Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Pembuktian


__ADS_3

Nyonya Robert sedang berada di dalam sebuah taksi. Ia sesekali melihat  ke belakang khawatir kalau ada yang mengikuti.


Apakah tindakanku ini benar? Aku tidak berpamitan bahkan tidak meninggalkan pesan. Apakah Lais akan memaafkan tindakanku ini? Ah kenapa aku terlalu menuruti perasaanku.


“Nyonya, kita sudah sampai.”


Suara sang sopir menyadarkan Nyonya Robert dari lamunannya. Iya memandang ke sebelah. Tampak rumah megah yang dulu pernah ia tempati. Rumah megah tempatnya membesarkan Lais.


Apa pria tua itu baik-baik saja?


“Nyonya, apakah anda akan turun?” kembali sang sopir bersuara.


“Tunggu sebentar ya, Pak. Saya hanya ingin memastikan bahwa saya aman masuk ke rumah ini.” Jawab Nyonya Robert.


“Memangnya ini rumah siapa, Nyonya?”


“Mmm rumah suami saya.”


“Oh kalian sudah bercerai.” Gumam sang sopir membuat kesimpulan.


“Belum Pak. Kami hanya terpisah sebentar. Suami saya sedang menjalani hukuman.”


“Hah?! Apa suami nyonya tahanan rumah?” kembali sopir taksi itu membuat kesimpulan sendiri.


Nyonya Robert menggerakkan kedua tangannya, “Bukan Pak. Bukan tahanan. Dia mendapat hukuman dari anak kami karena kesalahannya.”


“O begitu. Dunia memang sudah terbalik. Kalau dahulu orang tua yang menghukum anaknya, sekarang anak yang menghukum orang tuanya. Ck ck ck.” Sopir itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Nyonya Robert diam. Dia berpikir biarlah orang lain berkata apa, toh mereka tidak mengerti kenyataan sebenarnya.


“Eh dia?!” seru Nyonya Robert manakala melihat ada orang yang datang ke rumah itu.


“Pak, ini uangnya. Saya turun sekarang.”


“Terima kasih Nyonya.”


Nyonya Robert turun dan berjalan menuju gerbang rumah itu.


Penjaga rumah yang mengenali Nyonya Robert langsung menunduk hormat.


“Pak Man, apa kabar?” sapa Nyonya Robert ramah.


“Baik Nyonya. Nyonya sendiri bagaimana kabarnya?”


“Baik juga Pak. Pak Man barusan yang masuk itu siapa?”


“Oh itu perawat Tuan Besar. Pak Anton yang membawanya kemarin.”


Perawat. Apakah tadi aku salah mengenali orang. Tapi tidak mungkin ada orang yang begitu mirip.


“Nyonya mau masuk? Biar saya beritahu tuan.” Pak Man  bergerak hendak masuk.


“Pak Man jangan! Saya akan masuk, tapi jangan beritahu siapapun. Saya ingin membuat kejutan.” Nyonya Robert tersenyum lalu melangkah menuju rumahnya.


Di dalam rumah.


“Tuan saatnya minum obat!” perawat tuan Robert datang sambil membawa segelas air dan obat.


Tanpa melihat Tuan Robert langsung meminum obatnya. Tak berapa lama kemudian, ia merasakan pusing dan badannya lemas. Tuan Robert jatuh terduduk di atas ranjangnya.


“Kau? Apa yang kau berikan padaku?” suara Tuan Robert bergetar.


Wanita perawat itu tertawa. Ia lalu menarik rambutnya yang ternyata adalah rambut palsu lalu melepas kacamata dan menghapus riasan wajahnya.


“Angela?!” Gumam Tuan Robert melihat siapa yang sekarang berdiri dihadapannya.


“Pergi kau dari sini!”


“Sayang, ayolah! Aku sudah merendahkan diriku demi mengharap maafmu.” Angela mendekati tuan Robert. Ia meraba dada Tuan Robert.


“Angela, jaga sikapmu!!!” Tuan Robert mengumpulkan segenap kekuatannya untuk membentak Anggela. Suara Tuan Robert yang menggelegar mengagetkan Nyonya Robert yang baru beberapa langkah masuk ke rumah besar itu. Nyonya Robert mempercepat langkahnya mendekati sumber suara.


Ia mengintip ke dalam kamar Tuan Robert. Matanya terbelalak saat melihat suaminya terbaring dalam keadaan lemah sedangkan Angela berusaha menguasainya.


