
“Kenapa Lais tidak bersama kalian?Apakah tubuhnya masih merasakan sakit akibat kecelakaan tadi?” tanya Roby khawatir.
Revan menggeleng. “Ia paling sedang merindukan istrinya.” Jawabnya santai.
“Kenapa nggak dibawa?” tanya Robby.
Revan diam. Haruskah aku menceritakan kebenarannya. Batin Revan.
“Soal itu, karena kami datang ke sini untuk bekerja” jawab Revan pendek.
Roby tersenyum samar.
Kau ingin menutupi kenyataan dari seorang Robert, Van. Mustahil. Batin Robert.
“Tuan, anda ditunggu Tuan Smith.” Asisten Robert mengingatkan agenda kerja Robert.
“Oh iya.Aku sampai lupa. Jason, kenalkan mereka adalah orang yang siang tadi aku ceritakan padamu. Aku menabrak salah satunya saat kabur dari mu.” Robby terkekeh.
“Lain kali tuan jangan kabur lagi.” Sesal sang asisten.
“Iya. Iya. Aku kadang bosan kemanapun aku pergi selalu dikawal.” Gerutunya. Sang asisten hanya menghela nafas.
“Van, sampaikan salamku pada Lais. Kita bertemu besok. Oh ya, jaga penampilan kalian besok karena akan ada tamu istimewa yang aku bawa. Jangan buat aku kecewa.” Pesan Roby sebelum pergi.
Revan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya, “Jangan khawatir. Ini juga tujuan kami datang kemari. Tampil sebaik mungkin.”
“Bagus!” Roby menepuk bahu Revan dan Rendy bergantian lalau meninggalkan lokasi makan malam Henry.
“Ayo Ren. Gue sudah enek berada di sini melihat wajah munafik si Henry.” Revan melangkah meninggalkan ruangan itu diikuti Rendy.
Dari jauh Henry menatapnya dengan senyum sinis.
Bagaimana mereka bisa mengenal Robertus Sifa? Gumam Henry. Cih, lalu kenapa jika mereka kenal. Hanya kenal saja tidak akan mengubah keadaan mereka.
Di kamar hotel.
Lais memainkan ponselnya. Ia benar-benar merindukan Aruna.
Disana pasti sudah sangat larut. Kalau aku meneleponnya pasti akan mengganggu tidurnya. Kirim pesan saja. Kata Lais dalam hati.
Lais kemudian mengirim pesan menanyakan keadaan Aruna. Tanpa ia duga, pesannya mendapat balasan dengan cepat.
Eh, dia belum tidur.
Lais lalu menelepon Aruna.
“Kenapa belum tidur?” tanya Lais langsung begitu telepon diangkat Aruna.
“Nggak ngantuk.” Jawab Aruna pendek.
“Kok bisa nggak ngantuk?”
“Ya karena nggak bisa tidur.” Aruna terkekeh.
“Kau ini. Apa anak kita baik-baik saja?”
“Mereka baik hanya saja sepertinya sangat merindukan papanya.” Suara Aruna sendu.
Lais tersenyum, “Hanya mereka yang rindu ya?”
“He eh.”
“Ooo jadi hanya mereka yang rindu. Baiklah, nanti kalau aku pulang aku akan sering-sering menjenguk mereka, biar tidak rindu.” Jawab Lais sambil menyunggingkan senyum mesumnya.
“Boleh.Tapi jenguknya harus bawa banyak oleh-oleh ya papa.” Jawab Aruna polos yang nggak paham maksud Lais.
“Nggak bisa sayang. Tempatnya nggak akan muat jika aku bawa oleh-oleh.” Lais menahan tawa.
“Masak sih. Kalau begitu minta bantuan jasa pengiriman saja, biar oleh-olehnya sampai dulu.”
Lais gemes mendengar ketidakpekaan Aruna. Rasanya ia ingin menjitak kening istri mungilnya itu.
“Apa bunga yang aku kirim sudah sampai?” Lais mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Makasih. Bunganya bagus.” Balas Aruna.
“Run, maaf ya. Kita jadinya harus berjauhan begini.” Sesal Lais.
“Aku mengerti sayang. Kamu baik-baik kan di sana? Solanya tadi aku sempat merasakan sesuatu yang nggak enak.” Kata Aruna, “Aku ingin menghubungimu, takutnya kamu sibuk. Makanya aku menunggu telepon darimu.”
