
Bu Ira menatap interaksi antara Pak Munir dan Mak Nah. Tadi saat ia akan ke dapur, Bu Ira mengurungkan niatnya. Ia berbalik arah menuju ke luar. Kebetulan ia melewati kamar Nyonya Robert. Bu Ira menghentikan langkahnya saat melihat suaminya berbincang dengan Mak Nah.
Jadi mereka saling kenal
Bu Ira tidak jadi keluar. Ia balik ke dapur. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Dimana mereka berkenalan? Apakah mereka kawan lama? Atau bahkan lebih dari sekedar kawan.
Bu Ira terus bermonolog dalam hati sambil memasak makanan kesukaan suaminya.
"Masak apa Bune? Wangi banget." Pak Munir masuk dapur dan langsung mendekati Bu Ira. Hidungnya mengendua aroma masakan Bu Ira.
"Kenapa Bune masak? Bukankah sudah ada koki sekarang." Pak Munir menatap Bu Ira lekat. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat wajah istrinya datar saja.
"Bune ada apa?"
Bu Ira tersenyum. "Salah ya Pak, kalau aku ingin memasak buat suamiku sendiri? Atau memang Pakne pengen orang lain yang memasak buat Pakne?"
"Enggaklah Bune. Masakan Bune nggak ada duanya. Aku hanya tidak ingin Bune kecapekan setelah mengurusi si kembar malah memasak buatku." Pak Munir merangkul dan mengelus bahu Bu Ira.
"Pakne, dulu Nyonya pernah tinggal du kampung Pakne ya pas lari dari rumah iti?"
"Iya."
"Dan Pakne yang menemukannya pertama kali kan?"
Pak Munir mengangguk. Hatinya was?was menebak kearah mana ucapan Bu Ira.
"Bagaimana ceritanya kok Pakne bisa menemukannya?"
Tuhkan. Bagaimana ini.
"Itu karena Nyonya menyuruh seseorang menemuiku dan membawa suratnya. Jadi aku pergi menemuinya."
"Seseorang itu Mak Nah kan?"
Apa kubilang. Ira pasti mencurigaiku
"Iya." Jawab Pak Munir lemah.
Bu Ira tersenyum tipis. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Pak Munir yang berdiri di sebelahnya. Bu Ira mengelus wajah yang mulai menampakkan garis garis penuaan itu.
"Kenapa nggak cerita kalau kalian saling kenal? Apa Pakne menyembunyikan sesuatu? Apa diantara kalian pernah ada sesuatu?"
Pak Munir gelagapan ditodong seperti itu.
"Ira, semua tidak seperti yang kau pikirkan."
"Memang apa yang aku pikirkan?" Bu Ira masih saja tersenyum.
"Aku memang mengenalnya. Dia teman sekolahku dulu."
"Hanya teman?" Bu Ira bertanya sambil.melanjutkan memasak.
Pak Munir menelan ludah. "Lebih dari teman." gumamnya lirih.
Bu ira diam. Ada yang mengiris hatinya.
"Makanan sudah siap. Ayo kita makan Pak!" ajak Bu Ira. Ia menata makanan hasil masakannya ke dalam wadah dan membawanya ke meja makan.
"Bune kan tadi kita sudah makan siang." balas Pak Munir heran. Bu Ira diam.
"Bune mau kemana?" tanya Pak Munir saat melihat Bu Ira melangkah keluar dari dapur.
__ADS_1
"Memanggil Mak Nah. Tadi dia juga belum makan siang." jawab Bu Ira sambil.meneruskan langkahnya.
Kenapa aku merasa seperti memiliki dua istri ya. Harus menjaga perasaan mereka.
Pak Munir duduk dengan lesu di meja makan menunggu kedatangan Bu Ira dan Mak Nah.
Revan tiba tiba masuk.
"Mm wangi banget. Enak, kayaknya."
Revan langsung duduk di dekat Pak Munir.
"Eh Tuan Revan." ucap Pak Munir dengan nada lemah.
"Bapak kenapa? Belum makan ya? Ini pasti masakan Bu Ira. Aromanya beda." Revan menarik nafas panjang agar bisa mengendus aroma masakan yang terasa lezat itu.
"Iya. Ini bikinan Ira."
"Bu Iranya kemana Pak? Kok meninggalkan bapak sendirian di sini?"
"Dia sedang memanggil Mak Nah untuk makan bareng."
"Ooo...Apa?"
Revan kaget. Ia tahu sedikit tentang pak Munir dan Mak Nah.
"Itulah Tuan, saya bingung harus bagaimana?" Pak Munir mengusap wajahnya.
"Gampang Pak. Nikahi saja Mak Nah." jawab Revan asal.
"Ck Tuan Revan bukannya membantu mencari jalan keluar malah mengusulkan masalah baru." Pak Munir mengomel.
Revan terkekeh. "Bercanda, Pak. Kalau menurut saya kenapa bapak harus pusing dan bingung. Mak Nah masa lalu kan? Namanya masa lalu itu hanya bisa di kenang. Hidup bapak dan masa depan bapak adalah Bu Ira. Jadi jagalah Bu Ira baik-baik."