“Robert! Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan padaku. Surat pernyataan cerai itu hanya caramu melampiaskan cemburumu kan? Aku sudah putus dengan pria itu. Sekarang ayo kita perbaiki hubungan kita.” Rayu Angela.


Nyonya Robert mengepalkan tangannya mendengar nada menggoda wanita itu.


“Cuih. Aku tidak sudi berbaikan denganmu! Pergi kau!” hardik Tuan Robert. Ia terus berusaha menghindar dari sentuhan Angela.


“Jangan munafik, sayang. Kau kesepiankan? Masya meninggalkanmu. Pria mana tahan kesepian terlalu lama. Aku akan menghangatkanmu malam ini.” Angela membuka kancing blousenya perlahan dengan gerakan menggoda. Tuan Robert memejamkan mata menahan agar tidak melihat tubuh wanita itu.


Nyonya Robert terus mengintip. Ia juga ingin tahu apakah suaminya setia dengan niatnya untuk berubah.


“Robert, bukalah matamu! Lihat aku! Apakah kau tidak rindu tubuh ini?” Angela kembali mengeluarkan rayuannya.


“Angela pergilah sebelum aku melukaimu!” tegas Tuan Robert.


Angela mengeluarkan suara tawa. “Bangkit saja kau tidak mampu, bagaimana caramu melukaiku?”


“Kau meremehkanku, Angela. Aku Robert, kau pikir aku akan membiarkan diriku tanpa perlindungan?” gumam Tuan Robert. “Pergilah!”


Angela bukannya pergi. Ia malah melepas blousenya dan mulai naik ke ranjang.


Benar-benar wanita murahan. Geram Nyonya Robert. Ia hendak masuk namun urung saat melihat tangan suaminya membelai rambut Angela.

__ADS_1


Apa?Apa yang akan mereka lakukan. Aku terlalu banyak berharap. Sekali berkhianat, tetap akan berkhianat.


Nyonya Robert memutar tubuhnya. Ia hendak meninggalkan tempat itu namun langkahnya terhenti saat mendengar jeritan Angela.


Nyonya Robert melihat kembali ke dalam kamar. Ia terbelalak saat melihat tubuh Angela tergeletak di atas ranjang di sebelah Tuan Robert.


Tuan Robert berusaha bangun, namun beberapa kali usahanya gagal.


Nyonya Robert tidak lagi bisa menahan diri. Ia masuk dan langsung membantu suaminya itu bangun.


“Masya. Kau datang?” Mata Tuan Robert berbinar melihat siapa yang datang menolongnya.


“Kau apakan dia?’ Nyonya Robert menatap tubuh Angela yang terbaring bertelanjang dada.


Tuan Robert menunjukan alat yang ia pegang. “Aku menyetrumnya sampai pingsan.”


“Kau?” Nyonya Robert menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau dia mati?”


“Dia tidak akan mati. Alat ini hanya mampu membuat pingsan bukan membunuh. Masya, bantu aku berjalan!”


Nyonya Robert membiarkan suaminya merangkul bahunya dan menggunakan dirinya sebagai penopang untuk berjalan. Mereka keluar dari kamar.


“Sudah. Aku lemas. Dudukan aku di kursi itu!” tunjuk Tuan Robert saat sampai di luar kamarnya. Nyonya Robert membawa suaminya ke kursi yang ia maksud dan membantunya duduk.


“Aku akan menelepon Anton.”


“Jangan!” Tuan Robert memegang tangan istrinya. “Jangan kemana-mana!”


“Aku hanya akan menelepon. Aku tidak membawa ponsel jadi akan menggunakan telepon rumah.”


Tuan Robert menggeleng. “Aku masih lemah. Aku takut wanita itu sadar dan kemari saat aku sendirian. Temani aku saja!” Tuan Robert menarik tangan Nyonya Robert hingga jatuh menubruknya.


“Kau? Katamu masih lemah, ini apa?” Nyonya Robert mengomel saat suaminya malah memeluknya.


“Diamlah! Aku kangen.” Bisik Tuan Robert.


“Maaf!” Suara Pak Man yang tiba-tiba muncul dan melihat kedua majikannya berpelukan.


Tuan Robert langsung melepaskan tangannya dengan wajah masam dan tatapan membunuh ke arah Pak Man.


