
Perbincangan tentang kerjasama yang akan mereka lakukan berjalan lancar, mereka sudah mencapai kesepakatan bersama, dan sekarang mereka sedang menikmati makanan mereka sambil berbincang ringan
Diego terus saja mempeehatikan gita dan itu tidak luput dari asgar, gita yang kesal sejak kejadiannya dulh tidak memperdulikan mantan bossnya, Diego yang tidak mendapatkan tubuh gita seolah jijik dengan gita yang ia pikir sok jual mahal
"Apa gita sudah lama bekerja dengan anda pak asgar?" gita menatap diego tajam
"Belum pak" asgar menjawab santai
"Ia mantan sekretarisku pak, hati-hati jika bersamanya, ia bisa saja menjebak pak asgar"
Asgar mengangkat kedua alisnya tersenyum, sepertinya diego ingin mempermalukan gita
"Benarkah pak? saya tidak pernah tahu itu, menjebak maksud bapak"
"Ya dulu aku hampir dijebak olehnya, ia ingin...maaf, ia ingin tidur denganku lalu memerasku tetapi aku menyadarinya dan aku memecatnya sebelum ia berhasil menjebakku"
Treng...
Bunyi sendok dan garpu yang diletakkan gita dengan kasar di piringnya, ia menatap diego nyalang, nafasnya memburu terlihat dari dadanya yang naik turun menahan emosi, sementara yang lainnya hanya menjadi pendengar, mereka seolah percaya dengan apa yang dikatakan diego kecuali asgar
"Maaf semuanya, saya permisi...pak saya permisi dulu" gita tidak ingin terpancing emosi, ia pamit dengan kolega asgar dan juga asgar, saat ia hendak berdiri dari duduknya diego kembali bersuara
"Kenapa harus pergi? apa kamu malu aku membuka aibmu disini?"
"Tetaplah disini" ucap asgar
Gita kembali duduk, ia terus mendengarkan apa yang dikatakan diego, ia membuang nafasnya kasar
"Aku tidak menyangka kau dapat umpan yang lebih besar dan masih bujangan, apa leo mu sudah tidak menginginkanmu? ia sudah tahu keburukanmu bukan?"
Gita memejamkan matanya
__ADS_1
"Saya harap bapak berhati-hati pak asgar dan segera la menjauh dari wanita picik ini, sebelum ia menjerat bapak lebih jauh"
Gita tidak lagi bisa menahan emosinya, ia bangkit menuju tempat duduk diego, ia melayangkan tinjunya tepat dihidung diego, asgar kalah cepat untuk menghentikan gita
"Tua sialan, aku sudah cukup sabar pak tua tapi kau terus saja memprovokasiku dan rasakan itu, sakit bukan? itu tak sebanding dengan sakit yang kurasakan" gita memaki diego dipelukan asgar, ya asgar menahan gita dengan memeluknya dari belakang
Gita tidak memperdulikan asgar dan koleganya, ia tidak terima di fitnah dan dipermalukan seperti itu, ia melepaskan kekesalannya, untunf saja mereka makan di ruang VVIP sehingga tidak banyak oranv yang mendengar serta melihat apa yang terjadi
Sementara pimpinan perusahaan R membantu diego, aspri diego juga membantu diego mengelap darah yang keluar dari hidungnya
"Maaf semua saya harus pergi" asgar akan membawa gita pergi dari restoran tersebut serta membereskan berkas dan tas yang gita bawa tadi
"Dasar ****** sialan" ucap diego kesal telah dipermalukan didepan koleganya
.
.
.
"Benar-benar memalukan!" asgar berbicara dengan tatapan lurus kedepan
"Maaf" gita sadar tidak seharusnya ia berprilaku seperti itu, ia memang sudah mempermalukan asgar
Gita merasa bersalah ia tidak membela dirinya sendiri, ia tidak menjelaskan kepada asgar bahwa itu adalah fitnah karena bagi gita jika seseorang menilai kita buruk maka akan tetap buruk, walau sekeras apapun kita menjelaskan kebaikan kita
"Apa kamu tidak bisa menahan emosimu?" asgar kembali bersuara
"Aku sudah berusaha menahannya pak"
"Jika yang dikatakannya tidak benar kamu tidak perlu marah"
__ADS_1
"Jadi maksud bapak sekarang apa yang dikatakan tua bangka sialan itu benar?" dada gita bergemuruh matanya berkaca, ia yang menahan kesal sudah difitnah didepan orang banyak hanya bisa melampiaskannya dengan air mata, dan sekarang asgar juga menyudutkannya
Asgar melihat mata gita yang berkaca, air mata itu akan tumpah sedikit lagi, seiring dengan kedipan mata gita air mata yang bernaung dimatanya akhirnya tumpah, tetapi dengan cepat gita menghapuskan, sekeras apapun gita, ia tetaplah wanita
"Saya tidak membenarkan ucapan diego tetapi yang saya tau kamu salah, kamu salah menyerang diego dan kamu juha sudah mempermalukan saya"
Air mata gita tidak berhenti meleleh, ia melihat kearah luar jendela ia terus menangis dan asgar tahu itu, ia melihat bahu gita yang bergetar
Tangisan gita mengingatnya akan sarah, sarah adalah sekretaris yang sangat cengeng, ia mempunyai hati yang lembut sehingga jika asgar berkata kasar itu akan membuatnya dengan mudah menangis seperti yang ia lihat pada gita
Saat ini gita merasa sendiri, ia difitnah mantan bossnya, disudutkan bossnya dan kekasihnya ntah kemana tidak ada kabar, ia benar-benar sendiri, ia tidak mungkin mengadu kepada ayah, itu hanya akan menjadi beban bagi ayah
Asgar menjalankan mobilnya, ia mengantar gita kembali ke kantor, ada perasaan iba dan tidak tega yang merayap dihati asgar melihat air mata gita, tetapi gengsinya lebih besar dari pada ibanya dan juga sarah, tangisan itu mengingatkannya pada sarah dan ia tidak mau mengkhianati sarah
Setelah mengantar gita kembali kekantor, asgar melanjutkan perjalanannya memenuhi janjinya pada mommy untuk makan siang bersama vanha dan mommy vanya
Asgar sampai disalah satu pusat perbelanjaan milik perusahaannya, mereka akan makan siang disalah satu restoran di mall tersebut, asgar langsung menuju restoran yang telah direservasi oleh vanya, rupanya ketiga wanita beda generasi itu sudah menunggunya, ia mendapatkan lambaian tangan dari vanya
.
.
.
Jangan lupa vote like dan komen
Terimakasih readers
ditunggu komentar2nya jika ada koreksi dalam penulisan
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1