
"Kenapa tempat ini sepi? Apa kita yang terlalu pagi?" gumam Revan.
"Coba kau tanya pada pria yang ada di sebelah sana!" Lais menunjuk seorang pria yang duduk agak jauh dari
mereka.
Revan mendekati pria tersebut sedangkan Lais ditemani Rendy menunggu di sambil bersandar di dinding gedung.
Tak berapa lama kemudian, Revan datang dengan wajah yang tampak gusar.
"Bagaimana?" Rendy bertanya dengan tidak sabar.
"Barang-barang kita belum sampai." jawab Revan.
"Maksud loe?" Rendy mendekati Revan
"Pria itu adalah penjaga disini dan ia belum melihat barang-barang kita tiba." suara Revan lirih.
"Kok bisa?" Rendy mulai gusar. Lais hanya diam. "Mungkin dia tidak tahu?'
"Nggak. Dia bilang setiap barang datang ia akan membantu mengeceknya. Bahkan ia tahu dimana letak barang
dari tiap peserta." jawab Revan
"Apa dia tahu kenapa barang kita belum tiba juga?" tanya Rendy
"Sayangnya ia tidak tahu. Tapi ia memberiku ini." Revan menunjukkan kartu nama. "Hubungi orang ini
katanya."
"Kalau begitu tunggu apalagi, lekas hubungi dia." Rendy semakin tidak sabar.
Revan melakukan apa yang Rendy sarankan,
"Bagaimana?" tanya Rendy saat Revan selesai melakukan panggilan telepon.
"Barang kita ditahan dengan alasan kelengkapan dokumennya kurang." Revan menjelaskan sambil menatap
Lais yang sejak tadi diam saja.
__ADS_1
"****!" umpat Rendy, "Jelas ini ulah mereka. Kita sudah melakukan persiapan yang matang.Dokumen kita sudah lengkap seperti persyaratan yang mereka minta. Henry, pasti ini ulah Henry. Bangsat tuh orang. Kita habisin saja dia." Rendy meluapkan emosinya.
"Tidak perlu!" Lais berkata tegas. "Ada orang dibalik Henry dan Kirey. Kalian pikir apa Kirey bisa kebetulan bertemu Henry?" lanjut Lais.
"Lalu bagaimana?Kita nggak punya banyak waktu." tutur Revan.
"Cari tahu siapa sponsor terbesar acara ini?" tutah Lais.
"Lais apa rencanamu?" Revan menapat penasaran.
"Nanti kalian juga akan tahu." jawab Lais sambil melangka meninggalkan bangunan itu. Revan dan Rendy saling pandang lalu sama-sama mengangkat bahu mereka.
Ciiiiiit
Suara decitan gesekan ban dengan rem mobil mengagetkan Rendy dan Revan.
"Laiiissss!!! Awaassss!"
Brakkkk.
"Astagfirullah!" ucap Aruna saat ia hampir terpeleset jatuh begitu menuruni anak tangga setelah melakukan prosesi wisuda kelulusan. Ia meringis karena kakinya sedikit ngilu dan jantungnya berdebar kencang.
Nyonya Robert yang duduk di kursi undangan, sempat melihat Aruna hampir terpeleset. Ia terus memperhatikan
menantunya itu dan melihat kalau Aruna gelisah sepanjang waktu.
Ketika acara selesai, Nyonya Robert dengan tidak sabar menghambur menyibak keramaian para undangan dan wisudawan untuk menuju ke Aruna.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa?" Nyonya Robert memegang bahu Aruna. Wajahnya cemas.
"Runa nggak papa ma. Hany saja, entah mengapa Runa teringat sama Tuan Lais terus." kata Aruna hampir terisak.
Apakah ia merasakan seperti apa yang aku rasakan. batin Nyonya Robert.
"Kamu pasti sedang merindukan suamimu. Yang sabar dan doakan dia ya!"
Aruna mengangguk.
"Ayo kita pulang. Kamu pasti sudah sangat capek." Nyonya Robert membimbing Aruna berjalan keluar dari aula SMA nya.
__ADS_1
Saat di luar gedung, seorang pria menghampiri Aruna dan Nyonya Robert.
"Selamat siang, Nyonya. Lama tidak bertemu. Tuan sedang menunggu nyonya di luar!" Anton, asisten pribadi Tuan Robert menunduk hormat pada istri majikannya itu.
"Ma." bisik Aruna khawatir.
"Tidak apa-apa. Kamu pulang sama Pak Munir ya, mama akan menemui papa mertuamu." kata Nyonya Robert
sambil tersenyum.
"Tapi ma?"
Nyonya Robert mengangguk memastikan kalau dirinya tidak akan kenapa-kenapa.
"Pulanglah. Jaga calon cucu mama." Nyonya Robert lalu memeluk Aruna. Ia kemudian memanggil Pak Munir.
"Nyonya, tuan menunggu anda!" kembali Anton berkata saat nyonya Robert tidak juga bergerak menuruti perintah tuannya.
"Sebentar Anton, biarkan aku menemani menantuku sampai sopir kami tiba."
Anton mengangguk. Ia selalu segan dengan kebaikan Nyonya Robert yang selalu memperlakukan para pekerjanya dengan ramah.
"Iya Nyonya." Pak Munir tiba.
"Bawa Aruna pulang dan jaga keselamatannya!"
"Baik Nyonya. Mari Nona!"
"Ma!" Aruna masih mengkhawatirkan Nyonya Robert.
"Sudah. Jangan pikirkan mama. Fokus pada calon anak kalian. Jangan melakukan hal-hal yang akan membahayakan mereka. Berjanjilah pada mama!" Nyonya Robert membelai pipi Aruna.
Aruna mengangguk. Ia lalu memeluk Nyonya Robert dan mencium tangannya sebelum kemudian pergi meninggalkan orang yang ia sayangi itu.
"Bawa aku ke tuanmu, Anton!" titah Nyonya Robert dengan sikap yang elegan.
"Mari ikut saya Nyonya."
Anton berjalan mengiringi Nyonya Robert menuju ke mobil tuannya.
__ADS_1
Mama akan melakukan apapun untuk menjagamu, nak. batin Nyonya Robert sambil terus berjalan menuju keberadaan suaminya