“Ada apa, Pak Man?” Nyonya Robert mendahului bertanya sebelum amarah suaminya meledak.


“Nyonya, di luar ada sopir taksi. Ia ingin mengembalikan barang Nyonya yang ketinggalan di taksinya. Tadi saya minta tapi ia ingin memberikannya sendiri pada Nyonya.” Jelas Pak Man dengan suara gemetar.


“Aku akan menemuinya.”


“Jangan! Suruh dia masuk!” titah Tuan Robert. Tangannya tak lepas dari tangan Nyonya Robert.


“Baik!” Pak Man melesat keluar.


“Kenapa kamu kemari?” Tuan Robert malah bertanya dan tidak melepaskan tangannya.


Mampus. Aku harus menjawab apa?


“Aku ingin mengambil sesuatu.” Jawab Nyonya Robert sambil mengalihkan pandangannya.


“Kau bohong. Aku tahu saat kau berbohong kau tidak akan berani menatap mataku. Jadi kenapa kau kemari?” Tuan Robert tersenyum tipis.


Pria tua ini kenapa semakin menyebalkan.


“Ini masih rumahku kan? Jadi wajar kalau aku kemari. Aku tidak butuh alasan untuk datang kemarin.” Gerutu Nyonya Robert.


“Kau masih ingat kalau ini rumahmu? Jadi pulanglah! Rumah ini sangat sepi.” Mata Tuan Robert memelas.


Apakah ini masih pria yang sama? Kemana perginya semua kesombongan dan keangkuhannya itu.


Melihat istrinya diam mematung, tangan Tuan Robert terulur hendak meraba wajahnya. Namun urung karena seseorang masuk.


“Permisi, Nyonya. Barang anda ketinggalan.” Sopir taksi masuk sambil mengulurkan bungkusan milik Nyonya Robert.


Tuan Robert mendengus kesal, lagi-lagi ada yang mengganggunya.


Saat cekalan tangan Tuan Robert terasa kendor, Nyonya Robert menarik tangannya hingga lepas. Ia lalu mendekati si sopir  untuk menerima bungkusannya yang ketinggalan.


“Awas, Nyonya!!”


“Masya!”


Teriak Tuan Robert dan sang sopir membuat Nyonya Robert kaget. Tubuhnya tiba-tiba melayang dan berputar.


Bug.


Angela tersungkur karena tendangan si sopir.


“Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Robert bingung. Ia mendapati tubuhnya berada dalam pelukan sang sopir.


“Lepaskan istriku!” bentak Tuan Robert sambil menarik tubuh Nyonya Robert lalu memeluknya.


“Kau sudah tidak lemas?” ucap Nyonya Robert.


“Tidak!” Tuan Robert menjawab ketus. Matanya menatap tajam ke arah sang sopir.


“Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya ingin menyelamatkan Nyonya dari wanita yang hendak menusuknya ini.”


Tuan Robert memalingkan wajahnya kesal karena justru orang asinglah yang menyelamatkan Nyonya Robert dan bukan dirinya.

__ADS_1


“Terima kasih, Pak. Bapak sangat baik. Sudah mengembalikan barang saya dan menyelamatkan saya. Bagaimana saya harus membalas bapak?” Nyonya Robert tersenyum ramah. Namun senyumnya segera hilang saat tangan yang berada di pinggangnya menekan dan menarik tubuhnya merapat.


Apakah pria tua ini cemburu? Lucu sekali.


“Aah, sakit sekali.” Rintih Angela.


Semua mata memandang ke arahnya.


“Tuan, amda tidak apa-apa?’ Anton masuk bersama beberapa anak buahnya.


“Bereskan dia!” Tuan Robert menunjuk Angela.


Anton memerintahkan anak buahnya membawa Angela pergi.


“Hei. Mau kau bawa kemana aku? Ingat perjanjian kita!” teriak Angela saat anak buah Anton menyeretnya keluar.


“Perjanjian?” Gumam Tuan dan Nyonya Robert.


“Jangan dengarkan ucapannya tuan. Wanita itu sudah gila.” Balas Anton.


“Saya permisi mau mengurusnya.” Anton buru-buru pergi meninggalkan Tuan Robert yang menatapnya penuh curiga.


“Nyonya, Tuan, saya permisi.” Sopir taksi itu juga pamit.


“Tunggu! Siapa namamu?” tanya Tuan Robert.


