."


Lais menurunkan tangannya. Ia menatap Aruna. Ditariknya Aruna hingga gadis itu menempel di dadanya.


"Tuan!" bisik Aruna.


"Diamlah! Malam ini tidur yang tenang. Jangan pikirkan apapun. Percayakan semuanya padaku. Kamu bisa kan?"


Aruna mengangguk. Meski masih penasaran, tapi ia tidak mau memaksa Lais untuk bercerita. Akhirnya Aruna terlelap dalam dekapan suaminya.


Keesokan harinya, kembali Aruna tidak mendapati Lais di sisinya saat ia bangun. Biasanya, Aruna yang selalu bangun lebih dahulu. Sudah dua hari ini, selalu Lais yang meninggalkannya.


Aruna bangkit lalu keluar kamar. Ia turun dan langsung menuju dapur.


"Bu Ira, apa tuan sudah berangkat?" tanya Aruna pada Bu Ira yang sedang memasak.


"Iya, Nona."


"Sama Pak Revan?"


"Iya, Nona."


"Bu Ira sudah aku bilang jangan terlalu formal, jangan panggil nona." rengek Aruna. Bu Ira tersenyum.

__ADS_1


"Bua, apa tuan nggak nitip. pesan buat saya?"


Bu Ira menggeleng.


Aruna cemberut. Sudah dua hari Lais selalu pergi lebih awal tanpa. pesan apa-apa buat dirinya.


"Baiklah, Bu. Aku mau mandi dulu." kata Aruna. Ia kembali ke kamarnya untuk mandi.


Sementara itu Lais dan Revan berangkat ke layar kota untuk mengurus beberapa hal terkait bisnis mereka


"Tuan, kita makan pagi dulu?" tanya Revan.


Lais mengangguk.


"Cari rumah makan, Pak!" perintah Revan pada sopir mereka.


Seperti biasa, jika dalam perjalanan, Lais paling suka menatap ke luar jendela. Saat mobil yang ia tumpangi berhent. Di sebelah mobilnya berhenti sebuah mobil berwarna putih.


Lais melihat ke arah mobil itu. Tiba-tiba kaca jendelanya turun. Lais bisa melihat seorang wanita cantik sebaya dengan ibunya, yang duduk di dalam mobil membuka kaca jendela untuk membuang sesuatu. Lalu menutup kaca itu lagi


"Dia!!!" gumam Lais. Wajahnya tegang. Keringat mulai mengucur. Tubuhnya gemetar. Rasa takut kembali menyerang kan saat ia melihat wajah wanita itu.


Revan yang duduk di sebelahnya kaget melihat perubahan kondisi Lais.


"Tian, kau tidak apa-ala?" tanyanya khawatir.


Lais semakin gemetar.


Ia mengambil sebotol air putih dan menyodorkannya ke arah Lais. Ia juga mengambil sebutir pil untuk Lais minum.


"Minumlah!" perintah Revan.


Lais menerima botol dan pil lalu meminumnya. Beberapa saat kemudian, ia merasa sedikit tenang.


"Ada apa?" tanya Revan saat Lais sudah tenang.


"Aku melihat wanita itu."


"Siapa?"


"Dia, dia wanita jahat itu."jawab Lais dengan wajah tegang.


Revan paham apa yang Lais maksudkan.


"Dimana?"


"Tadi di lampu merah. Dia berhenti di sebelah mobil kita."


Revan diam. Dia berpikir apa yang harus ia lakukan. Sejujurnya ia juga penasaran akan sosok wanita jahat yang membuat Lais jadi seperti ini. Ayahnya pernah bercerita kalau wanita itu berhasil keluar dari penjara dengan jaminan seseorang yang sangat berpengaruh.


"Tian, kalau saya ajak tuan ke seseorang, apa tian bersedia menjelaskan bagaimana tampang wanita itu agar ia bisa melukisnya?" tanya Revan.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Kalau aku bilang aku ingin menemukannya, apa kamu keberatan?"


Lais diam. Ada rasa takut menyusup ke dalam hatinya.


"Lais, siapa tahu dengan bertemu lagi, kau bisa sembuh." kata Revan.


Lais mengangguk. Ia percaya Revan tidak akan berniat buruk. Mereka sudah bagai saudara karena berteman sejak kecil.


"Baiklah."


"Bagus. Kalau urusan kita sudah selesai, kita langsung menemui kenalan ku. Ia pandai melukis wajah orang hanya dengan mendengar deskripsinya saja."


Mobil yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah restaurant. Lais dan Revan turun.


"Ayo Pak, kita makan pagi dulu." ajak Revan pada sopir mereka. Bertiga mereka masuk dan langsung duduk di meja yang kosong. Seorang pelayanan datang sambil membawa buku menu. Revan yang memesan makanan, pelayan itu mencatatnya.


Mendadak terdengar kegaduhan. Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.


Tampaknya seorang wanita sedang memarahi salah satu pelayan.


"Dia!" kata Lais dengan suara tercekat. Revan yang mendengar ucapan Lais segera memperhatikan wanita yang sedang marah-marah itu.


"Mas, siapa wanita itu?" tanyanya pada pelayan yang masih berdiri di dekat meja mereka.


"Beliau pelanggan tetap kami. Namanya Nyonya Angela." jawab pelayan itu pendek.


"Dia sering datang ke sini?" tanya Revan. Pelayan itu mengangguk.


"Mas, siapa pemilik resto ini?" kembali Revan bertanya.


"Beliau teman baik Ny. Angela. Makanya Ny Angela sudah seperti bos di sini. Selalu bertindak semaunya karena di dukung penuh oleh pemilik resto ini. Bahkan dari yang saya dengar sebenarnya Ny Angela itu kekasih dari pemilik resto ini."


"Apa mas tahu nama pemilik resto ini?"


Pelayan itu menggeleng. "Dia jarang datang, semua di handle sama manajer di sini. Dan manajer resto ini sangat tunduk pada Ny. Angela."


"Baik Terima kasih mas." kata Revan.


Lais sedari tadi hanya diam. Untung efek obat masih bekerja hingga ia tidak perlu mengalami ketakutan berlebihan.


"Bagaimana? Kita jadi makan di sini atau cari tempat lain?" tanya Revan.


"Makan saja di sini. Bukankah kamu bilang bertemu dengannya akan membantuku sembuh." jawab Lais sambil berusaha terus mengusai dirinya.


"Baiklah." Revan lalu berkata kepada pelayan untuk segera menyajikan pesanan mereka.


...🍃🍃🍃...


Alhamdulillah bisa up.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya.


__ADS_2