"Kenapa nggak enak? Bu Ira dan bapakkan suami istri. Wajar kalau sering berduaan. Bahkan lebih dari itu juga nggak papa."
"Tapi Tuan, saya dulu meninggalkan si Inah begitu saja. Jadi saya selalu diliputi rasa bersalah padanya."
"Jika begitu kalian memang harus bicara. Selesaikan baik-baik." Revan menepuk bahu Pak Munir.
"Pak boleh enggak aku minta makanannya?"
"Boleh Tuan. Tentu saja boleh." Pak Munir berdiri dan mengambilkan piring untuk Revan.
Saat Revan sibuk mengambil makanan, Lias datang.
"Pasti masakan Bu Ira."
"Tuan mau makan juga?" Pak Munir berdiri dan mengambilkan piring untuk Lais.
"Ayo pak, kita makan bareng!" ajak Lais.
Kebetulan. Jika aku beralasan makan menemani mereka berdua, aku bisa lepas dari makan bertiga saja sama Ira dan Inah.
"Baik, Tuan." Pak Munir kembali mengambil piring. Kali ini untuk dirinya sendiri.
Mereka bertiga asik makan dengan lahapnya.
Bu Ira datang bersama Mak Nah. Bu Ira terbelalak melihat tiga pria yang ada di meja makan.
"Bu, Mak, ayo kita makan bersama!" Revan melambaikan tangannya.
Bu Ira dan Mak Nah tidak bisa menolak. Mereka mengangguk dan masuk. Mengambil piring lalu menuju meja makan.
__ADS_1
Bu Ira langsung duduk di sebelah kanan Pak Munir yang masih kosong. Mak Nah bingung. Satu-satunya kursi yang mungkin ia duduki ada di sebelah kiri Pak Munir. Tidak mungkin ia duduk di dekat Lais atau Revan. Akan tidak sopan.
"Saya makan di dapur saja." kata Mak Nah.
"Nggak perlu, Nah." Bu Ira berdiri lalu membimbing Mak Nah agar duduk di kursi sebelah Pak Munir.
Bu Ira lalu kembali ke kursinya.
"Mari, silahkan!"
Revan menyenggol lengan Lais. Saat Lais menoleh, Revan memberi isyarat dengan matanya. Lais menggelengkan kepala.
Suasana tampak canggung antara Pak Munir dan Mak Nah.
"Mak Nah betah nggak tinggal di sini?" Revan membuka percakapan untuk mencairkan suasana.
"Betah Tuan." Mak Nah menjawab pendek.
"Sukurlah. Pasti ada yang membuat Mak Nah jadi betah kan?" Revan mulai usil.
"Karena Nyonya Tuan. Saya sudah berjanji akan selalu menemani Nyonya."
"Oo tapi sebentar lagi Nyonya akan kembali ke suaminya, apakah Mak Nak juga akan pulang? Mak Nah pasti juga kangen sama suami Mak Nah kan?"
Pak.Munir menahan kunyahannya saat mendengar pertanyaan Revan
Mak Nah tersenyum tipis.
"Tuan benar. Kalau nyonya sudah bersatu kembali dengan tuan, saya tidak punya alasan lain untuk tetap tinggal di sini. Saya akan pulang."
"Apa Mak Nah merindukan keluarga Mak? Kalau iya saya bisa menyuruh orang untuk membawa mereka ke sini." Lais berkata sambil memandang Mak Nah.
"Tidak tuan. Tidak ada siapapun yang bisa tuan bawa kemari. Saya tidak punya keluarga "
Mak Nah menunduk sedih. Pak Munir menelan ludah dengan susah payah.
"Mak tidak punya anak?" Revan kembali bertanya.
"Saya tidak menikah bagaimana saya bisa punya anak."
"Kenapa Mak? Kenapa Mak tidak menikah? Aku lihat Mak Nah cantik. Pasti saat muda lebih cantik lagi."
"Saya menepati janji saya pada seseorang untuk menunggunya. Tapi sayang, dia tidak pernah kembali."
Pak Munir langsung tersedak.
"Pakne, makannya hati-hati!" Bu Ira menyodorkan gelas berisi air ke arah Pak Munir.
"Tuan, saya sudah selesai. Saya duluan!" Mak Nah berdiri dari kursinya sambil membawa piring bekasnya lalu melangkah ke dapur.
"Saya juga." Bu Ira menyusul Mak Nah.
Setelah dua wanita itu pergi, Lais dan Revan menatap tajam Pak Munir seolah meminta penjelasan.
Pak Munir berkali-kali menelan ludah sambil menghapus keringat yang mulai membasahi keningnya.
"Aku tunggu bapak di ruang kerja!" titah Lais.
Ia lalu meninggalkan ruang makan itu diikuti Revan.
Akhirnya datang juga. Saat yang paling aku khawatirkan.
...----------------...
__ADS_1