“Malik, Tuan.”


“Malik. Kau sudah menyelamatkan istriku. Sekarang mintalah apapun sebagai hadiahmu.”


“Maaf, Tuan. Saya melakukannya bukan untuk imbalan.” Tolak Malik halus.


“Aku tidak suka berhutang lagipula yang kau selamatkan adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Jadi sudah sepantasnya aku memberimu hadiah.” Tuan Robert melirik istrinya mesra.


Malik diam. Ia nampak berpikir keras.


“Tuan, sebenarnya saya ikhlas melakukannya. Namun jika tuan memaksa, baiklah. Saya ada satu permintaan.Saya memiliki seorang anak yang sedang sakit dan membutuhkan banyak biaya. Bisakah tuan menolong anak saya?!” suara Malik lemah.


“Anak Pak Malik sakit apa?” ucap Nyonya Robert iba.


“Ia menderita kelainan jantung sejak lahir. Sekarang ia harus menjalani operasi, namun biayanya sangat mahal. Itulah kenapa saya bekerja keras membanting tulang demi mengumpulkan uang. Maaf jika permintaan saya keterlaluan.”


“Tidak, Pak. Kami akan menolong bapak, bukankah begitu suamiku?” Nyonya Robert sengaja berkata mesra agar suaminya mau menolong Pak Malik.


“Tentu saja. Dimana anakmu dirawat dan berapa biaya yang kau butuhkan?!”


“Alhamdulillah. Terima kasih tuan. Terima kasih nyonya.” Pak Malik sangat bahagia. Ia kemudian menyebutkan nama rumah sakit tempat anaknya dirawat dan juga berapa biaya yang ia perlukan.


“Sekarang pulanglah. Besok aku akan ke rumah sakit itu bersama istriku. Kita ketemuan di sana.” Titah Tuan Robert.


“Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih. Saya permisi.” Pak Malik mundur.


“Tunggu!” Nyonya Robert mencegahnya.


“Kau mau apa?” Tuan Robert kembali menahan tangan Nyonya Robert saat wanita itu hendak mendekati Pak Malik.


“Sayang, aku hanya ingin memberikan bungkusan ini.” Rayu Nyonya Robert.


Mendapat panggilan sayang, Tuan Robert langsung melepaskan tangannya. Hatinya mengembang sempurna. Senyumpun terbit di wajah tuanya yang masih kelihatan tampan itu.


“Pak Malik, berikan ini pada istri bapak sebagai hadiah dari saya!”


“Tapi Nyonya..”


“Terimalah. Ini pakaian baru. Tadi saya sengaja membelinya untuk tujuan tertentu. Tapi sekarang sudah tidak berguna lagi.”


“Bukan begitu Nyonya. Saya duda.”


“Oh maaf.”


“Tidak apa-apa Nyonya. Terima kasih atas niat baiknya. Saya permisi.” Pak Malik kembali berjalan mundur beberapa langkah lalu memutar tubuhnya segera menghilang di balik pintu.


Nyonya Robert terus memandanginya.


“Eh.” Nyonya Robert memekik kaget saat tubuhnya tertarik ke belakang.


“Jaga mata! Jangan memandangi pria lain! Apa sih lebihnya dia dibanding aku hingga kau tidak bisa mengalihkan matamu darinya?” geram Tuan Robert.


“Apaan sih? Kau pikir aku dirimu yang begitu mudah pindah ke lain hati?” omel Nyonya Robert.


“Hm. Apa itu artinya masih ada aku di hatimu?” Tuan Robert menyeringai senang.


Ah. Aku salah bicara.


“Jangan kepedean. Maksudku aku bukan pengkhianat macam dirimu.”


“Sudahlah, Maysa. Jangan gengsi. Kamu masih mencintaiku kan?” Tuan Robert lalu mengangkat tubuh istrinya.


“Kamu mau apa? Turunkan aku? Bukankah badanmu lemah karena baru operasi?” Seru Nyonya Robert cemas saat Tuan Robert membopong dan membawanya masuk ke kamar.


“Hush. Diam! Kau bisa mencobanya sendiri apakah aku lemah atau tidak.”


Brak.


Pintu kamarpun tertutup karena tendangan kaki Tuan Robert. Dan karena kamar mereka kedap suara jadi author juga tidak tahu dan tidak mendengar apa pa. Sumpah.

__ADS_1


__ADS_2