
"Run, kamu sudah siap?" Lais mendekati Aruna yang sedang mematut wajahnya di cermin.
"Apa penampilanku tidak memalukan?" Aruna berdiri lalu memutar tubuhnya agar Laia bisa menilai penampilannya.
"Kita mau ke rumah sakit sayang, bukan ke pesta." Lais mengacak rambut Aruna.
"Ya, tapi kan kita mau ketemu papamu."
Lais tertawa, "Pria tua itu belum sadar setelah menjalani operasi. Jadi dia tidak akan bisa mengkritik penampilanmu percuma kau khawatir. Ayo!" Lais menggandeng tangan Aruna keluar dari kamar mereka.
Di luar sudah siap Revan dan Nisa juga Pak Munir serta Bu Ira. Sedangkan Nyonya Robert, semalam kembali ke rumah sakit. Ia menjaga suaminya dengan ditemani Anton.
"Van, kau bawa mobilku!" Lais melempar kunci mobilnya pada Revan yang dengan sigap menangkapnya.
Mereka berenam berangkat ke rumah sakit dengan mengendarai dua mobil.
--Di rumah sakit--
Nyonya Robert menatap suaminya yang masih berbaring dengan bermacam alat menempel pada tubuhnya.
Jika sudah begini, dimana wanita yang kau puja itu. Batang hidungnya saja tidak kelihatan. Ia hanya muncul untuk meminta hak anak kalian saja.
Tuan Robert masih belum sadar setelah menjalani operasi dan kembali masuk ruang ICCU. Nyonya Robert membersihkan badan suaminya dengan kain basah. Setelah selesai ia keluar. Tanpa Nyonya Robert ketahui, bulir bening meluncur dari mata Tuan Robert.
Nyonya Robert duduk di bangku depan ruang ICCU saat rombongan Lais tiba.
'Ma!"
"Kalian sudah datang?"
"Ya, setelah ini mama bisa pulang istirahat. Aku akan di sini." kata Lais.
"Jika kau di sini, bagaimana dengan pekerjaanmu? Sekarang kau harus mengurus dua perusahaan."
"Ada Revan, Ma. Nanti kalau dibutuhkan aku bisa ke kantor."
"Jangan! Selesaikan saja apa yang harus kau selesaikan mumpung ada waktu."
Mumpung ada waktu?Apa mamanya memberi isyarat agar aku secepatnya menyelesaikan masalah Angela? Mama bilang begitu karena tidak ingin Anton curiga.
Mereka lantas diam karena ponsel Anton berbunyi. Semua mata melihat ke Anton.
"Saya angkat dulu." Anton sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan.
"Ma, apa bisa aku melihat mm..papa." Aruna ragu menyebut tuan Robert papa karena ia tahu kalau sampai sekarang pria itu belum menerima keberadaannya sebagai istri Lais.
Nyonya Robert mengangguk. "Masuklah. Nanti minta ijin pada perawat di ruang depan. Kalian bergantian masuknya."
__ADS_1
"Baik, Ma." Aruna meminta ijin Lais lalu masuk ke ruang di mana Tuan Robert dirawat.
Aruna menatap trenyuh pria tua yang sedang berjuang melawan sakitnya itu. Ia mendekat dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Tuan Robert.
"Tuan! Aku tahu mungkin kedatanganku tidak tuan harapkan karena tuan tidak menerimaku sebagai menantu. Aku juga tahu jika aku tidak pantas mendampingi putramu, namun sayangnya putramu justru jatuh cinta padaku. Tuan, kehidupan kami sangat bahagia ditambah sebentar lagi kami akan punya anak kembar. Cucu tuan. Jadi tuan harus terus berjuang, jangan menyerah! Apakah tuan tidak ingin bertemu dengan cucu kembar tuan?"
Aruna mengamati Tuan Robert, mencari tanda pada tubuh yang terbaring itu. Tanda apakah ucapannya memberi pengaruh baik bagi Tuan Robert.
"Tuan. Apakah tuan tahu jika putramu sangat menyayangimu? Dia sangat menyayangimu. Meski tuan sering menyakitinya, tapi dia masih peduli pada tuan. Itu tanda kalau suamiku, putramu, sangat menyayangimu. Jadi, demi dia, bangunlah. Perbaiki hubungan kalian. Asal tuan tahu, harta yang paling berharga adalah keluarga. Saya bisa bicara begini karena sudah mengalaminya. Ketika kami meninggalkan mansion tuan, saya masih bisa hidup bahagia bersama keluarga kecil saya. Saya dan suami. Saya rasa tuan juga tahu bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa siapapun di samping kita."
