
"Ma!" Lais mengulang panggilannya. Selangkah demi selangkah ia mendekati mamanya.
Nyonya Robert tidak kuasa lagi membendung air matanya. Butiran butiran bening mulai berjatuhan di kedua pipinya.
"Ma, maafkan Lais." Lais menubruk Nyonya Robert. Ia memeluknya. "Maafkan Lais yang tidak menyadari betapa besar pengorbanan mama untuk Lais. Maafkan Lais yang egois dan merasa paling menderita. Maafkan..." Lais terus.memohon sambil memeluk erat tubuh mamanya.
Tubuh Nyonya Robert semakin bergetar. Tangannya memegang lengan Lais yang melingkar di tubuhnya.
"Kamu nggak salah. Mama yang mestinya minta maaf.Lais, jika waktu bisa diulang, mama tidak akan bertindak bodoh seperti itu." sesal Nyonya Robert di sela isaknya.
"Tidak. Mama melakukan semua demi Lais. Lais tahu itu. Mama juga menderita kan? Melihat kondisi Lais dan juga ketidaksetiaan papa. Mamalah selama ini yang paling menderita. Harus menyembunyikan tangis dibalik senyuman. Berpura-pura bahagia. Maafkan Lais tidak tahu itu semua, Ma."
Nyonya Robert melepaskan pelukan Lais. Ia lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Lais. Di usapnya wajah Lais. "Mama rela melakukan apapun demi kamu. Demi kebahagiaanmu."
Mereka lalu kembali berpelukan.
"Pulang ya M!" Ajak Lais sambil memeluk Nyonya Robert.
Nyonya Robert menarik tubuhnya. Dia kembali membelai wajah putra semata wayangnya itu.
"Mama di sini saja. Mama akan mendoakanmu dari sini." kata Nyonya Robert. "Lagipula kamu mau mengajak mama pulang kemana? Bukankah sekarang kamu masih di apartement Revan?" Nyonya Robert tersenyum.
"Lais berencana menyewa apartement, Ma. Mama bisa ikut Lais." kata Lais membujuk Nyonya Robert. "Aruna pasti sangat senang kalau mama bisa hidup bersama kami."
"Lalu Pak Munir dan Bu Ira akan tinggal dimana? Setahu mama apartement di tempat Revan bukankah hanya ada dua kamar?" kembali Nyonya Robert tersenyum.
"Itu soal gampang ma. Yang penting mama ikut dulu." Lais menjatuhkan wajahnya dipangkuan Nyonya Robert.
"Sayang, mama di sini saja. Kamu berusahalah. Mama akan mendoakanmu. Ingat, mama di sini menunggu untuk kau jemput saat kau sukses nanti. Jadikan ini semangatmu, Nak!" kata Nyonya Robert. Ia bilang begitu karena ia tahu kondisi Lais dan tidak mau membebani Lais.
"Tapi, Ma?" kata Lais. Nyonya Robert mengangguk.
"Lagipula disini mama dibutuhkan oleh Mak Nah. Dia sudah menolong mama jadi mama harus membalas budi dengan membantu usahanya."
"Mak Nah teman Pak Munir?" Lais memastikan.
"Iya. Dulu toko ini hampir bangkrut dan mama membantu Mak Nah membangunnya. Mama seperti menemukan dunia baru di sini. Mama bahagia."
"Papa?"
Nyonya Robert menghela nafas. "Biarkan dia berpikir. Mana yang akan dia pilih. Wanita itu atau kita."
Lais mengangguk, "Mama benar. Aku akan selalu mendukung keputusan mama."
"Ayo! Revan dan yang lain pasti sedang menunggumu di depan kan?"
Lais kembali mengangguk. Ia lalu berdiri dan membantu Nyonya Robert bangkit dari duduknya.
Ia juga membersihkan tepung yang mengotori rambut dan wajah juga pakaian mamanya.
"Terima kasih," ucap Nyonya Robert bahagia mendapat perlakuan penuh perhatian dan kasih sayang dari Lais yang sudah cukup lama hilang dari kehidupannya sejak ia kabur dari rumah.
__ADS_1
Sambil dibimbing Lais, Nyonya Robert keluar dari dapur.
"Nyonya!" Revan menyambutnya lalu mencium punggung tangan Nyonya Robert.
"Terima kasih, Van untuk selalu berada di sisi Lais." kata Nyonya Robert.
"Dia saudaraku nyonya, jadi kemanapun dan dimanapun saya akan selalu menemaninya." jawab Revan. Lais meninju bahunya sambil tersenyum.
"Hanya saja..." ucapan Revan menggantung.