__ADS_1
“Jadi itu yang membuatmu tidak tidur, menunggu telepon dariku?”
“Iya.”
“Karena mencemaskanku?”
“Iya.”
“Karena merindukanku dan ingin aku segera kembali lalu menerkammu?”
“Iya. Eh bukan begitu.”
“Hahahaha…jangan mengelak. Kau pasti juga menahannya sekarang kan?” goda Lais.
“Ih siapa yang menahannya." jawab Aruna lirih.
Lais semakin tergelak. Ia membayangkan wajah cantik Aruna pasti sedang tersipu dan kemerahan.
“Sayang,mau dengar cerita enggak?” kata Aruna menghentikan tawa Lais.
“Apa?” jawab Lais
“Tadi mama yang mendampingiku saat wisuda. Katanya kamu ya yang memintanya. Kok nggak bilang kalau kamu menyuruh mama datang.”
“Sengaja biar kamu senang. Senang enggak?”
“Senang banget. Makasih ya.”
“Disana pasti sudah tengah malam, tidurlah. Jangan tidur terlalu larut. Ingat ada dua nyawa dalam perutmu.”
“Iya,setelah ini aku juga akan tidur. Dah lega dengar kamu baik-baik saja.”
Lais tersenyum. “Tidurlah. Love baby. Muuach.” Lais mengecup ponselnya.
“Love you too.” Balas Aruna dengan suara bergetar.
Lais mematikan ponselnya lalu menarik selimut dan tidur.
Diseberang, Aruna memandangi ponselnya dengan mata berbinar.
“Benarkah yang aku dengar. Dia bilang dia mencintaiku. Selama ini dia nggak pernah mengutarakan perasaannya. Ini artinya dia sudah benar-benar sembuh. Yeaah.” Aruna berteriak kegirangan.
Aruna menoleh dan langsung menuju pintu
“Iya Bu?” ia bertanya pada Bu Ira yang berdiri di depan pintu dengan cemas.
“Nona tidak apa- apa? Ibu mendengar teriakan tadi.” Kata Bu Ira polos.
“Nggak papa bu. Runa hanya sedang gembira saja. Karena suami Runa menyatakan cintanya. Ibu
tahu apa artinya itu?Artinya ia sudah bisa merasakan dan mengungkapan cinta. Ia sudah benar-benar sembuh bu.” Aruna memeluk Bu Ira dengan erat. Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia sambil mengelus punggung Aruna.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali apartemen Lais dan Revan didatangi orang-orang asing. Mereka berseragam serba hitam. Ada dua kelompok, yang satu menuju unit Revan dan yang satu lagi menuju unit Lais.
Mereka memencet bel pintu. Bu Ira yang berada di dalam membukakan pintu.
“Maaf bisa bertemu nyonya Lais?” tanya orang asing itu.
“Kalian siapa?” Bu Ira menatap curiga pada tiga wanita dan dua pria berseragam serba hitam yang mencari Aruna.
“Siapa bu?Kenapa pagi-pagi buta sudah bertamu ke rumah orang?” teriak Aruna. Ia muncul dan sama seperti Bu Ira, Aruna menatap penuh kecurigaan pada lima tamunya.
“Nyonya Lais?” tanya salah satu dari tiga wanita yang merangsek masuk dengan menepis tubuh Bu Ira ke pinggir.
“Jangan masuk!” cegah Bu Ira, namun ia segera dihalangi oleh kedua wanita yang lain. Sedangkan dua pria berjaga di depan pintu.
“Apa mau kalian?” tanya Aruna berusaha bersikap tenang. “Jika kalian ingin menculikku untuk meminta tebusan uang, kalian salah sasaran. Suamiku bukan lagi pria kaya raya seperti dulu.” Kata Aruna.
Wanita itu terus mendekati Aruna. Di luar dugaan Aruna yang mengira wanita itu akan menyeretnya, justru wanita itu membungkuk hormat.
“Mari ikut kami. Tuan kami mengundang Nyonya ke rumahnya.” Wanita itu memberikan sepucuk surat kepada Aruna. Aruna membuka dan membacanya. Ia menarik nafas dalam.
