Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Keinginan Mak Nah


__ADS_3

"Aku belum pernah menikah."


Setelah mengatakan hal itu, Mak Nah bergegas meninggalkan Pak Malik.


Pak Malik terpaku menatap kepergian Mak Nah.


Apa tadi. Dia bilang aku..bukan saya.


Pak Malik seakan tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar.


Kami kan belum sedekat itu untuk bisa menggunakan kata aku. Apa dia salah ucap? Dan tadi, ia bilang belum pernah menikah. Kenapa aku jadi berdebar-debar begini.


Pak Malik tersenyum sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.


Ah..sudahlah. Aku bukan a be ge lagi. Aku harus pulang dan bershh-bersih, biar kalau Seruni diijinkan pulang, rumah sudah siap.


Pak Malik menepis pikiran tentang Mak Nah. Ia bergegas keluar untuk pulang.


...----------------...


Malam hari di mansion Lais.


"Sayang, tadi ke rumah sakit ya?" Aruna mendekati Lais yang sedang duduk membaca buku dengan bersandar pada headboard.


"Hm."


"Bagaimana?"


"Aku tidak tahu. Tapi ia nampak sehat."


"Baguslah. Mama akan berkurang cemasnya. Mak Nah? Sampai kapan Mak Nah akan menemani mereka?"


Mendengar Aruna menyebut nama Mak Nah, Lais segera menutup buku yang ia baca.


"Sayang menurutmu bagus enggak kalau kita mencarikan Mak Nah suami?"


Aruna kaget mendengar pertanyaan Lais.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan Pak Munir dan Bu Ira?" selidik Aruna.


"Bisa dibilang iya, bisa juga tidak. Namun Mak Nah juga berhak hidup bahagia. Kalau misalnya kita carikan lalu mereka cocok, bukankah bagus."


Aruna memandang curiga.


Lais merasa tidak enak dengan pandangan istrinya. Dia lantas mendekat dan memegang kedua tangan Aruna.


"Tadi, Revan punya ide menjodohkan Pak Malik dengan Mak Nah. Dan kebetulan juga, Seruni anaknya Pak Malik sudah menganggap Mak Nah sebagai ibunya. Jadi...." Lais mengakhiri ucapannya. Ia menggerakkan kedua bahunya sebagai gantinya.


"Jadi...kalian berdua memaksa Pak Malik menikahi Mak Nah?" tebak Aruna dengan nada tidak suka.


"Tidak begitu. Kami hanya memberi isyarat pada Pak Malik. Perkara mereka mau menikah atau tidak, biar mereka yang memutuskannya." jawab Lais sambil menepuk punggung tangan Aruna untuk menenangkan istri mungilnya yang mulai nampak kesal.


'Benar begitu? Nggak ada intimidasi?" Aruna masih sangsi.


"Iya..benar." jawab Lais lemah sedikit manja.


"Aku bukannya tidak setuju, asalkan itu keputusan mereka sendiri, aku pasti mendukung. Tapi jika ada permainan kalian berdua di dalamnya, aku akan sangat marah." Aruna menatap sengit.


"Nggak akan. Sudah, jangan bahas mereka. Kita istirahat yuk!" Lais memeluk Aruna.


"Mmm..." Aruna tersenyum dengan wajah memerah.


"Yess!!! Saatnya malam panjang kita sayang." ucap Lais sebelum akhirnya memulai pendakian malamnya.


Di tempat lain, Pak Munir baru saja selesai membersihkan rumahnya.


Akhirnya selesai juga. Aku akan mandi lalu kembali ke rumah sakit. Aku tidak boleh hanya mengandalkan Mak Nah. Bagaimanapun dia masih orang luar.


Pak Malik lalu masuk ke kamarnya. Ia menuju almari untuk mengambil pakaian ganti. Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Pak Malik nampak segar. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin. Pak Malik tersenyum saat merasa penampilannya sudah sempurna.


Dengan begini aku tidak akan malu bertemu dengan Mak Nah.


Saat hendak keluar dari kamarnya, mata Pak Malik tak sengaja menatap ke arah cermin yang ada almari. Tampak jelas pantulan foto Riana, almarhumah istrinya.

__ADS_1


Riana.


Pak Malik memutar langkahnya mendekati dinding yang ada foto istrinya.


Riana, maafkan aku.


Pak Malik mengelus bingkai foto almarhumah istrinya. Matanya menatap sendu. Kesedihan jelas terpancar di sana.


Riana, aku akan memenuhi janji kita untuk saling setia.


Pak Malik lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memeluk foto istrinya.


...****************...


"Malik, bangun!" suara lembut masuk ke alam bawah sadar Pak Malik.


"Malik!"


"Ah..iya." Pak Malik mengerjab. Ia lalu duduk sambil.mengusap mata dan wajahnya.


"Mak Nah? Kau kenapa ada di sini?" Pak Malim gugup saat melihat Mak Nah duduk di tepi pembaringannya.


"Memang kenapa? Apa aku tidak.boleh berada di sini?" tanya Mak Nah sambil menggeser duduknya lebih dekat.


"Itu...kita...." Pak.Malik semakin gugup. Ia menelan salivanya berkali kali untuk menenangkan diri.


"Malik, aku ingin menjadi ibunya Seruni." ucap Mak Nah setengah berbisik.


"Eh..bukankah Seruni sudah memanggilmu ibu." Pak Malik menggeser duduknya karena ia merasa Mak Nah terlalu dekat.


"Maksudku ibu yang sesungguhnya." Mak Nah mendekat lagi.


Pak Malik menelan ludah


"I..ibu yang sebenarnya. Itu artinya ka..kau tidak hanya akan menjadi ibu Seruni saja, tapi...tapi juga akan menjadi istriku." Pak Malik tergagap saking gugupnya.


Mak Nah tersenyum manis, "Bukankah aku memang istrimu?"

__ADS_1


"Apa?!"


...****************...


__ADS_2