"Kenapa Van?" Nyonya Robert mengernyitkan alisnya.
"Nyonya. Bilangin dia agar tidak selalu mengerjai saya." Ia mengadu pada Nyonya Robert.
Semua yang mendengar ucapan Revan tertawa kecuali Lais. Ia mendelik ke arah Revan.
"Yang anaknya siapa? Kenapa kamu yang mengadu?" semprot Lais.
"Tuh kan Nyonya. Setelah sembuh dia jadi tambah galak." kembali Revan mengadu.
Lais mengangkat tinjunya.
Semua tertawa.
"Sudah. Kalian ini kayak anak-anak. Van, Pak Munir, aku nitip Lais pada kalian."
"Nyonya tidak ikut pulang bersama kami?" tanya Revan
Revan memandang Lais. Lais menggerakkan kepalanya sedikit.
"Baik, Nyonya." jawab Revan.
"Sudah siang. Kalian segeralah berangkat!" kata Nyonya Robert.
"Iya, Ma. Aku pamit ya. Mama jaga diri baik-baik." Lais memeluk dan mencium tangan mamanya.
"Berangkatlah, Salam mama untuk Aruna, Saat kau sampai, telepon mama. Mama kangen padanya." pesan Nyonya Robert.
Setelah berpamitan, Lais dan Revan keluar. Pak Munir mendekati Nyonya Robert. "Nyonya, untuk uangnya?"
"Tetap pada rencana semula Pak Munir. Ia tidak akan mau memakainya jika tahu itu dari aku. Aku mengenal putraku." jawab Nyonya Robert.
"Baiklah, Nyonya. Saya pamit." Pak Munir membungkuk hormat. Ia juga mengangguk sebagai tanda pamit pada Mak Nah, "Titip Nyonya." pesan Pak Munir.
Mak Nah tersenyum.
Akhirnya Lais, Revan dan Pak Munir melanjutkan perjalanan. Lais tampak lebih bahagia seolah beban berat sudah terangkat dari dirinya.
***
"Tuan! Bangun! kita makan siang!" Pak Munir membangunkan Lais dan Revan yang tertidur selama perjalanan.
__ADS_1
Lais menggeliat dan membuka matanya. Ia melihat keluar dan tampak rumah makan tempat mereka makan siang saat berangkat dulu.
"Itu?" katanya sambil menunjuk seseorang yang masuk ke rumah makan.
"Rendy? Ngapain dia di sini?" Revan yang ternyata juga sudah bangun dan melihat Rendy ikut bicara. Revan dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar. Lais melakukan hal yang sama.
"REN!!!" panggil Revan sambil melambaikan tangan.
Rendy menoleh. Ia melambaikan tangan saat melihat Revan. Reavan berlari mendekati Rendy.
"Apa kabar bro?" Revan langsung memeluk Rendy.
"Baik." jawab Rendy.
"Kemana saja? Setelah mengantar Megar terus nggak ada kabar ha?" Revan meninju Rendy
Rendy tersipu sambil menunduk.
"Apa kabar Ren?" Lais mengulurkan tangannya mengajak Rendy bersalaman.
Rendy tak percaya dengan sikap ramah Lais. Ia menyambut tangan Lais. "Baik Tuan." katanya tergagap.
"Panggil saja Lais." kata Lais. "Kau sahabat Revan berarti temanku juga." kata Lais tersenyum.
Rendy memandang Revan. Ia melihat Revan tersenyum sambil mengangkat alisnya.
"Ayo kita makan bareng." Ajak Lais. Ia mendahului mereka masuk ke dalam rumah makan.
"Dia ternyata baik juga." bisik Rendy pada Revan.
"Hmmm kau belum tahu saja, selain baik dia juga usil suka ngerjain orang." balas Revan.
"HEM!" Lais berdehem dengan keras sambil duduk.
Revan dan Rendy langsung diam dan ikut duduk di meja yang sama.
"Pak Munir?" tanya Lais.
"Oh, biar aku yang memanggilnya." Rendy langsung berdiri. Ia tahu, Pak Munir sengaja tidak ikut masuk bersama mereka karena pasti ia ingin menemuinya.
"Kenapa kamu nggak mengantri?" tanya Lais.
"Nunggu kamu. Takut salah pesan." jawab Revan jujur. Lais tetawa lirih.
"Aku juga takut. Nunggu Pak Munir saja. Ia yang lebih tahu makanan disini." jawab Lais
Mereka berdua lalu tertawa geli menyadari kebodohan mereka. Ternyata untuk hal hal tertentu mereka kalah dari Pak Munir.
...***...
Jangan lupa jejaknya
__ADS_1
Dan baca karya otor yang lain ya