“Baiklah. Aku akan ikut dengan kalian.” Jawab Aruna kalem.
“Nona!” Bu Ira berseru khawatir.
“Nggak papa Bu. Siapkan pakaianku untuk tiga hari. Aku akan pergi bersama mereka.”
“Nona, apa saya perlu menghubungi tuan?”
__ADS_1
Aruna menggeleng. Ia tersenyum lalu berbisik ke Bu Ira.
“Oh begitu. Baiklah. Ibu percaya sama nona.”
Bu Ira lalu pergi untuk mengemasi barang yang akan Aruna bawa.
“Kalian silahkan tunggu sebentar. Saya ingin ganti pakaian.”
Ketiga wanita itu mengangguk.
Di unit Revan juga terjadi hal serupa. Nisa menerima undangan juga. Ia kemudian mengepak pakaian yang akan ia bawa,
“Ayo. Kita berangkat!” ajak Nisa dengan tenangnya.
Saat Nisa keluar, Aruna juga keluar dari unitnya.
Nisa mendekati Bu Ira yang berdiri di sisi Aruna.
“Bu, nitip rumah ya!” pesan Nisa.
“Iya Non. Kalian berdua hati-hati.” Jawab Bu Ira.
“Mari Nyonya!” ajak si wanita asing yang menjemput Aruna dan Nisa.
Di Paris.
Lais, Revan dan Rendy memasuki galery tempat pameran. Seperti janji Roby, barang-barang mereka sudah tertata apik.
“Ternyata dia tidak ingkar janji.” Kata Rendy.
Lais tersenyum, namun senyumnya seketika sirna saat Henry mendatangi mereka.
Henry menatap barang-barang milik Lais.
“Bagus juga.” Komennya.
Bagaimana mereka bisa mendapatkan ijin membawa barang-barang ini. Kenapa aku sampai tidak tahu kalau barang-barang ini lolos. Bukankah surat-suratnya sudah aku tahan.
“Ngapain loe kemari?” hardik Rendy. Ia sudah merangsek mendekati Henry.
“Ren!” Revan menahan tangan Rendy. “Jangan sekarang!” bisik Revan.
“Maaf, Hen. Sepertinya wanitamu menari tuh!” Lais menunjuk ke arah Kirey yang celingukan mencari Henry. Ia langsung membuang muka saat Kirey juga melihat ke arahnya.
Henry menoleh. “Ah kau benar. Kalau begitu aku pamit dulu. Oh ya, selamat telah berhasil masuk.” Henry lalu meninggalkan Lais.
“Rasanya ingin kutendang mukanya yang sok kecakepan itu.” Dengus Rendy kesal.
“Belum saatnya.” Jawab Lais.
“Kapan?” Rendy sudah tidak sabar.
“Nanti akan tiba waktunya.” Jawab Lais penuh keyakinan.
“Eh, bukankah itu Robby?” Revan menunjuk ke arah pintu masuk. Disa tampak rombongan Robby datang.
“Siapa dua wanita itu? Apa mereka istri Roby?” tanya Rendy.
Revan dan Lais mengamati dua wanita bercadar yang mendampingi Robby.
Roby lalu duduk di deretan kursi untuk tamu kehormatan. Kemudian terdengar suara yang meminta semua peserta berkumpul untuk mengikuti pembukaan pameran.
Lais, Revan dan Rendy ikut bergabung dengan peserta lain. Pandangan Lais terus tertuju pada salah satu wanita yang mendampingi Robby.
“Van!” bisik Lais.
“Hem.” Jawab Revan.
“Apa kamu tidak menaruh curiga dengan kedua wanita itu?” tanya Lais
“Memang kenapa?”
“Entahlah. Salah satunya seperti tidak asing bagiku. Meski wajah dan rambutnya tertutup tapi gerak-geriknya seperti pernah aku lihat.” Kata Lais.
“Iya juga.Aku juga merasakan hal yang sama. Wanita yang satunya juga seperti aku sangat mengenalnya.” Gumam Revan.
Selam acara pembukaan berlangsung, Lais dan Revan hanya memandangi dua wanita yang bersama Roby.
**kasih semangat donk..dengan like konen and vote nya. kasih coin juga nggak papa...hehehe
__ADS_1
semoga menghibur**