Aruna menghela nafas, "Tuan. Untuk hari ini cukup dulu apa yang ingin saya sampaikan. Besok saya akan datang lagi sambil membawa cerita baru. Semoga tuan bisa mendengar saya. Cepatlah sadar, Tuan. Mama dan Lais menunggu tuan."
Aruna meraih tangan Tuan Robert dengan hati hati lalu mencium punggung tangan itu. Setelah selesai, ia kembali menaruh tangan itu di tempatnya semula lantas beranjak dari ruang perawatan Tuan Robert.
"Ma, dimana suamiku?" tanya Aruna saat tidak melihat Lais di luar. Ia lalu duduk di sebelah Nyonya Robert.
"Lais, Revan dan Anton ke perusahaan. Sepertinya ada sesuatu hal penting terjadi. Tadi ada telepon dari salah satu staf Anton."
"O begitu. Mbak Nisa, kalau mbak mau pulang dulu nggak papa. Biar diantar sama Pak Munir. Aku masih mau menemani mama." Aruna melihat ke arah Nisa yang duduk bersandar di kursi.
"Mbak Nisa kelihatannya capek banget?"
"Iya nih. Entah mengapa punggungku rasanya pegal sekali." Nisa menegakkan badannya lalu memijit punggungnya perlahan.
"Pak Munir, antar Nisa pulang!"
"Nyonya maaf. Saya tidak bisa menemani anda." Nisa bangkit, memberi hormat sambil berpamitan pada Nyonya Robert.
"Nggak papa Nisa. Istirahat dan jaga kandunganmu! Jangan memaksakan diri atau Revan akan menyalahkanku nanti." seloroh Nyonya Robert dengan diakhiri tawa kecil.
"Baik Nyonya. Semoha Tian Robert vepat sadar."
"Amiin."
"Bu Ira! Ibu juga pulang saja! Temani Nisa di rumah! Kasihan kalau Nisa sendirian." Aruna menatap Bu Ira sambil tersenyum.
"Lalu Nona Aruna?"
"Saya akan menemani mama. Tapi Pak Munir nanti balik ya!"
Pak Munir mengangguk.
Nisa dan Bu Ira akhirnya kembali ke mansion dengan diantar oleh Pak Munir.
***
Di perusahaan Tuan Robert.
__ADS_1
Lais, Revan dan Anton berjalan cepat menuju ruangan CEO. Ruangan yang dulunya milik Lais.
Ceklek
Anton membukakan pintu untuk Lais. Mereka masuk dan berdiri dengan tegang melihat siapa yang ada di dalam.
"Apa kabar Lais!" sapa Kirey.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini!?!" Revan menatap geram.
Kirey mengangkat bahunya. "Aku akan menjadi CEO baru setelah ayahmu mati nanti."
"Kurang ajar!!" Anton merangsek maju namun tangannya dicekal Lais.
"Kirey! Kau tahu kalau aku tidak akan membiarkannya kan?" Suara Lais dalam.
Kirey menatap wajah tampan mantan suaminya itu. Wajah tampan yang selalu ingin dimiliki namun tidak pernah bisa. Lais selalu menolaknya dulu.
Kirey berjalan dengan langkah seksi mendekati Lais. Tangannya terulur hendak meraba wajah Lais.
"Kau masih tampan seperti dulu."
Lais mundur sambil menghindari sentuhan Kirey.
"Jangan lupa! Kami masih punya bukti kejahatanmu." Revan memasang badan. Ia tahu kalau Lais jijik dengan Kirey.
"Ais itu lagi. Tapi sayangnya sekarang aku tidak takut." Kirey mengangkat dagunya menantang.
Kenapa dia menjadi seberani ini. Siapa oraang yang mendukungnya.
"Siapa yang akan menjadi CEO adalah pemegang saham terbanyak. Apa yang kau punya?"
"Bukan aku. Aku hanya menjabatnya saja."
Kirey memutar tubuhnya dan kembali melangkah ke balik meja dan duduk di kursi CEO.
Anton menghampiri Lais dan berbisik.
"Tuan, jajaran direksi berkumpul di ruang meeting. Mereka ingin bertemu anda."
Tanpa berkata-kata, Lais langsung meninggalkan Kirey yang masih menikmati kursi nyamannya. Diiringi Anton dan Revan, ia bergegas menuju ruang meeting.
Para direksi menatap kehadiran Lais. Lais mengabsen satu persatu orang orang yang saat ini duduk di hadapannya dengan mata tajamnya.
Aku tunggu apa yang kalian mau, jika kalian ingin mengambil apa yang awalnya bukan milik kami, akan aku kembalikan. Namun jika kalian mengusik apa yang menjadi milik mamaku, sampai matipun akan aku pertahankan.
...****************...
__ADS_1