Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Om pengabul keinginan


__ADS_3

Seruni perlahan membuka mata. Ia melirik pada Mak Nah yang saat itu tertidur dengan menyandarkan kepalanya di sisi ranjang. Dengan lembut dan tanpa suara, Seruni menggerakkan tangannya membelai rambut Mak Nah.


Maaf. Aku tahu jika anda bukan ibuku. Tapi aku begitu bahagia dengan keberadaan anda di sini. Aku seolah menemukan ibuku. Semoga anda nggak maraj, ibu.


Mak Nah yang lelap, akhirnya terusik. Ia merasakan elusan Seruni.


"Runi, kamu bangun?" Mak Nah mengusap wajahnya dan merenggangkan tubuhnya.


"Apa Seruni membangunkan ibu?" ucap Seruni tergagap saat tertangkap basah sedang mengelus rambut Mak Nah.


Mak Nah tersenyum lembut. "Apa seruni butuh sesuatu?"


"Tidak." Seruni menggeleng.


"Seruni hanya kangen. Seruni takut ini tidak nyata. Ada ibu di sisi Seruni."


"Ini nyata sayang." Mak Nah memeluk Seruni trenyuh.


"Hem!"


Mak Nah segera melepaskan pelukannya begitu mendengar deheman.Ia menoleh dan melihat Pak Malik berdiri di ambang pintu.


Pak Malik masuk.


"Seruni sudah melupakan bapak ya?" Pak Malik mengacak rambut Seruni.


Seruni tersenyum nyengir.


"Enggak kok, Pak. Runi hanya kangen sama ibu. Pak, kapan Runi boleh pulang?"


"Mmm itu tunggu kalau Seruni dah benar benar sehat ya." ucap Pak Malik. Kali ini ia mengelus lembut kepala Seruni.


"Bu, nanti ibu ikut Seruni pulang kan?"


Mak Nah tersentak. Ia tidak membayangkan akan mendapat pertanyaan dadakan seperti ini.

__ADS_1


"Ibu...ibu.."


"Tentu ibumu akan ikut kamu pulang anak manis."


Sebuah suara menyahut sebelum Mak Nah menyelesaikan jawabannya atas pertanyaan Seruni.


"Tuan Lais, Tuan Revan." seru Mak Nah kaget.


"Mereka?" tanya Pak Malik


"Mereka majikan saya. Anak dari Nyonya yang anda tolong waktu itu."


"Oh. Silahkan tuan muda." Pak Malik langsung mendekati Lais dan Revan lalu mengulurkan tangan ke arah mereka.


"Saya Malik."


Lais mengangguk.


"Terima kasih sudah menolong mama saya."


"Bukan apq-apa, tuan muda." Pak Malik menunduk.


"Hai anak cantik. Bagaimana keadaanmu?" Revan mengacak rambut Seruni.


"Saya baik, Om. Om siapa? Kenapa tadi menjawab pertanyaan Runi?" Seruni menatap heran dengan mata beningnya ke arah Revan.


"Aku?" Revan menunjuk dirinya.


Seruni mengangguk.


"Aku..mmm..aku adalah orang yang ditugasi untuk mewujudkan keinginanmu." Canda Revan.


Lais yang sekarang sudah duduk di sofa dengan ditemani Pak Malik, menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat akal bulus Revan.


"Maksud Om?" Seruni mulai penasaran.

__ADS_1


"Sebutkan saja apa keinginan Seruni!" Revan mendudukkan tubuhnya di sebelah Seruni.


Mak Nah bergeser sedikit menjauh. Lais dan Pak Malik diam menanti apa yang akan dilakukan Revan.


Seruni berpikir sambil memutar bola matanya.


"Seruni ingin sehat." seru Seruni dengan mata berbinar.


Nah lo Van. Bagaimana kamu akan mengabulkannya. batin Lais penasaran.


"Itu ya? Nggak ada keinginan yang lain?" tanya Revan sambil memikirkan cara mengabulkan permintaan Seruni.


Seruni menggelengkan kepalanya.


"Seruni hanya ingin sehat. Setelah sehat baru Seruni bisa berusaha mewujudkan keinginan Seruni yang lain." gumam Seruni lemah.


Benar juga.


Revan menggaruk janggutnya.


"Ah..gampang. Kalau Seruni ingin sehat harus nurut sama dokter dan banyak makan, banyak istirahat." ucap Revan percaya diri.


Ck. Nenek-nenek juga tahu kalau itu, Van.


Seruni cemberut karena jawaban Revan mengecewakannya.


"Jangan cemberut. Nih ya, om bilangin. Kalau om menyihir Seruni langsung sehat, nanti sehatnya nggak akan bertahan lama. Jadi untuk sehat butuh proses. Tapi Seruni jangan khawatir. Om akan selalu mendoakan Seruni. Karena sehat itu harus datang dari sana." Revan menunjuk atas


Lais menahan senyum melihat Revan kebingungan menghadapi Seruni yang malah muram, bukannya bahagia.


"Hayolah senyum. Om bisa kok kasih yang lain. Ibu misalnya?" tantang Revan.


Mata Seruni membesar dan berbinar. Pak Malik kaget. Mak Nah langsung memandang Revan.


Mulai deh.

__ADS_1


Lais menghela nafas.


...***...


__ADS_2