
Leo masih bertahan dengan kemarahannya, ia masih bertanya-tanya siaoa yang menjawab telefon darinya, kenapa ponsel gita berada ditangan lelaki? kami? gita sedang apa? itula yang ada dipikiran leo
Ting
Satu notif pesan masuk keponsel leo dan itu dari kekasihnya
"Sayang angkat donk itu tadi boss aku asgar, aku bisa jelasin kok tapi kamu angkat telfon aku" gita menulis pesan singkat pada kekasihnya
Leo tidak membalasnya, ia hanya membacanya saja
"Asgar...asgar...hah asgar shawqi? itu bossmu? pantes saja sekejab mata kau melupakan aku, dan bisa-bisanya ia memegang ponselmu, wanita sama aja, g boleh liat yang lebih tamoan, langsung melting"
Leo meninggalkan ponselnya, ia keluar dari kamarnya menuju kemeja makan, pikirannya kalut ia berpikir yang bukan-bukan pada gita, padahal ia tau benar jika kekasihnya bukanlah wanita sembarangan yang menerima begitu saja perlakuan pria asing
Bahkan dengan leo mereka hanya sekedar pelukan dan ciuman, tetapi bukan ciuman di bibir, gita terlalu kaku untuk itu, ia yang memang tidak pernah pacaran
Leo pergi menemui teman-temannya di club malam, kehidupan leo seperti kehidupan pria para umumnya, alkohol club dan wanita tetapi untuk wanita leo tidak begitu menyukainya karena ia sangat mencintai gita
.
.
.
Disisi dunia yang lain, seorang wanita duduk sendirian dibalkon, ia baru saja menyelesaikan mandinya, ia menunggu balasan pesan dari kekasihnya, lama ia menunggu balasan pesan dari leo tapi tak kunjung ia dapati
Lelah menunggu perut terasa gita terasa lapar, ia enggan memghubungi asgar, pasalnya asgar sama sekali tidak lagi berbicara padanya sejak kata-kata yang gita ucapkan sore tadi yang mungkin menyinggung perasaannya
Gita bersiap hendak keluar untuk makan malam
Rasa hati ingin mengetuk pintu kamar asgar, gita berpikir asgar berada dikamar, tetapi ia mengurungkannya, ia membiarkan asgar menyendiri, gita akan meminta maaf lagi keesokan harinya, gita berlalu pergi ia keluar dari hotel dengan berjalan kaki, ia akan mencari makanan yang tidak jauh dari hotel
Sementara asgar sedang mengadakan pertemuan, ia sengaja tidak membawa gita agar gita beristirahat, karena yang ia tau gita sangat gugup menghadapi presentase besok
Ia melakukan pertemuan di salah satu restoran yang tidak jauh dari hotel karena asgar menginap dipusat kota jadi untuk kemanapun terasa dekat
Waktu menunjukkan pukul 20.30 wib asgar telah menyelesaikan pertemuannya dengan beberapa rekan bisnisnya, mereka juga akan hadir dipertemuan besok
Asgar akan kembali kehotelnya, sebelum kembali kehotel ia mampir di fast food untuk membeli sesuatu, asgar telah sampai tepat didepan kamar gita, ia berulang kali mengetuk pintu kamar gita dan juga mencoba menghubungi gita tetapi tak satu panggilan asgar dijawab gita
__ADS_1
Asgar meminta untuk membuka kamar gita, asgar memastikan apakah gita berada didalam atau tidak dan ternyata tidak, asgar kembali turun dan mencoba menghubungi gita kembali
Gita yang sedang makan mendengar ponselnya berbunyi, ia mengambil dari tasnya dan ia tak sempat menjawab panggilan dari ponselnya, ia melihat ponselnya
"Pak asgar? 8 panggilam tak terjawab, kenapa?" gita kembali menghubungi asgar
"Dimana?!" bicara asgar sudah naik 1 oktaf ia kesal panggilannya tidak dijawab
"Saya lagi makan pak, lapar"
"Makan dimana?!"
"Dicafe **** deket hotel"
"Aku kesana!"
Gita mengerucutkan bibirnya "Untung ganteng lo, kalau g cepet tua marah-marah terus" gita bersungut pada ponselnya
Tak lama kemudian asgar tiba, ia meletak kasar bungkusan plastik yang ia bawa diatas meja dan itu membuat gita terlonjak, ia duduk dihadapan gita dengan wajah bengisnya
"Kamu tanya kenapa? saya keliling tau g nyari kamu, sampe saya nyuruh receptionistnya buka pintu kamar kamu! ditelfon g pernah diangkat" asgar berbicara pelan tapi penuh penekanan
"Bapak ngapain cari saya?" gita bertanya dengan polosnya
Asgar menhembuskan nafaskan kasar, ia merapatkan giginya
"Nih saya beliin buat kamu, saya pikir kamu belum makan dihotel"
"Lah bapak dari luar? kenapa g ngajak saya?"
"Saya ada pertemuan gita, saya membiarkan kamu beristirahat agar besok otak kamu fresh saat presentase"
"Ya bapak kenapa g ngabarin saya? saya kan g tau pak"
Waiter datang memutuskan debat kedua manusia beda kutub itu, asgar tidak lagi menjawab ia membiarkan gita menikmati makanannya
"Tadi saya udah mau ngetok pintu kamar bapak, tapi g enak, saya kira bapak masih marah sama saya gara-gara omongan saya tadi sore tentang sarah, maaf ya pak" gita kembali bersuara
Asgar menatap gita dengan mata elangnya, ia tidak menanggapi perkataan gita
__ADS_1
"Bapak g makan?" sambung gita
"Saya uda"
Gita mengangguk tersenyum, ia senang asgar tidak sedingin dikantor, asgar masih peduli padanya, gita melanjutman makannya ia memesan beberapa menu yang menurutnya enak, ia hanya mencoba menu baru yang belum pernah ia cicipi dinegeri orang
"Ni pak cobain deh, enak banget asli, ini g bekasan saya kok pak, ini garpu baru" gita menyodorkan sendok yang berisi makanan yang ia pesan
Asgar menolak menggelengkan kepalanya
"Cobain dulu deh pak, asli enak g nyesel pokoknya" gita masih menggantungkan tangannya
Asgar akhirnya mengalah, ia menerima suapan dari gita
"Gimana enak g pak?"
Asgar mengangguk sambil mengunyah
"Enak"
"Bapak mau lagi?"
Asgar menggeleng, ia memang sudah benar-benar kenyang, tak lama kemudian gita menyelesaikan makannya, mereka keluar dari cafe dan tak lupa gita mengambil plastik yang dilempar asgar tadi
"Ini masih untuk saya pak?"
Asgar menoleh kebelakang, ia mengangkat kedua bahunya, tangannya berada didalam kantong celananya
"Terserah. . .belum kenyang juga?" tanya asgar heran
"Jaga-jaga aja pak kalau malam laper"
Mereka keluar dari cafe dan berjalan kaki menuju hotel mereka
.
.
.
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1